Suamiku Guruku

Suamiku Guruku
Anak!


"Hoooom..." Afriadi menutup mulutnya yang menguap lebar persis buaya. Eh emang buaya, tapi buaya darat ^∇^


Afriadi naik ke atas tempat tidur yang sudah ditempati Latika terlebih dahulu.


Perlahan Afriadi menarik selimut menyelimuti dirinya.


"Dek." Afriadi menegur Latika seraya memainkan jempolnya. Lama ia menunggu respon dari Latika, tapi tidak ada respon sama sekali. Afriadi yang penasaran bangun melihat Latika yang membelakangi dirinya.


Owalah, Afriadi memonyongkan mulutnya melihat Latika yang sudah tertidur.


"Hem..." Afriadi memperhatikan Latika yang tengah tidur, entah kenapa tiba-tiba Afriadi menemukan kebohongan pada Latika.


Afriadi tersenyum lebar dikala ia melihat mata Latika yang sudah tertutup bergerak-gerak. Afriadi sudah menduga kalau Latika pura-pura tidur menghindari dirinya.


Afriadi memperbaiki posisinya tangan kiri memeluk tubuh Latika, tangan kanan menopang pipinya.


"Adek marah sama Abang?" bisik Afriadi membuat sekujur tubuh Latika merinding dibuatnya, ditambah lagi tangan Afriadi menggelitik perutnya geli yang Latika rasa.


"Masih pura-pura tidur." Afriadi kembali berbisik di telinga Latika ketika tak dapat reaksi dari Latika.


"Adek ada masalah? Hem?" Afriadi mengecup pipi Latika.


"Hemeh," gumam Latika mendorong tubuh Afriadi. Sontak Afriadi kaget dengan reaksi Latika.


"Ada apa ni?" tanya Afriadi bingung dengan tingkah Latika yang tiba-tiba berubah.


"Abang tu!" Latika menjawab ketus, tanpa ada penjelasan.


Tanda tanya memenuhi kepala Afriadi, apa maksud Latika ni, "Apa maksud Adek ni? Abang kenapa?"


Mata Latika sebab mau nangis, tambah bingung lagi Afriadi.


"Kenapa Dek?" tanya Afriadi dikala Latika tak menjawab pertanyaannya barusan.


"Adek kesel sama Abang! Abang tak mau punya anak kan? Kebahagiaan Adek Bang. Adek mau punya anak!"


"Bukan begitu Dek. Abang bukan tak mau punya anak, Abang juga mau punya keturunan. Tapi-"


"Kalau Abang mau punya anak. Kenapa Adek ajak Abang tak mau?"


"Bukan begitu maksud Abang-"


"Tunggu Adek selesai kuliah?" Tanpa sadar Latika terus memotong kalimat Afriadi, padahal ia sudah diajarkan untuk tidak memotong kalimat seseorang saat lagi bicara, kurang sopan. Afriadi diamkan saja kalau dia menceramahi Latika bisa-bisa tambah jadi Latika ngambeknya bisa-bisa pisah ranjang malam ini.


Afriadi meangguk mengiyakan.


"Abang ni serius atau tidak mau punya anak?"


tanya Latika dengan nada tegas.


Afriadi menghela nafas, "Abang mau Dek, cuman-"


"Haaaa... Asal mau bobo." Latika menarik kasar selimut menyelimuti dirinya


seraya menghempaskan kepalanya ke bantal.


"Dek-"


"Adek mau tidur ngantuk," kata Latika keris menutup kupingnya dengan telapak tangan.


"Gak mau punya anak tapi sering minta anu," gumam Latika. Afriadi meangkat kepalanya yang sudah menyentuh bantal ketika mendengar gumaman Latika, alisnya terangkat sebelah raut wajahnya sulit ditebak.


Latika kepengen sekali punya anak sampai sikapnya berubah begitu, ia terpaksa bersikap begitu toh kalau bicara baik-baik belum tentu dia dapat apa yang ia inginkan, lagian dia sudah menduga kalau jawaban Afriadi pasti nunggu selesai kuliah.


Dari pada lemah kembut sekalian aja pakai debat biar Afriadi berpikir dua kali.


Afriadi mau menyentuh Latika tapi ia urungkan niatnya mengingat suasana hati Latika kurang baik.


Perlahan-lahan ia merebahkan kepalanya, pikirannya mulai terganggu kalimat yang Latika ucapkan tadi terus mendengung di telinganya. Matanya yang terpejam kembali terjaga, kantuk tak menghampiri dirinya malah pergi rasa kantuk.


Menit berganti Jam.


Afriadi memainkan jempolnya yang saling beradu sampai akhirnya ia bosan, menghela nafas membuka kembali matanya. Ia tak kunjung tidur juga, malam itu ia habiskan untuk berpikir matang-matang soal anak dan kedepannya seperti apa.


***


Afriadi merasa aneh dengan sikap Latika, ia merasa diacuhkan sama Latika.


Kebetulan hari ini hari Minggu sekolah dan kuliah pada libur. Latika tetap belajar dan Afriadi memantau dari kejauhan, pakai teropong.


Jarak Latika dan Afriadi cukup jauh, hanya berbeda ruangan Latika di ruang santai Afriadi di ruang keluarga.


Masih diawasi belom diserang.


Afriadi memutuskan untuk mendekati Latika, perasaanya tidak enak dicuekin melulu. Kalau pagi itu gak disapa rasanya hari terasa muram dan yang pastinya satu hari itu akan bed mood.


Afriadi berjalan melewati pepohonan yang tumbang, menyeberangi lautan susu sampai deh di ruang santai.


Afriadi menarik tempat duduk, meletaknya di sebelah Latika duduk di sana.


Pertama ia memperhatikan saja apa yang istrinya pelajari.


"Dek, Abang mau cakap sesuatu." Afriadi menopang dagu melirik Latika, tak ada sahutan apa-apa hanya gumaman saja.


"Dek, Abang mau cakap sesuatu ni." Afriadi mengulangi kalimatnya. Tak ada sahutan dari Latika gumaman pun tak ada terdengar lagi.


"Adek dengar tak apa yang Abang cakap ni?"


kata Afriadi mulai serius.


"Adek dengar lah. Cakap lah apa yang nak cakap kan," kata Latika cuek tanpa melihat Afriadi lagi.


"Tengok lah Abang, Abang serius ni."


Latika memutar bola matanya, menoleh melihat Afriadi dengan tatapan teduhnya,


"Ha? Apa de?" Latika bergaya seperti bed girls.


"Sebelum tu, Abang mau tanya sama Adek." Afriadi menatap Latika serius. Gaya bed girls Latika luntur seketika, batinnya menciut.


Deg... Deg... Deg...


Tiba-tiba saja Latika jadi gugup, penasaran dengan pertanyaan Afriadi.


"Adek siap jadi seorang ibu?"


Deg...


Jantung Latika seperti habis kena pukul palu Thor Avengers.


Gila, bikin kaget saja Afriadi tiba-tiba menanyakan pertanyaan seperti itu.


Mata Latika dari tadi tak berkedip menatap Afriadi.


"... Adek siap jadi seorang ibu meski Adek lagi masa-masa kuliah?"


Latika hanya diam seperti orang **** mendengarkan kata-kata suaminya.


"... Adek mau jadi ibu di usia muda? Adek tak mau melakukan banyak hal di usia muda ni? Sebab Dek kalau Adek jadi ibu Adek mempunyai tanggung jawab yang besar." Wajah Afriadi mulai tampak khawatir matanya yang mulai teduh, perlahan tangganya meraih tangan Latika menggenggam tangan mungil itu dengan lembut.


"Kenapa Abang minta punya anak setelah Adek lulus kuliah. Sebab jika Adek punya anak otomatis perkuliahan Adek terganggu, Abang takut Adek stres... Apa Adek bisa membagi waktu belajar ngurus anak, ngurus suami?" Kepala Afriadi menggeleng pelan sesuai tempo kalimat, "Abang-"


"Bang," kata Latika lembut, "Anak bukan beban. Anak titipan illahi yang harus kita didik, rawat, bimbing. Jangan Abang tanya lagi Adek siap atau tidak, sejak awal menerima cinta dari Abang Adek sudah siap. Semua resiko akan Adek hadapi, InsaAllah Adek bisa bagi-bagi waktu."


Pintu hati Afriadi terketuk, serasa sejuk di sana.


"Nanti kalau tunggu Adek selesai Abang sudah tua, bisa-bisa gak sanggup lagi," ejek Latika terkikik-kikik pelan ≧▽≦


Afriadi menatap malas Latika (눈‸눈) lelu tersenyum lebar  ̄︶ ̄


Mendekatkan wajahnya pada Latika


"Kita lihat nanti," bisik Afriadi.


"Oke." Latika balik tantang.


***


Hem, apa yang terjadi selanjutnya ^_________^