
Sesampainya di kamar. Afriadi baring di tempat tidur. Latika duduk di sisi tempat tidur nonton tv.
"Eh." Sekajap Latika teringat perkataan Viana.
"Bang." Latika menoleh, melihat Afriadi yang sudah memejamkan matanya, tapi tangannya masih bergerak mengetuk-ngetuk telapak tangannya.
"Em," guma Afriadi m
"Kita satu kamar?" tanya Latika.
"Ya lah apa lagi."
"Aaa.. Abang tak ganas kan?"
"Eh?" Afriadi melek langsung bangun, menatap Latika serius.
"Adek takut, saja. Seperti yang di katakan Kak Viana tadi."
"Apa Abang seperti kata Viana?"
"Em, menurut Adek tidak." Latika Menggaruk kepalanya.
"Ya, sudah."
"Abang tak berubah kan? Adek takut waktu tidur nanti saja, Abang berubah jadi vampir atau drakula, gigit hisap darah Adek."
"Mana mungkin Abang berubah seperti itu. Adek terlalu banyak nonton filem."
Afriadi ngambek, dia kesal dengan Viana karena sudah merasuki pikiran Latika.
"Adek becanda. Ini Suami Adek kan?"
Latika mencubit pipi Afriadi.
Wajah Afriadi merah bersemu.
"Hihi.. Imut."
Latika puas mainkan wajah Afriadi,
"Abang sudah mandi?"
"Sudahlah. Adek saja yang belum lagi."
"Adek mau mandi."
Latika melepas cubitannya.
Pergi meninggalkan Afriadi.
Afriadi kembali baring, rasanya Afriadi tak mau Latika melepas cubitannya, pikirannya terbayang senyuman Latika tadi.
Menit berlalu, Latika keluar dari kamar mandi, ia sudah mandi harum.
Duduk di sisi tempat tidur, kepalanya yang masih berbelit handuk lengkap dengan viama, melihat Afriadi yang sudah tertidur.
"Sudah tidur."
Latika menarik selimut, menyelimuti Afriadi, ikut tidur.
***
Subuhnya
Afriadi membuka matanya.
Tangannya memegang sesuatu.
Matanya yang masih rabun melihat rambut di telapak tangannya, ia berguma,
"Rambut? Eh. Rambut? Rambut.
Panjang. Rambut aku kah?"
Afriadi melihat rambut panjang lurus, di tangannya.
Itu Rambut Latika.
Wajah Afriadi memerah lagi, ini ke dua kalinya ia melihat rambut Latika.
Hari itu, merupakan kedua Afriadi melihat rambut Latika.
Bukan yang kedua kali juga sih, tapi sering cuman ia tak memperhatikan betul.
Pertama waktu ia salah kamar, kedua waktu Latika keluar dari kamar mandi, ketiga waktu ia merawat Latika sakit gara-gara kecapean, dan sekarang dia melihat rambut Latika lagi rambut yang sering sembunyi.
"Panjang," guma batin Afriadi. Ia mengelus kepala Latika. Baru beberapa usapan Latika sudah menangkap tangan Afriadi, memeluknya. Mulutnya monyong, tambah gemas Afriadi melihatnya.
"Gemes," batinya berseru gemes.
Tangan Afriadi menjauhkan rambut-rambut kecil yang menutupi sedikit wajahnya, lalu ia mencubit pipi Latika.
"Mimpi apa Adek?" tanya batinnya.
Baru sebentar Afriadi mencubit pipi Latika.
BAAA...
Latika terbangun, megucak matanya.
"Yuk, sholat." Afriadi langsung mengajak Latika sholat subuh.
Latika mengangguk pelan, kembali tidur.
"Bangun Dek. Yuk, sholat." Afriadi menepuk pelan pipi Latika.
"5 menit lagi." Latika menawar.
"Hah. Bangun dek. Atau ... Abang ..." Afriadi mendekatkan wajahnya pada Latika.
Latika dapat merasakan hembusan nafas Afriadi, yang terasa mendekat, ia langsung melek, "Adek bangun."
"Hahaha.. Aduh."
Afriadi tertawa lepas lihat wajah Latika,
"Adek tak lihat wajah Adek tadi."
***
Jam 10:00 siang.
Sesuai di undangan acara di mulai jam 10:00 siang.
Para tamu sudah datang sebahagian.
Latika hari ini ikut di make up kan juga. Viana yang minta.
Pagi-pagi Latika di tarik sama suruhan Viana.
Di bawa ke ruang rias.
Waktu berjalan, Afriadi permisi jemput Latika.
Ia menunggu Latika di ruang rias.
Waktu Latika keluar dari ruang rias, Afriadi saja sampai tak kenal dengan Istrinya sendiri. Ia berbeda.
Dari ujung kepala sampai ujung kaki Afriadi melihat Latika, memperhatikannya,
"Adek. Istri aku kah ini?"
"Siapa lagi?"
Latika menunjukkan senyum manisnya. Ia tampak anggun dan dewasa. Baju kebaya berwarna biru muda yang ia gunakan sungguh pas sekali di kenakan berpadu dengan sepatu dan jilbab yang sepadan warnanya.
"Cantik," puji Afriadi menggeleng kepalanya tak sangka Latika begitu cantik ketika di rias, kekuatan make up.
"Benarkah?" tanya Latika sekali lagi, dengan wajah merah bersemu.
"Ya."
Wajah Afriadi merah bersemu, mengandeng tangan Latika.
Saat Latika masuk ke tepat pestanya, semua mata tertuju padanya.
Mereka kira kalau Latika dan Afriadi pengantinnya. Sungguh pasangan yang cocok.
"Kenapa mereka menatap kita seperti itu?" bisik Latika, gugup.
"Jadi pusat perhatian Dek." Afriadi mengusap tangan Latika menenangkannya.
"Oh. Tapi, Adek malu."
"Bersikaplah biasa saja." Afriadi tersenyum,
Afriadi menarik tempat duduk mempersilahkan Latika duduk.
Awalnya Latika sempat gugup dan tak nyaman, namun lama kelamaan Latika mulai terbiasa.
Tak lama mereka duduk pengantin pria keluar, dari sisi lain pengantin wanita juga ikut keluar dengan pakaian serba putih serasi.
Akad di mulai, selama akad pikiran Latika dan Afriadi teringat saat mereka di nikahkan dulu, dengan pakaian kotor dan mahar seapa adanya. Dulu awalnya mereka saling tak kenal, cuek, dan sekarang berbeda sekali.
Di sana Viana sepertinya gugup sekali, sampai selesai akad Viana bahagia sekali sampai senyum indah itu tak luntur dari wajahnya, di depan orang banyak dia terlebih dahulu mencium suaminya. Bahagia sekali, para tamu undangan bersorak ikut gembira juga.
Acara berlangsung, Latika menikmati acara.
Apa lagi melihat artis yang di undang, dan para biduan cantik. Ada tarian lagi, menghibur sekali.
Afriadi tak suka melihat mereka menyanyi, Latika malah suka melihat mereka.
Sekitar jam 11 malam.
Acara masih berlangsung.
Di kamar Afriadi menunggu Latika. Ia meninggalkan Latika tadi dengan Viana saat sesi foto, Afriadi sudah banyak berfoto membiarkan Latika berfoto sekaligus bersosialisasi bersama teman-teman Viana dan keluarganya.
Ia terbaring di sofa, memejamkan mata yang terasa kantuk.
Tiba-tiba ia terbangun, teringat Latika yang tak kunjung balik.
"Adek lama sekali. Betah sekali di sana." Afriadi melihat ke jam di pergelangan tangannya, "Jam 11. Adek masih di sana."
Afriadi pergi meranjak dari sofa, menyusul Latika.
Sampainya di sana, ia lihat mau naik atas panggung joget bersama teman Viana.
"Ehem, mau naik Dek."
Untung Afriadi berdehem keras di belakang Latika memperingati dia. Langkah Latika terhenti, berbalik badan melihat Afriadi di belakangnya memasang wajah dingin.
Latika tersenyum tak jadi naik, temannya Viana pada turun semua pergi jauh meninggalkan mereka bisa gawat jika mereka masih di sana.
Latika menggaruk kepalanya, batinya menyumpahi dirinya, habislah Afriadi marah.
Afriadi tak banyak komentar, menarik tangan Latika, menariknya keluar dari sana, membawa Latika kembali ke kamar.
Ketika menuju kamar, Latika melihat seseorang berpakaian rapi membawa cewek seksi mabuk ke kamar. Latika paham apa yang akan mereka lakukan.
Afriadi menutup mata Latika.
Wajah Afriadi kelihatan marah sekali.
Sesampainya di kamar, Latika diam membersihkan wajahnya sekalian menganti baju, Afriadi duduk di bibir tempat tidur menggenggam erat tangannya, ia marah sekali.
Takut-takut Latika mendekat,
"Abang, jangan marah."
"... Sudah berapa lama Adek dekat sana, sampai tak ingat kembali lagi. Sampai naik panggung mau joget sama pria di atas panggung, bagus ya gitu. Abang tunggu Adek lama. Pantas ya gitu." Intonasi suara Afriadi naik. Ia tak senang, apalagi tadi ada pria yang membawanya naik ke atas panggung.
"Maaf Bang. Adek salah."
Latika gemetar ketakutan, mengakui kesalahannya. Ia takut lihat Afriadi marah.
Afriadi menghembus nafas berat, menumbangkan dirinya di tempat tidur.
"Sudah. Jangan di ingat."
"Lain kali kalau Abang bilang jangan ya jangan. Jangan bandel pula." Afriadi memberi Latika nasehat.
"Maaf Bang." Latika masih berdiri.
Tak tega lihat Latika berdiri Afriadi menepuk beberapa kali kasur di sebelahnya menyuruh Latika baring disampingnya, tanpa di suruh dua kali Latika ikut baring di sampingnnya.
"Sudahlah, Adek tidur saja, jangan pikirkan." Afriadi mengusap kepala Latika.
"Abang tak marah lagi kan?"
Afriadi mengedipkan matanya,
"Baca do'a sebelum tidur."
Cepat tangan Afriadi memeluk Latika.
"Maaf Bang ya. Adek keluar tanpa pamit dari Abang."
"Ya.
Lain kali jangan diulangi lagi.
Sudahlah.
Tidur lagi."
Cup...
Afriadi mengecup kening Latika. Wajah Latika memerah.