Suamiku Guruku

Suamiku Guruku
Taruhan


Pagi.


Latika dan Afriadi mau pulang tapi mereka di tahan sama Viana, minta mereka untuk tak pulang hari ini.


Ya, mau bagaimana lagi. Meraka tak jadi pulang jadinya mereka habiskan waktu jalan-jalan.


***


Malamnya Afriadi mengajak Latika makan di luar, bukan di restoran.


Latika minta di tempat kaki lima, Afriadi sudah lama tak makan jajanan di kaki lima.


Mereka sepakat makan Nasi goreng pedas.


Nikmat menikmati nasi goreng pedas dimalam yang dingin ini hangat-hangat pedas gimana gitu rasanya.


"... Yakin mau nantang." Afriadi menaik turunkan alisnya, memastikan sekali lagi.


"Ya, Adek mau tantang Abang makan nasi goreng pedas." Latika serius menantang Afriadi.


"Kalau Abang menang. Apa hadiahnya?" tanya Afriadi menaik turunkan alisnya.


"Apa yang abang mau Adek beri." Latika menjawab mantap.


"Seriusan?" tanyanya lagi menyakinkan Latika, "Tapi, tak boleh minum Lo sebelum selesai."


"Oke. Tapi, kalau Adek menang, 1 minggu ini Adek libur tak belajar. Bagaimana?"


"Oke. Deil?" Afriadi meangguk.


"Deil." Mereka berdua berjabat tangan.


"Mang nasi gorengnya super pedas 2," pesan Afriadi.


"Teh es 2," pesan Latika.


Selang beberapa menit kemudian.


Pesanan mereka sudah siap.


"Hahaha.." Latika tertawa getir lihat nasi goreng pedas tersaji di mejanya, ia meneguk ludah ngeri lihat nasi gorengnya seperti ada tengkorak merah keluar dari tumpukan nasi goreng. Batinnya menyumpah, "Mati aku."


Afriadi tersenyum lihat ekspresi Istrinya, meambil sendok dan garpu meletakkan di piring masing-masing.


"Siap?" kata Afriadi mekagetkan Latika.


"Em," gumam Latika menatap Afriadi yang menaik turunkan alisnya.


"1..." Afriadi menghitung, Latika sudah bersiap memegang sendok, "2... 3... Mulai."


Ketika kata mulai cepat Latika meniup nasi goreng pedas itu, lalu menyantapnya panas-panas. Sedangkan Afriadi mengkipasi nasi itu dengan kipas ayaman yang ia pinjam dari pemilik gerai, ia mengipasi sampai dingin sambil melihati Latika makan yang lebih dulu menyantap makanannya dengan lahap.


"Hah... Pedas." Latika berhenti menyuap, mengibas mulutnya yang terasa panas, tangannya bergerak ingin meambil minumannya, "Es-"


Gerakan Latika dihentikan sama Afriadi,


"Tak boleh minun. Kalau minum Adek kalah."


Latika terengah-engah, matanya merah beserta wajahnya ikut merah juga,


"Huh.. Pedas."


Nasi goreng Afriadi lumayan dingin, santai ia menghabiskan nenyantap nasi goreng.


Baru satu sendok masuk ke mulutnya, ekspresinya sudah berubah melihat ke arah Mamang penjual nasi goreng tersenyum lebar. Sadar mereka dikerjain sama itu Mamang.


"Lumayan pedas," seru batinnya heboh.


Afriadi melanjutkan makanya, baru beberapa suapan wajahnya sudah berubah memerah. Untungnya nasinya dingin mengurangi pedasnya dan memudahkannya untuk menyantapnya.


Selang beberapa menit.


Persaingan yang sengit, Afriadi berhasil mengejar Latika nasinya tinggal sedikit saja lagi, peluh sudah keiuar membasahi wajah mereka yang merah dan bibir yang ikut memerah, doer. Sedangkan nasi Latika masih banyak.


"Pedas. Tak tahan lagi." Latika menyambar air minumnya, sekali sedot air gula dalam gelas menyurut kering hanya tinggal batu karang saja lagi.


"Yaaa!!!" teriak Afriadi tiba-tiba bangun, menggejutkan Latika, dan lainya. Tanyanya mengepal ke atas, dengan suara khas kemenangan, "Ha, Abang menang."


Latika menggeleng lihat kelakuan Afriadi yang kekanak-kanakan, malu dilihat banyak orang.


"Yelah tu. Adek kalah." Latika berlisik mengaku kekalahnya, memintanya kembali duduk.


Afriadi meminum air gulanya, sekali sedot cepat surut airnya akhirnya kering. Telak Afriadi masih haus dan ia masih merasa pedas.


"Nih, bang." Latika memberikan teh botol yang ada di meja.


"Makasih Dek. Pedas." Cepat Afriadi membuka tutup botol, meminumnya. Jeda sebentar, ia membuka sedikit kerah bajunya biarkan angin malam membelainya, menyejukkannya.


Di sisi lain para pengunjung wanita pada melirik Afriadi saling berbisik, Latika menatap tajam mereka seolah melerang mereka lihat Suaminya atau nanti dapat masalah darinya.


"Kenapa Dek?" tanya Afriadi pelan lihat tatapan galak istrinya.


"Jangan tebar pesona di depan umum," ujar Latika ketus.


Afriadi tersenyum menanggapinya, tahu kalau Latika cemburu lihat para wanita meliriknya.


***


Sesampainya di Kamar hotel. Latika merebahkan dirinya di tempat tidur. Ia lega Afriadi tak ingat dengan taruhan mereka, selama di perjalanan tadi ia sudah menanyakan berkali-kali ingat atau tidak dan berkali-kali juga Afriadi bertanya ingat apa? Latika berangap kalau Afrika lupa mungkin efek nasi goreng pedas tadi.


HOOOH... Latika kaget setelah membuka matanya melihat Afriadi berdiri di sebelah tempat tidur, menggaruk belakang kepalnya, beberapa kancing bajunya terbuka memamerkan dada bidangnya dan roti sobek, mata Latika tak berkedip melihatnya sampai Latika salah tingkah.


"Adek lupa?" tanyanya tiba-tiba berhasil membuat mata Latika hampir copot, kaget, Latika kira Afriadi lupa sudah dengan itu.


"Lupa apa?" Latika bertanya balik, sekarang dia yang harus berpura-pura lupa.


"Taruhan tadi." Afriadi memutar bola matanya.


Tuh kan, benar dia ingat, kau salah sangka Latika. Luput sudah.


Latika berpikir untuk menyangkal, "Dalam agama di larang taruhan." Latika mengucapkannya penuh percaya diri.


"Ha'ah ya, di larang taruhan, kalau gitu siapa ya yang ngajak tadi. Lalu kalah tak mau ngaku lagi." Afriadi mengusap dagu yang tak berjenggot, melirik Latika.


"Siapa kalah?" tanya Latika masih tak mengakui kalau dia kalah.


"Adek lah. Siapa lagi?" Afriadi menggelengkan kepalanya mendekat,


mengulangi kembali kalimat Latika tadi,


"Apa pun yang Abang mau malam ini Adek kabulakan."


"Eh?" Latika tertawa getir tak menyangka kalau dia mengingatnya,


"Kalau gitu. Kita.. Kita.. Kita.."


Setiap Afriadi mengucap kata Kita, ia melangkah mendekati Latika.


"Kita.."


"Kita apa?"


"Itu."


"Itu apa?"


"Yang itu." Afriadi menaik turunkan alisnya seraya tersenyum.


"Yang mana?"


"Yang itu."


"Apa yang nak Abang lakukan?"


"Yang itulah. Adek sedia?"


"Hup,😫 ya."


"Ha, serius?"


"Ya Adek serius.


Malam ini juga."


"Hahaha..."


"Kenapa ketawa?" tanya Latika bingung


"Apa yang ada dalam pikiran adek ni?" tanya Afriadi pikirannya kearah pada satu yaitu, ehem...


"Ha?" Latika mengedipkan matanya, pikirannya masih terbayang itu, "Pikir yang Abang mau itu lah."


"Hahaha..." Afriadi tertawa terpingkal-pingkal, mengusap kepala Latika "Jangan pikir yang macam-macam. Belum saatnya."


"Tapi, Adek sudah bilang akan kabulkan apa yang Abang mau malam ini, kalau bukan itu apa lagi." Sampai aja Latika berpikir ke situ.


Afriadi tersenyum, memeluk Latika seraya berbisik di telinganya, "Yang ini saja cukup."


Latika kaget rasanya lega bercpur kecewa juga Afriadi menolaknya.


Gplak...


Latika memukul otaknya dalam bayangan menghentikan berpikir yang macam- macam.


Dag... Dig... Dug...


Jantung Latika.


Afriadi menolaknya bukan karena tidak ingin tapi ia berpikir Latika itu bisa dibilang masih kecil kalau nanti pas ujian dia gembung bagaimana, tak mungkin ia mengikuti nafsunya. Sabar menunggu masanya yang cukup.


Ia menatap Latika dengan penuh kehangatan mencium keningnya. Latika tersenyum lebar.