Suamiku Guruku

Suamiku Guruku
Berebut


Hari sudah semakin malam.


Mereka masih belajar.


Kina sudah menguap lebar, Latika mengerjakan tugasnya dengan bantuan penjelasan Afriadi.


"Jadi ini jalanya seperti ini, jadi hasilnya ..." Latika cepat mengisi jawaban di bukunya.


"Em..." Afriadi meangguk, sambil memperhatikan Latika mengisi jawaban soal.


"Ah... Ketemu hasilnya." Latika kegirangan berhasil menjawab soal, "Wah, mudah."


"Ya, itu hasilnya." Afriadi tersenyum.


Batin Kina mengejek Latika disertai dengan mulutnya yang ikut monyong, "Mudah... Mudah... Mudah...


Cari perhatian, sok tahu. Hih."


Tangan Kina bergerak dari bawah meja, mengelus paha Afriadi, "Pak... Pak... Ini bagaimana caranya? Kina tidak paham."


Afriadi yang di elus pahanya melek, kaget, meneguk ludah, ia merasa tak nyaman dengan elusan Kina cepat menepis tangan Kina dari pahanya. Ingin ia menegur Kina tapi ada Latika, bisa-bisa Latika salah tanggap lagi. Ia memilih untuk melupakan hal tersebut, "Ya, kina bagian mananya yang tidak kau paham?"


"Ini pak." Kina menunjuk materi yang tidak ia pahami.


"Apaan sih ini cewek," kata Latika dalam hati.


"Oh... Begini caranya..." Afriadi menjelaskan kepada Kina.


Bukanya didengarkan, ataupun diperhatikan penjelasan yang di berikan Afriadi malah memperhatikan Afriadi.


Kesal Latika hati melihatnya, "Jangan mau kalah Latika."


"Pak... Ini bagaimana lagi caranya?," tanya Latika.


"Emm... Ini begini...."


Afriadi berpindah perhatian lagi.


"Oh..." Latika meangguk-angguk paham, nelirik Kina yang kesal melihatnya.


Hati Kina berkata, "Apaan sih anak pembantu ini menganggu saja, tidak boleh dibiarkan ini."


"Pak, ini bagaimana?," tanya Kina menujukkan materi yang sebenarnya ia paham namun pura-pura tidak paham.


"Iya, sabar dulu selesaikan Latika," kata Afriadi melanujutkan penjelasannya.


"Pak..." Kina sedikit memaksa, menarik lengan Afriadi, meganggu dia memberikan penjelasan sama Latika.


"Iya iya Kina, selesaikan dulu Latika."


"Engak, Pak Kina dulu." Kina menarik-narik lengan Afriadi.


Merasa tidak nyaman dengan tingkah Kina Afriadi pindah perhatian lagi, "Ah ya ya, jangan tarik-tarik."


"Penjelasannya cukup ya Latika. Sekarang coba dulu." Afriadi terpaksa pindah perhatian, meninggalkan penjelasannya sama Latika.


Merasa tak adil Latika perotes sama Afriadi, "Bagaimana mau mengerjakan Bapak saja belum selesai jelaskannya, saya tak paham."


Latika ikut memarik lengan Afriadi.


Memintanya untuk menyelesaikan penjelasannya.


Baru Afriadi menoleh ke arah Latika sudah Kina hentikan dengan menarik tangan Afriadi, "Pak..."


Akhirnya terjadilah saling tarik menarik di antara mereka merebutkan Afriadi. Afriadi yang berada di hadapan mereka beberapa kali dadanya terbentur sisi meja.


"Pak...," panggil Kina, menarik tanggan Afriadi.


Tak sempat Afriadi mau bicara Latika keburu bicara menarik tangannya,


"Hey! Bapak belum selesai menjelaskan punyaku, jadi biarkan bapak selesaikan penjelsakan punyaku dulu setelah itu baru kau."


Lagi-lagi Afriadi mau bicara keburu di potong Kina yang tak mau mengalah, menarik tangannya, "Tidak..."


"Berhenti!!!" Afriadi kesal, mengeretak mereka berdua sampai terlepas pegangan mereka dari tangannya, "Ah... Bisakah kalian jangan berebut saya."


"Maaf pak," kata mereka berdua menunduk takut melihat Afriadi marah.


"Latika yang mulai dulu Pak," guma Kina.


"Apa?"


BRAAAK... Latika membentak meja mekagetkan mereka berdua, "Aku yang mulai dulu, lo aja kalek yang mulai dulu."


Latika sudah berdiri bersiap mau bertengkar lagi.


"Ya, memang kau, kalau bukan karena kau siapa lagi?"


Kina berdiri juga, siap menantang.


Afriadi mau menyela meleraikan mereka tapi tak bisa mereka sudah beradu mulut dengan cepatnya.


"Apa kau bilang?" Latika mendekatkan telingannya ke wajah Kina.


"Kau penganggu!," teriak Kina kencang sampai Bik Ipah yang berada. Di Kamar lagi rebahan terbangun mendengarnya, bergegas Bik Ipah ke luar kamar ingin melihat apa yang terjadi.


Tangan Latika sudah mengepal ingin meniju muka sok itu.


"Haaa..." Tangan Latika sudah melayang siap mendarat di hidung Kina, dapat di lihat mata Kina melotot melihat tinju Latika yang sudah mendekat, tangan Kina sudah siap menangkis serangan Latika.


Tap... Serangan Latika ditangkap, mata Latika membulat sempurna melihat siapa yang menangkap kepalan jambunya, bukan Kina yang menangkap serangan Latika melainkan Afriadi.


"Berhenti.." Afriadi membentak mereka berdua. Ia melepaskan tangan Latika.


"Ah... Latika jangan begitu dengan teman, jangan main kasar..." Kina tertawa pelan melihat Latika kena tegur sama Afriadi, tahu-tahunya dia juga kena tegur sama Afriadi, Latika hanya menyeringai membalas Kina, "Kamu juga Kina, jangan memanasi teman jika tidak mau kayak tadi... Kita ini mau belajar, bukan berkelahi..."


Panjang kali Lebar kali tinggi Afriadi menceramai mereka berdua. Belajar pun di hentikan saat itu juga.


Bik Ipah tertawa pelan dari kejauhan melihat mereka berdua kena marah.


Selang beberapa menit serelah selesai Afriadi memberi kultum. Kina di suruh pulang karena malam sudah semakin larut, Kina bersiap-siap untuk pulang ke rumahnya mengemas peralatan belajarnya. Ia berjalan menuju pintu keluar dari ruang tamu, langkahnya terhenti ketika sampai di ambang pintu


Ia seperti meingat sesuatu.


Kina membalikan badannya, menatap Afriadi dengan tatapan belas kasih,


"Pak... Bisa anatar Kina pulang, Kina takut."


"Kalau takut kenapa datang ke sini?," batin Latika mendelik.


Afriadi menghela nafas berat, pergi melangkah mengentarkan Kina pulang, ia sempat menoleh melihat Latika yang cemberut memasang wajah masam.


Kina tersenyum lebar gembira.


Afriadi dan Kina sudah pergi, sekarang ia sendiri. Cepat Latika pergi masuk ke kamar, kebetulan juga ia sudah mengantuk mau tidur, ia malas menunggu Afriadi datang melanjutkan belajarnya atau mendengarkan penjelasannya lagi.


***


Sruuk...


Latika sudah terbaring di tempat tidur, mulai menutup matanya.


Tak... Tak... Tak... Tak...


Detakan jarum jam di dinding, berdetak setiap detiknya, suasana terasa sepi, dan tenang.


Detik setiap detik, menit setiap menit berlalu begitu saja.


Mata Latika masih tertutup tak kunjung tidur juga, Latika tetap memaksa untuk tidur, tetap saja tidak bisa pikirannya masih melayang-layang tak tentu arah.


Tok ... Tok... Tok... Tok...


Ada yang mengetuk pintu kamarnya.


"His... Siapa pula yang mengetuk malam-malam begini?" Latika melek, mengerutu kesal baru saja ia akan tertidur sudah ada yang ganggu.


Dengan malasnya Latika meranjak turun dari tempat tidur membuka pintu kamar.


Kreeet... Pintu di buka.


Ia lihat Aftiadi berdiri di hadapannya, mengucak mata.


"Sudah tidur Dek?," tanya Afriadi dengan pertanyaan yang tidak bermutu. Di perotes batinya,


"Pertanyaan macam apa itu, Aftiadi?Sudah tidur Dek? Kalau sudah tidur dia tidak akan membuka pintunya."


"Eh... Maksudnya Adek belum tidur?," tanya Afriadi. Dapat protes dari batin,


"Pertanyaan macam apa lagi itu, Afriadi. Ya jelas dia belum tidur, kalu dia tidur dia tidak akan buka pintu dan berdiri di depan kau sekarang. Ah, Ada apa sih dengan diriku."


"Em..." Bibir tertarik membentuk garis senyum, "Belum Adek susah mau tidur."


Afriadi melihat jam di dinding.


Pukul 21:55 malam, "Sudah Jam 10 kurang 5 menit, cepat tidur.


Besok mengatuk di sekolah."


"Em..." Latika meangguk mau menutup pintu kamarnya.


Tiba-tiba.


Gerakan tangan Latika ditahan dengan suara Afriadi, "Tunggu."


Latika menatap Afriadi


"Ada yang terlupa," kata Afriadi tangannya ragu-ragu bergerak.


"Em... Apa?," tanya Latika pelan, mulutnya sedikit terbuka.


"Ini..." Afriadi menjulurkan tangannya membelai, mengusap-usap kepala Latika yang terbungkus jilbab.


Bluuuus... Wajah Latika memerah begitu juga dengan wajah Afriadi merah merona.


Jantung Latika bukan main berdetak kencang, hatinya meleleh merasa nyaman dengan usapan Afriadi.


"Em... Maaf ya tadi sempat marah dan jahili Adek. Selamat malam," kata Afriadi dengan intonasi suara yang lembut, memecah keheningan malam.


Cahanya bulan yang lembut menembus jendela kamar Latika, cahayanya menyinari kamar Latika yang sedikit gelap. Suasana kamar yang hening dan tambah cahaya bulan menambah suasana semakin sempurna.


Cahaya bulan, keheningan malam, belaian yang lembut, wajah yang merona. Sungguh pemandangannya yang indah bukan.


Tangannya berhenti mengusap.


Hati Latika masih meronta-ronta mau dibelai.


Afriadi memegang gagang pintu kamar Latika menariknya menutup sebelum menutup sempurna ia melihatkan senyum pada Latika, yang di beri senyum menatap Afriadi yang menghilang di balik pintu.


"Kyaaa..." Latika teriak kegirangan.


Melompat ke ketempat tidur, menarik selimut, berguling beberapa kali setelah itu ia mengusap-usap lagi bekas belaian Afriadi.


Matanya mulai terpejam.


Tak sampai 5 menit Latika sudah tertidur.