
Wus...
Angin datang menyerbu pepohonan di jalan, menggugurkan dedaunan.
Daun yang jatuh terbawa angin, melewati Latika yang berkendaraan motor bebek berwarna biru.
Pandangan Latika teralihkan pada seorang Ibu yang menggandengkan Anaknya yang baru pulang sekolah, senyum mereka lebar.
Melihat mereka berdua Latika jadi teringat akan dirinya dulu yang akan jadi calon ibu, tapi sayangnya Latika gagal jadi calon ibu. Kalau bukan karena kejadian itu sekarang dia pasti seperti ibu itu.
Latika menggelengkan kepalanya, mencoba untuk fokus berkendara lagi. Ia melaju menuju Rumah.
Kejadian itu, kejadian berdarah yang terjadi 5 tahun yang lalu.
Lima tahun yang lalu>>>
Tepatnya satu tahun sebelum kejadian itu...
Waktu itu...
Selepas Latika dan Afriadi kembali dari Korea.
Pas waktu liburan tinggal 2 hari saja lagi.
Malamnya Latika duduk di tempat tidur melihat foto-foto ia bersama Afriadi selama di Korea Selatan mengunjungi berbagai tempat yang popular dan indah.
Afriadi keluar dari kamar mandi, duduk dekat Latika ikut menempelkan foto ke album.
Wahaha, sekarang mereka satu kamar.
Afriadi menatap Latika yang tengah asik dengan penyusunan foto ke album, ia menatap serius sekali sampai Latika meliriknya.
Latika menutupi tubuhnya dengan posisi tangan menyilang, "Abang kenapa lihat Adek kayak gitu?"
Alis Afriadi terangkat, ia sadar dengan tatapannya tadi Latika seakan memberi kode pada Latika. Ia menghisap wajahnya, tersenyum bisa-bisanya Istrinya berpikir ke situ.
"Adek kuliah ya tahun ini?" tanya Afriadi menghentikan gerakan tangan Latika. Dia menatap Afriadi dengan ekspresi wajah tak suka.
"Adek tak mau kuliah," jawabnya.
Afriadi terkejut dengan jawabannya, "Kenapa pula tak mau kuliah?"
"Untuk apa kuliah juga, Adek juga sudah punya Suami. Untuk apa kuliah lagi? Cukup urus Suami, turun ke dapur, urus anak, dan jadi ibu rumah tangga yang baik. Untuk apa gelar serjana? Gak perlu sekolah tinggi-tinggi tamat SMA saja cukup, gak kepakai gelar serjana jika di dapur. Dari pada Abang menghabiskan uang yang banyak untuk sekolah Adek lebih baik Abang tabung saja untuk masa depan anak kita. ,"kata Latika masih saja pakai teori kuno wanita tak perlu sekolah tinggi-tinggi nanti turun ke dapur juga.
Afriadi menggelengkan tak setuju dengan pernyataan Latika, "Adek salah berpikir seperti itu. Dapur orang berpendidikan beda dengan dapur orang yang tak berpendidikan, jika Adek berpendidikan tinggi dapat meangkat derajat suami di mata masyarakat mendidik anak dengan baik... Abang tak masalah soal uang, uang bisa dicari... Ini untuk masa depan Adek, Abang tak mau Adek di dapur saja. Adek juga mau kan seperti teman-teman Adek, kuliah capai cita-cita. Adek juga ingin rasakan kuliah kan dan capai cita-cita Adek kan? Adek punya cita-cita kan? Bukan berarti Adek sudah punya Suami cita-cita Adek gak di capai. Abang tak mau jadi pengantin halang Adek untuk menggapai cita-cita Adek. Abang ingin bantu Adek mencapai cita-cita Adek." Afriadi meraih tangan Latika menggenggam erat tangannya, "Perjalanan Adek masih panjang, Adek masih muda. Emangnya Adek mau ngurus anak di usia muda?"
Latika terdiam, kalimat Afriadi ada benarnya juga.
"Coba Adek ingat cita-cita Adek dulu apa?"
Latika meingat-ingat kembali cita-cita yang ia kejar, "Dokter."
"Kenapa Adek mau jadi dokter?" Afriadi tersenyum dengan cita-cita Latika jadi dokter, dia menduga kalau tujuan Latika ingin jadi dokter untuk menolong orang banyak dan untuk merawat suaminya sendiri saat sakit.
Hayalanmu tinggi juga ya Afriadi (^∇^)
Ternyata di luar dugaan, alasan Latika...
"Adek mau menusuk orang pakai jarum suntik." Latika tersenyum lebar.
Luntur senyum Afriadi dengar alasan Latika.
"Kenapa Bang?" tanya Latika menyadarkan Afriadi.
Afriadi menggeleng, tak masalah nanti niatnya juga akan berubah untuk menolong orang yang pasti sekarang dorong dia untuk kuliah. "Adek mau sekolah kedokteran?"
"Tidak." Latika menjawab girang, lanjut susun foto rasa-rasanya nasehat Afriadi tadi sudah dilupakannya, panjang lebar Afriadi jelaskan sudah dilupakan.
"Adek tak mau kuliah?"
"Iya, kuliah itu banyak tugas." Latika menjawab datar.
Tuh kan benar Latika sudah lupa. Padahal baru beberapa menit yang lalu diberitahu sudah lupa.
Afriadi rasa tak hiii... Sama Latika.
Afriadi melepas cubitannya, pergi keluar untuk sekarang lebih baik ia diamkan saja Latika.
Latika mengusap pipinya melihat Afriadi hilang di baling pintu, tak mau bertanya ia lanjut lagi susun foto.
"Kenapa harus kuliah? Kan enak di rumah gak ada beban tugas dari sekolah," gumam Latika, "Tapi..."
Sontak tangan Latika berhenti memasukkan foto, wajahnya jadi sedih teringat sesuatu. Cepat ia pergi meninggalkan kamar mencari Afriadi.
"Abang." Latika duduk di samping Afriadi yang lagi nonton tv.
"Em." Afriadi hanya menggumam saja, mengotak-atik remote mengubah saluran tv.
Itu wajah pahit amat gak ada manis-manisnya lihat istri datang, merajuk lah itu.
"Abang marah ya dengan Adek?" tanya Latika dengan nada berirama.
Afriadi melirik sebentar lalu kembali lagi pada acara tv, "Tidak."
"Abang bohong, Abang pasti marah dengan Adek kan?" Latika memeluk lengan Afriadi, menggedipkan matanya dikala Afriadi meliriknya.
Afriadi menghela nafas, "Abang tidak marah, cuman kesel aja."
Latika memonyongkan mulutnya meangguk pelan, "Abang Adek mau kuliah." Latika mengguncang lengan Afriadi.
Ucapannya berhasil menarik perhatian Afriadi, menatap Latika. Ia seakan bertanya lewat tatapannya 'Serius?'
Latika menanggapinya dengan meangguk, pasti. Alis Afriadi terangkat, tadi ditawar gak mau Lo kok sekarang mau.
"Adek mau masuk perkuliahan apa?" tanya Afriadi wajahnya jadi manis semanis gula aren gak pahit lagi kayak empedu.
"Kuliah kedokteran."
Afriadi meangguk, "Kenapa tiba-tiba Adek mau kuliah?"
"Adek teringat dengan pesan ibu saja untuk sekolah tinggi-tinggi jangan jadi seperti dia gak berpendidikan. Lagian enak kalau jadi dokter bisa tolong orang banyak." Latika tersenyum.
"Teman Abang ada yang jadi dokter. Adek mau Abang kenalkan dengan dia?"
Latika meangguk mau sekali, bisa juga dia belajar sekalian dengan dia, "Mau. Laki-laki atau Perempuan?"
"Laki-laki."
"Abang tak cemburu kalau Adek kenalan dengan dia?"
Pertanyaan Latika berhasil membuat Afriadi terdiam sebentar.
"Ya, kalau Adek cuman kenalan gak masalah, asal jangan berlebihan aja. Ehem..."
Batuk unggahan gitulah, kayak memberi kode untuk tak terlalu dekat dengan si doi.
"Adek emang yakin kan mau kuliah?" tanya Afriadi sekali lagi.
"Iya. Tapi, nanti Adek kuliahnya di mana?"
"Bisalah Abang urus."
"Kalau gitu Adek mau cari info di internet." Latika melepas pelukannya membongkar google.
"What!" Mata Latika melotot melihat layar ponselnya. Itu mata hampir keluar Lo.
"Ada apa Dek? Kaget gitu?" Afriadi melirik Latika.
"Bang." Latika melihatkan layar ponselnya sama Afriadi, gemetar tangan Latika. Afriadi membaca artikel di layar ponsel Latika, "Mahal banget Bang. Uang masuk, uang semester, uang praktek, lalu nanti akhirnya kan berat banget. Banyak keluar uang, terjual ginjal Bang."
Afriadi tertawa lihat ekspresi Latika, "Jika Abang suruh Adek lanjut sekolah berarti Abang ada rezeki. Tenang saja." Tangannya mengusap kepala Latika.
Latika lanjut baca-baca artikel di internet, cari tahu tentang sekolah kedokteran.
***
Maaf semua, semalam tak up. Listrik 'pajah' baterai hp lillahurobi susah di bilang. 24 jam listriknya padam, kabel di jembatan sungai luar kota tembilahan, Riau. Kalau tak salah terbakar kabelnya.
Jadinya tak bisa up semalam.