Suamiku Guruku

Suamiku Guruku
5 Tahun yang Lalu


Kejadian 5 tahun yang lalu, yang tidak akan pernah Afriadi lupakan.


Waktu itu. Sebulan sebelum kejadian itu. Riandi ingin mengajak semua keluarga besarnya reuni. Riandi adalah Nama Ayah Afriadi. Tentunya biaya ditanggung sama Riandi. Semua keluarga besar mau ikut reuni, sesekali kumpul ramai - ramai bareng keluarga besar, terutama gratis, siapa yang tidak menolak soal gratis. Mereka semua setuju dengan ajakan Riandi. Ditetapkan tanggal keberatan mereka semua, tanggal 5 Mei 20XX.


Selama berjalannya waktu, tidak ada yang membatalkan rencana reuni, malah mereka semua tidak sabar mau berangkat.


Satu hari sebelum keberangkatan reuni, tanggal 4 Mei 20XX.


Afriadi duduk santai bersama dengan orang tuannya, ditemani dengan teh dan pisang goreng, diruang santai menunggu waktu maghrib sampai.


"Afriadi kamu yakin tidak mau ikut?," tanya Riandi pada anaknya yang duduk di seberangnnya membaca buku, sama sama seperti dirinya, membaca buku.


"Engak Pa, aku sibuk dengan urusan kuliahku." Afriadi menjawab, tatapannya tidak lari dari buku, tangannya membuka halaman berikutnya.


"Em... Gak lengkap, kalau kumpul kurang kamu." Riandi menutup bukunya, meletaknya di atas meja, sebelah dirinya, "Atau tunda saja ya, tunggu kamu punya waktu luang."


"Janganlah Pa, kan sudah diberitahu sama semua keluarga kita, kalau dibatalkan bagaimana perasaan mereka, jangan jadikan aku sebagai alsan untuk menunda reuni ini." Afriadi menutup bukunya, menatap Riandi.


"Iya... Papa tahu, tapi kamu bagaimana?," kata Riandi menatap balik, "Bukannya kamu juga ingin kumpul bersama."


"Ya... Ingin sih, tapi mau bagaimana lagi." Afriadi mengusap lehernya, matanya lari menatap langit-langit rumah.


"Haduh... Bagiamana ini ma?." Riandi bertanya pada Afiqah yang duduk di sebelahnya.


Dari tadi Afiqah ibunya Afriadi hanya diam saja, menikmati teh, sempat terkejut saat dilontarkan pertanyaan, "Em... Kalau mama sih setuju dengan Afriadi soalnya kalau ditunda reuninya, kan nanti bagaimana perasaan mereka terutama, ayah dan ibu. Lagian kalau ditunda bukanya terlalu mepet, pastinya kecewa sekali mereka padahal besok mau berangkat. Kecuali jika seminggu lagi."


"Em... Ya udah kalau begitu kita jadi pergi besok." Riandi mengangguk, meraih gelas tehnya.


"Gitu dong." Afriadi tersenyum lebar, mengajak tos Afiqah mamanya. Afiqah tersenyum lebar menerimanya.


Hah... Riandi menghela nafas pendek, "Ibu anak ini sama saja. Tapi nak, apa kau bisa menyusul kami nanti?."


Mata Afriadi membulat besar mendengar pertanyaan ayahnya itu.


"Jika kau tidak bisa ikut acara, kau bisakan ikut makan malam bersama? Hari ke 2." Riandi menyeringai mengajukan 2 jari di setelah pipinya.


Afriadi diam, berpikir dulu.


"Bisa kan nak," pinta Riandi, memasang ekspresi wajah yang sulit untuk Afriadi tolak.


Afriadi membalasnya dengan senyum manis, melihat Afriadi tersenyum Riandi ikut tersenyum lebar, dan Afiqah juga ikut tersenyum manis.


Tidak terasa waktu maghrib sudah masuk, azan berkumandan dengan merdunya di setiap majid. Mereka segera bersiap melaksanakan sholat berjama’ah.


Setelah usai sholat, dan makan malam, Afiqah mengemas barang - barang yang akan di bawa besok, sedangkan, Afriadi dan papanya bicara di ruang tamu.


"Nak papa sedikit ada pesan untuk mu," kata Riandi memancing-mancing rasa penasaran Afriadi yang duduk di sampingnya memainkan ponsel.


Rasa penasaran Afriadi tidak terpancing, ia mengetik keyboard ponselnya membalas pesan seseorang.


"Asik betul dengan ponsel. Balas chat siapa dia? Dari tadi tersenyum terus." kepala Riandi memanjang, matanya seperti mau keluar dari tempatnya melihat Afriadi chat dengan siapa.


Merasa ada yang mengintip dia chat dengan siapa, cepat Afriadi mematikan ponselnya. Matanya menatap si pengintip, "Papa lihat apa?"


"Ketahuan." Riandi tersenyum lebar, "Siapa cewek itu nak? Calon menantu ya? Kapan mau dikenalin sama kita-kita?," goda Riandi dengan pertanyaan.


"Cuma teman. Dia itu tanya tugas saja." Wajah Afriadi merah bersemu digoda dengan Riandi.


"Cantik kok sesuai dengan kriteria," kata Riandi memggoda Afriadi.


"Pesan apa pa?," lima menit berlalu sudah sejak Riandi memancing rasa penasaran Afriadi tadi, tiba-tiba Afriadi teringat kembali, menoleh dengan wajah yang masih bersemu bertanya, sekalian mengalihkan topik pembicaraan.


Apa?... Tatapan Riandi bertanya.


Pesan tadi Pa... Afriadi menjawab dengan memutar bola matanya.


Riandi mencoba mengingat-ingat. Jari telunjuk mengketuk-ketuk dagunya, "Ooo.. Itu, kamu kan baru S1 dan papa harap kamu bisa lanjutkan S2 atau sampai S3... Dan papa kan sudah pernah bilang sama kamu, kalau sekolah kita itu bersistem monerki herediter turun-menurun. Setiap anak pertama dari pewaris mendapat posisi Kepala sekolah. Kepala sekolah itu dari keluarga kita turun-menurun, jangan angkat kepala sekolah yang bukan dari keluarga kita, kecuali diwakilkan, pesan dari kakek mu... Intinya papa ingin kamu gantikan posisi papa sebagai kepala sekolah..."


"Em... Tapi tidak sekarang juga kan pa," kata Afriadi.


"Aku ingat kalau papa merupakan anak pertama dari 2 bersaudara Bibik sekarang berprofesi dengan bidang yang mereka sukai, sedangkan anak pertama mau tidak mau harus menyukai profesi yang sudah di sediakan untuknya. Bibik berprofesi sebagai Dokter.


Kepala sekolah sudah ketiga generasi termasuk Papa. Generasi pertama anak tunggal, generasi ke dua Kakek anak tunggal, dan generasi ke tiga Papa anak sulung dari 2 saudara.


Aku sudah pernah minta izin jadi Tentara, pengusaha, atau yang lainnya tak pernah diberi izinkan sama Bibik dan anak sulungnya yang pasti tak mau jadi kepala sekolah, apa lagi Kakek dan Nenek. Mau tidak mau juga harus di terima posisi itu.


Kalau kerabat mama, yang kutahu mereka hidup sederhana saja di kampung berprofesi, karena mama berasal dari keluarga yang sederhana di kampung. Aku banyak belajar dari mereka mengenai kesederhanaan hidup, pengalamanku yang hebat banyak kudapatkan di sana.


Besok mereka semua akan berkumpul bersama, pergi reuni. aku tak bisa ikut. Hah.. Ingin ikut, kumpup bersama mereka semua, mau dengar cerita yang hebat dari mereka semua." Batin Afriadi berkata-kata menatap langit-langit rumah.


"Ya... Tidaklah nak, kan papa masih ada, kecuali papa mu sudah tiada." Riandi menepuk bahu Afriadi, memutus lamunanya, "Tapi, kau jadi kepala sekolah haru S2 jangan S1"


"Kenapa pa?," tanya Afriadi.


"Soalnya papa mu ini S1, setidaknya kau bisalah lebih tinggi sesikit, soalnya dari kepala sekolah yang dulu sampai sekarang, S1 berderet. Setidaknya kau S2, jangan S1 paham," Ucap Riandi.


"Paham pa." Afriadi mengangguk pelan.


"Ah... Hampir lupa." Tangan Riandi menepak jidatnya, "D-dengar ini nak, ada yang lebih penting dari itu semua.


"Apaan pa?." Afriadi penasaran apanya yang paling penting.


"Sini papa bisikan." Tangan Riandi melambai, menyuh afriadi mendekat.


Afriadi pun mendekat karena penasaran, saat mendekatkan telinganya ...


Riandi meneriaki kuping anaknya, "ISTRIIIII!!!"


Ahahahaha...


"Kenapa harus istri?." Afriadi bertanya tidak mengerti maksud Papanya, wajahnya tidak menunjukan raut kesal atas kelakuan papanya.


"Ya... Kalau kau tidak punya istri nanti siapa lagi yang akan mengantikanmu sebagai kepala sekolah selanjutnya, kalau bukan anakmu," jelas Riandi.


"Gak penting pa," sahut Afriadi.


Ha... PLAKK... Riandi memukul paha ananknya, yang di pukul mengusup-usap kesakitan, "Apanya gak penting, ya penting lah. Supaya kamu ada anak, ada keturunan, ada penerus,


emangnya Papa dan Mama membuatmu pakai tepung, kasih air, kasih ibu gembung, aduk-aduk, lalu bakar, jadi. Gitu.


Ya... Engak gitu juga lah, kau kan sudah belajar." Riandi menolot memarahi anaknya.


"Iya aku tahu, cuman tidak sekarang juga kan?." Afriadi mengusap-usap pahanya kesal menaruh curiga pada Papanya, "Atau jangan - jangan papa punya rencana mau menjodohkan aku ya? Aku gak mau Pa, aku mau cari sendiri."


"Ya... Kamu mau cari sendiri, ya... Udah cari saja sendiri, lagian anak gadis yang papa kenal, tidak ada yang cocok untuk dijodohkan dengan mu," kata Riandi masih kesal dengan jawaban Afriadi yang bilang gak penting itu.


"Sukurlah," Afriadi mengusap dada.


"Hy! Ingat ini, kau tidak boleh pacaran sebelum nikah," kata Riandi melerang.


"What?." Afriadi terkejut, "Bagaimana dapatnya tampa pacaran Pa?." Afriadi menyangkal.


"Papa saja dapat, tuh mama mu.


Asal kau tahu ya, menurut kakekmu dulu, jika pacaran masa romantis habis saat pacaran, tidak terbawa lagi ke rumah tangga jikapun ada tinggal sedikit saja lagi, kalau yang tidak pacaran itu romantisnya awet lebih mesra."


"Jadi papa dulu dijodohkan?." Afriadi menebak.


"Ya bukan lah, papa sendiri yang milih," kata Riandi jempolnya menunjuk ke arahnya.


"Katanya tak boleh pacaran, tapi kok papa yang milih." Afriadi menatap sebal Papanya.


"Papa kepentok ibumu di jalan. Langsung bawa ke hati. Di cap sebagai calon istri," Riandi takjim mantap.


"Maksud Papa,


Papa ketemu ibu di jalan, lalu langsung Papa lamar," kata Afriadi mengada-ada tersenyum tipis.


"Gak gitu juga nak. Perlu proses." Riandi menjawab ringan.


"Ooooo...


Kalau begitu, bagimana papa dengan mama bis bertemu? Ceritalah pa sedikit saja," pinta Afriadi suka mendengar cerita Papanya dulu, apalagi waktu papanya kecil.


"Hahah...


Malu papa ingin cerita.


Gini nak, saat itu papa mu ini buta agama, anak berandalan, sering keluyuran malam - malam. Waktu itu tak sengaja melihat mamamu yang cantik itu lewat di depan papa sendiri.


Hahah....


Entah kenapa jantung ini seperti kena sentrum, melihat ibu, papa langsung berkata mengehentikan mamamu. Mamamu berbalik dan papa pangsung bilang" AKU MENCINTAIMU" mulut ini asal ceplos saja kebiasaan sudah bilang begitu pada cewek-cewek.


OH... Tak disangka jawaban Mamamu sungguh membuat hati papa luluh, menjawab "KAU BUKAN CINTA KEPADAKU MELAINKAN KAU HANYA CINTA DENGAN RUPAKU. JIKAPUN IYA, AKU TAK LAYAK KAU CINTAI, SEBELUM KAU MENCINTAI IBUMU, BARU AKU" setelah itu Mamamu pergi meninggalkan papa yang sudah tesentrum cintanya.


itu saat pertemuan pertama.


Pertemuan kedua papa bilang Papa sudah menunggu dia di tempat biasa kemarin, Papa kira tidak akan bertemu dengab dia, namun nyatanya Papa bertemu dan langsung menghadangnya, "AKU SUDAH MENCINTAI IBUKU, BOLEHKAH AKU MENCINTAI DIRIMU", Mamamu menjawab " JIKA BENAR KAU MENCINTAIKU, TEMUI ORANG TUAKU," setelah itu mamamu pulang meinggalkan papamu ini yang kesentrum lagi.


pertemuan ketiga, papa sendiri yang mememui orang tuannya, tak disangka ayahnya mamamu menerima papa dengan baik baik, dan persaratanya, papa harus bisa baca al qur'an, bisa jadi imam, bilal, bisa memandikan jenazah, bisa mesholatkan jenazah, paham agama, dalam waktu 3 bulan ia memberikan waktu, ya karena rasa cinta papa pada mamamu, papa pun bisa melewati semuanya, papa kembali lagi ke sana dengan persaratan yang sudah terpenuhi, apa kata ayah mamamu "BIARKAN ANAK KU YANG MEMUTUSKAN APAKAH DIA MAU ATAU TIDAK", lalu mamamu menjawab, " JIKA BENAR KAU MENCINTAKU KARENA ALLAH, BUKTIKAN, BAWA AKU KE PENGHULU, KITA UKIR KISAH CINTA KITA DI SANA" betapa begetar hati ayah mendengar jawaban mamamu. Kedua keluarga setuju, dan beberapa hari kemudian papa menikahi mamamu.


Sampai sekarang masih romantis kan."


"Em... Papa mata keranjang dulu ya." Afriadi mengelus daguhya yang tak berjengot disertai senyum lebarnya, "Ketahuan ya. Katanya tidak genit."


Riandi tertawa getir, masalalunya yang tak ia ceritakan agar ingin anaknya tahu dan menuruti dirinya, jadi tahu.


"Tapi, nak jika nanti kau menikah, tapi kau tak punya perasaan apa - apa, tumbuhkan rasa cinta itu, rasa cinta yang tulus karena allah," sahut mama Afriadi tiba - tiba datang duduk di sebalah Riandi. Rupanya dari tadi mama Afriadi mendengar semua cerita suaminya, pipi nya sampai memerah, dan jantungnya derdegup kencang mendengar cerita suaminya, 'ternyata ia masih ingat juga' pikir Afiqah.


"Tapi, nak usahakan istrimu umurnya berjarak 5 atau 9, 10 tahun darimu, jadi jika nanti umurmu 25 tahun maka istrimu unurnya belasan tahun," kata Riandi membuat Afriadi tertoleh pada Papanya, dahinya mengerut. "Kenapa?."


"Ya itu tadi, seperti papa dan mamamu.


Tapi usahakan cari yang cerewet seperti mama mu ini." Tangan Riandi mencubit pipi istrinya.


"Kenapa?." Afriadi bertanya lagi.


Mama Afriadi melepaskan cubitan suaminya.


"Gak... Biar romantis aja. Tapi, jika kau dapat yang keras kepala, itu lebih bagus lagi. Hahah...


Jadi kau bisa membimbing dia.


Kalau papa dengan mama mu malah papa yang dibimbing mana mu. Haha..." Riandi menjawab riang.


"Kalau mama sih pesan aja, sayangi dia , seperti kau menyayangi mama," mama Afriadi ikut memberi pesan kepada Afriadi.


"Oke ma." Afriadi mengangguk cepat—polos.


Malam itu terasa panjang, banyak hal yang dibicarakan keluarga itu, Afriadi tidak mengetahui kalau itu merupakan momen terakhir ia bersama keluarganya.