
"Kapan pergi ke pelatihan kepala sekolah?" tanya Raya yang duduk santai di sofa tamu.
"Malam lihatnya. Berangkat pos hari H, ambil penerbangan malam, sampai di sana bisa langsung istirahat sebentar hotel lalu panginya langsung ikut pelatihan." Aryadi menjelaskan.
"Berarti malam ini ya."
Afriadi meangguk membenarkan perkataan raya. Berat hati Afriadi ingin pergi, seperti ada berton-ton besi yang menahannya.
***
Di taman sekolah.
Gita duduk di kursi taman menikmati angin sejuk yang lewat, mengabiskan sisa waktu istirahat makan siang.
Tak lama Agustian muncul di belakang Gita duduk di sebelahnya.
"Hah, Kau bisa menyembunyikan tatomu dengan baik," bisik Gita.
"Heh, aku menutupinya dengan sempurna, mereka saja yang mudah untuk ditipu," balas Agustus dengan suara pelannya, mengusap lehernya. Dia benar-benar menutupi tato itu dengan sangat sempurna, kalau tidak diperingati sama bosnya untuk menutup tatonya itu pasti tadi penyamarannya selama ini terbongkar.
Ya, Agustian sengaja masuk ke lingkungan ini karena misi yang diberikan bos besarnya. Ia ditemani kekasihnya Gita. Agustian dan Gita merupakan orang terpercaya, ahli dalam mengatur strategi dan menggunakan senjata. Mereka berdua sangat ditakuti dijuluki sebagai sang pencabut, sebab sudah banyak nyawa melayang ditangan mereka, setiap misi yang diberikan dilaksanakan dengan bagus memuaskan.
Dan sekarang mereka punya misi yang berhubungan dengan sekolah ini.
Misi mereka...
"Habisi orang yang ia sayangi," kata mereka kompak dengan senyum licik.
***
Lepas Maghrib.
"Abang Jangan lama ya," kata Latika pelan memasukkan satu persatu baju Afriadi ke dalam koper.
"InsaAllah tak lama, tak sampai seminggu." Afriadi juga turut membantu.
"Nanti sampai sana jangan 'menggatal'," kata Latika dengan nada cemburu, "lihat cewek cantik sedikit langsung pangling ingat yang di rumah."
Afriadi tersenyum, balik menggoda, "Kalau jumpa yang kayak gini, boleh kan?"
"ABANG MAU NIKAH LAGI YA?!" respon Latika negatif, ia berkata dengan nada kesal.
"B-bukan Dek." Afriadi melambaikan kedua tangannya.
"OH, JADI GITU YA. PERGI KE SANA CUMAN UNTUK CARI YANG KEDUA." Latika mengangguk, nada suaranya sedikit naik, geram seakan tertahan, "BAGUS... JADI BEGITU YA... HE'EH..."
"B-bukan begitu Dek." Afriadi salah tingkah.
Itulah, tempatkan becanda pada tempatnya, tu kan jadi ngambek istrinya.
"Abang becanda cuman Dek, jangan dianggap seriuslah," kata Afriadi, merangkak mendekat.
Afriadi gagal mendekatinya, Latika keburu menjauh.
"Alasan," gerutu Latika.
"KYAAAA..." Latika menjerit dirasa tubuhnya terangkat, ia menoleh ke belakang, kaget. Ternyata Afriadi menggendongnya.
"Hanya becanda Dek. Percayalah tidak ada penggantimu," kata Afriadi lembut, mendektkan wajahnya. Wajah Latika bersemu apalagi saat hidung mereka saling tersentuh.
Mata Latika tertutup perlahan saat bibir Afriadi semakin mendekat mengincar bibirnya.
"Mamah!" panggil Sakira berlari masuk ke kamar.
Cepat Afriadi menurunkan Latika, mencoba bersikap biasa saja. Sakira kelihatan bingung dengan mereka berdua, habis apa tadi?
Sakira memeluk kaki Latika, tertawa senang. Ia seperti lagi bermain kejar-kejaran sama seseorang.
"Ada apa ni?" tanya Latika ikut tertawa.
"Em, habis main kejar-kejaran lah tu," jawab Afriadi. Sakira hanya tertawa senang sangking senangnya Afriadi dan Latika juga ikut tertawa, gemes lihat Sakira.
"Sakira!!!" Samsul muncul di depan pintu kamar mengagetkan mereka. Pantesan Sakira lari-lari ternyata dia yang kejar.
Tawa lebar Samsul langsung pudar saat Afriadi menatapnya dengan tatapan tajam. Ia baru ingat, Afriadi sudah peringati dia berapa kali jangan main kejar-kejaran naik tangga nanti terjatuh, Samsul lupa pesan itu. Apa boleh buat lagi ia cengengesan minta maaf lalu pergi.
"Pah pah pah..." Sakira memanggil Afriadi, tangannya merekah minta gendong.
Afriadi tersenyum menggendong Sakira.
"Lain kali, jangan lari-lari di tangga ya sayang. Nanti jatuh, sakit." Afriadi menasehati Sakira, yang di nasehati hanya cengengesan entah paham atau tidak.
Latika mencubit pipi Sakira.
"Sama mama dulu ya sayang, papa mau siap-siap pergi." Afriadi menyerahkan Sakira pada Latika. Latika menyambutnya, waktu Sakira menghadap ke belakang Afriadi meambil kesempatan mencuri bibir Latika.
Sontak Latika kaget, itu terlalu tiba-tiba.
"Nanti kalau di sana Abang tak dapat jatah," bisik Afriadi. Wajah Latika memerah.
"Ajah Ama ayak ulon." Sakira menunjuk wajah Latika yang ia bilang mirip bunglon bisa berubah warna.
Afriadi menahan tawa.
Tibalah saatnya Afriadi pergi.
Di depan rumah Afriadi sudah bersiap, kopernya dimasukkan ke garasi mobil sama Samsul. Buk Ipah dan Sari berdiri di samping Latika tepatnya di sebelah Sakira.
"Dek, nanti jangan lupa sholat ya..." Afriadi meninggalkan pesan pada Latika yang menggendong Sakira.
"Dedek!" Saskia berseru dikala Afriadi mencubit pipinya.
"Dedek apa sayang?" tanya Afriadi.
"Dedek!" kata Sakira lagi.
Latika melipat kening, menggeleng kepala pelan sambil tersenyum, "Gak tahu nih bang, hari ini dia sering panggil dedek."
"Jangan jangan dia mau punya dedek," kata Sari nyambung pembicaraan.
"Biasanya kalau anak kecil bilang dedek... berarti dalam perut non emang ada dedek..." Buk Ipah nyambung pembicaraan dengan wajah ceria.
Ada rasa apa gitu di hati Latika, ada rasa senang juga. Emang beberapa Minggu ini ia sering kelelahan dan rada pusing, mual sih gak seberapa kalau gak cium bau yang menyengat. Ia rasa juga begitu, dalam rahimnya ada calon anak manusia, ia rasa. Mau membuktikannya kemarin, tapi ia takut hasilnya mengecewakan lagi jadinya tidak ada periksa belum.
Afriadi tersenyum mencubit pipi Sakira, "Hahah... Ada ada saja. Yah, moga saja nanti pas papah Kemabli dalam perut mamah ada dedek ya."
Afriadi tak bisa bicara panjang lebar lagi, ia haru ke banadara kejar penerbangan.
Latika menyalami suaminya saat ia ingin pergi tadi.
***