
BRAAAK...
Pintu kamar pasien terbuka lebar melihatkan sosok wanita tua yang berwajah panik.
Ia menyapu seluruh ruangan melihat satu persatu penghuni ruangan.
"Siapa Dek?" tanya Afriadi.
"Tak tahu Bang," jawab Latika.
"Emak kau Lan, kok beda?" gumam Hasan ketika wanita tua itu melihat mereka berdua menatap tajam Qilan.
"Bukan San."
Samsul perlahan menarik selimut menutupi wajahnya, namun sayang wanita itu keburu melihat wajahnya. Salah seorang suster ingin mengusirnya, tapi tidak dihiraukan tetap berjalan menuju kasur Samsul.
Samsul merasa wanita tua itu sudah berdiri di samping ranjangnya. Tangan wanita itu bergerak seperti mencari sesuatu dan...
"AAAAA... Ampun Mak!" jerit Samsul ketika telinganya kena jewer sama wanita tua yang ia panggil Mak.
"Ternyata Maknya," gumam batin mereka semua kaget dengan tindakan wanita tua itu.
"Kebiasaan, sudah berapa kali Mak bilang JANGAN TARUHAN JANGAN TARUHAN, TAPI MASIH JUGA TARUHAN, GINI KAN JADINYA!"
PLAK...
Bokong Samsul kena lepuk alias kena pukul sama emaknya.
"Ampun Mak, Samsul gak taruhan." Samsul berusaha jelaskan tapi susah Mak Samsul kalau sudah marah payah menerima penjelasan.
"KAMU PASTI YANG AJAK ANAK SAYA TARUHAN KAN?!" Mak Samsul menunjuk Qilan dengan sendal jepitnya.
"Bu-bu-bukan Mak, a-aku a-anak baik-baik," jawab Qilan tergagap-gagap dengan kepalanya ikut menggeleng.
Hasan menatap Qilan geli dengar dia ngaku anak baik-baik.
"KAMU YA?!" Mak Samsul menujuk Hasan dengan sendal jepitnya, ia tak menghiraukan anaknya memanggilnya. Hasan menggeleng cepat takut-takut wajahnya cium sendal jepit.
"Tenang buk." Afriadi buka mulut.
Mak Samsul datang kearahnya, menujuk Afriadi dengan sendal jepit, "KAMU YA YANG AJAK ANAK SAYA TARUHAN?"
"Buk buk tenang buk ini rumah sakit," Dokter yang ada di sana berusaha menenangkan Mak Samsul malah dia yang kena serang.
"Ini urusan saya dengan anak saya, jangan ikut campur!" ancam Mak Samsul dengan sandal jepitnya menunjuk pada Dokter.
"Oke," balas Dokter itu, lebih baik mengalah dengan emak emak dari pada nanti kena tamparan sendal jepit.
"Tapi bicara baik-baik ya buk dengan anaknya, kasihan ia lagi sakit." sambung Dokter laki laki itu.
"Itu urusan saya," jawab Mak Samsul penuh emosi.
Samsul mencabut selang infus, meranjak turun dari ranjangnya dengan kaki yang nyeri ia paksa berjalan menarik tangan Maknya keluar.
"Mak cukup Mak. Mak sadar tak Mak tadi cakap kasar dengan siapa? Itu bos Samsul Mak dan Mak jangan tuduh Samsul ni taruhan, Samsul tak kayak dulu lagi Mak Samsul tak taruhan, malah Samsul bantu selamatkan istrinya bos..." Samsul menjelaskan pada Maknya setelah mereka berdua duduk rapi di kursi panjang tepi dinding Rumah Sakit
Mak Samsul sedikit kaget lalu ekspresi berubah seperti marah.
PLAK...
Paha Samsul yang tak berdosa kena lepuk sama Maknya, Samsul mengusap-usap pahanya.
"Kenapa lagi Mak?" tanya Samsul.
"Kenapa kau tak bagi tahu Mak kalau kau sakit, dirawat disini? Mak kira kau kembali macam dulu, dua hari hilang janji nak temui Mak akhir pekan, lama Mak tunggu tau. Biasa balik aja pang," ujar Mak Samsul dengan logat bahasa Banjar.
"Maaf Mak Samsul tak temui Mak kemarin," ujar Samsul meraih tangan Maknya, menciumnya dengan maksud meluluhkan hati Maknya supaya tak memarahinya lagi.
"Lagian Samsul tak mau buat Mak khawatir sama Samsul, toh Samsul sekarang dah sehat."
Samsul berdiri pamer otot sana Maknya. Mak Samsul hanya tersenyum berdiri menepuk bahu Samsul kuat.
"Kuat ya anak Mak ni."
Samsul menahan sakitnya, menjauhkan tangan Maknya, mereka kembali duduk.
"Mak tahu Samsul disini dari siapa?"
"Oh, tahulah Mak ada kenalan di Rumah Sakit ni."
"Habis tu kalau tahu ada kenalan di Rumah Sakit ni, kenapa tak tahu kalau Samsul luka bukan karena taruhan?"
"Hehehe... Mak tak tanya, asal tutup telpon je saking kagetnya."
Sementara Samsul bicara dengan Maknya. Disisi lain keluarga Jeni sedang berduka cita atas meninggalnya Cacan.
Satu keluarga besar berkumpul. Mereka tak menyangka atas kepergian Cacan, apalagi Jeni Istri Cacan yang tak menyangka sama sekali perasaan baru kemarin mereka baikan dari pertengkaran kecil, tapi mereka bangga dengan Cacan sebab dia mau melindungi dan menyelamatkan seseorang lain walau taruhannya nyawa.
Cacan is Hero.
Sekarang Jeni menjadi janda dan Bilqis jadi yatim.
Jam berlalu.
Matahari sudah lengser dari tempatnya.
Mak Samsul cengir-cengir sendiri menatap Afriadi malu-malu gara gara tindakannya tadi, untung ia cepat minta maaf.
Ia tak menyangka kalau anaknya kerja dengan Afriadi.
Karena ini sudah masuk waktu maka siang, yah mereka pada makan. Samsul disuapkan sama Maknya, Afriadi disuapkan sama Latika, Hasan makan sendiri toh tangannya baik baik saja gak sakit juga, tapi Qilan tak bisa makan tangannya yang berbalut membuatnya membuatnya sulit untuk makan ditambah rasa nyeri kalau digerakkan.
Keluarga Hasan dan Qilan tidak ada datang menjenguk bukan karena mereka tega, tapi permintaan dari mereka berdua yang tak mau sampai keruarga tahu keadaan mereka. Agak aneh sih, cuman itu permintaan mereka ya sudah dikabulkan pihak rumah sakit.
"San," panggil Qilan dengan suara manja.
Hasan melirik dari tatapan seakan bertanya 'apa?'
"San suapkan aku tak bisa," kata Qilan manja.
"Banyak alasan kau. Makan sendiri."
"TOLONG LAH SAN! KAU TAK LIHAT KAH AKU NI, SEMALAM AJA AKU MINTA TOLONG SAMA ORANG," kata Qilan dengan nada suara menaik menarik perhatian semua.
Hasan menghembuskan nafas kasar, menatap tajam Qilan justru sebaliknya Qilan membalasnya dengan tatapan memohon.
Latika ingin berdiri membantu Qilan tapi ditahan Afriadi, tak jadi dah Latika mau bantu.
"Bantu lah temanmu itu," perintah Mak Samsul menatap Hasan, yang ditatap tersenyum pasrah.
Hasan terpaksa meranjak turun pindah ke kasur Qilan, yah kalau dilihat Qilan sudah kayak mumi pantesan susah nyuap makanan sendiri, pasti masih sakit itu seluruh tubuhnya.
Hasan mengaduk-aduk bubur Qilan, lalu ia sendok banyak banyak dengan senyuman devil ia mengarahkan sendok ke mulut Qilan, namun Qilan engan buka lebar-lebar.
"Sedang sedang lah San!" gumam Qilan, "Mulut aku ni comel lah, kau sumbat sebanyak gitu mana muat."
"Mulutmu comel tapi tajam di pengadilan, pandai merayu lagi. Mulutmu licik ei," ketus Hasan.
"Ka-" tak sempat Qilan menyelesaikan kalimatnya mulutnya keburu disumbat Hasan dengan bubur.
"Uuumm..." Qilan mau protes dengan mulut yang penuh.
"Muncungmu kayak ikat Sepat," ejek Hasan memberikan tisu pada Qilan, oh tidak dia yang membersihkan sisa bubur di mulut Qilan.
Qilan menatapnya tajam, "Tersiksa aku disuap kau."
"Tadi yang minta siapa?"
"Hah. Nyesal aku minta bantu sama kau."
"Jangan banyak ngeluh masih mending aku bantu kau, nih makan lagi." Hasan menyorong sendok yang sudah berisi pada Qilan. Namun, Qilan menggeleng tak mau.
"Kenapa?"
"Selera ku hilang, gak mau makan bubur."
"Habiskan Beb."
"Tak mau."
"Kau tahu tak banyak orang diluar sana tak bisa makan, makan lagi ya nanti kena suntik." Hasan membujuk kesihan juga lihat Qilan yang sudah susah makan.
"Tak mau, mau makan buah, kupaskan," perintah Qilan.
Alis Hasan sebelah naik turun menahan geram asik diperintah terus, "Kupas sendiri."
Afriadi senyum senyum kecil lihat tingkah temannya.
"Tega lu, aku gini-" kalimat Qilan langsung dihentikan Hasan. Ia tahu arah pembicaraan Qilan kemana, ia takut Latika tersinggung dan tambah sedih.
Tajam Hasan menatap Qilan, yang ditatap tahu kesalahannya meangguk pelan.
Hasan menjauhkan tangannya dari mulut Qilan.
"Aku tak suruh kau ikut waktu tu," kata Hasan dengan suara kecil.
"Ha, aku pergi karena kemauanku sendiri kau tak paksa pun aku tetap pegi membantu temanku," kata Qilan dengan suara kecil.
Hasan tersenyum kecil, ternyata temannya ini tak menyesal dengan keputusan yang ia ambil untuk selamatkan Latika. Kalau diingat-ingat mereka berdua lumayan banyak menjatuhkan musuh tapi banyak kena banting juga apalagi Qilan paling banyak, toh lawan mereka hampir semua badan kekar.
Hasan salut dengan Qilan waktu itu, dia bertarung dengan sangat baik.
"San." Qilan memutus lamunan Hasan, "Mau makan buah."
Hasan menatap malas Qilan, menghela nafas panjang lalu mengupas buah yang Qilan inginkan.