
Afriadi yang menyadari kalau Latika sudah tidak ada lagi di sana, dengan panik ia mencari Latika, wajah di balik masker itu kelihatan panik.
Afriadi melihat kanan, dan kiri, tapi tidak ada juga, ia berlari menuju tangga ekskalator selama di tangga ia memperhatikan sekitar, tapi tidak ada juga, orang - orang yang melihat Afriadi lari - lari menyangka kalau dia adalah copet yang dikejar - kejar stapam.
Saat keadaan yang panik itu, Afriadi melihat kamera cctv, ketika itu ia mempunyai ide untuk melihat rekaman cctv tersebut, Afriadi berlari ke tempat di mana ia bisa melihat rekaman cctv tersebut.
"Ehh... Kenapa kalian membawaku menjauh dari pacarku?," tanya Latika pada temannya yang terhengah-hengah habis berlari.
"Haduh... Latika kami mengajak kau menjauh darinya agar terlapas darinya-" perkataan Salasiah dipotong Nana, "Dia itu bukan pria baik - baik, kau salah memilih pacar-" perkataan Nana dipotong Hana, "Latika jauhilah dia, dia kelihatan kasar sekali, kami tidak mau melihatmu kenapa - kenapa karenanya-" perkataan Hana dipotong Salasiah, "Dia itu kelihatan preman banget. Lebih baik kau putus sama dia, biar aku kenalkan kau dengan teman cowokku yang baik-baik —" lagi-lagi Hana memotong perkataan Salasiah,
"Kami takut nanti terjadi apa - apa dengan mu."
Akhirnya terjadi saling potong pembicaraan di antara mereka.
Panjang lebar mereka membicarakan Afriadi, dan menyuruh Latika untuk menjauhinya, sampai ada pertanyaan yang membuat Latika terigat kembali atas kejadian yang menimpa mereka itu.
"Emangnya kau jumpa dia di mana sih sampai kalian bisa bersama?." Nana menguncang tubuh Latika. Nana seperti Ibu-Ibu yang tak merestui hubungan anaknya.
Latika teringat lagi akan kejadian itu, tidak sadar air matanya menetes.
"Latika kau baik - baik saja?," tanya Hana lengkap dengan wajah yang cemas, "Kenapa nangis?."
"Tuhkan kelihatan sekali kalau dia memang menyakitimu." Nana menduga, melirik orang-orang di sekitar cermin membalik badannya menatap mereka berempat, Nana sadar lagi diperhatikan melototi orang yang manatap mereka sampai mereka tak berani membalas tatapan Nana.
"Sudahlah Latika." Hana memeluk Latika, menenangkannya.
"Hiks... Hiks... A-aku berusaha untuk mencintainya, aku berusaha menerimanya dalam hidupku..." Latika meleapasakan apa yang membuat dadanya terasa sesak,
Teman-temannya kaget mendengar kalimat Latika yang berusaha dan menerima dia dalam hidupnya, mereka tidak mengerti apa maksudnya, "D-dia orang yang baik, dia bukan pereman, dan dia tidak pernah menyakitiku, dia selalu membaahagiakanku, cuman aku saja yang tak bisa membalasnya. Sulit bagiku untuk menceritakan semuanya.
Hiks... Hiks..."
"Ah... Aku baru saja menilai buku dari sampulnya. Maaf Latika...," guma Nana menyesal, telah menyangja yang bukan-bukan soal Afriadi.
Begitu juga dengan Hana, "Maaf Latika kami tidak bermaksud untuk menyakiti kau-" Salasiah memotong perkataan Hana, "Kami hanya khawatir saja soalnya yang kami tahu dulu kau tak pernah pacaran, dan sekarang kau pacaran, kami takut kau salah memilih cowok saja soalnya sekarang ni banyak yang playboy. Maaf Latika ya, sampai jadi seperti ini... Maaf kalau nanti hubungan kalian rengang gara - gara kami. Hiks..." Salasiah ikut memeluk Latika sambil menangis, dan Nana juga ikut memeluk.
Latika menghapus air matanya, sesak di dadanya berkurang.
"Eh... Eh... Cepat kembali yuk sebelum dia sadar kalau kita membawa adindanya pergi." Nana melepas pelukannya, baru sadar dengan Afriadi yang kena tinggal.
"Yuk... Yuk..." Salasiah dan Hana menjawab serempak, setuju.
Nana memegang gangang pintu Toilet. Ternyata mereka membawa Latika ke Toilet wanita.
Ketika pintu Toilet terbuka.
BAAAA ...
Afriadi sudah ada di depan pintu Toilet wanita, dengan nafas yang hosh-hoshan, menatap tajam teman-teman Latika. Teman - teman Latika takut, bahkan Latika saja takut melihat Afriadi dengan keadaan yang seperti itu, tidak disangka - sangka kalau dia bisa sampai ke sana dan menunggu di sana.
"Panjang umur..." Salasiah menyeringai khawatir. Di sambung Nana ikut menyeringai, "Baru saja disebut - sebut.Panjang umur..."
"Haha... Kelihatannya dia marah, Latika selamatkan kami..." Salasiah berbisik di telinga Latika
Hana malah menyapa kaku Afriadi, "Haha... Hay!."
Beberapa menit yang lalu, sebelum Afriadi sampai di depan Toilet wanita.
Afriadi berlari ke sana ke mari mencari tempat untuk melihat rekaman cctv, setelah bertanya - tanya sama staf yang ada, Afriadi akhirnya sampai di tempat yang ia cari, ketika ia meminta melihat rekaman itu pada staf yang ada di sana. Ia melihat kalau mereka lari ke Toilet wanita, sambil lari Afriadi mengucapkan terimakasih pada staf yang di sana. Ia berlari - lari lagi menuju Toilet wanita yang cukup jauh, jika dihitung-hitung dari Afriadi berlari ke sana ke mari ia sudah berlari sejauh keliling lapangan sepak bola. Ketika sampai nafasnya hosh-hoshan, dan ketika itu juga Nana membuka pintu Toilet, dan....
OLAAAA.... Mereka tertangkap.
"Anak - anak ini, kalian mempermainkanku, lihat saja nilai kalian nanti, akan aku permainkan juga," geram hati Afriadi, ingin rasa ia meremas para pengacau itu seperti meremas kertas.
"Egh... Adek..." Afriadi mendekati Latika, menyingkirkan teman-temannya dari Latika, Salasiah sampai termundur beberapa pangkah. Nafas Afriadi yang hosh-hoshan bisa Latika rasakan jauhnya Afriadi berlari, "Adek, kenapa menangis? Apa mereka yang membuat Adek menangis?." Tangan Afriadi gemetar, berpeluh dingin itu mengelap air mata Latika, suhu tangannya yang dingin itu dapat Latika rasakan. Mata mereka saling bertemu Latika menatap matanya yang lelah.
Ehem... Dehem Nana menegur mereka, "Permisi... Maaf menganggu kalian baru saja mencuri perhatian publik, dan jangan mesra - mesraan di depan pintu orang mau masuk susah."
Latika dan Afriadi menyingkir sebentar membiarkan orang itu untuk masuk dan keluar, cewek-cewek yang masuk dan keluar melihat sinis mereka, merasa terganggu.
Sying... Mata Afriadi menatap teman - teman Latika dengan tajam.
Orang - orang yang berada di sekitar saling berbisik - bisk membicarakan Latika dan Afriadi, sampai ada yang mau memfoto, dan videokan.
Tapi, tak jadi karena Afriadi lebih dahulu melototi mereka.
Berapa menit kemudian.
Mereka duduk kursi yang ada di sana, dan Nana pergi membeli air minum untuk mereka, dan terutama untuk Afriadi, karena sudah kelihatan sekali kalau Afriadi kehausan gara - gara lari.
"AAA-Anu, kami minta maaf karena sudah membawa Latika kabur, dan berprasangka buruk pada kau." Hana berkata ragu-ragu, duduk di sebelah Latika.
Afriadi hanya membalas dengan melirik tajam Hana.
"Maaf ya, tadi kami kebelet jadi tak sempat memberi tahu. Haha..," kata Salasiah yang duduk di sebalah Hana, mereka tidak berani mendekat.
Tatapan yang sama juga didapat Salasiah dari Afriadi.
Suasana menjadi dingin.
Tidak lama kemudian Nana datang membawa air minum, yang pertama ia berikan kepada Afriadi dengan senyuman meminta maaf, terus kepada Latika, dan terakhir kepada mereka.
Mereka meminum air yang diberikan Nana, tapi Afriadi tidak minumnya sama sekali.
Afriadi kelihatan ragu - ragu mau minum, "Haus tapi, kalau minum sekarang bisa gawat. Tahan saja," batinya berkata.
"Kenapa dia tidak minum?." Nana bertanya pelan pada Salasiah yang duduk di sebelahnya.
"Abang, jangan - jangan Abang menahan haus. Takutnya mereka tahu...," batin Latika berkata melihat Afriadi yang meremas botol air minum, ingin minum.
"Yuk... kita pergi lagi, kita ke mana setelah ini," ajak Salasiah berdiri dari tempat duduknya. Ia melupakan kejadian barusan.
Goooongg...
Aura kekesalan terlihat keluar dari tubuh Afriadi, lewat tatapan mata meminta mereka segera pergi.
HhhIiii... Hana dan Nana menjerit ngeri, melihat aura kekesalan Afriadi yang keluar.
"Salasiah..." Nana menarik lengan Salasiah, berbisik.
"Ahahah... Kami akan pergi sekarang, kalian bisa berdua - duaan maaf sebelumnya menganggu." Hana bangkit dari tempat duduknya, ia bersiap untuk pergi, karena sudah merasa tidak nyaman dengan Afriadi.
"Ah... Masa kita tinggalkan Latika sendirian." Salasiah tidak mau pergi.
"Salasiah cepat." Nana menarik paksa Salasiah, mencubitnya, "Haha... Maaf menganggu sebelumnya kami pergi dulu."
Auu... Salasiah menjerit kesakitan, mendelik melihat Nana, Nana melotoi Salasiah berkata lewat tatapannya "Cepat pergi."
Salasiah menghela nafas paham, "Terimakasih sudah teraktir belanja, lain kali kalau ketemu teraktir lagi ya."
Mereka akhirnya pergi meninggalkan Latika berduaan dengan dia, sekarang suasana menjadi canggung.
Latika memberanikan diri untuk berbicara kepadanya, "Maaf Bang, gara - gara Adek Abang jadi seperti ini."
"Sudahlah, yang berlalu biarlah berlalu." Afriadi membuka maskrenya lalu meminum air botol yang dari tadi sudah menggodanya minta diminum, sekali minum saja air yang ada di botol berkurang dengan cepatnya.
"Kelihatanya haus sekali," guma Latika melihat Afriadi yang kehausan.
"Hah... laga." Afriadi menghela hafas lega.
Tes... Air meleleh di sekitar bibirnya.
Melihat itu, tangan Latika bergerak mengambil tisu yang ada di dalam tasnya dan mengelap air yang meleleh di sekitar bibirnya.
Afriadi melihat Latika, dan sebaliknya juga Latika membalas tatapan Afriadi, mata mereka saling tatap, ada perasaan apa gitu di dalam hati mereka. Dengan cepat Latika menjauhkan tangannya dan mereka serempak memalingkan wajah karena malu, wajah ini entah kanapa jadi merah.
"Ah... Emm... Ayo kita pergi." Afriadi memasang kembali maskernya, Latika berdiri dari tempat dudunya,
tiba-tiba saja tangannya megengam tangan Latika lagi, jantung Latika terserang dua kali olehnya.
Mereka meninggalkan tempat ini.