Suamiku Guruku

Suamiku Guruku
Sabuk pengaman


Jam pelajaran pertama usai sudah disambung dengan jam pelajaran ke dua, istirahat terus dilanjutkan dengan jam pelajaran ke tiga.


Jam pelajaran ke ketiga Latika duduk di bangkunya tertunduk malu melihat kontak ponselnya.


Wajahnya sedikit bersemu, melihat kontak seseorang dengan nama honey.


Ya, kalian benar kontak itu, kontak Afriadi. Entah kenapa namanya honey.


Itu yang membuat Latika sedikit syok tadi ketika ditanya temannya.


Tadi...


Beberapa jam yang lalu.


Di kantin.


Ketika Latika selesai dengan makanannya dan Hadi pergi membayar makanan.


Latika diserang dengan temannya dengan pertanyaan mengenai kontak itu.


"Latika ini kontak siapa?," tanya Salasiah senyum menggoda Latika, melihatkan pada Latika, "Honey, lo namanya."


Eh... Latika menyadari sesuatu. Ya, dia sadar kalau itu kontak Afriadi soalnya dia yang membelikan ponselnya, Latika tak ada memasukkan kontak orang lain.


"Uuuu... Jangan-jangan ini kontak pacarnya." Hana ikut menggoda Latika, tersenyum lebar.


"Teman kita sudah tak jomblo lagi, ia berani keluar dari dunia jomblonya! Hahaha...," suara Nana sedikit besar, tertawa.


"Selamat ya!," sahut siswi yang merupakan kakak kelas, ternyata dia mendengar pembicaraan mereka.


Lalu di ikuti dengan sorakan temannya dan siswi lainnya, "Selamat ya!! Semoga langeng."


Wajah Latika merah, malu tak bisa berkata apa-apa. Ia merasa seakan beban di dadanya yang membuat ia sesak seakan hilang begitu saja, ia antara senang dengan tidak dapat ucapan selamat dan do'a dari mereka.


Begitulah kejadian singkatnya.


Satu kantin melihat mereka.


Teng... Tong...


Bel berbunyi menandakan waku jam pelajaran ke tiga sudah habis, dan sekarag istirahat beberapa menit lalu masuk jam lagi pelajaran ke empat.


Seperti yang kalian ketahui pada umunya di SMA Ayyubiyah ini, jam pelajaran keempat ini tepat setelah sholat dzuhur.


Trik matahari yang menyengat seperti membakar kulit kepala sampai ke otak, walau sekolah ini menyediakan kipas angin di setiap ruangan.


Namun tetap saja hawa panasnya tetap terasa, di tambah lagi belajar bahasa Inggris, pelajaran yang paling tak di sukai Latika, pelajaran yang membuat kepalannya terasa mau pecah apalagi mendengar bahasanya yang sulit dicerna Latika. Di tambah lagi dengan aroma-aroma penghuni kelas ini yang berbeda-beda, bermacam-macam baunya masuk ke hidung Latika. Haduh.. Mabuk menciumnya, kalian mungkin pernah mengalaminya.


"Haduh.. Cepatlah keluar, pusing lama-lama aku di sini." Hati Latika mengeluh terus, kepalanya terbaring lemah di atas meja dari Guru masuk sampai guru berdiri lama di depan sana mejelaskan pelajaran, Latika tidak memperhatikan sama sekali, apalagi yang ia tahu kalau guru yang mengajar bahasa inggris itu dia [Afriadi].


Afriadi yang berdiri di depan sana dari tadi melihat Latika yang tidak memperhatikan, berseru dalam hati, "Apa dia masih sakit? Sudah biarkan saja ia istirahat mungkin dia pusing, tapi kenapa tidak disuruh ke UKS saja. Tanggung sebentar pulang. Biarkan saja dia."


Ting... Tong...


Panjang umur, baru disebut sudah berbunyi bel sekolah. Suara yang dirindukan oleh Latika dan murid lainnya.


Mata Afriadi membulat melihat Latika yang segar bangun mengemas peralatan belajarnya memasukkan ke dalam tas, ia hanya bisa menggeleng-geleng kepalannya, menutup buku.


"Yes, ini yang aku tunggu akhirnya tiba juga," seru Latika dalam hati sudah menggendong tasnya.


Hadi berdiri dari bangkunya menyiapkan, di ikuti teman sekelasnya.


Afriadi keluar disusul dengan anak murid dari belakangnya.


"Latika mau pulang bersama?," ajak Hana menggandeng Latika.


"Alah, yok lah. Kalau tak mau dengan Hana dengan aku saja bagaimana?." Salasiah muncul di samping Hana memujuk Latika.


Latika mau menjawab dipotong Nana yang muncul di samping Latika, "Kalau kau tak mau dengan mereka dengan aku saja bagaimana? Aku traktir dah makan, ya. Nanti langsung aku antar kau pergi kerja, ya." alis Nana naik turun naik turun.


"Gawat kalau mereka mengantarku pulang, bisa ketahuan, dan aku tak kerja di sana lagi bisa gawat kalau mereka tahu. Cari alasan Latika, tolak saha bagaimana pun caranya," guma Latika dalam hati, mulai gelisah, "Ah.. Aku mau pulang sendiri saja."


Hana, Nana, dan Salasiah tak mendengarkan alasan Latika, mereka tetap memaksa Latika untuk ikut dengan mereka. Karena terlalu mendesak akhirnya Latika asal lepas kata saja, "AKU DIJEMPUTNYA NANTI." kebiasaan Latika bicara cepat lagi membuat temannya melongo tak paham tapi sedikit kata masuk ke telinga mereka.


"Kebiasaan bicara cepat betul," omel Nana mengorek telinganya.


"Kau akan dijemputnya nanti?." Hana sepertinya mendengar kata Latika tadi, "Oooh.. Pantasan saja diajak gak mau ternyata mau dijemput bebebnya."


Latika hanya tersenyum canggung, berseru dalam hati, "Entahlah dia akan mengajak aku pulang bersama atau tidak."


***


Akhirnya Latika pulang sendiri berjalan, mobil-mobil teman-temannya lewat, Latika sempat iri tapi apalah daya Latika bukan siapa-siapa.


Rencanannya pulang ini Latika mau singgah ke kost ambil barangnya di sana langsung pamitan dengan Bu Kost.


Latika melangkah menuju rumah kosannya lamannya yang lumayan jauh, ia melihat pangkalan ojek di depan sana, "Ah, lumayan jauh juga kosannya, naik ojek saja tapi, harus hemat aku tak mau boros nanti katanya apalah tukang moroti harta. Harus hemat Latika, pulangnya saja naik ojek sekarang jalan saja."


Sekarang Latika hanya bisa jalan saja.


Tinggal berapa langkah saja lagi Latika melewati pangkalan ojek, sebuah berjalan lambat di sampingnya, Latika merasa terusik berhenti berjalan. Eh, Latika berhenti berjalan mobil itu juga berhenti, jendelanya bergerak menurun.


Latika menoleh ke samping melihat siapa yang ada di dalam mobil.


Mata Latika menbulat, ternyata dia lagi.


"Naiklah," ajak Afriadi dengan wajahnya yang dingin, Latika memberikan tatapan sinisnya, "Jangan menatapku seperti, cepat naik."


"Tidak perlu," jawab Latika seraya melangkah meninggalkannya.


Afriadi menjalankan mobilnya dengan lambat di sampingnya latika, bicara dengan Latika, "Kau tidak mau naik."


Lagi-lagi Latika menghentikan langkahnya menatap judes Afriadi, mendengus, menghentakkan kakinya ke tanah geram, "Tidak."


"Kau tahu bukan di depan sana ada preman..." Afriadi sedikit menakut-nakutinya.


Latika tahu kalau di depan saja menang ada pereman, biasanya Latika pulang bersama rombongan siswa atau siswi ketika lewat sana atau naik ojek di pangkalan sana, sekarang dia berjalan sendiri saja karena terlambat pulang gara-gara dicegat melirik mata Latika yang menatap tajam.


O oo... Mata mereka bertemu, dan wajah mereka dekat sekali.


Hik.. Afriadi seperti tersengat sesuatu, hatinya bergetar melihat Latika dari dekat, paras yang cantik dan bola mata yang indah. Afriadi menggelengkan kepalanya,


cepat memalingkan pandangannya dan..


Cekleekk... Afriadi selesai dengan sabuk pengamannya.


Sekali lagi ia melirik Latika, yang di lirik pun ikun meliriknya sekejap rona di wajah Afriadi kelihatan walau tidak jelas.


"Ada apa ini? Perasaan apa ini?," hati Afriadi bertanya-tanya menikmati suasana yang indah itu.


"Mesum, lepaskan tanganmu." Latika geram gengeretak giginya, perkataan Latika menusuk Afriadi menyadarkan dia.


Cepat Afriadi menjauhkan tangannya dari dada Latika.


"Tanganku seperti mati rasa," kata Afriadi dalam hati memegang tangannya yang gemetar sebentar dan Latika tertunduk menyembunyikan wajahnya yang dari tadi sudah merah.


Tak lama kemudian mobil berjalan, dengan tangan yang masih gemetar, ia kembali menyetir.