Suamiku Guruku

Suamiku Guruku
Kapan Nikah Sam?


"Em, apa Adek baik-baik saja ya di sana?" Afriadi duduk di kursi, ia menopang dagu, memikirkan Latika yang lagi di kampus.


Afriadi mau mengirim pesan sama Latika, tapi ia berpikir kalau kirim pesan nanti ganggu Latika jadinya ia gak jadi kirim pesan.


Teng... Tong...


Bel sekolah berteriak nyaring seperti biasanya, menandakan pergantian jam belajar. Afriadi segera berdiri dari tempat duduknya meraih beberapa buku pelajaran, ia masuk ngajar di kelas 10 B IPA ngajar MTK.


Ketika di lorong Afriadi berpasan dengan Gita yang baru keluar dari kelas 10 B kelas yang akan Afriadi masuki.


Yap, hari ini hari pertama Gita mengajar dan dia disambut gembira dengan anak-anak apalagi yang cowok beh demen banget, sama guru cantik. Ngomong-ngomong Gita ini orangnya pendek bawah ketiak Afriadi lah tinggi badannya sekitar 150 dan dia itu gak kurus dan juga gak gendut sedangkan kayak berisi gitu badannya lumayan menahan diri dari terjangan angin, jadi gak melayang ke tiup angin ⁰▿⁰


Tapi, walaupun dia pendek. Dia lumayan cute juga Lo kayak boneka Anabel eh salah kayak Marsa. Senyumannya manis, rambutnya hitam kriting gantung terurai aduh tambah meleleh hati pria tambah terpikat olehnya.


Afriadi seperti biasa cuek aja, meangguk sebentar disaat Gita menyapanya. Ia langsung masuk ke dalam kelas, Gita menggeleng dia paham sikap Afriadi setelah diberitahu sama guru-guru lainnya.


Gita melanjutkan langkahnya sambil menyeringai dengan tatapan mata yang tajam.


Sedangkan Latika di kampus lagi enjoy menikmati MOS, gak enjoy juga sih. Dia sendiri gak ada teman, orang yang ia kenal lagi sibuk.


Sedangkan di posisi lain, di belahan dunia sana eh kejauhan.


Ulangi.


Sedangkan di posisi lain, Samsul lagi tengah asik dengan ibunya melihat kebun binatang. Yap, hari ini Samsul libur dia menemani ibunya yang lagi berulang tahun ke 55.


Habis dari kebun binatang Samsul membawa ibunya ke rumah makan dulu isi perut, habis itu mereka jalan-jalan ke tempat yang menarik menghabiskan waktu siang lalu mereka mengunjungi rumah adik beradik mamanya atau sering dikenal dengan sebutan Paman dan Bibi.


Nah, saat singgah di rumah bibi dan lagi kumpul-kumpul, Samsul dapat pertanyaan yang sangat memukul jiwa jomblonya.


"Kapan nikah?" tanya sang bibi.


Samsul yang saat itu lagi minum sampai tersedak, rasanya itu air mau muncrat ke muka bibi yang duduk di seberangnya.


Samsul mengusap bibirnya dengan lengan berbalut baju.


Jiwa jomblo Samsul bergejolak, apalagi yang lain ikut bertanya juga.


"Iya, kapan nikah?"


"Jangan tunda-tunda, nanti keburu gak laku lagi..."


"Sayang Lo, tubuh atletis wajah lumayan tapi gak punya pasangan."


"Jangan kalah dengan utuh tetangga sebelah, walaupun wajah ya standar, item, gendut. Tapi, walaupun begitu dia punya mantan 10 woy cakep-cakep. Bulan nanti nikah lagi. Kamu kapan?"


"Nanti jadi bujang lapuk? Siapa lagi yang mau nanti?"


Rasa kayak...


Jleb...


Nusuk semua kata-katanya.


Samsul hanya merespon dengan tersenyum.


"Eh, Mak. Mas Samsul lagi pdkt sama cewek," ujar Koko anak bibi Samsul.


Semua mata tertuju pada Koko.


Samsul melototi Koko, diantara keluarganya Koko yang paling tahu soal Samsul apalagi masalah perasaan toh di sering curhat sama Koko. Inilah resiko jika curhat sama orang.


"Seriusan?"


"Dia lagi pdkt. Sama siapa?"


Koko diserang banyak pertanyaan.


Dan naasnya itu mulut Koko terlalu jujur, jadinya ember bocor semua. Samsul hanya menatap tajam Koko.


Samsul juga tak ketinggalan ditanya-tanya, beh mereka kayak agen intelijen korek habis informasi yang ada. Beh, tambah jadi lagi ibunya ikut bertanya, itu mata berkaca-kaca terharu dengan anaknya yang lagi pdkt yang berarti akan dapat menantu.


"Cuma teman Bu. Aku dan dia itu gak ada hubungan lebih hanya teman," jawab Samsul.


"Teman tapi dekat," sela Koko. Itu mulut rasanya mau kena sumbat pakai cabe setan kali ya atau di tampal pakai lem biar gak bocor lagi.


"Cuma teman, gak lebih gak kurang," tegas Samsul berbanding terbalik dengan hatinya, maaf Sari terpaksa bilang begitu.


Satu keluarga terdiam.


Haaa... Mereka menatap Samsul penuh curiga, biasanya kalau marah berarti benar dong ada hubungan diantar mereka.


Wola... Wola....


Wajah Samsul merah padam.


Sang ibu menepuk bahu Samsul seraya mengusap-usapnya merasa terharu, gak sangka di hari ulang tahunnya ia mendapat kabar yang menarik anak semata wayangnya lagi pdkt.


Tapi Samsul memasang wajah sedih, merasa sedih karena menaruh harapan palsu sama ibunya. Sesak dada rasanya.


Samsul menatap horor Koko, ini semua tak akan terjadi kalau itu mulut gak bocor.


Koko hanya menelan ludah, paham akan apa yang terjadi nanti, bisa-bisa lepas ini ia terbaring di Rumah Sakit kena baku hantam Samsul.


***


"Dek, tadi macam mana ospeknya?" tanya Afriadi mengelus-elus kepala Latika terbaring telentang di atas ranjang dengan Latika di samping dipeluknya.


"Seronok sangat, Adek mulai dapat teman..." Latika menceritakan hari ini di kampus. Mata Afriadi sudah mengantuk tapi ia paksa untuk mendengar cerita Latika.


Matanya sudah putih, mulai terlelap dalam tidurnya tapi lagi-lagi ia terjaga saat Latika bertanya, "Bang, Abang dulu kuliah macam mana?"


"Em, masa Abang kuliah dulu..." Dengan rasa kantuk Afriadi menceritakan masa-masa kuliahnya dulu sama Latika. Dalam keadaan mengantuk Afriadi bercerita sampai ia menguap berkali-kali sangking mengantuknya.


Nada bicara Afriadi kian lama kian melemah.


Tut Tut Tut Tut...


Sinyal putus.


Afriadi sudah jatuh dalam kantuk, tertidur. Begitu juga Latika, sudah ikut tertidur.


***


Jam menunjukkan pukul 10 malam.


Samsul pulang bersama ibunya. Ketika mereka masuk ke dalam Rumah, hawa dingin Rumah menusuk kulit.


Samsul duduk di sofa memijat kening yang terasa pening ketika rasa bersalah telah memberi harapan palsu pada ibunya.


"Kamu kenapa nak?" tanya sang ibu, duduk di sebelah Samsul wajahnya terlihat khawatir melihat Samsul.


Samsul melihat ibunya, ingin rasanya ia bilang yang sebenarnya tapi takut mengecewakan ibunya, tapi kalau tak diberitahu takutnya nanti mengecewakan sang ibu dikemudian hari nanti biarlah kecewa dulu dari pada kecewa kemudian.


Dengan berat hati Samsul berkata, "Bu, Ibu jangan menaruh harapan yang besar ya pada Samsul soal pdkt itu. Ibu jangan terlalu berharap, Samsul tak tahu perasaanya pada Samsul. Lagian kami hanya teman. Masalah pernikahan, Samsul belum sanggup. Banyak yang harus dipenuhi dan dipersiapkan lahir maupun batin, mental harus kuat menghadapi masalah rumah tangga dan setiap masalahnya... Sekarang Samsul hanya mau fokus membahagiakan ibu. Ibu padamkan api yang Samsul maksud?"


"Iya gak apa-apa, ibu paham kok." Ibu mengusap kepala Samsul sambil tersenyum kaku. Tuh kan raut wajah ibunya berubah jadi cemberut, kecewa besar dia.


"Maaf Bu."


"Sudah gak apa-apa." Ibu berusaha untuk senyum, "Sekarang kamu tidur ya nak, jangan dipikirkan."


Sekali lagi ibu mengusap kepala Samsul mencium keningnya, meranjak pergi meninggalkan Samsul masuk ke Kamarnya.


Sesampainya di kamar ibu Samsul bersandar dibalik pintu mengusap air matanya yang tiba-tiba menetes, entah kenapa air matanya menetes sedih karena kayak Samsul tadi atau karena ketidak mampu menikahkan anaknya selalu menuntut minta menantu.


Samsul paham dengan raut wajahnya itu, raut wajah yang penuh kekecewaan.


Yah, lebih baik daripada kecewa pada akhirnya merasa kena tipu sama anaknya sendiri.