
Hari ini seperti biasa Latika pergi ke kampusnya, dengan keadaan lemah dan kurang stamina. Ia seperti mayat hidup yang berjalan. Hatinya masih sedih dengan hasil pembuahannya, kecewa yang ia rasakan.
"Latikaaaaa!!!" Seseorang berteriak memanggil nama Latika.
Latika menoleh ke belakang dengan ekspresi ingin memakan itu orang, sontak saja langkah orang itu langsung terhenti ketika melihat raut wajah Latika.
Dan orang itu adalah 'Aini, teman Latika di kampus ini. Perlahan 'Aini mendekat dengan mata yang menyipit menatap teliti Latika.
"Ini Latika kan?" tanyanya ketika sudah di depan Latika dengan tangan yang menempel di pipi Latika.
"Tumben ini wajah kusut kayak baju yang belum di setrika aja," sambungnya lagi.
Latika melepas tangan 'Aini dari wajahnya melanjutkan langkahnya tanpa merespon kata 'Aini, ia meninggalkan 'Aini.
"Ada apa tuh anak, kereta kerasukan jin apa sampai kayak gitu?" gumam 'Aini, kembali mengejar Latika merangkulnya.
"Ada masalah apa sobat? Kau seperti sedang ada masalah, cerita lah mana tahu aku bisa membantumu."
Latika menggigit bibir bawahnya, ingin rasanya ia curhat tapi...
Temannya ini apa tahu soal itu? Apa dia pernah merasakan itu? Akhirnya Latika memilih untuk tidak curhat. Lagian dia malas untuk cerita.
"Gak, bukan apa-apa." Latika mengeluarkan suara kecilnya yang sekedar lalu di telinga 'Aini membuat si 'Aini minta ulang.
Maklumlah telinganya bermasalah.
"Apanya?" 'Aini mendekatkan kupingnya, minta ulangi.
Latika menatap sinis, laku menggeleng kepalanya tak mau mengulangi.
"Idih, pelit amat dengan kalimat," cibir 'Aini.
Latika tak peduli, gara-gara Latika cuek 'Aini jadi ikut cuek juga. Bukan 'Aini saja yang ia ciri tapi Wangi dan Nia juga, tuh mereka pada banyak sama 'Aini ada apa dengan tu anak?
***
Latika duduk di kursinya memperhatikan sang Dosen, sekejap pandangannya berubah kabur. Latika kaget dengan pandangannya sampai melotot kan matanya untuk memperjelas pandangannya ꏿ∆ꏿ
Sang Dosen yang berada di depan, ikut kaget dengan tatapan Latika. Ia merasa terganggu dengan tatapan itu, ia kiranya Latika kesal dengannya. Ujung bibirnya terangkat, menatap kesal Latika.
Untung saja Wanti yang duduk di sebelah kirinya menepuk kuat paha Latika menyadarkannya.
Ketika sadar tatapan mata Latika langsung bertemu dengan mata itu Dosen. Kaget ia lihat tatapan mata Dosen yang tajam seperti mau memakan orang kayak Mak Lampir.
Cepat Latika menundukkan kepalanya menghindari tatapan dari sang Dosen.
"Ada apa Latika?" tanya sang Dosen dengan nada suara yang dingin, "Tidak setuju dengan pendapat saya barusan."
Srrrot...
Semua mata memandang pada Latika, mempertontonkan Latika.
"T-tidak Pak, tadi pandangan saya tiba-tiba kabur," kata Latika
"Pandangan kunang-kunang? Kalau sakit istirahat aja."
"Tidak Pak, sekarang sudah mendingan," elak Latika.
Beruntung sekali sang Dosen berbaik hati memaafkan Latika kali ini.
2 teman Latika menggeleng melihat Latika yang santai menyahut perkataan Dosen.
Wanti dan 'Aini satu kelas dengan Latika sedangkan Nia tidak sekelas, kelasnya lumayan melompat jauh dari huruf ABC yaitu kelas E jauh banget kelasnya. Kadang mereka berjumpa saat makan di kantin.
"Kau oke Latika?" tanya Wanti cemas dengan jawaban Latika tadi, "Kau sakit kah?" tanyanya lagi dengan nada suara pelan.
Latika menggeleng kepalanya pelan.
Mereka kembali fokus lagi.
***
Jangan lupa laik 👍 and tab love ♥️