Suamiku Guruku

Suamiku Guruku
Kucing Tercinta


Mau bagi tahu dulu ini bukan pengumuman.


Oke


Next


Halo semua.


Sorry ya gak up beberapa hari, soalnya aku lagi sedih habis kehilangan dia, dia pergi meninggalkanku selamanya.


Dia kucingku, mati gara-gara ketabrak motor jadi korban tabrak lari. Dan itu...


DEPAN MATA AKU LIHAT DIA DITABRAK. Sampai sekarang aku masih ingat bagaimana dia ditabrak.


Ya sedih lah pokonya keluarga aku saja sampai ikut sedih. Itu bapak sampai marah-marah sama tu orang yang nabrak.


Yang buat aku gak mood kepikiran dia terus, karena aku merasa bersalah coba saja aku tangkap itu kucing bawa masuk ke rumah jadi dia gak akan lari ke tengah jalan, gak akan mati tertabrak motor.


Nyesel banget dah rasanya aku.


Ngomong-ngomong kucingku ini kucing Persia, aku gak beli mana sanggup aku beli kucing semahal itu. Itu kucing bapak aku pungut mamaknya, entah kenapa itu kucing datang sendiri ke rumah jadi bapak gue angkat jadi kucing peliharaan, selang beberapa bulan kucingnya melahirkan pas saat pembukaan bulan suci Ramadhan.


Hem, karena masih sedih episode ini sepesial. Karena, saat aku kehilangan dia ada kejadian lucu (menurutku). Si tokoh utama cerita ini yang bikin lucu.


Yang sudah baca story Wa aku mungkin dah tahu ya apa yang buat lucu.


Oh ya, karena dalam kejadian ini aku yang lihat jadi gak mungkin aku ada dalam cerita kan? Afriadi gak ada di kejadian itu dan Latika muncul di bagian akhir. Hem, jadinya aku akan di gantikan sama Afriadi. Ceritanya akan diubah tapi tak meninggalkan kesan dari cerita awal.


Rasa bersalahku akan aku ekspresikan pada Afriadi.


karena aku sudah beberapa hari gak up, jadi ini agak panjang hampir 4000 kata. Semoga suka.


Oke lanjut Kat cerita.


Selamat membaca.


***


Hari demi hari terlewati.


Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti Minggu, Minggu berganti bulan bulan.


Kuliah Latika sudah menjalani lima bulan.


Selama lima bulan ini terlihat baik-baik saja, tapi tak dengan Afriadi. Selama satu bulan ini dia merasa ada yang ngawasin dia. Apalagi itu guru baru, Gita kerap kali tertangkap basah mencuri-curi pandangan.


Rasanya agak aneh gitu, apalagi beberapa Minggu terakhir sekolah menerima guru laki-laki baru. Gila gurunya atlis banget, tampan lagi, tambah kesemsem siswi lihat itu guru tambah betah belajar di sekolah dikelilingi sama guru tampan.


Tapi, anehnya guru laki-laki itu yang kerap disapa Agustian sering muncul cari Afriadi di kantornya, sok akrab. Padahal bukanlah masalah penting yang dibahas melainkan masalah lain, curhat tentang masalahnya, kadang-kadang suka lihat kerja Afriadi. Kalian tahu lah Afriadi orangnya kayak mana gak suka basa-basi dan gak suka sama orang yang buat dia risih.


Afriadi tambah benci lagi sama tu Agustian, dia itu suka megang-megang Afriadi dan kadang mukanya dekat dengan muka Afriadi deket malah yang tambah jengkel kan lagi itu si Agustian menjilat bibirnya sendiri. Rasa-rasanya itu orang mau langsung kena tendang sama Afriadi, dia bilang becanda saat Afriadi marah. Tapi, becandanya tidak lucu Afriadi sudah memperingati berkali-kali, tapi tetap aja dilakukan dan jawabannya selalu bilang becanda, untung Afriadi masih sabar kalau tak keluar dari sekolah nampaknya tu.


"Hah..." Afriadi menghela nafas pendek berjalan menelusuri lorong, tangan kanannya mengandeng buku gayanya baknya model papan atas.


"Hem," gumam Afriadi melihat di pojok kiri ada Agustian sama Gita, mereka sepertinya serius apa lagi itu si Agustian serius amat.


Afriadi tak menghiraukan mereka melanjutkan langkah menuju kantornya.


Malas dia sempat kepepet sama tu Agustian, bisa-bisa dia macam-macam pagi.


***


Istirahat kedua.


Kantor Afriadi.


"Pak Afri." Agustian muncul di balik pintu dengan suara manja.


Afriadi yang lagi koreksi tugas murid kaget lihat tu orang muncul. Agustian muncul diwaktu yang oas sekali untuk kena sembuk, sudah hari panas, otak mendidih, capek di tambah lagi sama kemunculan Agustian beh ingin meledak rasanya Afriadi.


Afriadi bersiap siaga 1 ia tak akan segan lagi membanting itu orang, kalau bisa patahkan tangannya sekali. Agustian tersenyum lebar mendekati Afriadi yang didekati semakin siaga.


"Bapak sayang lagi apa?" tanya Agustian berdiri di depan meja Afriadi.


Mendengar kata-kata tadi perut Afriadi terasa mual, ingin muntah rasanya.


Afriadi menatapnya tajam, malah direspon genit sama tu Agustian, "Makin cakep aja kalau gitu."


Dapat pujian seharusnya senang tapi malah aneh rasanya. Afriadi sadar sejak ia tahu sikap sebenarnya Agustian ini, kurang lebih kayak ***** sejenis spesies bencong tapi ini layanannya lebih.


Afriadi gak sangka kalau dia angkat guru seperti dia.


"Ada apa kau ke sini?" tanya Afriadi galak.


Agustian tersenyum lemah, duduk di kursi. Afriadi merasa aneh dengan tu orang biasanya suka ganggu kok sekarang engak.


"Aku mau ambil cuti selama seminggu," kata Agustian mengejutkan Afriadi. Pena yang dipegang terlepas dari tangannya.


Batin Afriadi sudah kebingungan kesambet apa ni orang? Apa kesambet nasi lemak Mak cik kentin.


Tapi, Afriadi bersyukur sekali berarti selama seminggu Agustian gak ada di sekolah.


Tanpa tanya-tanya lagi Afriadi langsung mengizinkan Agustian untuk libur.


Agustian meangguk lalu keluar dari ruangan Afriadi tanpa berkata-kata lagi.


Afriadi bingung, bener itu orang kesambet nasi lemak Mak cik kentin.


***


"Wah, gembira nampak." Latika menyambut Afriadi datang, menyalaminya yang tersenyum lebar.


Ceria nampak Afriadi.


Jelaslah dia ceria, pengacau hilang.


"Abang sehat?" tanya Latika menempelkan tangannya dikening Afriadi, ngecek suhu tubuh Afriadi.


Afriadi hanya tersenyum saja, membiarkan istrinya ngecek suhu tubuhnya.


Tanda tanya memenuhi kepala Latika, suhu tubuhnya normal saja. Sekali lagi Latika mengecek suhu tubuh Afriadi yang di cek tersenyum lebar. Latika khawatir jangan-jangan syaraf Afriadi ada yang putus gara-gara setres.


Dengan santainya Afriadi merangkul Latika, menuntunnya ke meja makan.


"Abang hari ini senang sekali," kata Afriadi disela senyumnya, Latika diam menunggu kelanjutan kalimat Afriadi,"Si pengganggu sudah pergi."


"Hem?" gumam Latika, menatap Afriadi heran siapa yang dibilang pengganggu?


Latika mau bicara tapi kalimatnya langsung dipotong Afriadi, "Jangan bingung siapa, dia yang Abang ceritakan waktu itu."


Latika mengingat kembali siapa orang yang Afriadi maksud.


"Oooo..." Mulut Latika berbentuk huruf o meangguk ingat siapa yang dimaksud Afriadi.


Afriadi sempat menceritakan Agustian, pegawai baru di sekolahnya.


"Kenapa dengan si Agustian?" tanya Latika ketika Afriadi duduk di kursi makan.


"Dia ambil cuti satu Minggu."


"Dia ke mana?" tanya Latika lagi sambil menumpuk nasi di atas piring.


"Abang tak tak ada tanya, seterah dialah mau pergi ke mana."


Latika meangguk menyerahkan makanan kepada Afriadi, dia juga duduk ikut makan bersama.


Latika pernah bilang pada Afriadi kalau muak dengan Agustian kenapa tidak dipecat saja, namun Afriadi tidak memecatnya pun, entah apa sebabnya.


Keletak... Keletak...


Ruang makan dipenuhi suara sendok menghentak piring. Mereka berdua diam menikmati makanan, kata orang-orang dulu 'gak baik kalau bicara saat makan' jadinya mereka gak bicara tahan dulu.


Kalau bicara mungkin kurang sopan ya, contohnya saja pas saat bicara itu nasi loncat dari mulut terjun ke lauk, orang yang mau ambil itu lauk jadi enggan rasa jijik kan?


Apalagi di takutkannya kalau lagi bicara terus tersedak, bahaya banget.


Diam pilihan terbaik.


***


Sorenya.


Latika duduk di sebelah Afriadi, merangkul lengan Afriadi yang memegang buku, memonyongkan bibirnya, mengedipkan mata berkali-kali bersikap imut, "Abang."


"Em," gumam Afriadi masih fokus sama bukunya.


"Bang, jalan-jalan yuk cari angin pakai motor," ajak Latika menggoyang lengan Afriadi.


Afriadi menatap Latika mengerutkan dahinya, kelihatan serius sekali. Latika menduga gak bakal di bolehin.


"Yuk," Afriadi menarik tangan Latika yang masih mematung dengan ajakan Afriadi.


Latika memukul pelan lengan Afriadi, "Kebiasaan buat kaget gitu."


Afriadi terkekeh berjalan menuju garasi rumah.


Mereka jalan-jalan mengendarai motor bebek yang sudah di ganti.


Sudah panjang jalan mereka ukur, hari pun mulai gelap. Mereka memutuskan untuk pulang. Pas di perempatan jalan Latika tiba-tiba berteriak minta berhenti.


Sontak Afriadi kaget, cepat-cepat ngerem.


Ia menoleh ke belakang, "Ada apa Dek?"


"Itu," tunjuk Latika mengarah ke sudut jalan yang tak jauh dari mereka.


"Apa?" Afriadi melihat di sudut jalan yang di tunjuk Latika.


Tanpa tunggu waktu lama Latika turun berlari-lari kecil menghampiri sesuatu. Afriadi yang penasaran memilih untuk melajukan motornya sedikit menghampiri Latika.


Afriadi kaget lihat Latika mengendong seekor anak kucing putih lusuh kurus kerempeng, matanya banyak kotoran.


"Ngapain dek pegang itu kucing, letak balik," perintah Afriadi tak selera lihat itu kucing.


Afriadi tambah terkejut lagi saat Latika minta pelihara itu kucing, "Abang pelihara ya." Tak lupa Latika menampakkan senyum manisnya.


"Apa? Adek mau pelihara ini kucing? Gak usah taruh balik, entah kucing siapa, asal ambil aja nanti orangnya marah. Taruh balik," titah Afriadi, dari muka sudah tahu tak mau melihara itu kucing.


"Ini bukan kucing sini, coba lihat gak ada kalung dan basah tak terurus seperti ini, pasti kucing buangan," kata Latika meluk itu kucing gak dikembalikan.


Risih Afriadi lihat Latika meluk itu kucing, "Taruh kembali Dek. Abang tak suka lihat itu kucing."


"Matanya biru Lo Bang."


"Gak gak gak taruh kembali, gak peduli matanya biru atau merah. Taruh balik."


Tak lama ada anak dan ibu lewat. Latika cegat itu anak, "Permisi."


Mereka berhenti, Latika langsung melontarkan pertanyaan, "Permisi, mau tanya. Ini kucing siapa?"


Afriadi menepuk jidat, istrinya PD kali.


Anak yang digandeng tangan mamanya, menunjuk kucing itu sambil berkata dengan suaranya yang imut, "Mama Mama itu kucing yang nyolong ikan Mama kemarin."


Mata Afriadi membulat sempurna, tersirat dalam hatinya kucing nyolong ikan ini parah parah parah.


Afriadi menggelengkan kepala.


"Oh, itu kucing buangan. Orang sekitar sini gak mau pelihara itu kucing, siapa yang mau pelihara kucing yang suka nyolong itu walau pun cantik. Siapa yang mau?" kata-kata emak-emak itu.


"Berati ini gak ada yang pelihara kan buk?" tanya Latika menyakinkan.


"Gak ada dek, kalau Adek mau silahkan ambil. Saya permisi dulu ya." Emak-emak itu berlalu mengandeng anaknya.


Latika menatap Afriadi menggedipkan matanya, memohon minta izin pada Afriadi, "Bang boleh ya pelihara? Kasihan dia, kalau ditelantarkan sungguh tak berperikemanusiaan."


Cemberut Afriadi, mulutnya bisa jadi busur buat belajar mtk.


Ia menghela nafas, sulit bagi Afriadi untuk menolak, demi istri tercinta akhirnya Afriadi bolehkan, dari pada Latika nangis guling-guling di jalan atau ngambek bagus izinkan saja.


"Boleh lah. Yuk, pulang."


Lebar senyum Latika gendong itu kucing bawa pulang.


***


"Wah, kucing siapa itu?" tanya Sari ketika lihat Latika membawa kucing ke dapur.


"Kucing aku," jawab Latika sedikit sombong.


"Idih." Sari mendelik, tak kalah sombong dari Latika, "jumpa di mana itu kucing? Kurus kerempeng lagi."


Latika menatap judes Sari, "Biar kurus gini, coba kau lihat. Matanya biru, bukunya halus, pipinya bulat-"


"Liar lagi." Sari memotong sambil tertawa cekikikan lihat ekspresi Latika.


"Ada ikan gak?" Latika menggendong itu kucing yang mau kabur.


"Ada, tunggu ya." Sari meambil ikan di rak dapur.


Latika tak bisa menahan lagi, kucing itu terlepas dari pelukannya, cepat itu kucing kabur melompat ke atas meja makan, Latika mau tangkap itu kucing tapi tak dapat keburu melompat dan...


"Hap." Afriadi berhasil tangkap itu kucing. Menggendongnya persis mengendong buku pelajaran.


Sari datang membawa ikan di atas piring cepat itu kucing memberontak ingin lepas dari Afriadi ketika ia mencium aroma ikan.


Ketika berhasil lepas secepat kilat itu kucing menyambar ikan, kabur bawa itu ikan. Afriadi tidak tinggal diam lihat itu kucing kabur bawa ikan, bukan karena pelit takutnya saja itu kucing buat satu rumah bau ikan.


Afriadi di bantu Latika sama Sari tangkap itu kucing.


Hari pertama kucing itu di rumah sungguh buat rumah heboh hanya karena satu ikan dan mandi heboh satu kampung.


Kucing liar, jadi begitulah cuma numpang makan ketika didekati ia gak mau malah kabur, tepi entah kenapa Latika bisa tangkap itu kucing waktu di persimpangan.


Hati berlalu, kucing sudah mulai menyesuaikan dirinya. Sekarang sudah jadi kucing berisi sebab dapat makan terus setiap ngeong dikasih. Apa tidak gendut.


Selama kucing tu ada, Afriadi merasa tersaingi sama tu kucing, sebab Latika suka main dengan itu kucing. Judes Afriadi setiap lihat itu kucing sama Latika dipeluk, dibelai.


'Seharusnya aku yang di sana' lubuk hati Afriadi berkata setiap lihat itu kucing bersama Latika.


Pandangan Afriadi melihat itu kucing tersenyum licik padanya. Api kesal membara dalam dirinya.


Malamnya.


Waktu Afriadi mau tidur, ia kaget lihat itu kucing ada di atas ranjangnya tidur sebelah Latika. Kesal lihat itu kucing cepat ia angkat kaki dan tangannya membawanya keluar kamar, berjalan menuju dapur.


"Nih, tempat tidur kau di sini." Afriadi perlahan turunkan itu kucing ke tempat tidurnya, "Jangan tidur di dekat Istriku, sudah cukup kau bersama dengannya waktu siang jangan malam pula. Sekarang giliran aku lagi."


Dalam pandangan Afriadi itu kucing menatap judes dia.


"Apa-apaan tatapan itu, aku ini tuanmu. Jangan pilih kasih denganku sedangkan dengan orang lain kau bersikap lain. Dah, tidur di sini. Jangan ikut."


Afriadi membalikan badan, ia kaget saat lihat itu kucing berlari cepat melewatinya menuju kamar. Cepat ia berlari juga tangkap itu kucing.


***


"Hoooom..." Mulut Latika menguap lebar, terbangun dari tidurnya. Menggucak mata melihat ke samping ia tidak mendapati Afriadi di sana.


Cepat ia turun mencari Afriadi.


"HOOOH..." Latika kaget lihat Afriadi tertidur di sofa ruang tamu dengan memeluk kucing kerat.


Si kucing kelihatan pasrah lihat Latika minta tolong padanya untuk dilepaskan dari kesengsaraan ini.


Tak habis pikir Latika bagaimana bisa Afriadi tidur dengan kucing itu, ia berpikir positif kalau Afriadi juga mau bermain dengan itu kucing toh selama beberapa hari terakhir ia sering bermain sama Afriadi tak dapat bagian, jadinya gantian.


Merasa momen yang langka Latika kembali berlari ke kamarnya meambil ponsel lalu kembali memfoto Afriadi meluk kucing.


Latika merasa gemes melihat Afriadi tidur dengan kucing.


***


Tring...


Pesan Wa masuk dari Latika.


Afriadi membuka pesan itu, wajahnya bersemu ketika ia lihat foto dirinya memeluk kucing subuh tadi.


Afriadi menundukkan kepalanya menyembunyikan wajahnya yang bersemu dari hadapan Siswa Siswi yang menatapnya.


Ya, dia lagi mengajar sekarang.


Afriadi ingat malam tadi waktu dia tangkap itu kucing menahan dia untuk tidak naik ke atas, lama ia tahan sampai tak tahu lagi kalau ia tertidur di sofa.


Para siswa siswi sibuk berbisik menyebut Afriadi, menyadari dirinya disebut Afriadi berdehem semua langsung diam.


Sorenya.


Afriadi lagi menunggu Latika di dekat pagar rumah, ya Latika tadi pergi lagi bersama temannya katanya ingin cari buku bersama.


Afriadi bicara dengan mang Juneb, Samsul dan satu tetangganya di pos.


Afriadi berdiri keluar pagar melihat di ujung jalan melihat Latika ada atau tidak. Ketika ia berbalik ia lihat kucing yang ia pungut itu bermain di rumput halaman rumah dekat pos.


Afriadi berniat jahil ingin ngagetin itu kucing. Ia cepat-cepat berlari menghentak-hentakan kakinya persis raksasa menakuti kucing yang berada di rumput itu, 3 orang yang berada di pos melihat aneh Afriadi.


"Salah makan obat." Merek pikir.


Yang benar saja, kucing itu mencegat kan bukunya matanya mulai membulat sempurna.


Merasa respon yang biasa Afriadi tak berniat untuk menganggunya lagi, ketika Afriadi berbalik berjalan beberapa langkah menuju pos.


Tiba-tiba secepat kilat kucing itu berlari melewati selenkangan Afriadi. Menuju ke jalan, Afriadi kaget lihat itu kucing berlari ke luar matanya membesar ketika melihat ada 2 motor datang dari arah bersamaan.


Dug...


Jantung Afriadi berdegup kencang lihat itu kucing mau ketabrak motor, dengan sigapnya kucing itu menghindar ingin motor sebelah kiri, menghindari sebelah kiri tanpa lihat lagi ada satu motor dari arah belakang motor kiri melaju sehingga kecelakaan tak terelakan.


Mulut Afriadi terbuka lebar matanya membesar melihat kecelakaan itu. Depan mata ia lihat langsung kucing itu lindas ban depan motor tepat di bagian tangannya menuju perut.


Mang Juneb, Samsul, dan tetangganya berdiri dari kursi terkejut melihat kejadian sekilas itu.


Si pengendara motor berhenti merasa dirinya menabrak kucing.


Si kucing yang merasa kesakitan cepat berlari kembali masuk ke halaman rumah bersembunyi dekat bawah motor Samsul.


Afriadi berbalik tanpa menghiraukan pertanyaan dari si pengendara yang menanyakan kucing itu terlantar atau tidak.


Hati Afriadi jengkel, "Sudah tahu terlanggar masih tanya lagi."


Afriadi meraih kucing itu menggendongnya persis anak bayi, si kucing merintih berteriak kesakitan. Afriadi yang tak tahu apa kata kucing itu, mengomeli si kucing, "Salah kau cing, main lagi dekat jalan."


"... Terlanggar kah?" tanya si pengendara.


Afriadi menjawab tanpa berbalik badan, "Ye, dah tahu terlanggar ya terlanggar lah." Afriadi berjalan membawa masuk kucing ke dalam rumah tanpa menghiraukan si pengendara motor yang berlalu pergi.


"Tu lah, main lagi dekat jalan. Salah kau cing salah kau." Afriadi mengomeli si kucing di setiap rintihan si kucing. Dia tak tahu kalau si kucing kesakitan hanya mengomeli saja.


Bik Ipah dan Sari yang berada di dapur kaget dengar suara Afriadi marah dan teriakan si kucing.


"Kenapa Tuan?" tanya Bik Ipah bingung.


"Ni ha kucing ditabrak." Afriadi menurunkan perlahan kucing tu ke lantai dia memberontak terus minta turun, Afriadi turunkan.


"Astaghfirullah, kasihannya." Bik Ipah mengusap kucing yang tak berdaya.


"Bagaimana bisa?" Sari ingin menyentuh itu kucing tapi itu kucing berjalan sambil teriak kesakitan. Afriadi hanya lihat kan saja, ada yang aneh dengan gerak-gerik kucing itu.


Bruk...


Kucing itu ambruk terbaring lemah di lantai, air seni serta kotorannya keluar. Melihat itu Afriadi kaget, mulai panik mau telpon dokter hewan.


Kata Bik Ipah sudah tak lama lagi dah umur kucing ni. Lihat dari gerak gerik kelihatan lain. Sari membersihkan air seni serta kotorannya dan Afriadi mengendong itu kucing meletakkannya di tempat tidur khusus miliknya.


Tak lama Mang Juneb datang lihat kondisi kucing yang nafasnya tinggal satu satu, kadang kucing itu melenguh kesakitan.


Berkumpul lah Mang Juneb, Bik Ipah, Sari mengelilingi kucing merasa iba lihat dirinya. Afriadi tak mendekat dia menjauh duduk di kursi makan, membuang perhatiannya pada itu kucing bukan tidak iba atau kasihan pada itu kucing melainkan ia merasa bersalah.


"Dasar manusia tak punya otak..." Mang Juneb menjadi-jadi marah sama orang yang tabrak kucing rumah ni, padahal yang tabrak kucing tu tetangganya juga la ibu-ibu yang berjarak sekitar 15-an rumah.


"Jangan bagi tahu dia, kalau kucing ni nanti mati, biar dia rasa nanti itu motor langgar orang jadi sial," omel Mang Juneb.


Afriadi diam saja.


Dapur terdengar suara nafas kucing yang terputus-putus membuat sesak mendengarnya. Afriadi nunduk dalam dalam memendam wajahnya ketika ia dengar hembusan nafas terakhir dari kucing itu Mang Juneb, Bik Ipah, dan Sari yang berada di dekatnya merasakan berat hembusan nafas itu.


Mang Juneb segera keluar menyiapkan kuburan buat itu kucing. Afriadi tidak mendekati itu kucing ia hanya diam duduk di kursi tanpa bergerak sedikitpun, satu kata terucap dalam hatinya untuk kucing 'Maaf'


Saat kucing dimakamkan Afriadi tidak meranjak dari tempat duduknya. Ia menyesal sungguh menyesal sekali, andai saja waktu itu dia angkat gendong itu kucing bawa masuk ke dalam rumah pastinya saat ia masih bernafas lari sana sini.


Afriadi menyesal sekali, itu terjadi pada kucing kalau saja satu saat nanti itu terjadi pada manusia kesalahan yang tak akan Afriadi maafkan walaupun dirinya sendiri pasti rasa Bersalah menghantui dirinya.


Tak lama kucing di kuburkan, si pengendara yang melanggar kucing itu datang. Ia kaget saat tahu kucing itu telah mati, Mang Juneb yang awalnya memaki-maki si pengendara malah jadi baik sampai menyarankan untuk memberikan kerudung yang di gunakan untuk membaluti tubuh kucing katanya supaya tidak sial menurut tradisi setempat. Si pengendara hanya menuruti saja melepas jilbabnya dan Bik Ipah memberikan jilbab pada ibu-ibu itu.


Afriadi tak peduli apalagi saat Sari dan Bik Ipah melewatinya sambil bicara.


"Tadi aku dengar lenguhan nafas si kucing," kata Sari.


Mata Afriadi melotot, ia menduga kalau kucing itu masih hidup gak mungkinkan mati semudah itu kan hanya terlanggar gak mungkin mati.


"Emang gitu Sar, kan tadi Mang Juneb menyentuh kucingnya jadinya kayak ada kesan suara gitu," kata Bik Ipah.


Sari meangguk. Afriadi yang menduga kalau kucing itu masih hidup jadi buyar ketika dengar penjelasan Bik Ipah.


Si pengendara minta maaf dia juga gak sengaja dan kaget saat kucing itu melintas di hadapannya tadi.


Afriadi memaafkan orang itu, karena benar apa yang ia katakan tak akan sempat waktu itu mau rem sedangkan kucing itu berlari mengkaget kan. Jika dia ada di posisi itu dia juga akan merasakan hal yang sama.


Setelah ibu-ibu itu pergi,


Afriadi meranjak dari tempat duduknya, ia pergi ke tempat dimana jasad kucing itu di kuburkan. Ketika sampai hati Afriadi merasa iba ketika lihat Bik Ipah dan Sari menahan tangis meninggalkan kuburan kucing itu.


Afriadi duduk di teras samping rumah mengamati dari jauh, rasa penyesalan menghantui dirinya lagi.


Tak lama Latika datang, "Abang..."


Afriadi menoleh melihat istrinya. Ia kaget lihat Latika nangis.


"Abaaaaaaang... Kucing Adek mati kah? Iya kah mati?" tanya Latika tersedu-sedu persis bocah.


"Iya." Afriadi meangguk, Latika semakin jadi menangis.


"Haaaa... Ngapa mati? Siapa yang buat? Haaa... Mana kuburannya?"


Afriadi nunjuk dengan mulutnya ke arah kuburan kucing itu. Garis senyum kecil tertarik di bibirnya.


"Kucing Adek..." Latika pergi ke kuburan kucing itu sambil terisak-isak.


Afriadi mau ketawa lihat ekspresi dan tingkah Latika, rasa bersalahnya hilang dengan tingkah Latika.


"Dia nakal jadinya ketabrak motor. Jangan main dekat jalan, membangkang malah main dekat jalan. Jangan salahkan siap yang nabrak, dia yang salah." Afriadi berkata demikian, berbanding terbalik dengan hatinya, 'Seharusnya aku tak mengkagetkannya jadi dia tidak akan lari ke jalan dan ketabrak. Aku yang salah.'


"... Abang siapa yang langgar?"


"Tetangga sana, mamaknya Kemal," kata Afriadi.


"Haaa... Teganya langgar kucing, tak punya hati."


"Sudahlah, ajalnya sudah sampai." Afriadi menghampiri Latika, Latika memeluk Afriadi menangis di dalam pelukannya.


"Sudahlah Dek, ikhlaskan dia pergi. Dia juga tak mau buat Adek sedih," kata Afriadi.


Malamnya...


Sari dan Bik Ipah duduk di kursi mereka bercerita kembali tentang kelucuan yang dibuat kucing itu.


"Rumah terasa sepi gak ada kebisingan, gak ada yang lari-lari lagi, gak ada yang buat keributan lagi, gak ada yang buat tuan kesal lagi," kata Bik Ipah, merasa kehilangan.


Begitu juga Sari ia juga merasa kehilangan ditinggal itu kucing.


Sedangkan Latika dan Afriadi di kamar.


Latika sibuk mengotak atik ponselnya, berkali-kali Afriadi dengar instrumen kematian.


Afriadi menatap istirnya, menyeringai kepalanya ke samping melihat apa yang istrinya buat.


"Apa tu Dek?" tanya Afriadi melihat video di ponsel Latika.


"Video kucing," kata Latika memutar video yang ia buat. Afriadi merasa sedih lihat video itu, ia memutuskan untuk keluar.


Afriadi turun dari ranjang berjalan keluar kamar ketika di tanya sama Latika alsan Afriadi dia mau minum.


Sesampainya di bawah Afriadi melihat kuburan kucing dari jendela samping, ia masih kepikiran rasa bersalahnya.


Satu kata yang Afriadi ucapkan dalam batinnya, "Maaf."


Ia cek ponsepnya, kalau tak salah dia ada befoto dengan itu kucing, ia lihat di galeri ternyata emang ada foto yang Latika ambil subuh tadi.


Air matanya menetes ke layar ponsel, perasaan baru saja ia menyentuh itu kucing sekarang sudah pergi untuk selama-lamanya. Ia baru sadar kalau dirinya juga menyayangi kucing itu.


Afriadi menghapus air matanya, foto itu ia jadikan wallpaper Wa-nya.


"Beristirahat yang tenang ya," gumam Afriadi.


"Abang," panggil Latika.


Rasanya Afriadi membeku ketika dengar suara Latika.


"Abang ngapa tu?" tanya Latika mendekat mencoba lihat wajah dan mata suaminya yang merah macam habis nangis.


Latika yang terlalu perasaan jadi ikut nangis, merasa sedih kehilangan kucing itu. Afriadi memeluk Latika, membiarkan dia menangis di pelukannya, Tangannya mengusap-usap punggung Latika menenangkannya.


***


Bagaimana ceritanya?


Oh ya kucingku itu namanya putih, bagi yang penasaran kucingnya katak mana kunjungi aja ig saya 'Advan2017613'


Mungkin nanti akan di posting video yang Latika buat (Kalau masih ada)


Oke, terimakasih ya sudah baca.


By by by...


Jumpa di episode berikutnya.