Suamiku Guruku

Suamiku Guruku
Rayu


Di perjalanan pulang Latika di ajak bicara sama Mang Juneb. Hilangkan rasa jejuh di perjalanan.


"Non... Non sekarang banyak kegiatan, ya?"


"Iya... Mang."


"Eemm... Kalau Non sering pulang seperti ini apa tidak masalah Non?"


"Ya, engak lah. Kenapa Mang?"


"Mamang cemas saja."


"Cemas apa Mang?"


"Hah... Non, apa Non tidak kahawatir?"


"Kahawatir soal apa Mang?"


"Heh... Soal tetangga baru tu lah, yang sering datang ke Rumah.


Kalau Non pulang seperti ini terus takutnya itu Cewek semakin rapat sama Suami Non.


Dan takutnya lagi hati Babang Non bisa direbutnya.


Hihi... Maaf, ya Non.


Mana tahu nanti Non dimadu.


Kan Suami Non banyak yang mau.


Laki-laki itu punya nafsu Non, coba Non ingat-ingat selama ini Tuan menahan nafsunya itu, Tuan bersikap biasa-biasa saja. Tapi, Non di dalam hati Tuan yang paling dalam, Tuan ingin SEPERTI YANG LAINNYA.


Kalau Mamang mah, tidak bisa menahan selama itu.


Tuan hebat, bisa menahannya.


Ya... Non paham saja maksud Mamang apa."


Sepanjang perjalanan, Mang Juneb bicara.


Tapi, apa yang disampaikan Mang Juneb benar ada benarnya juga.


Latika hanya diam saja mendengarkan ucapan Mang Juneb.


Tak lama di perjalanan, akhirnya mereka sampai di Rumah.


Sesampainya di Rumah.


Latika melihat Afriadi duduk di Sofa Ruang Tamu, membaca buku.


"Haduh..." Latika panik, rasanya ia tidak berani lewat. Walau terhalang dengan tembok berkaca Latika tetap tak berani lewat.


Tapi, mau bagaimana lagi, kamarnya di sana harus melewati ruang tamu.


Terpaksa ia berjalan pelan-pelan.


Hah... Latika seperti maling saja.


Afriadi mellirik bayangan Latika di vas bunga di atas meja.


Afriadi menyengir, "Sudah pulang, dek!" Afriadi menyeru membuat Latika kaget sampai buku kuduknya berdiri semua dan langkahnya menjadi kaku. Emang mirip Latika seperti maling yang kepergok.


"Kenapa berjalan seperti itu?" Afriadi meletakkan buku di atas meja, bersandar di pesandaran Sofa, menghela nafas.


Terpatah-patah Latika menolehkan kepalanya.


"Sini dulu, Dek. Abang mau bicara."


Tangan Afriadi melambai-lambai menyuruhnya mendekat.


Latika mendekatinya, walau tidak pede.


Hem... Badannya bau keringat, seperti bau ikan asin.


Tidak pede betul.


Tapi, mau tidak mau dekatin juga.


Latika duduk agak jauh darinya. Dia duduk di ujung, dan Latika duduk di ujung satunya. Takutnya dia terganggu dengan bau badannya


"Kenapa duduknya jauh sekali, Dek?"


"Em... Adek belum mandi." Latika menunduk malu.


"Gak apa-apa dekatlah sini?" Afriadi menepuk-nepuk Sofa, menyuruhnya duduk di dekat dia.


"Gak, di sini saja." Latika menggeleng.


"Gak apa-apa.


Dekatlah ke sini." Afriadi memaksa.


"Gak... Di sini saja."


"Dekatlah Dek."


"Gak.."


Afriadi tersenyum penuh muslihat, pelan-pelan ia bergeser mendekat.


Batin Latika berseru, "Aduh... Kenapa mendekat sih?"


Latika pelan-pelan bergeser menjauh.


"Kenapa menjauh, Dek?" Afriadi berhenti mendekat, "Jangan menjauh dek."


"Hahaha..." Latika tertawa getir, tangannya terjatuh tidak merasakan dataran Sofa lagi, ia berhenti menjauh sadar kalau dia sudah berada di ujung Sofa.


"Mendekatlah Dek, ada yang ingin Abang bicarakan."


"Em... Bicarakan saja dari sana."


"Sudahku duga," guma Afriadi pelan, menghela nafas siap bertindak.


Syuuut...


Afriadi bergeser mendekat dengan cepatnya.


Latika yang kaget dengan gerakanya, termundur menjauh, lupa kalau sudah berada di ujung Sofa dan...


"Haa..."


Latika menjerit hampir terjatuh dari Sofa, badanya sudah serong.


"Hap..." Tangan Afriadi gesit menarik tangan Latika. Tangan satunya menahan tubuh Latika. Menariknya mendekat sampai wajah mereka dekat hanya berjarak 1 jari saja, mata Latika membulat sempurna menatap Afriadi mata mereka saling bertemu, Afriadi menatapnya sayu matanya merah. Latika terpesona dengan Afriadi wajahnya memerah dan jantungnya bukan main kencang lagi berdegupnya. Tangan Afriadi bertenger nyaman di pinggang Latika.


Untung lah, Afriadi cepat menari Latika.


Kalau tidak, entah apa jadinya dengan bokong Latika.


Dari tadi menjauh. Tapi sekarang malah menempel.


"Kenapa menjauh terus dari tadi? Hampir saja jatuh." Nafas Afriadi memburu menghantam wajah Latika.


Latika sadar dari jeratan pesona Afriadi, "Itu, Adek belum mandi, bau keringat."


"Bagi, Abang Adek tetap wangi." Afriadi mengesekan hidung dengan hidung Latika, tersenyum. Spontan wajah Latika tambah merah dan jantungnya bukan main tambah kencang berdetak.


Batin Afriadi gundah, "Tanya atau tidak. Urungkan saja, pertanyaan tidak penting, mungkin tadi itu mereka hanya gurauan saja."


"Abang mau tanya apa tadi?," tanya Latika mendorong Afriadi menjauh darinya. Ia merasa tidak nyaman dengan tatapan itu.


Afriadi mengurungkan niatnya untuk bertanya soal itu, soal Latika dekat dengan Hadi. Afriadi melihat dia dekat dengan Hadi dari lantai 3 kelas 12 I PA A di Sekolah tadi.


Latika tak kuat mendorong Afriadi menjauh darinya, memukul pelan dada Afriadi kesal sebenarnya malu.


Afriadi tersenyum,


"Em... Adek sudah sholat?"


"Sudah." Latika menjwab kesal agar dia melepaskannya.


"Mandi lagi sana, sebentar lagi masuk waktu Maghrib," printah Afriadi, melepas Latika.


"Yang menahanku di sini siapa?," gerutu Latika pelan, mundur lupa kalau dia sudah ada di ujung Sofa hasilnya ia terjatuh.


Afriadi sontak terkejut membabtunya berdiri, sedikit tertawa geli melihat dia terjatuh. Wajah Latika merah padam berlari ke kemarnya.


Setelah selesai mandi pas azan maghrib menyusul di mesjid-mesjid, berkumandan dengan merdunya.


Latika bersiapa-siap untuk melaksanakan sholat, bukan Latika saja muslim yang lainnya juga bersiap-siap untuk melaksanakan sholat.


Menit berlalu, Latika sudah selesai melaksanakan sholat manghrib.


Latika turun ke bawah membantu Bik Ipah sudah lama ia tidak bantu Bik Ipah.


"Bik, Latika mau bantu, boleh?" Latika mendekati Bik Ipah menawarkan bantuan.


Bik Ipah tersenyum, mengangguk.


Tangannya bergerak membantu Bik Ipah, dari memotong bawang, mencuci sayur lalu sayurnya dipotong.


Larika memperhatikan tangan Bik Ipah yang lincah menaburkan bumbu-bumbu masakan bagaikan pro, ahlinya dalam memasak. Aroma masakan Bik Ipah tercium, mengugah selera.


Sambil memasak Bik Ipah menjelaskan.


Kadang sesekali Bik Ipah menyuruh Latika membumbui masakan.


Oi, Latika masih teroma dengan kejadian kemarin, waktu pertama kali masak untuk dia (Afriadi), masih takut untuk membumbui masakan


Latika menggeleng membiarkan Bik Ipah yang membumbui masakanya, "Bibik saja yang bumbui, nanti kalau Latika yang bumbui rasa masakanya jadi seperti kemarin."


"Hahaha... Engak gitu juga Non, gak selamanya rasa masakan Non seperti itu. Perlu belajar lagi Non."


"Em... Latika belajar.


Cukup lihat saja."


"Ye, Non kalau di lihat saja mana mau.


Harusnya diperaktekan.


Nih, Non coba beri bumbu. Sebagai praktek."


"Hah... Seriusan Bik?"


"Iya. Ayo, kalau di lihat saja tak bisa.


Cepat Non, keburu masak sup nya."


Kalau bukan karena paksaan Bik Ipah, mana mau Latika bumbui. Terpaksalah dia membumbui, kali ini Bik Ipah memberikan intruksinya.


"Segini Bik garamnya?"


"Masukin, Non. Cicipi Non. Bagaimana Non rasanya?"


Latika mencicipi, lidahnya mendecap merasakan, "Tawar."


"Berarti kurang tuh, Non.


Masukin lagi garamnya Non, sikit-sikit."


Sesuai arahan Bik Ipah, Latika memasukan garamnya, terus di aduk-aduk lalu dicipi, jika kurang masukin lagi secukupnya.


"Bangaimana rasanya, Non?"


"Em... Pas." Latika ragu dengan rasanya, "Coba Bik Ipah cicipi."


Bik Ipah mengambil sendok, mencicipi sup yang Latika bumbui,


"Em..." Bik Ipah membalikan badanya menatap Latika, tatapanya seperti tidak menyakinkan kalau pas, "Pas, Non."


Latika melotot tak percaya, "Eh... Seriusan bik?"


"Iya." Bik Ipah meangguk mantap.


Lebar senyum Latika senang sekali rasanya hati Latika.


Menit-menit berlalu, setelah selesai masak, dan makanan dihidangkan.


Afriadi datang, duduk bersiap menyantap makanan. Latika melayani mengisi piringnya tak lupa pakai senyuman ketika memberikan padanya.


Tampa pikir panjang lagi, langsung saja Afriadi memasukkan makanan ke dalam mulutnya, matanya melotot merasakan masakan seperti ada sesuatu yang berbeda.


Afriadi menatap Bik Ipah, tatapanya seakan bertanya 'Masakan siapa ini? Apa Bik Ipah yang memasakanya?'.


Bik Ipah tahu tatapan itu, menunjuk Latika yang duduk menyatap makanan dengan jempolnya.


Garis senyum terukir di wajah Afriadi.


Dia mengajukan jempol pada Bik Ipah, menandakan 'Enak', sebaliknya juga Bik Ipah mengajukan jempol.


Latika merasa ada yang aneh perasaan ada yang jangal gitu.. Mulutnya berhenti mengunyah, membiarkan pipinya berisi. Melihat Bik Ipah dan Afriadi secara bergantian.


Tapi, mereka bersikap biasa saja saat Latika menatap mereka.


"Enak Bik masakannya malam ini," kata Afriadi penuh arti.


Latika menatap Afriadi tersenyum malu.


"Iya, masakannya ada yang beda soalnya Non ikut membantu." Bik Ipah memuji Latika.


"Wah, Adek sudah pandai masak. Enak." Afriadi meajukan jempol pada Latika, memujinya. Latika tersenyum malu pipinya memerah.


Selama makan Afriadi tersenyum terus, senang rasanya hati Latika jika ada yang suka dengan masakan yang Ia buat. Gak semua juga sih yang ia masak.


Setelah selesai makan Bik Ipah membersihkan meja, Latika turut membantu.


Afriadi duduk di luar, ruang keluarga memaikan tabletnya.


Beberapa menit berlalu.


Setelah selesai urusan dapur.


Pas sekali azan isya’ berkumadan.


Latika berjalan menuju kamarnya mau melaksanakan Sholat setelah itu baru belajar atau main ponsel.


Langkahnya terhenti ketika menaiki anak tangga, ia mendengar suara perbincangan di luar sana.


Kelihatanya di depan ada tamu yang datang, Bik Ipah lewat membawakan air minum untuk tamu terusebut, Latika tak mau terlalu kepo, siapa tamu tersebut? Mungkin itu tamu penting Afriadi.


Latika melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga menuju kamarnya.


Di susul Afriadi dari belakang sambil memainkan tabletnya, kelihatannya ia juga ingin ke kamar.


Latika memperlambat langkahnya membiarkan dia duluan.


Afriadi berjalan denga kecepatan biasa, dia tak melihat-lihat lagi kalau ada orang di depannya, Latika pikir dia melihat langkahnya ke depan. Latika menoleh matanya membulat sempurna melihat Afriadi...


BRRUUUK...


Afriadi menabrak Latika.


CUP..


Tak sengaja Afriadi mencium bibirnya


"Kyaaa...," jerit hati latika, tubuhnya seperti tersengat listrik. Jantung Latika lompat dari sangkarnya meraih sengatan listrik dari Afriadi.


Kuat ia memegang pagar tangga agar tak terjatuh.


"Egh..." Afriadi mau terjatuh, cepat tangannya menyambar tangan Latika yang berpegangan di pagar tangga, Latika tersengat lagi. Mereka berdiri di satu anak tangga tubuh mereka menempel. Afriadi sulit menyeimbangkan tubuhnya megenggam erat tangan Latika tangannya yeng memegang tablet merangkuh pinggang Latika. Biar bisa jaga keseimbangan.


"Dorong." Hati Latika menjerit,


"Jangan ini di tangga, nanti jatuh." Detak jantunya tak terkendali, berdetak kencang sampai Afriadi dapat merasakan getaran detakan jantung Latika.


Hati Afriadi berkata, nafasnya memburu merasakan, "Lembut."


Hati Latik berteriak kencang. Tubuhnya seperti mati rasa, merinding, peluh dingin keluar.


"Em... Wah... Wah.. Wah... Di luar dugaan, mereka bergairah sekali," guma seorang tamu melihat kejadian itu, diam-diam dia mengendap-endap mengintip mereka.


"Egh..." Afriadi sadar, ia melihat wajah Latika memerah seperti butuh oksigen.


Ia juga butuh oksigen, cepat melangkah mundur melepas tangannya dan pelukannya, bergerak menjauhkan bibirnya melepas ciuman mereka, "Maaf, kesandung."


Nafas Latika terengah-engah, hatinya berteriak.


Berlari meninggalkan Afriadi yang wajahnya merah bersemu.