Suamiku Guruku

Suamiku Guruku
Kuliah


"Huh, bosan." Latika melempar ponselnya ke tempat tidur, menghempaskan dirinya di sana. Suasana kamar yang remang tenang membuat Latika mengantuk, perlahan-lahan matanya menutup baru beberapa menit dia sudah tidur dengan posisi telentang membentuk bintang, ngorok lagi.


Tidur siang yang damai sekali.


Tapi sayang tidur siang Latika terganggu gara-gara Afriadi yang baru datang mengusiknya.


"Pulas sekali tidurnya." Afriadi memperhatikan Latika yang tidur ngorok. Sekejap saja timbul ide jahilnya, ia menaik turunkan alisnya.


Afriadi naik ke tempat tidur, perlahan menyingkap baju Latika sehingga kelihatan perut Latika, tangannya jahil mengusap perut Latika sampai ke ujung dua pusaka Latika.


Merasa ada yang mengusap tubuhnya, Latika membuka matanya melihat siapa yang mempermainkannya dengan mata yang masih merah mengantuk.


Ia kaget lihat Afriadi duduk di atasnya dengan tangan yang terus mengusap tubuhnya, Afriadi tersenyum lebar. Penuh arti, tangannya merayap turun mau membuka celana Latika.


Cepat Latika bangun menutup bajunya, wajahnya merah bersemu bercampur tegang. Afriadi menatap sayu Latika, tangannya mau membuka kembali baju Latika tapi tetap Latika tahan, sebab Latika masih kaget.


"Kenapa ditahan? Hem?" Afriadi memegang dagu Latika, mata mereka sejajar saling tatap, "Malu ya? Katanya tadi mau main, sepi gak ada yang temani. Kok sekarang malah gak mau."


"A-Adek b-belum siap lah, b-baru b-bangun tidur. Bau." Latika tergagap-gagap, tetap menahan tangan Afriadi yang mau masuk ke dalam bajunya.


Afriadi tersenyum, tanpa aba-aba ia mencuri bibir Latika. Lemas tubuh Latika dibuatnya. Dengan mudahnya Afriadi memasukkan tangannya ke dalam baju Latika berkeliaran di sana.


Ciuman mereka terlepas, bersama-sama meambil nafas.


"Lanjut yuk," ajak Afriadi dengan mata sayu. Mulut Afriadi komat-kamit baca doa bersetubuh biar setan tak ikut. Afriadi mendekatkan wajahnya, membuka satu persatu pakaian Latika.


Latika melingkarkan kedua tangannya di leher Afriadi. Terjadi pergulatan panas.


Selama itu berlangsung, sampai saat puncaknya ketika mereka mau menyatu.


Tiba-tiba...


"Mas!"


Ada yang manggil.


Panik menghampiri mereka, apalagi tahu kalau pintu tak berkunci tambah panik lagi.


Langkah kaki terdengar mendekat dengan suara panggilan sekali, memanggil Afriadi, dari suara sepertinya Sari.


Cepat Afriadi turun, menyambar pintu mendorongnya sekaligus menguncinya.


Latika menutupi dirinya. Sambil bersandar di pintu Afriadi membetulkan celananya yang nyangkut di paha.


"Mas!"


Tok... Tok... Tok...


Panggil Sari seraya mengetuk pintu kamar.


"Hah, y-ya." Nafas Afriadi masih berat, "Ada apa Sar?"


Sari yang menyadari suara Afriadi agak terengah-engah, sadar apa yang sedang ia lakukan, wajahnya merah bersemu. Merasa bersalah telah mengganggu kesenangan mereka.


"Ada apa Sar?" tanya Afriadi, memungut pakaiannya, mengenakan kembali.


"Anu Mas ada yang mencari anda. Dia nunggu di ruang tamu."


"Siapa?" tanya Afriadi di balik pintu. Latika turun mengenakan bajunya kembali.


Aduh, Sari merasa tak enak sudah ganggu mereka, "Gak tahu Mas, lupa nanya namanya siapa."


Batin Afriadi sudah berkata kesal, "Ada aja yang ganggu kesenangan orang."


Latika mendekati Afriadi membujuknya untuk lihat siapa yang datang, tapi Afriadi tak mau dia mau lanjut. Latika menggeleng tetap memaksa Afriadi untuk keluar temui tamu itu.


Afriadi menghela nafas kesal, "Em, bilang dengan dia sebentar lagi aku turun," katanya datar.


Cepat Sari meninggalkan kamar mereka turun kebawah secepat kilat, jantungnya deg deg deg walau gak lihat gak denger hanya dengar nafas berat Afriadi sudah terbayang mereka melakukan itu.


Plak... Plak... Plak...


Afriadi menampar pipinya menyadarkan dirinya dari pikiran sesatnya.


Tak lama Afriadi turun menemui tamu itu.


Ia kaget setelah mengetahui siapa tamu itu.


Siapa lagi kalau bukan temannya, yang sudah lama tidak bertemu terkahir kali bertemu saat pesta pernikahannya.


Pria yang kerap disapa Cacan sama teman-temannya, berprofesi sebagai Dokter di Rumah Sakit ternama di kotanya.


"Ada apa Can?" Afriadi duduk di sofa berjarak satu meter dari Cacan.


"Ini ada sedikit oleh-oleh dari Pontianak. Kebetulan kemarin lagi jalan-jalan sama keluarga, sekalian saja beli oleh-oleh untuk kalian. Oleh-oleh Lokal gak negri." Cacan memberikan sebungkus oleh-oleh.


"Waw, apa ini?" Afriadi menerimanya dengan senang hati, melihat sekeliling bungkusan itu lalu meletakkan di atas meja, "Terimakasih ya."


"Sama-sama. Itu bukan barang mewah, cuman makanan saja dan sovenir," ujar Cacan.


Tak lama Sari datang membawa sajian, Cacan yang tadi mau bicara malah tak jadi gara-gara lihat Sari. Ia bengong melirik Afriadi, jari telunjuknya menujuk Sari, "Anak gadismu?"


Sontak Sari mendongak melihat Cacan penuh tanda tanya, begitu juga Afriadi.


AA... AA...


Terdengar suara gagak yang samar-samar di telinga Cacan sangking heningnya, sampai berhalusinasi.


"Sehat kah?" tanya Afriadi dengan nada datar bercampur keheranan, "Belum punya anak lah, kalau pun punya tak akan lah sebesar ini."


Cacan menyengir menggaruk-garuk kepalanya, "Haha... Becanda Af, lupa aku. "


Sari hanya tersenyum, meninggalkan tempat saat sajian sudah disajikan.


Mereka berbincang begitu lama.


Selang beberapa jam.


Cacan pamit undur diri mau pulang, istri di Rumah sudah cari.


Saat Cacan mau keluar, ia bertemu dengan Latika di depan ruang tamu.


"Eh Latika," sapa Cacan, "Latika ya yang mau masuk kuliah kedokteran?"


"Mas Cacan." Latika sapa balik dengan nada suara kecil.


"Iya, dia yang mau masuk. Dari pada gak kuliah," jawab Afriadi.


"Bagus itu, tapi hari kuat ya dan rajin-rajin belajar. Bukannya mudah mau jadi dokter melainkan berat," ujar Cacan, "Nanti kalau mau belajar boleh datang ke Rumah atau ke tempat kerja atau boleh juga saya yang datang ke rumah."


Afriadi menyeringai merangkul Cacan, berbisik di telinganya, "Istrimu tidak massal?"


"Tidak lah, dia malah senang jika ada orang datang apalagi kalian berdua, bisa heboh rumah..."


Latika tersenyum kagum dengan semua teman Afriadi yang mendukungnya serta menawarkan bantuan untuknya, mereka semua kompak sekali.


***


Malamnya.


"Bang, Adek takut." Latika membelai lengan Afriadi yang memeluk pinggangnya dari arah belakang.


"Hem, takut kenapa?" Afriadi menyahut dengan mata terpejam.


"Kuliah kedokteran kelihatannya sulit. Adek takut mengecewakan Abang aja."


"Mana ada yang sulit jika sudah dipelajari, kecuali belum dipelajari batu sulit. Lagian kalau Adek belajar dengan giat pasti berjaya, jikapun tidak setidaknya Adek sudah berusaha."


Cup...


Afriadi mencium pipi Latika, mengusap kepalanya, "Sudah jangan di pikirkan, bawa santai saja."


Walaupun Afriadi bilang untuk tak memikirkan semua tapi, Latika tetap memikirkannya.


Sampai hati itu tiba.


Satu Minggu kemudian.


Latika masuk ke universitas kedokteran.


Rasa gugup menghampirinya bercampur menjadi rasa senang.


Ia melihat begitu banyak orang memenuhi aula, ia masuk daftar nama lalu pakai kalung dari karton jadi talinya tali Rampia model tali plastik gitu di kertas kartonnya di tulis nama Latika.


Yap, ini masa orientasi siswa atau sering dikenal dengan mos atau opsek.


UI, banyak yang tidak Latika kenali, kecuali itu kakak-kakak Senior dan temannya Afriadi.