Suamiku Guruku

Suamiku Guruku
Keluarga Cacan Datang Berkunjung


Halo semuanya, potong dulu ya sebentar.


Sorry ya seharusnya malam tadi up-nya, jam 10 malam tapi...


Hehehehe... Auto ketiduran pas lagi nulis, tinggal berapa kata saja lagi.


Namun naasnya pas Auto melek tulisan yang Auto tulis malam tadi...


Masih ada, Alhamdulillah. Tapi, gak tahu kenapa lagi ngantuk berat auto kembali nulis dan tak tahu kenapa itu tulisan semalam jadi hilang.


Jadi zong yang didapat ಠ︵ಠ


Hah, terpaksa harus nulis ulang, tapi untung hanya sedikit saja yang hilang sebab bagian awal cerita sudah ke save semalam. Hahaha... Jadinya tak banyak lagi yang ditulis.


Untung ya, kalau gak gak akan up pagi ini.


So, selamat membaca.


***


Tak terasa waktu berjalan cepat, tinggal beberapa 5 bulan saja lagi ujian semester.


Latika disibukkan dengan sekolahnya.


Satu hari, temannya Afriadi Cacan datang berkunjung ke Rumah bersama istri dan anaknya yang baru berusia 3 tahun.


Latika dan Afriadi kaget dengan kedatangan mereka yang tak bagi kabar lagi.


Mereka datang sekitar jam 3 sore, kata Cacan istrinya nak bertemu dengan Latika nak lihat Istri Afriadi macam rupanya, dulu waktu pesta pernikahan dia tak datang sebab dia lagi di luar kota mengurus ibunya yang lagi sakit.


"Oooh~~~ ini yang namanya Latika ya, istri Afriadi." Istri Cacan mencubit pipi Latika.


Dia Jeni, istri Cacan asli orang Samarinda.


Wanita berparas ayu itu dengan mengenakan hijab pasmina feasonebel selaras dengan kemeja dan Jaz dokternya, Ia berprofesi sebagai dokter spesialis gigi, setiap kali ia tersenyum terlihat gigi putih terawat rapi berpagar lagi Dia satu tempat kerja dengan suaminya.


Afriadi kenal dengan Jeni ketika ia kembali ke Indonesia, diperkenalkan sama Cacan. saat itu Jeni dan Cacan masih pacaran.


Seperti yang kalian tahu, masa-masa pacaran itu masa-masa yang indah menurut mereka, jadinya jika Afriadi bertemu dengan mereka rasanya Afriadi seperti dikucilkan karena tak punya pacar.


Afriadi positif thinking aja, mereka pasti hanya bergurau saja, biasalah itu. Tapi yang tak enaknya apabila makan bareng mereka di restoran Afriadi melihat pemandangan yang sakit dimata para jomblo melihat mereka makan besuapan. Menciut jiwa jomblo Afriadi, mau suapan tapi dengan siapa? Dengan angin? Yang ada dikata orang gila.


Afriadi tak menyangka juga dulu kalau Cacan dan Jeni jadi sepasang suami istri, padahal dulu hampir kandas Lo hubungan mereka, gara-gara kesalahpahaman saja.


Untung waktu itu cepat diselesaikan.


"Hey! Af, istrimu comel aku bawa pulang ya, jadi anak angkat aku. Hehehe..." Jeni memutuskan lamunan Afriadi.


"Enak aja," sambar Afriadi ketus, "Dia istriku lah."


Jeni hanya terkikik-kikik pelan, tak menghiraukan Afriadi. Ia lanjutkan dengan memperkenalkan Latika dengan anaknya, Bilqis.


Balita berusia 3 tahun itu kelihatan gemas dengan Latika, tangannya kerap mengepal kayak gemes gitu lalu melompat-lompat mengajak Latika bergurau, Latika yang juga senang ikut bergurau. Dikala Latika berguarau dengannya si Bilqis tertawa malu berlari ke arah ibunya yang tak jauh jaraknya dari Latika, hanya sebelahan saja.


Si Bilqis menyembunyikan wajahnya di dada ibunya, sesekali ia mengintip. Dikala Bilqis mengintip Latika selalu celup ba padanya membuat tawa humor balita itu pecah kembali menyembunyikan wajahnya lagi di dada ibunya.


Hari itu Latika asik bermain dengan si Bilqis, sampai Latika membuatkan susu untuk Bilqis dikala ia merengek minta susu.


Latika dan Bilqis cepat sekali akrabnya sampai Cacan papa Bilqis bingung dengan anaknya, tumben dia cepat akrab dengan orang yang baru ia kenal. Biasanya anak-anak kalau lihat orang yang baru ia kenal tak terlalu dekat seperti waspada dengan orang itu. Ini saat Latika gendong Bilqis enteng-enteng aja.


"Kau kapan Af punya anak? Lihat Latika kelihatan senang sekali ketemu anak kecil, sosok ibu seakan memancar dalam dirinya," kata Cacan pelan.


"Hem, Latika harus fokus dulu dengan kuliahnya. Takutnya nanti perkuliahannya akan terganggu jika punya anak."


"Af, anak itu bukan pengganggu... Jika ia sanggup dan kau pengertian membantunya mengurus anak, pasti akan baik-baik saja sekolah Latika. Lagian kau punya pembantu yang bisa diandalkan untuk menjaga buah hati kalian..."


Afriadi terdiam sejenak ketika dengar pendapat Cacan.


"Kau tak ada penyakit pada anu mu kan?" tanya Cacan tiba-tiba, matanya melirik bagian keamanan Afriadi.


Raut wajah Afriadi seketika berubah suram dan...


Buk...


Cacan dapat jambu dari Afriadi.


"Eh?" Latika dan Jeni menoleh ke arah mereka, Bilqis juga ikut menoleh dengan wajah comelnya.


Pikiran mereka bertiga bertanya-tanya 'Apa yang barusan terjadi?'


"Latika suamimu kejam juga," kata Cacan mengusap bekas tinju Afriadi di bagian pipi yang terasa sakit.


"Hiiiiss..." Cacan mendesis melirik Afriadi, yang dilirik memasang tampang suramnya.


***


"Kami pulang dulu," kata Jeni, mengendong Bilqis yang menggigit tangan kirinya, "Bay Bay jumpa lagi." Jeni mengajari Bilqis melambaikan tangan.


Bilqis dengan gemasnya meniru ibunya melambaikan tangan seraya mulutnya bergerak seperti mengucapkan kalimat 'Bay Bay' Latika juga ikut melambaikan tangganya.


Latika dan Afriadi tambah gemes dengan Bilqis yang memberi mereka salam kiss yang ia tiru dari ibunya beberapa detik lalu.


"Yom, sudah hampir larut dah ni," ajak Cacan ketika sudah melihat pertunjukan anaknya. Bilqis, "Af Latika, kami pamit pulang ya?"


Latika dan Afriadi meangguk. Jeni membawa masuk Bilqis ke dalam mobil.


Sekali lagi Bilqis bersama ibunya dengan senyumnya melambaikan tangan di dalam mobil yang jendelanya sengaja dibuka, Latika dan Afriadi juga membalas dengan lambaian tangan.


Mobil mulai melaju meninggalkan rumah mereka.


Latika dan Afriadi hanya melihat mobil kian menjauh seiring dengan jatuhnya lambaian Latika.


"Ramai ya Rumah kalau ada anak-anak," kata Latika tiba-tiba memecah keheningan malam.


"Iya, terasa ramai," sahut Afriadi. Batinnya sudah menduga-duga kalimat Latika mengarah ke mana, ia menghela nafas pendek.


"Bang." Latika memeluk pinggang Afriadi, melihatkan wajahnya seraya mengedipkan mata, "kita kapan punya anak? Pasangan muda di luar saja banyak yang sudah punya anak-"


Tup...


Mulut Latika ditutup Afriadi dengan tangannya yang besar, "Nanti ada saatnya, sekarang Adek fokus kuliah saja."


Terlihat raut wajah tidak senang Latika, menyadari reaksi Latika. Afriadi memilih membawanya pergi masuk ke dalam rumah, lagian hari sudah semakin larut.


"Yom, masuk." Afriadi merangkul Latika berbalik arah membawa istirnya masuk.


Wajah Afriadi ceria wajah Latika suram seperti mau makan orang, hilang keimutannya kalau macam gitu.