
Setelah Latika ketahui kalau Wali itu bukan hantu, melainkan ia juga sama seperti mereka, cuman hanya wajahnya saja yang menurut mereka seram, yang membuat Latika menyangka kalau dia itu hantu.
Gosip mengenai hantu itu pun, dalam sekejap tersebar luas.
Yah... Mereka yang tidak percaya, memilih untuk melihat sendiri.
Seperti, untuk pertama kali mereka terkejut melihat Wali, tidak semua pelajar merasa biasa - biasa saja melihat wali, tapi ada juga yang merasa jijik melihat Wali. Wali menganggap itu hal biasa, karena ia sudah biasa dengan anggapan itu.
Jam istirahat pertama telah usai sekarang masuk jam pelajaran ke 3 belajar sejarah.
Sekian banyak penjelasan yang Kamarudin jelaskan tiba waktunya kamarudian menyuruh anak murid untuk bertanya.
"Baiklah sudah paham, kalau tidak ada yang paham silahkan ditanyakan." Kamarudin berjalan-jalan lambat di depan, kedua tangannya menepuk pelan mengalihkan perhatian murid padanya.
"Pak kenapa sejarahwan mengatakan kalau manusia itu dari kera? Kalau saya tidak mau mengaku dari kera Pak, soalnya kami keturunan nabi adam, bukan dari kera Pak.
Kalau teori itu mengatakan manusia itu berevolusi dari kera menjadi manusia, terus kenapa kera zaman sekarang tidak berevolusi menjadi manusia Pak?.
Kalau kita benar berevolusi pastinya kita nanti mengalami evolusi lagi.
Entah jadi apa nanti kita, jangan - jangan nanti jadi manusia spidermen, atau manusia kera, atau apalah itu." Latika mengangkat tangan lebih dulu mendahului anak pintar di kelasnya, mulut Latika lepas bicara.
"Bapak pun tidak mengaku kalau bapak dari kera. Ini hanya teori, betul apa yang kau katakan jika kita dari kera terus kenapa kera zaman sekarang tidak berevolusi lagi jadi manusia.
Itu hanya teori, pendapat para ilmuan sejarahwan.
Kalau dalam pandangan agama, terutama agama islam, memang manusia berasal dari nabi adam dan Hawa.
Tapi, bapak tidak tahu jugalah kalau dalam pandangan agama lainnya." Kamarudin menjawab ringan disertai senyuman dan ajuan jempol darinya untuk Latika, bagus pertanyaanya, "Ada lagi yang ingin ditanyakan latika?, atau yang lainnya ada yang ingin ditanyakan?."
"Pak kalau manusia berevolusi lagi bentuknya seperti apa pak?." Hadi mengangkat tangan lebih dulu, mendahului lagi anak pintar di kelasnya Bunga, dia mendapat juara 1 saingan Latika betul.
"Haduh... Manalah bapak tahu soal itu." Kamarudin manggeleng kepalannya, berjalan-jalan di sela-sela meja siswa.
"Oi... Kasih pertanyaan itu yang bermutu sedikit. Manalah bapak tahu soal itu," sergah siswa, duduk di barisan depan.
"Kalau benar bisa evolusi, aku mau jadi buaya ... ," Sambung murid yang duduk di samping Pak kamarudin.
"Untuk apa kau jadi buanya, kau kan memang buaya, tapi buaya darat," jawab murid yang duduk di samping Hadi.
Haha... Semua murid dalam ruangan ikut tertawa.
Sedangkan Pak Kamarudin hanya tersenyum, mengeleng kepalannya melihat tingkah muridnya.
"Pak... Dari mana bapak tahu tentang ini?." Salasiah mengangkat tangan, bertanya mendahului Bunga yang dari tadi mau bertanya, teman-temannya melihat ke arahnya tak menyangka kalau Salasiah akan bertanya, tumben-tumbenan dia bertanya.
"Bapak belajar, baca buku," jawab Kamarudin singkat.
"Jadi bapak tahu dari buku, kalau bapak tahu dari buku, terus penulis buku dan para ahli itu dari mana tahu semua itu?," sanggah Salasiah.
Kamarudin menggaruk-garuk kepala yang tak gatal, "Entah ya...
Bapak pun tidak tahu mereka tahu dari mana, ini hanya pengetahuan belaka saja..."
Tidak lama kemudian lonceng
istirahat berbunyi nyaring, Pak Kamarudin keluar dari kelas setelah Hadi menyiapkan.
Seperti biasa Latika dan teman-temannya pergi kekantin setelah sholat Dzuhur di surau sekolah.
"Em... Aku pulang ini ke makam ayah dan ibu. Harus kirim pesan lagi pada dia." Latika berkata dalam hati.
Hana datang memerikan minuman pada Latika, "Latika ini minuman kau."
"Eh... Perasaan aku tidak ada mesan," ucap Latika.
"Memang, Hana yang belikan." Nana datang dari belakang duduk di sebalah Latika, membawa 2 minuman yang satunya untuk Salasiah.
"Oh... Makasih Hana," Latika meambil minuman dari tangan Hana.
"Sama - sama." Hana memalas balik dengan intonasi yang irama.
Baru saja Latika kirim pesan dia sudah menelpon balik, Latika panik, bergegas ia pergi ke toilet, "Aaa... Semua aku mau ke toilet sebentar ya," kata Latika berlari meninggalkan meja menuju toilet.
Hana dan Nana meangguk.
"Ikut," pekik Salasiah mau meranjak dari tempat duduknya, tapi ditahan Nana, "Issss... Kau ini orang ke toilet pun kau mau ikut."
Sampainya di toilet, kepala Latika melihat keadaan sekitar, untung sepi.
Latika mengangkat telpon dari Afriadi, "Hallo."
"Adek mau ke makam ayah dan ibu?," suara Afriadi terdengar di dalam ponsel.
"Iya. Kenapa tidak boleh ya?."
"Bukan begitu, mau Abang antarkan?," tawar Afriadi.
" Tidak perlu, aku sudah mesan gojek."
"Em... Begitu."
Latika mendengar suara ribut - ribut dari dalam ponsel, sepertinya ramai sekali di sana.
"Ya, sudahlah pergilah..." Afriadi memberi izin, "Tapi jangan terlalu lama.
Cepat pulangnnya."
"Terimakasih."
"I Love you adek," suara dari dalam ponsel itu mengejutkan Latika, Latika menjauhkan ponsel dari telinganya, matanya melotot melihat ponsel, terasa kalau kalimat itu masih berdengung di telinganya,
dengan cepat ia memutuskan telponnya.
"Adek... Adek..." panggil Afriadi.
Tut... Tut...
Telpnnya sudah putus.
"Apa - apaan kau ini berkata seperti itu," kesal Afriadi.
"Aku hanya mengucapkan I LOVE YOU ADEK, saja apa salahnya, kau pasti mau mengatakan itu tapi tidak bisa, jadi biar aku saja yang mewakilkan," Hasan berkata santai, kembali menyantap makanan di atas meja resto.
Hem... Afriadi masih menatapnya kesal.
"Sudahlah itu." Qilan mengalihkan pandangan Afriadi kepadanya dengan menghalagi pandangannya pada Hasan yang lagi makan sambil tersenyum pakai sendok yang ditumpangi nasi dan lauk.
"Kalau tadi lambat sedikit saja, pasti pesanku sudah dibalas oleh mereka." Afriadi berseru dalam hati, merasa lega ia cepat kembali dari toilet mengambil ponselnya yang ketinggal.
Sedangkan Latika yang masih di dalam toilet masih tidak percaya dengan kata yang keluar dari ponselnya tadi.
Ia keluar dari toilet menuju kantin, entah kenapa senang sekali sampai-sampai ia tersenyum.
Temannya yang melihat Latika tersenyum terus, merasa heran.
Hana sejenak menahan sendok makan di atas mangkok soto, membiarkan kuah menetes masuk kembali ke mangkok soto, "Latika kalau keluar dari toilet pasti tersenyum, kau ketemu pangeran di dalam toilet." menyuap makanan ke dalam mulutnya.
"Latika kalau keluar dari toilet pasti tersenyum, kau ketemu pangeran di dalam toilet." Nana menyeriangai meminum minumannya.
"Mana ada pangeran yang ada emas saja." Salasiah menyambung kata Nana.
Hahaha... Tawa mereka berdua saling tos.
Hana memikirkan perkataan Salasiah...
Dan...
Ohok... Hana terbatuk-batuk, tersedak. Latika memebikan air minumnya pada Hana, cepat Hana meminum minuman Latika yang ia berikan tadi.
Plakkk... Memukul pelan salasiah di sampingnya, "Ehem... Orang lagi makan."
Salasiah tertawa sejadi mungkin.
"Hahaha...
Salah siapa memikirkan itu?." Nana berseru duduk di depannya.
Lonceng berbunyi Jam istirahat habis, masuk jam pelajaran ke 4.
Waktu begitu cepat berlalu, tidak terasa sudah jam pulang.
Ketika Latika melewati Gudang, yap... Gudangnya hampir bersih, tapi ia tidak melihat Pak Wali, Latika berpikir 'mungkin lagi makan siang.'
Latika melanjutkan langkahnya menuju gerbang, sesampai ia di gerbang, Mas ojolnya sudah ada menunggu.
Hari ini ia tidak langsung pulang ke rumah, ia pergi sebentar ke makam ayah dan ibunya.
Sudah lama ia tidak ke makam ayah dan ibunya. Latika masih ingat saat ia kehilangan mereka. Tepatnya beberapa bulan yang lalu ia kehilangan mereka.
Pikiran Latika terus mengingatnya.
Latika lahir di keluarga yang sederhana.
Ia lahir dari pasangan Latif dan Kartika. Orang tuanya dibesarkan di panti asuhan yang berbeda mereka, sedikit kisah cinta mereka.
Mereka bertemu di wartek tempat Kartika bekerja.
Waktu itu cuaca panas, Latif yang sudah lelah dan lapar habis habis mencari pekerjaan berhenti di depan warung makan tempat Kartika bekerja, Latif hanya menelan ludah melihat para pelangan makan di dalam, ia ingin ikut makan tapi tak punya uang, karena lapar betul ia terpakasa masuk dan memesan makanan tampa memikirkan lagi ia akan membayarnya pakai apa.
Latif makan di sana, setelah makan Latif melihat sekitar mencari kesempatan untuk keluar, Kartika yang merasa ada yang aneh dengan Latif mengamati dari jauh.
Merasa aman-aman Latif beraksi, ia mau kabur dari sana tidak membayar makanan, rencananya ia akan bayar makanan yang ia makan jika ia sudah memiliki uang sekarang ia kabur dulu, cepat Latif berlari menuju pintu. Kartika yang mengantar pesanan langsung meletak makanan dan segera menahan Latif tangannya mencengkram baju Latif dengan kuat, disertai dengan jeritannya menghardik Latif, "Eh, kau mau ke mana bayar dulu, jangan kabur."
Tapi apalah daya seorang wanita. Latif tampa sengaja mendorong Kartika sampai terjatuh, untung saja pemilik toko dan pembeli cepat meambil tindakan meringkus Latif. Akhirnya Latif tertangkap, ia mengaku di hadapan pemilik toko ketika salah seorang pembeli mengancam akan melapor polisi jika tika mengaku. Ia mengaku kalau dia tidak mau melakukan itu, tapi dia terpaksa karena sudah lapar ia meminta untuk tidak melaporkannya ke polisi. Pemilik toko memahaminya dan tidak akan melorkan ke polisi, tapi Latif harus ganti rugi untuk makanan yang ia makan dengan cara membantu mencuci piring, Latif bersedia melakukan itu.
Menit berlalu di dapur Latif mencuci piring.
Kartika yang kasihan melihat Latif akhirnya ringan tangan membantu mencuci piring, sesekali merka saling mencuri pandangan, saat itulah mulai tumbuh cinta di antara mereka.
Hari itu Latif di tawar bekerja di wartek oleh pemilik toko, karena toko kekuarangan tenaga kerja.
Mulai dari hari itu awal mula perjalan cinta orang tua Latika dimilai.
Hari-hari berlalu mereka mulai menyimpan perasaan satu sama lain, Kartika selalu pulang bersama dengan Latif, mereka selalu bertukar cerita.
Hari demi hari berlalu, rasa cemburu Kartika mulai timbul setiap kali ia melihat Latif melayani pembeli wanita dan begitu juga sebalikanya ketika Kartika melayani pembeli laki - laki Latif cemburu.
Pemilik toko hanya keheranan melihat tingkah pekerjannya itu.
Setelah berbulan - bulan lamanya, Latif berani untuk melamar Kartika, dan Kartika menerimanya, karena mereka anak yatim piatu, mereka tidak mengetahui di mana kerabat mereka, ayah dan ibu. Sudah menjadi yatim piatu semejak umur 6 tahun, salah satu dari kerabat mereka tidak ada yang datang berkunjung melihat mereka.
Setelah menikah Latif dan Kartika tinggal di rumah kontrak, mereka berdua tidak lagi bekerja di Wartek. Latif bekerja sebagai kuli bangunan dan Kartika sebagai pedagang gorengan keliling.
Hidup merka bahagia-bahagia saja, apa lagi setelah kelahiran Latika.
Sebelum usia Latika genap 16 tahun Latif sudah pulang kampung, dan disusul ibu Latika setelah beberapa minggu, saat itu usia Latika sudah genap 16 tahun, belum sampai seminggu setelah kepergian ayah dan ibu, Latika sudah diusir dari kontrakan karena tidak bisa membayar uang kontrakan. Temannya Hana mengajanya menginap di rumahnya untuk beberapa hari...
Tettt... Klakson motor mas ojol berbunyi memutuskan lamunan Latika, ternyata Latika sudah sampai di tempat tujuannya.
Latika bergegas turun dan membayar ojolnya.
Latika berjalan mengitari makam - makam menuju makam orang tuanya sampainya di sana, seperti biasa ia membacakan surah yasin untuk mereka, di iringi dengan tangisan, dalam pikirannya terbayang saat - saat indah bersama mereka..
Setelah membaca surah yasin seperti biasa Latika selalu bicara sendiri, kadang - kadang mereka yang datang berziarah keheranan melihat Latika bicara sendiri, tapi untuglah hari ini sepi, jadi Latika leluasa bicara.
"Ayah... Ibu...
Kalian jangan khawatir kepadaku, aku bisa menjaga diriku, kemarin aku bekerja di restoran teman ayah, di restoran bintang lima katanya dia teman ayah, aku dapat keringanan, tapi sayangnya aku dipecat beberapa minggu yang lalu, karena tidak mau mengikuti perintahnya, ia menyuruhku melayani laki - laki hidung belang, aku tidak mau dan hari itu juga aku dipecat.
Tapi ayah dan ibu jangan khwatir, sekarang aku sudah ada pedamping hidup yang memenuhi kebutuhanku, ayah dan ibu jangan terkejut, dia orang yang baik. Ya.. Sedikit anu juga, tapi aku bisa atasi kok. Ayah dan ibu tenang saja... Ayah ibu aku mohon restu dari kalian atas pernikahanku."
Latika mencium batu nisan orang tuanya.
" Ayah... Ibu... Latika pulang dulu."
Latika pergi meninggalkan makam orang tuanya, dan pulang ke rumah.