Suamiku Guruku

Suamiku Guruku
Ideal


Tangga yang panjang berkelok menuju lantai atas.


Tap... Tap... Suara langkah kaki mengema di langit-langit rumah.


Afriadi berjalan dulu membelakangi Latika.


Langkahnya terhenti ketika menaiki tangga satunya, berbalik badan, "Adek."


Kepala Latika terangkat, langkahnya ikut terhenti, menatap mata Afriadi. Jarak mereka sekitar 1 anak tangga.


Ah... Afriadi menggeleng, "Tidak ada apa-apa." berbalik badan, ketika ia ingin melangkah, Latika menghentikan langkahnya dengan pertanyaan, "Kenapa Abang panggil saya Adek?."


Afriadi berbelik badan, menghadap Latika, "Kalau begitu kenapa Adek panggil saya Abang?." Afriadi balik bertanya.


Latika menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bingung mau jawab apa. Soalnya dia dulu yang memanggil Afriadi dengan sebutan Abang, "Aaaa.. Itu.. Karena, Bu Kost yang menyuruhku untuk hormat pada yang lebih tua. Lagian tadi Abang juga yang memanggilku Adek duluan jadinya aku respon saja," suara Latika mengkecil.


"Apa anda tak suka jika saya seperti itu?," suara Latika Semakin mengecil. Mendengar pertanyaan Latika Afriadi terteguh.


"Aku tak keberatan dipanggil Abang. Lagian apa yang dikatalan Bu Kost itu benar sekali, tidak enak didengar kalau kita saling memanggil satu sama lain dengan sebutan KAU. Apa tidak keberatan juga jika dipanggil Abang?."


Latika mau menjawab, namun ia mengurungkan niatnya gara-gara terdengar suara cekikikan di bawah, lagi-lagi mereka berdua menguping pembicaraan orang.


"Terserah Abang Adek ikut saja," kata Latika melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga.


"Jangan menguping," tegur Afriadi, berbalik badan menaiki anak tangga.


Di bawah.


Dua orang itu masih saja menguping pembicaraan walau sudah dihalau.


"Ups... Kita ketahuan Bik?," bisik Mang Juneb.


"Iya, aku tahu," bisik Bik Ipah.


Tak lama setelah sampai di kamar, Latika merebahkan dirinya di tempat tidur, meregangkan otot-otot.


Tidak lama kemudian azan berkumandan dengan merdunya di setiap mesjid.


"Pantas saja mukannya kelihatan marah sekali menghadangku pulanh tadi. Ternyata aku pulang kesorean. Haduh... Untung tadi sudah sholat di rumah Hadi." Latika mengusap wajahnya, merangkak turun dari tempat tidur, berjalan menuju kamar mandi membersihkan dirinya.


Beberapa menit kemudian setelah selesai mandi, memakai pakaian Latika lamgsung melaksanakan sholat maghrib.


Menit berlalu Bik Ipah datang mengketuk pintu kamar Latika.


Tok... Tok... Tok...


Ia mengajak Latika untuk turun ke bawah, makan. Latika mengikuti Bik Ipah turun ke bawah, melewati anak tangga.


Ketika sampai di bawah pandangan Latika teralihkan pada foto yang terpampang besar di dinding dan di bawahnya ada foto-foto tersusun rapi di atas meja.


Ia melihat foto keluarga dan di bawahnya foto-foto tersusun rapi di atas meja.


Latika mengambil salah satu foto di atas meja. Foto yang membuat Latika penasaran dengan orang di dalam foto banyak fotonya bersama Afriadi, dan keluarga Afriadi.


"Bik ini foto siapa?." Latika menujuk foto yang besar terpampang di dinding, dan foto yang ia pegang.


Bik Ipah menghentikan langkahnya, mendekati Latika, "Itu foto Tuan bersama dengan keluarga besarnya dan ini foto wanitanya."


Ada perasaan aneh yang Latika rasa dalam dirinya ketika mendengar kata wanitanya aneh perasaan apa yang Latika rasakan.


"Di mana mereia sekarang?."


"Ah... Non, melihat foto mereka hati Bibik terasa tersayat mengingat kejadian 5 tahun yang lalu." mata Bik Ipah merah berkaca-kaca, air matanya tertampung tinggal tunggu hitungan detik saja ia akan tumpah.


"Maksud Bibik apa?," tanya Latika penasaran dengan kejadian 5 tahun yang lalu.


Sekilas Bik Ipah mencerikan kejadian 5 tahun yang lalu, yang menimpa keluarga besar Afriadi dan wanita Afriadi, ini yang paling singkat hanya kronologisnya saja tak sempat Bik Ipah ceritakan yang panjang karena keterbatasan pengetahuan Bik Ipah atas kejadian yang sebenarnya.


Benar sekali air mata Bik Ipah tumpah membasahi pipinya.


Tak lama Afriadi memanggil Bik Ipah, Bik Ipah yang mendengar panggilan itu segera menghapus air matanya, ia tidak mau Afriadi menyadari kalau ia nangis gara-gara mengingat kejadian itu, takutnya nanti Afriadi akan ikut-ikutan mengingat kejadian itu, kejadian yang membuat sesak dadanya.


Tampa tunggu lama lagi ia segera menarik tangan Latika membawanya ke tempat makan.


Latika yang memegang salah satu foto di atas meja itu, meletakkan kembali foto


Bik Ipah menyuruh Latika duduk di samping Afriadi, padahal Latika mau jauh-jauh sekitar 3 meter darinya, malah di dekatkan. Latika nurut saja, rasa-rasanya ia tak tega untuk menolak setelah melihat mata Bik Ipah yang masih berkaca-kaca habis menangis Perasaan Latika sungguh berbeda sekali jika di dekatnya, jantungnya selalu berdebar kencang. Saat Latika makan, ia merasa kalau Afriadi memperhatikannya. Latika mencoba makan dengan angun, sedikit demi sedikit ia menyuap makanan ke dalam mulutnya.


"Kenapa Adek makannya sedikit?," tanya Afriadi serentak dengan tangannya yang bekerja siap memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


Latika terteguh tangannya terhenti mau memasukkan makanan ke dalam mulut, Hatinya bingung mau jawab apa, "Alama.. Apa mau dijawab. Ayo pikir Latika, apa yang harus dijawab." Latika berpikir keras, memaksa otaknya untuk bekerja cepat.


Aha... Lampu keluar dari kepala Latika.


Batinya tersenyum, "Ini dia jawaban para wanita angun." pikirannya melayang, membayangkan ia menjawab pertanyaan Afriadi dengan mantap dan penuh gaya. Namun nyatanya, berbanding terbalik. "Em... Lagi diet." Latika menunduk, sendok mengetuk pelan piring menghasilkan irama yang sumbang.


Alasan yang tak sesuai. Hatinya menjerit ingin makan lebih, "Aku ingin makan lebih banyak, siang tadi hanya makan sedikit."


Afriadi mengangguk selesai dengan makanannya. Kepala Latika terangkat melihat Afriadi bangkit dari tempat duduknya berjalan meninggalkan meja makan.


Hati Latika bersorak gembira, "Kesempatan bagus, aku bisa makan sepuasnya di sini. Hohoho.. Selamat makan Latika."


Latika menyantap makanan dengan rakus.


Dia tidak nelihat-lihat lagi di depannya, ia belum memastika 2 kali kalau Afriadi sudah pergi jauh atau tidak. Ternyata...


Ehem... Sontak Latika terperanjat terkejut mendengar dehemnya. Ia melihat ke depan. Olala.. Afriadi berdiri di sana, tersenyum lebar, tangan Latika cepat menaruh paha ayam ke piring, tersenyum getir.


"Apa dia tadi melihatku. Aduh.. Tadi aku rakus sekali, pasti jelek. Cari alasan Latika." hati Latika panik, ia bingung mau kasih alasan apa.


Afriadi terus menatapnya mendekat, mengambil tisu di meja, ia berdiri di samping Latika. Latika dibuatnya tambah grogi, hasilnya mulut Latika asal lepas saja, "Rencanannya tadi aku mau diet. Tapi, tidak jadi."


Padahal tidak ada paksaan untuknya bicara.


Afriadi memberikan tisu kepada Latika, "Untuk apa Adek diet,bukannya Adek sudah ku- Maksudnya ideal."


Tangan Latika berhenti bergerak mengambil tisu, mendengar Afriadi menyebur ideal, "Ideal. Dari mana Abang tahu kalau Adek ideal?." Latika memandang Afriadi sinis, "Bukannya setiap hari Adek mamakai baju longar, tidak mungkin akan kelihatan ideal atau tidaknya. Bahkan bentuk tubuh saja tidak kelihatan, bagaimana Abang bisa tahu?."


Afriadi melihat tangan kanannya, "Tangan ini yang menyentuh. Ups..." jawaban pertama Afriadi mendapat pelototan dari Latika, "Maksudnya, aku melihat sendiri. Agh.." Afriadi menepuk jidatnya, jawaban kedua ini membuat Latika mau meledak.


"Kapan dia menyentuh dan melihatku? Jangan-jangan subuh itu. Aaaaa..." teriak batin Latika. Tangannya mengepal rasa-rasanya ingin sekali ia memukul wajah Afriadi di hadapannya ini.


"B-bukan itu Maksudnya, jangan salah sangka dulu. Maksudnya tidak perlu pakai baju longar atau tidak. B-bagaimanapun longarnya bajumu. Adek tetap kelihatan ideal." Afriadi susah mau bicara, ia tergagap-gagap saat memberikan penjelasan, mungkin ini karena ia gugup juga sudah memberikan jawaban yang membuat Latika emosi.


Latika menatap Afriadi tajam, giginya mengeretak. Ia segera berdiri dari tempat duduknya.


KREEET... Denyitan kursi mengesek lantai membuat nyilu telinga.


"Apa saja yang anda lakukan kepadaku malam itu?!," geram Latika.


"Aku tidak ingat yang pasti-" kata Afriadi di potong Latika dengan teriakan yang menusuk dada Afriadi, "MESUUUUUMM!!!..."


Teriakan Latika sampai membuat kaget Bik Ipah yang berada di dapur, "Apa yang terjadi."


Latika berlari meninggalkan tempat itu menuju kamarnya. Afriadi yang tidak mau terjadi kesalah pahaman antara mereka gara-gara perkataannya tadi mengejar Latika.


"Adek!," panggil Afriadi meminta Latika agar mendengarkan penjelasan darinya lagi, ia mengikuti Latika dari belakang menaiki anak. Latika terus berlari tak memperdulikan dia. Ketika sampai di depan kamar, sudah hampir membuka pintu.


Tiba-tiba...


Afriadi menghentikan Latika. Tangannya menyentuh tangan Latika yang memegang gangang pintu. Jantung Latika dibuatnya terkejut dan berdebar kencang lagi, baru saja mereda sekarang terserang lagi jantungnya, "Adek, Abang bisa jelaskan."


"Jelaskan apa?." Latika bertanya galak.


"Abang tidak bermaksud untuk berkata seperti itu. Itu tidak ada kaitanya dengan kejadian waktu itu, Abang hanya bercanda tadi jangan masukan ke dalam hati. Soal hari itu Abang tidak tahu apa yang terjadi malam itu, Abang hanya tidur saja, tidak ada melakukan apa-apa pada Adek, jika pun ada Abang tak sadar, dan Abang lupa malam itu kalau Adek tidur di sana," jelas Afriadi panjang lebar pada Latika.


"Sudahku bilang jangan menyentuhku."


Latika menarik tangannya dari sentuhan tangan Afriadi. "Cieeee... Ehem... Serang apa ini?."


Tak sangka di dekat mereka ada Mang Juneb yang sedang memasang batrai jam.


Afriadi dengan segera melepas tangannya dari Latika, "Sekali lagi, aku tidak sengaja malam itu, dan aku tidak bermaksud untuk berbuat demi kian." bisik Afriadi.


"Terserah," balas Latika geram.


Latika segera masuk ke kamarnya, dan Afriadi menatap Mang Juneb yang ada di sana, ia mau berkata tapi ia batalkan, ia lebih memilih masuk ke kamarnya menyembunyikan wajahnya yang bersemu malu.


Mang Juneb yang melihat kejadian itu tertawa terkikik kikik. Baginya ia baru saja melihat drama korea romen.