
"Hem, Afriadi seriusan mau lakuin itu?" tanya Qilan terbaring di tempat tidur.
"Dia serius," kata Hasan dengan mata yang sudah terpejam, "Sebagai teman kita sudah seharusnya membantunya."
"Tapi, mustahil lah."
"Kalau kita kerja sama, insyaallah berhasil."
"Lu tidur apa ngigau?"
Tup...
Hasan melempar bantal pada Qilan.
"Gue kaga bisa tidur gara-gara lu banyak cakap! Konsentrasi gue hilang!"
Qilan hanya memonyongkan bibirnya melempar kembali bantal pada Hasan disebelahnya, berbalik badan.
"Idih, ngambek. Luntur ketampanan kau gitu." Hasan berbalik badan membelakangi Qilan.
Tadi mereka dapat panggilan misi dari Afriadi, besok mereka bakalan ketemu bahas misi tersebut.
Esoknya tepat jam makan siang mereka ketemuan di cafe bersama Afriadi dan para kru yang akan membantu dalam misi ini.
***
Latika duduk di kursi taman menuggu Afriadi sampai. Ia menghirup udara segar melihat kanan kiri orang lalu lalang bocah bocah lari sana sini.
"Hem, lamanya Abang sampai," gumam Latika lihat jam dipergelangan tangannya. Sudah 1 jam ia menunggu, namun Afriadi tak kunjung datang juga. Memang Afriadi tak pulang seperti biasanya hari ini, jadi Latika diminta Afriadi untuk menunggunya di taman sekalian menikmati udara sore.
Tring...
Pesan masuk.
Dari Afriadi.
––––––––––––––––––––––––––––––
******
Dek, maaf ya nampaknya Abang
tak bisa datang, soalnya Abang sibuk.
Adek pulang saja ya.
Sorry 😓
––––––––––––––––––––––––––––––
Latika kesal baca tu pesan, rasanya ingin ia hempas tu hp. Sudah dandan cantik nunggu lama disini sampai panas ni bangku bekas duduk Latika, eh malah disuruh pulang. Bagaimana tidak kesel?
Latika kesal berdiri dari tempat duduknya, tapi pandangannya tertuju pada keluarga kecil yang melintas di hadapannya.
Latika terduduk kembali lihat pria itu menggendong anaknya dan wanita itu tersenyum lebar di samping pria itu.
Latika tersenyum ketika keluarga kecil itu tersenyum padanya.
Eh eh eh...
Mereka mendekat, anak kecil yang digendong itu memberikan sesuatu padanya.
Ouwww...
Latika tersentuh saat anak kecil itu memberikan setangkai bunga mawar.
"Terimakasih," kata Latika menerima bunga mawar itu.
"Tante angan edih Agi ya," kata bocah itu.
Latika tersenyum lebar menggeleng kepalanya, lalu keluarga kecil itu pergi meninggalkan mereka.
Eh, Latika sadar ia belum menanyakan ini bunga dari siapa?
Saat asik asik lihat bunga.
Tiba-tiba...
Pandangannya gelap, matanya tertutup oleh sesuatu yang lembut.
Latika menebak itu Afriadi, tapi kok tangan Afriadi berbulu ya. Apa ini benar tangan Afriadi?
Eh, Latika sedikit kaget saat ia sentuh tu tangan, yang bener saja tu tangan berbulu lembut. Latika menyingkirkan tangan tersebut, ia menoleh kebelakang.
Matanya membulat sempurna melihat sosok orang berkostum beruang brown di belakangnya.
Cepat Latika mengeluarkan ponselnya ingin berfoto.
Senyum dikit
Ckrek...
Senyum manis
Ckrek...
Senyum leeeeeebaaaaaar
Ckrek...
Berapa kali berfoto dia. Tak lupa Latika upload di sosmed.
Latika melengang pergi seraya melambai-lambaikan tangan pada beruang brown.
Eh, si beruang brown jadi ikut dibelakang mengikuti jalannya. Merasa diikuti Latika membalikkan badannya melihat si beruang brown.
"Kenapa masih mengikutiku?" tanya Latika.
Si beruang brown bicara pakai bahasa gerak tubuh.
Oooo... Doi mau mengikuti Latika.
Latika tersenyum menggandeng si beruang brown.
Baru separuh jalan si beruang brown mengajak Latika foto-foto, ia meminta seseorang membantu mereka ambil foto. Berbagai gaya yang dikeluarkan beruang brown.
Selesai foto mereka lanjut jalan-jalan mengitari taman, sepanjang jalan Latika menerima setangkai bunga dari anak-anak, hati Latika berbunga bunga senang dapat bunga yang banyak dari anak-anak seakan mereka ingin menghibur Latika.
Latika lanjut bejalan, tapi langkahnya terhenti saat sadar si beruang brown tidak ada dibelakangnya. Ia menoleh kebelakang lihat si beruang brown membawa sekotak permen, entah dari mana ia dapat tu permen.
Ia menyenggol Latika pakai bodynya yang aduhai, ia memintanya untuk membantu membagikan permen.
Latika membantu membagikan permen, tanpa sadar ada yang mengambil fotonya secara diam-diam dan tersembunyi.
Entah kenapa perasaan Latika merasa nyaman dekat dengan beruang jadi jadian ini, kek dia berada di samping Afriadi.
Eh, kek Afriadi.
Latika melirik si beruang yang kini duduk di sebelahnya karena kelelahan. Ia tatap lamat-lamat si beruang brown.
Tiba-tiba...
Seorang anak datang lagi menghampiri Latika dengan memberikan segulung kertas dengan ikatan pita ditengahnya.
Latika penasaran terus membuka gulungan kertas tersebut. Ia baca tulisan di kertas tersebut, ia merasa tersentuh dengan puisi tersebut walau puisinya tak sebagus para puisi pujangga.
Namun, puisi itu berhasil meloloskan air mata Latika.
Segera Latika memeluk si beruang brown yang ia ketahui itu suaminya Afriadi, sebab di bawah puisi itu tertulis namanya 'Afriadi'
Eh, si beruang brown menggeliat tak nyaman.
Latika melepas pelukannya, dari gerak gerik dia ingin melepas kostum kepala si beruang brown, Latika berinisiatif membantunya.
Yang benar saja, ternyata dugaan Latika benar Afriadi dibalik kostum beruang brown ini.
Gila, Afriadi mandi peluh. Menggoda kali Afriadi seperti itu, buktinya cewek-cewek pada melirik.
Latika memukul-mukul dada Afriadi yang berbalut kostum, ia kesel yang sebenarnya gemes dengan Afriadi.
Afriadi sebaliknya membiarkan Latika memukulinya, sudah lama Latika tak memukulinya seperti ini.
"Dek, tolong rapikan rambut Abang. Mata tertutup rambut ni," kata Afriadi tangannya kesulitan menyapu rambut.
Latika tersenyum merapikan rambut Afriadi, sekalian Latika mengambil tisu di tasnya mengelap peluh Afriadi.
"Adek suka tak kejutan sederhana ini? Abang lakukan ini semua untuk Adek lo, supaya aku tak sedih terus. Suka tak?" tanya Afriadi.
"Iya, Adek suka." kata Latika meangguk.
Afriadi menyentuh keningnya Latika dengan keningnya. Wajah Latika sedikit merah bersemu.
"Yes, berhasil." Qilan mengepal tangan bangga.
"Alhamdulillah." Qilan bersyukur lalu memberi kabar pada yang lain lewat EARPIECE HEADSET, "Misi berhasil semua. Kerja tim yang bagus."
Para kru yang terlibat dalam misi ini tertawa bahagia, turut senang. Sayang Hasan tidak ikut bersama dengannya, toh Hasan harus kerja. Kalau dia ada disini pasti mereka melakukan tos tos tinju.