Suamiku Guruku

Suamiku Guruku
Hujan oh Hujan


Mereka saling berkejar-kejaran dihalaman rumah.


Sambil berlari Latika membuka paket tersebut. Jiwa penasarannya meronta-ronta ingin tahu apa isinya. Pagi-pagi sudah kedatangan paket.


"Jangan di buka!"


Latika menyeringai itu paket sedikit lagi kelihatan isinya.


Karena Latika terlalu lambat berlari, Afriadi sempat menyusulnya.


Sampai akhirnya.


"Hap..." Afriadi menangkap Latika, "Ke mana mau lari?"


Latika kaget dengan Afriadi yang menangkapnya dari belakang, kedua tangannya memengang paket sehingga Latika terkunci tak bisa kabur lagi.


"Haduh... Pagi-pagi sudah kejar-kejaran dan gitu lagi." Salah seorang tetangga yang melihatas melihat mereka, orang itu menggeleng-geleng kepalanya.


Mereka berdua tidak sadar kalau ada orang yang melihat mereka.


"Tidak."


"Ayo lepaskan," paksa Afriadi.


"Ini paketku."


"Tidak, kata orang itu ini paketku," kata Latika.


"Lepas."


"Tidak."


"Jangan keras kepala. Cepat lepaskan."


"Tidak. Aku ingin tahu isinya apa?"


"Tidak usah tahu nanti menyesal."


"Tidak."


"Lepaskan."


"Tidak."


Afriadi berusaha merebut, tapi


Latika tetap memeprtahankan paket tersebut. Latika kuat sekali sampai Afriadi kewalahan.


Tak ada cara lain lagi Afriadi menggunakan cara itu, ancaman,


"Lapaskan atau..."


"Atau apa?"


"Atau..." Afriadi menempelkan pipinya di pipi Latika, mengeseknya penuh arti.


Latika langsung merinding. Itu jantung sudah lompat-lompat siap terjun.


Ia seakan tahu apa yang akan terjadi jika paketnya tidak di serahkan.


"Atau aku kiss," bisik Afriadi di telinganya yang terbubgkus jilbab, seketika tubuh Latika merinding semua, kaku.


"Aha ha..." Latika tertawa getir melepas paket tersebut.


Afriadi mnghela nafas lega, itu paket sudah di tangannya. Jadi Latika tidak tahu isi paket itu. Tapi, naas


Afriadi melakukan kesalahan ia membalik paket tersebut sehingga isinya keluar terjatuh di hadapan Latika.


"Astaghfirullah. Tamatlah sudah," batinya menjerit, bengong.


Latika melotot melihat 2 barang tersebut. Salah satu di antaranya Latika tahu, dia menduga melihat lebih teliti ternyata benar dugaannya itu tes peck.


Dan satu lagi ia kurang tahu bentuk botol obat bergambar Pria kelihataannya 2 barang itu saling berkaitan.


Suasana jadi hening.


Wuuus...


Sampai suara angin pagi melintas dapat terdengar.


Latika paham.


Tanpa tunggu waktu yang Afriadi langsung menginjak-injak barang tersebut di hadapan Latika sampai hancur, setelah itu ia pergi buang ke tong sampah yang kebetulan Satpam baru itu membakar sampah.


Oi, Ponsel Afriadi terjatuh saat menangkap Latika tadi.


Latika membacanya.


Isi pesan


——————————————————————


Hihihi...


Af, aku sudah kirimkan paket itu.


Paket yang kau pesan.


Aku berikan langsung padanya.


Selamat mencoba 😁


——————————————————————


Latika mengerutkan dahi.


Afriadi kembali terkejut melihat Latika membaca pesan itu.


"Agh... Bisa di jelaskan."


"Jangan salah paham."


"Aku tidak memesan barang itu."


"Itu... Mereka hanya bercanda."


"Jangan masukan dalam hati."


"Mereka hanya bercanda."


Latika masuk ke dalam meninggalkan Afriadi, bukan


"Sungguh aku tidak memesan barang itu."


"Aku tidak bermaksud apa-apa, sungguh." Afriadi meneriaki Latika.


"Vianaaaaa!!!," teriak batin Afriadi.


Viana di Rumahnya tertawa lepas puas mengerjain Afriadi, tawanya persis Kuntilanak sangkut di pohon toge eh pohon ara.


***


Jam 08:00 pagi.


Afriadi sampai ke sekolah dengan taksi.


Dia punya alasan tidak tidak membawa mobil atau motornya.


"Pagi Pak." Kodir menyapa.


"Pagi." Afriadi membalas sapaan Kodir melewatinya. Langkahnya terhenti, membalikan badan, "Oh, iya terimakasih sudah mengantarkan tas saya."


"Sama-sama Pak."


"Oh iya Pak." Kodir Afriadi yang mau melangkah pergi, dia berbalik melihat Kodri, "Kenapa tidak pakai mobil atau motor ke sini?"


"Sengaja," jawab Afriadi singkat.


Kodir agak kaget dengan jawaban Afriadi, "Eh... Model."


Afriadi melanjutkan langkahnya tak banyak basa-basi dengan Kodir.


Jam 10:45 pagi.


Afriadi masuk kelas Latika mengajar bahasa Inggris.


Selama mengajar beberapa kali Afriadi mencuri pandangan Latika.


Latika hanya nunduk mencoret-coret bukunya.


Ingin dihukum tapi Afriadi tidak tega, dihukum melulu.


Jadinya ia biarkan saja.


Tak terasa waktu belajar habis.


Waktu istirahat seperti biasa Latika ke Perpustakaan menulis buku harian.


Afriadi di Ruangnya menghubungi seseorang.


Pembicaraannya serius sekali.


Selang beberapa menit, ia memainkan ponselnya melihat berita cuaca hari ini.


"Em... Hari ini hujan lagi."


"Uhuk... Uhuk... Ehemm..."


"Em... Pulang ini."


Afriadi mengangguk-angguk punya rencana.


Waktu berlalu begitu saja.


Waktu yang ditunggu-tunggu semua anak murid, yaitu waktu pulang.


Hari ini hujan turun lagi.


Latika berdiri bersiap-siap untuk menerobos hujan.


Para siswa yang lain sudah ada persiapan membawa payung. Sehingga mereka mudah menerobos hujan.


"Latika..." Hadi tiba-tiba muncul di samping Latika, mengkagetkannya.


"Kebiasaan." Latika memukulnya, Hadi meaduh, menyengir merasa tak bersalah.


"Mau pulang bareng?," ajak Hadi.


Latika mau ikut Hadi, ia ingat kalau dia tidak tinggal di Kost lagi.


"Ah... Tidak terimakasih. Aku-"


"Oh..." Hadi tak memakasa Latika. Ia memabil seseuatu di dalam tasnya.


"Ini..." Dia memberi Latika payung, "Ambilah. Setidaknya kau ada payung untuk pulang jadi tak kehujanan."


"Tapi, bagaiman dangan kamu?"


"Jangan pikirkan aku. Kan ada jas hujan di motor terus cepat sampai Rumah, kalau kamu masih jauh." Hadi meletakkan payung di tangan Latika memaksanya menerima payung itu.


"Duluan ya." Hadi melambai tesenyum.


Saat Hadi ingin menerobos hujan Latika menghentikan langkahnya.


"Hadi mau ikut bersama tidak," tawar Latika membuka payung, "Aku antar sampai parkiran, kan hujan nanti basah."


Hadi tersenyum ikut Latika menerobos hujan, menuju parkiran.


Tanpa disadari Afriadi melihat mereka berdua dari kejauhan. Raut wajahnya berubah, ia sudah mencoba menenangkan hatinya yang souzon. Ia mencoba berpikir positif meanggap Latika hanya memberi bantuan tak lebih dari itu, tapi perasaan Afriadi tak bisa diungkiri kalau dia cemburu.


***


Latika menerobos hujan lebat dengan payung yang di berikan Hadi.


Terpaksa ia jalan kaki semua ojek yang ia pesan semua dicensel karena hujan. Kalau ia menunggu hujan reda mau sampai kapan bisa-bisa petang hari kayak semalam.


"Hah... Hadi tidak berubah," gumanya menendang hujan.


Pandangan Latika teralihkan pada sosok di hasapannya.


"Em... Itu."


Tampa pikir panjang lagi Latika menghampiri ibu dan anak itu, tanganya memberikan payung kepada ibu itu, ibu itu sempat menolak tapi Latika malah kabur.


Latika jadi kehujanan dan kedinginan.


Sepanjang ia melangkah ia menyadari kalau ada orang yang mengikutinya. Ia menoleh memastikan.


"Ah... Itu..."


Ternyata benar ada seorang Pria di belakangnya menatapnya tajam. Pria itu berpayung hitam, memakai masker, topi, dan jeket semua serba hitam.


Latika mulai takut di tempat yang sepi begini, ia takut terjadi apa-apa dengan dirinya, ia mempercepat langkahnya, Pria itu juga mempercepat langkahnya mengikuti Latika.


Sepanjang langkahnya Latika sering melihat ke belakang memastikan Pria itu apa masih mengikutinya.


Karena asik melihat terus ke belakang gak fokus lagi ke depan.


Sampai akhirnya.


Bruuukk...


Ia terjatuh kesandung batu.


"Aduh..."


Pria tersebut bergegas menghampiri Latika. Melihat Pria itu mendekat Latika meambil batu melempari Pria sambil teriak, "Pergi. Jangan ganggu aku. Pergi."


Pria itu meaduh terkena lemparan batu, ia berlindung dengan payung, menjulurkan tangan menawarkan bantuan.


Latika berhenti melemparinya, menumbangkan kepalanya mencoba melihat sekali lagi orang itu.


Prelahan payung terangkat, melihatkan wajah yang tertutup maaker itu. Tunggu tunggu tunggu Latika kenal mata itu, mata yang penuh kehangatan.


Pria itu melepas maskernya melihatkan wajahnya.


"Huus... Kenapa?"


Mata Latika membulat, kaget melihat Afriadia ada di depannya, pria yang mengikutinya dari tadi Afriadi.


Latika menerima bantuan Afriadi.


"Apa sakit?"


"Tidak." Latika berbohong, itu kakinya nyut-nyut berdenyut nyeri.


Afriadi memasang kembali maskernya,


"Lain kali hati-hati."


Latika meangguk menahan nyeri. Itu kaki sudah gemetar menahan.


"Serius tidak sakit." Afriadi memperhatikan kaki Latika.


"Tidak."


Padahal hatinya menjerit sakit.


"Bisa berjalan?"


"Bisa."


Afriadi melihat Latika basah kuyup.


"Ini pegang." Afriadi memberikan payung pada Latika.


"Em..."


Latika memegang payung itu. Afriadi melepas jaketnya memasangkan kepada Latika suapaya tidak kedinginan.


Jantung Latika berdegup kencang.


Ia seakan mengalami apa yang di alami dalam filem romantis drama korea yang ia tonton semalam.


"Tenanglah jantung." Hatinya menenangkan Jantung salah tingkah.


Afriadi merasa dingin. Angin bertiup menyerangnya, menggoda dirinya.


"Jalan berdua saja. Nanti kehujanan," katanya.


Latika nurut saja, mereka melangkah serentak melewati jalan yang lumayan sepi. Karena yang memegang payung Latika, Afriadi kesulitan melihat jalan dan kepalanya terkena besi payung sebab Afriadi terlalu tinggi sedangkan Latika pendek, tepaksa Afriadi membungkuk sedikit agar bisa melihat jalan dan melindungi kepalanya.


Akhirnya yang bawa payung Afriadi.


Awalnya berjalan lancar.


Tapi ada yang aneh.


Latika tetap basah.


Karena jarak Latika dan Afriadi terlalu berjarak sehingga Latika terkena tempiasan air hujan.


Afriadi yang menyadari cepat merangku Latika, menariknya mendekat sampai Latika benar-benar menempel dengannya.


"Kenapa tidak bilang kalau kebasahan?"


Latika tidak menjawab menundukkan kepalanya. Ia sempat syok dengan aksi Afriadi yang merangku sampai menempel kayak gitu.


Itu jantung Latika melompat-lompat berdetak kencang mungkin Afriadi bisa merasakan detakan jantung Latika. Ia bersaha menenangkan jantungnya.


Langkah Afriadi terhenti otomatis Latika juga berhenti. Ia menatap Latika.


Tangannya berpindah memegang tangan Latika merasakan tangan yang dingin itu.


"Dingin. Kalau kedinginan tangan ini di masukan saja jangan di keluarkan."


Afriadi mengancing jeket tersebut.


"Terus tangan ini didekatkan kemulut di tiup-tiup, terus gosok-gosok biar hangat."


Afriadi mempraktekan bukan dengan tangannya tapi dengan tangan Latika yang ia letakan di ujung mulutnya, lalu ditiupnya setelah itu baru ia gosok-gosok di letakannya di pipi Latika biar Latika hangat. Selama Afriadi memperaktekkan mata Latika tak berkedip menatapnya, mata mereka saling bertemu.


Pipi Latika memerah bukan karena dingin tapi gara-gara tingkah Afriadi sampai Jantung Latika terserang beberpa kali dengan tingkah Afriadi. Berkali kali juga ia menenangkan jantungnya.


"Lakukan itu."


Latika menuruti perintah Afriadi.


Ketika ia meletakan tangannya di mulut, aroma Parfum Afriadi tercium.


Bukanya tangan ditiup malah mencium Parfum.


Sebelum Mereka melanjutkan jalan Afriadi berkata dengan wajah merona, "Kalau merasa tak nyaman bilang saja."


"Em..." Latika meangguk tak berani menatap lama-lama mata itu takutnya jantungnya lompat memvalas serangan Afriadi.


Sepanjang jalanan aspal.


Latika memberanikan dirinya untuk bertanya, "Kenapa berjalan?"


"Ah itu karena sudah lama tidak jalan seperti ini." Sebenarnya Afriadi ingin dekat dengan Latika, sudah lama ia tak sedekat ini dengan Latika.


"Bukanya berjalan lebih lelah," guma Latika.


"Kalau untuk menemani seseorang yang di sukai tidak ada lelahnya." Afriadi berani megombal.


Latika mau menjauh.


Tapi, tidak bisa itu tangan Afriadi menangkap tangan Latika menahanya sehingga Latika tidak bisa menjauh.


"Tenanglah sedikit nanti basah," kata Afriadi, mata mereka saling tatap.


Tiba-tiba...


Daaaaarrr...


Suara petir menyambar galak di langit.


"Kyaaaa..." Latika langsung memeluk erat Afriadi.


Dug... Itu detak Jantung Latika dapat dirasakan Afriadi.


Ragu-ragu ia mengusap pundak Latika menenangkannya,


"Tidak apa-apa hanya petir."


Modus ambil kesempatan dalam kesempitan.


"Eh..." Latika sadar melepas pelukanya, menjauh. Pura-pura lihat langit, malu dengan aksinya tadi pakai peluk-peluk segala.


Kilat menyambar membentuk akar serabut disertai suara pertir galak di langit.


Daaarrr...


"Kyaaa..."


Latika takut kembali memeluka Afriadi.


"Tidak apa-apa." Afriadi menenangkan Latika mengusap pundak Latika.


Rejeki lagi.


Latika sadar melepas pelukannya.


"Ehem..." Afriadi berdehem.


Latika menyembunyikan pipinya.


Mereka melanjutkan perjalanan.


Hem, sejauh ini berjalan lancar.


Tapi ada saja yang salah di lihat.


Berkali-kali Latika mendesis pelan kesakitan, seperti masalahnya ada di kaki Latika lihat saja langkahnya saja sudah pincang. Mungkin bekas ia terjatuh tadi.


Ia terpaksa jalan cepat karena Afriadi berjalan capat. Itu langkah kaki atau apa panjang bener langkahnya Latika kewalahan menyamakan langkahnya.


Kata Afriadi tadi 'kalau merasa tak nyaman bilang saja' Latika tak mau beritahu.


Tunggu langkah Afriadi terhenti sepertinya ia menyadari Latika kesakitan.


Celengak-celengok, melambaikan tangan.


Sebuah taksi berhenti.


Syukurlah mereka pulang naik taksi.


Selama di jalan Afriadi melontarkan pertanyaan singkat padannya, "Sakit?"


Latika menggeleng. Melihat ke luar jendela, jutaan bahkan ribuan hujan jatuh membungkus kota.


Tak lama di perjalanan mereka sampai di Rumah.


Ketika Latika turun dari Taksi ia beraduh pelan nyeri dirasanya.


"Kenapa?," tanya Afriadi di sampingnya.


Latika tidak menjawab.


"Kakinya sakit?"


"Masih bisa jalan?"


Ia memberi kan payung pada Latika, berjongkok menawarkan tumpangan,


"Naiklah."


"Tidak, aku bisa jalan sendiri," kata Latika.


Afriadi berdiri, "Hemmm..."


Tampa aba-aba ia langsung mengendong Latika.


"Eh..." Latika kaget, payung yang ia pegang terlepas. Natanya membulat sempurna membalas tatapan Afriadi.


Ajep.. Ajep.. Ajep.. Ajep.. Jantung Latika berdisko, wajahnya ikut memerah.


Satpam baru hanya tersenyum kecil melihat mereka berdua, membukakan pagar.