Suamiku Guruku

Suamiku Guruku
Maaf Latika


Kina pergi di bawa polisi, untuk di periksa.


Papa Kina pasrah dengan keputusan yang ia ambil.


Ya, keputusan yang Papa Kina ambil untuk mengubah anaknya menjadi lebih baik lagi.


"Maafkan Papa Kina, ini demi kebaikan kamu," guma Papa Kina.


Selama beberapa hari ini Papa Kina menyelidiki tentang anaknya.


Ia tahu sikap anaknya yang sebenarnya setelah membaca buku harian seseorang, awalnya ia tidak percaya dengan apa yang tertulis di buku itu, tapi setelah di selidiki lebih lanjut ternyata benar, anaknya berubah seperti ibunya.


Papa Kina sempat bertemu dengan Piki dan Damir orang yang Afriadi hajar sampai koma di penjara.


Waktu Kina merencanakan untuk menjebak Afriadi, Papanyalah yang mengagalkan rencana itu, ia melihat Kina meletakkan sesuatu di salah satu gelas minuman, Afriadi yang tidak tahu apa-apa meminumnya tepat di gelas yang telah di campuri, sehingga sebelum Afriadi tidak sadarkan diri ia menyuruh Afriadi untuk pulang.


Ia sering kali melihat Kina anaknya pulang malam dengan laki-laki yang lebih dewasa walau umur anaknya sudah dewasa, pakaiannya sering terbuka, dan pergi tanpa pamit lewat jalan tikus.


Dan Papa Kina lah yang sebenarnya memanggil polisi melaporkan anaknya, ia ingin anaknya berubah setelah di rehabilitasi.


"Om..." Afriadi menepuk pundak Papa Kina, suaranya khas serak berdahak.


"Eh, Afriadi."


"Kina kanapa Om?" tanya Afriadi, basa basi pura-pura tak tahu.


"Kina. Dia... Egh..." Papa Kina tak bisa menahan tangisnya, air mata terus mengalir, menahan haru, "Afriadi kita bicara di dalam saja, ada yang ingin aku beritahu padamu."


Afriadi mengikuti Papa Kina.


Saat sampai di Ruang Tamu, Afriadi di duduk dulu tunggu dia ingin memberikan sesuatu.


Afriadi menunggu Papa Kina, berharap dia dapat penjelasan.


Tidak lama Papa Kina datang membawa sebuah buku. Dia duduk di sebelah Afriadi, megenggam erat tangan Afriadi meletakkan buku di tangan Afriadi.


Mata Afriadi melihat buku itu.


"Afriadi ada yang harus kau ketahui. Sebelum itu saya mewakili Kina untuk minta maaf sebesar besarnya. Maafkan anakku Af, dia sudah merusak hubungan kalian, maafkan anakku Af, maafkan dia." Papa Kina sampai nekat sujud di kaki Afriadi untung Afriadi keburu menahannya.


Mulut Afriadi belum mengucapkan separah kata pun, sulit baginya memaafkan Kina karena dia Latika menjauhinya berbulan-bulan lamanya, hubungan mereka rusak. Tapi bukannya tidak memaafkan merupakan sikap setan, bukannya sesama manusia itu harus saling memaafkan jika tidak memaafkan sesama apa bedanya dengan setan sama saja bukan.


Afriadi menarik nafas menenangkan hatinya. Bismillahi Afriadi memaafkan Kina atas semua yang telah ia lakukan.


"... Maafkan dia Af. Maafkan dia."


"Paman tenang ya," kata Afriadi menarik nafas pandek, "Bismillah, aku sudah memaafkannya paman."


Dalam isakan tangin Papa Kina memeluk Afriadi, ia tak bisa menahan haru.


Dadanya terasa lapang setelah dengar Afriadi memaafkan anaknya.


Pelan-pelan Afriadi mengusap punggung Papa Kina, menenangkannya, "Sudah Paman. Semoga saja Kina berubah setelah ini semua."


"Amin, nak." Papa Kina menyeka air matanya. Ia tersenyum getir,


"Kau pasti mencari jawaban atas ini semua, baca buku ini bagian tengahnya sampai akhir kau akan tahu jawabannya."


Afriadi menunduk membuka buku itu, tepat ia membuka di bagian tengah buku tulisannya separti tidak asing.


Ya, itu tulisan Latika. Hatinya membaca kalimat demi kalimat yang tertulis dalam buku.


Batapa terkejutnya ia membaca tulisan Latika, kata-katanya menusuk jiwa untuk menangis. Air matanya tertahan melihat Papa Kina.


Afriadi berlari pulang secepatnya


Ia tidak sabar untuk menemui Istrinya itu.


Selama Afriadi berlari ia menginggat perkataan Papa Kina.


"Maafkan Kina Afriadi. Dia salah, tapi, kau tidak usah khawatir aku sudah mengatasi anakku. Aku menemukan buku itu terjatuh dari seorang gadis yang menolongku.


Setalahku ketahui gadis baik itu tinggal di Rumahmu... Pulanglah Afriadi...Temui dia."


'Adek... Kenapa Adek rahasiakan ini? Kenapa?"


Afriadi terus berlari, membuka kasar pagar Rumah, berlari melewati taman Rumah, memasuki Rumah melempar buku harian Latika ke sofa tamu, menaiki tangga menuju Kamar Latika.


Selincah kakinya melangkah menaiki satu persatu anak tangga, kata-kata di dalam buku Latika seakan terdengar di telinganya.


'... Ya Allah jika engkau mau menghukumku karena kelalaianku dan ketidak patuhanku pada Suamiku, silahkan. Hamba ikhlas...'


'... Salahkah diriku menjauhi seseorang yang aku cintai, tapi itu semua demi kebaikannya... Aku rela menelan pahitnya empedu setiap harinya untuk dia, hari-hari yang suram...'


'... Aku tak bisa mengukapkan cintaku padanya hanya dengan kata-kata, tapi aku buktikan cintaku dengan tindakkanku dan kelakuanku. Inilah bukti cintaku padanya menutupi aibnya...'


'... Berharap satu hari nantinya dia akan tahu semuanya apa alasanku melakukan ini semua walaupun aku sudah tak ada di sampingnya lagi...'


Baaakk...


Afriadi membuka paksa pintu Kamar Latika.


Latika yang baru saja sadar pingsan terduduk bersandar di sandaran tempat tidur, terkejut melihat Afriadi datang.


Nafas Afriadi yang tidak beraturan bisa di rasakan Latika sampai detak jantungnya yang berdetak kencang dapaf di rasakan.


"Ada apa ini?" tanya Latika dengan nada sedikit gemetar, khawatir Afriadi seperti kemarin lagi menggila.


"Adek. Kenapa? Kenapa Adek sembunyikan ini semua dari Abang? Kenapa, Dek?!"


"Em..." Latika menyadari a


"Kenapa, Dek? Kenapa Adek tidak bilang dari awal? Kenapa Adek lebih memilih menjauh mengikuti perkataannya? Kenapa tak mau bilang sama Abang? Kenapa? Kenapa Adek lebih memilih menyiksa diri sendiri? Kenapa?" Air mata Afriadi tumpah membasahi pipinya, tak sanggup lagi ia tahan air matanya. Ia melepas pelukannya nenyeka air matanya, meraih tangan Latika megengam erat tangan itu, "Jangan takut Dek, Abang ada di sisi Adek. Abang akan lindungi Adek. Katakan Dek biar semua jelas Abang, biar Abang tak salah paham lagi Abang akan dengarkan Adek."


Air mata Latika jujur baru di sentuh sedikit sudah keluar, gemetar bibir Latika mengucapkan kalimat demi kalimat, "A-adek takut, jika Adek buka mulut dan dekat dengan Abang nanti aib itu akan tersebar nama baik Abang dan Sekolah akan tercemar.


Adek juga tidak mau orang menilai Abang buruk, biarlah Adek menderita demi itu. Hiks...


Bukankah sepasang Suami Istri itu bagaikan pakaian, saling menutupi aib masing-masning, seorang istri harus bisa menutupi aib keluarganya, Adek tidak bisa menjadi Istri yang baik, jadi hanya ini yang bisa Adek perbuat.


Maaf selaman ini Adek merepotkan Abang, sering membuat Abang marah dan kesal. Maaf."


Afriadi semakin menjadi menangis setelah dengar penjelasan Latika. Menyesal ia selama ini tak mengerti perasaan Istrinya, selalu berburuk sangka, cuek, dingin padanya. Sungguh ia menyesal.


"Hiks... Maaf Bang, Adek merahasiakan ini semua dari Abang. Hiks..."


Di peluknya lagi Istrinya itu.


"Seharusnya bukan Adek yang minta maaf, Abang lah yang minta maaf. Selama ini Adek sengsara, hanya demi Abang. Maaf Dek. Maafkan Abang. Maafkan Abang yang tidak bisa menjadi Suami yang becus, Suami yang baik, Suami melindungi Adek lahir dan batin. Abang sering berburuk sangka pada Adek. Maaf, Dek."


"Hiks... Maaf juga Bang. Adek belum bisa menjadi Istri yang baik, Istri yang sepenuhnya. Hiks..."


Jauh di hati Afriadi yang paling dalam dia, dia sungguh sangat menyesal,


"Bodohnya aku membiarkan Istriku menderita selama ini, menahan rasa perihnya penderitaan. Selama ini aku hanya bisa berburuk sangka terus kepadanya. Terimakasih Ya Allah.


Kau memberikan Istri yang baik, seperti ini. Maaf, dek.


Abang terlalu bodoh selama ini, membiarkanmu seperti ini. Abang mengejar yang haram sedangkan di rumah ada halal Abang jauhi, Maaf dek. Abang akan menjagamu, Dek. Jiwa dan raga.


Abang tidak ingin melihat Adek seperti ini lagi, menderita dan selalu di salahkan."


Afriadi melepas pelukkannya, mengusap air mata Latika,


"Sudahlah jangan menagis lagi. Lain kali jangan ada rahasia lagi di antara kita. Supaya tidak terjadi kesalahan pahaman seperti ini."


Latika meangguk, Afriadi memeluk lagi


engan melepas pelukannya, ia masih rindu. Lapang rasanya dada memera berdua, setelah sekian lama menanggung beban.


Latika mulai sulit bernafas, toh Afriadi memluknya terlalu erat.


Woy, mati Istrimu lemas, susah bernafas.


Terpaksa ia melepas pelukkannya.


Kedua tangannya menempel pada pipi Latika, mengusap lembut pipi itu.


Jantung Latika di serang lagi.


Dag Dig Dug jantung Latika.


Wajahnya mendekat semakin mendekat.


Komat kamit sudah jantung Latika, ingin mundur tapi tak mungkin pula dia kan Suaminya.


Bismillah ia menutup matanya, tenang.


Cup..


Latika dapat ciuman lembut dari Afriadi di bibirnya.


"Tuan ini dia obatnyaaaaaaaaaa..." Panjang A Samsul lihat mereka berdua, tercengang malah. Itu mata hampir copot


"Maaf menganggu. Silahkan di lanjutkan." Samsul pura-pura tidak melihat cepat pergi meninggalkan mereka berdua.


***


Itulah alasannya selama ini Latika menyembunyikan semuanya, bukan karena Latika lemah tapi, karena ia ingin menjaga aib suaminya supaya tidak terbongkar.


Latika kau kuat, kau wanita yang kuat.


Bagi kalian yang sudah berkeluarga, jagalah aib keluarga kalian jangan di biarkan aib itu sampai di ketahui orang, bukan hanya untuk yang sudah berkeluarga tapi juga untuk semua yang belum berkeluarga.


Jaga aibmu dan keluargamu, jika kalian mengetahui aib orang lain makan diam saja, kecuali ada kemaslahatan tertentu.


Sesungguhnya Allah maha adil, lagi maha mengetahui apa yang kita perbuat.


Jika engkau menutupi aib saudaramu maka Allah akan menutupi aibmu juga di dunia dan akhirat, jika engkau membuka aib saudaramu maka Allah akan membuka aib mu di dunia dan akhirat.


Sekian semua.


Mari sama-sama kita menjaga aib satu sama lain.


Wasalamu'alaikum.