
"Hem, Alhamdulillah lumayan gak sakit lagi."
Latika menggerakkan kakinya.
"Gak sakit Dek?"
Latika menggeleng ketika Afriadi bertanya.
"Jangan banyak bergerak dulu, nanti tambah sakit," kata Afriadi mendekat duduk di tepi tempat tidur, dia sudah rapi bersiap berangkat mengajar.
"Em," gumam Latika. Menyalami Afriadi.
Afriadi mengusap kepala Latika, "Abang hari ini tak pulang lambat kan?"
"Kenapa mulai rindu ya?"
"Idih, kepedean. Adek cuman nanya kalau Abang pulang lambat Adek tak ada teman." Latika menggembungkan pipinya membuat Afriadi tak tahan untuk mencubit pipinya.
"Sama saja itu namanya rindu," kata Afriadi.
"Gak Bang, kesepian itu beda dengan rindu," bantah Latika.
"Sama Dek."
"Engak Bang."
"Terus? Adek merasa kesepian kenapa nunggu Abang pulang di rumah kan ada Bik Ipah, Sari, Samsul, dan Mang Juneb Adek gak kesepian. Tapi kenapa Adek nunggu Abang kalau bukan rindu."
"Mereka kan sibuk. Abang gak tahu sih. Apa harus Adek kuliah kan juga ya, ambil jurusan sastra." Latika menunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah, betul kata Afriadi.
"Adek malu ya mengakuinya kalau Adek rindu," goda Afriadi membuat Latika salah tingkah, "Ya udah Adek benar, Adek kesepian. Nanti Abang pulangnya seperti biasa kalau bisa cepat."
Afriadi mengusap kepala Latika, "Abang berangkat dulu ya, Adek bantu do'a di rumah biar pekerjaan Abang lancar, diberikan kemudahan."
Latika meangguk, ia melihat Afriadi pergi dengan menggandeng tas kantornya keluar kamar. Latika menghela nafas.
Tiba-tiba ada suara langkah kaki mendekat Latika meangkat kepalanya melihat ke arah pintu, ia lihat Afriadi muncul lagi menghampirinya.
Tanpa aba-aba lagi ia...
Cup...
Mencium kening Latika.
"Hampir saja lupa, baik-baik di rumah ya sayang," katanya lalu pergi.
Wajah Latika memerah jantungnya berdegup ei, "Cepat pulang bang, Adek tunggu."
***
"Sam bagaimana kabar ibumu?" tanya mana Juneb pada Samsul yang duduk di sebelahnya di depan pos lihat para tetangga sibuk berangkat kerja.
"Alhamdulillah sehat," jawab Samsul, "Ibu sudah aku pindahkan dari kontrakan yang lama ke kontrakan yang baru soalnya di kontrakan yang lama rawan kejahatan, banyak tetangga sudah jadi mangsa. Karena khawatir dengan ibu, jadinya di pindahkan. Aku juga jarang pulang dan sekarang karena rumahnya lumayan dekat aku bisa pulang balik melihat ibu."
"Oh, rawan sekali ya. Untung kamu cepat memindahkan ibumu dari sana. Dengar kabar baru-baru ini banyak yang jadi korban... Entah bagaimana maling itu bisa kabur dari amukan masa. Sudah di kepung malingnya masih bisa kabur..." Mang Juneb semangat sekali menceritakan informasi yang baru ia dapat dari temannya mengenai maling yang berkeliaran di sekitar perumahan warga desa. Dan kebetulan juga Samsul bersama ibunya tinggal di sana, "Katanya malingnya itu pakai ilmu hitam dan..."
Tet tet.. tet tet...
Klakson mobil Afriadi berbunyi menyela pembicaraan Mang Juneb dan Samsul, minta dibukakan pagarnya ia mau lewat.
Samsul langsung berdiri membukakan pagar.
"Sam berapa umurmu sekarang?" tanya Mang Juneb kelihatan serius.
Samsul menghitung umur dengan jarinya, tak lupa mulutnya juga ikut komat-kamit berhitung, "Em, sekitar 24 tahun."
Mang Juneb meangguk, "Masih muda lagi ya."
Samsul hanya tersenyum kembali duduk di dekat Mang Juneb. Ia bergeser menjauh sedikit merasa tidak nyaman. Mang Juneb kelihatan beda dari yang tadi, dia diam menatap Samsul serius.
Samsul hanya menelan ludah, tegang.
"Sam, apa kamu menyukai Sari?" tanya mana Juneb kembali.
Samsul hanya diam, dia juga bingung dengan perasaannya pada Sari dia mencintainya atau hanya menyukainya saja.
Samsul membuka mulutnya, "Aku juga bingung dengan perasaanku padanya. Mamang jangan khawatir, jikapun aku menyukainya aku tidak akan kacau dia."
"Perasaan suka seseorang setiap hari akan tumbuh, apa lagi sering ketemu. Kalau kau suka dengan dia apa kau sanggup menunggu dia selesai kuliah? Capai cita-citanya?"
"Aku juga sanggup,"jawab Samsul mantap, garis senyumnya terangkat, "Apalagi membantu dia capai cita-cita, aku mau."
Mang Juneb ikut tersenyum menatap langit dilewati awan-awan yang berangkat keliling dunia.
***
"Neng Sari tadi ngapain aja di kampus?" tanya Samsul sedikit teriak biar Sari yang ada di belakangnya mendengar apa yang ia bicarakan.
"Bayar uang masuk dan lainnya!" teriak Sari.
Sulit sekali bicara sambil naik motor, pakai teriak-teriak.
Samsul habis jemput Sari dari kampus, sekarang mereka lagi di jalan di dengan hari yang terik ini. Panas menyengat kulit kepala yang terbungkus helem, apa lagi yang tak pakai helem beh serasa matang itu otak.
Apa lagi macet, menguji kesabaran betul. Tapi, untunglah hari ini gak macet.
Sepanjang perjalanan Samsul bicara dengan Sari, benar apa kata Mang Juneb. Seiring berjalannya waktu perasaan seseorang akan berubah. Saat ini Samsul tak dan Sari tak sadar tapi nanti ada saatnya mereka sadar.
"Mas Samsul ke pasar dulu ya, Bik Ipah nitip barang untuk di beli," kata Sari.
Samsul hanya meangguk menuju pasar rakyat yang tak jauh dari sana.
***
"Hem," gumam Afriadi duduk di singgasananya, memperhatikan lebih detail surat lamaran kerja yang diajukan seseorang.
Afriadi melirik sekejap orang yang duduk di seberangnya dengan senyuman lebar bercampur cemas lalu kembali melirik lamaran kerja untuk menjadi guru ekonomi.
"Kenapa baru sekarang cari kerja? Kenapa tidak dari dulu? Kamu sudah lama lulus kuliah," tanya Afriadi tetap memperhatikan lembaran itu.
"E, itu. Saya tak mau bekerja, perusahaan papa saya bangkrut dan dia jatuh sakit, jadi semua beban keluarga saya tanggung. Jadi saya harus cari kerja untuk kebutuhan sehari-hari dan biaya berobat papa," jawab pelamar kerja itu.
Afriadi melirik sebentar orang itu, meletakkan lembaran surat lamaran kerja di atas meja, "Gita, nilai akademik kamu bagus. Saya ingin tanya. Kamu masih muda dan nilai bagus, kenapa tidak ajukan lamaran kerja ke perusahaan?"
Gita nama wanita yang melamar pekerjaan, dia menyeringai, "Saya ingin jadi guru saja, kalau jadi guru bisa berbagi ilmu, mengajarkan ilmu terus termasuk jihad lagi dapat pahala dan menjadi amal jariah jika ilmu yang kita ajarkan diajarkan balik oleh mereka pada orang banyak. Lagian kalau saya kerja di kantor mungkin saya tak bisa urus keluarga, kalau jadi guru tengah hari sudah pulang jadi bisa ngurus rumah dan keluarga..."
"MasaAllah, baiklah kalau gitu. Kamu diterima bekerja di sini jadi guru ekonomi. Besok sudah bisa masuk kerja, nanti jadwalnya bisa diatur," kata Afriadi salut dengan Gita.
"Terimakasih, Pak." Gita tersenyum lebar, gembira sangat, "Saya permisi ya pak."
Afriadi meangguk mempersilahkan. Gita bangkit dari kursinya berjalan keluar, Afriadi menggeleng melanjutkan kerjanya.