Suamiku Guruku

Suamiku Guruku
By By Sakira


Malam meranjak larut.


Latika berusaha untuk tidur tapi tak bisa, perasaanya was was. Bukan karena tidak ada Afriadi di sampingnya, tapi ini perasaan yang lain. Sesuatu yang tidak diinginkan akan terjadi kedepannya.


Waktu terus berjalan, Latika sedan tidur dengan raut wajah pias seakan mendapat mimpi buruk.


***


"... Baik bos." Agustian memutuskan panggilan.


"Apa kata bos?" tanya Gita, yang duduk di kursi teras balkon rumah.


"Dia minta kita bergerak cepat sebelum dia kembali."


"Aneh, kenapa bos minta kita cepat-cepat habisi dia? Apa orang itu seperti yang diceritakan bos? Dari gaya sih kelihatan," kata Gita.


"Jika benar dia setangguh dan selicik yang dikatakan bos, aku ingin merasakan sekali beradu dengan dia."


"Bukanya kau menyayanginya."


"Aku... Hahaha... Benar." Agustian melirik tajam Gita, "karena aku menyayanginya lah aku menantikan duel dengan dia."


"Rasanya kedua tangan ini ingin mematahkan tulang-tulangnya." Agustian mengepal kedua tangannya.


KRETAK... KERETAK... KERETAK...


Merekup bunyi yang dihasilkan dari kepalan tangan itu. Gita hanya tersenyum licik, merapikan poni yang tertuip angin.


"Dia urusan belakangan, sekarang fokus pada target," ujar Gita melirik tajam Agustian sambil tersenyum.


"Kau benar." Agustian tersenyum licik. Menuangkan 2 gelas bir, satu ia berikan pada Gita. Ia meangkat gelas dan membenturkan ujung mulut gelas ke gelas Gita,


"Untuk kemenangan kita, cissss..."


"Ciss..."


Rencana apa yang disiapkan mereka berdua?


Sedangkan di posisi lain.


Afriadi memeluk bantal guling, sedih gak bisa meluk istrinya. Sabar Af, cuman beberapa hari saja ꈍᴗꈍ


***


Keesokan harinya.


"Huweek..."


Latika mual mual di kamar mandi, Sakira yang lihat segera lari ke luar kamar mengadu dengan orang bawah Bik Ipah sama Sari.


Saat Latika kerja dari kamar mandi ia lihat Bik Ipah sudah ada di depan pintu membawa air hangat, kaget Latika lihatnya.


"Ya Allah, Non. Non kenapa sampai pucat gini?" tanya Bik Ipah lembut, memberikan segelas air hangat yang ia bawa. Sakira memeluk Latika.


"Mana angan akit," kata Sakira.


Latika duduk di sofa kamar yang berada tak jauh berada letaknya, tersenyum memangku Sakira, "Tidak sayang. Mana tidak sakit."


Sekilas Latika mencium pipi Sakira.


"Mungkin Latika kelelahan cuman Bik, sudah lama tidak jalan jauh semalam jadinya gini ditambah lagi Sakira sering lari sana lari sini..." Latika menjelaskan setelah minum air hangat yang diberikan padanya.


Buk Ipah ber-o pelan, pandangannya tertuju pada perut Latika. Satu kata yang tersirat dalam benaknya 'hamil'


Buk Ipah menduga Latika hamil, tangga tanda sudah kelihatan dari yang ia perhatikan beberapa hari ini dari jalan yang berubah, sering emosi, kadang suka malas.


"Non hari ini kuliah?" tanya Bik Ipah.


"Kalau begitu, non jangan lupa minum vitamin sebelum pergi." Bik Ipah kembali berujar.


***


"... Terimakasih ya sudah rawat Sakira." Bibik Sakira datang menjemput Sakira, this dia sudah menemukan pengaruh Sakira yang baru dan terpercaya.


Sakira merekahkan tangannya gemes, Latika mendekatkan wajahnya pada Sakira.


Latika dapat ciuman dari sana di pipinya, salam perpisahan dari Sakira. Latika mencium pipi Sakira kiri kanan, rasa terharu ingin lepaskan Sakira.


Bik Ipah dan Sari mencium pipi Sakira.


"Baik-baik ya sama Tante," kata Bik Ipah, "Jangan nakal ya, denger kata Tante."


Bibi Sakira membawa Sakira masuk ke mobil, Latika melambaikan tangan sambil menahan tangis melepas Sakira. Yah, walau cuman beberapa hari saja Sakira di rumah tapi Latika sudah menganggapnya sebagai anak kandung sendiri.


Tak di sangka di dalam mobil Sakira memberi lambaian tangan dari dalam mobil Latika, Bik Ipah, dan Sari membalas lambaian itu. Mereka bertiga sampai tersentuh saat Sakira memberi salam kiss pada mereka.


(^3^)/~♡


Owwww....


Langgar beberapa menit Latika dan Sari berangkat ke kampus. Tinggal lah Bik Ipah di rumah sendirian.


***


Waktu belajar Latika berdiri bertanya pada dosen, entah kenapa tiba-tiba pandangan sedikit kabur berputar kata-kata yang ia ucapkan seakan melambat dan melemah.


Orang-orang sekelilingnya sudah mulai bingung ada apa ni? Temannya sudah was was. Dan...


Latika kehilangan keseimbangan tubuhnya perlahan terjatuh untung Wanti dan 'Aini cepat menangkapnya.


"Latikaaaaa!!!" panggil 'Aini histeris. Panggilan itu terdengar sekilas ditelinga Latika sebelum ia pingsan.


Sibuk satu kelas, dosen yang ngajar pun kaget, laki-laki yang ada di sana sibuk meangkat Latika membawanya ke UKS sejenisnya lah.


***


"Emmmm..." Latika sadar membuka matanya perlahan, pandangannya rabun melihat sekeliling.


"Eh, Latika dah bangun."


Latika mearahkan pandangannya ke arah suara, dilihatnya wanita asing yang tersenyum lebar di sebelahnya. Ia tak kenal dengan wanita itu.


Sebelah alis Latika terangkat, dalam benaknya timbul banyak pertanyaan.


Siapa dia? ia ada dimana? Apa yang terjadi padanya? Kenapa bisa ada di sini? Dan kenapa dia tersenyum-senyum terus?




hello semua.


maaf ya tak up beberapa hari ni.


soalnya author mid semester Minggu ini dan satu hari itu sekali 3 mata pelajaran yang diberikan 1jam 20 segitulah.


oh ya, mid semester 1 Minggu, lama bukan.



so, maaf ya lambat up. beberapa hari kedepan juga begitu akan lambat. sorry