
Hari demi hari berlalu.
Latika mengambil cuti kuliah seminggu demi kebaikannya. Apalagi setelah ia sadar dirinya fobia darah, saat itu ia ingin membantu Bik Ipah siang ikan, entah kenapa saat lihat perut lilit ikan yang disiang Bik Ipah Latika menunjukkan gejalanya.
Sari yang lihat itu cepat membawa Latika menjauh, saat itulah ia sadar dirinya fobia darah.
Yang benar saja Letika tak ada semangat dan tak sanggup lagi untuk melanjutkan kuliah, Afriadi paham ia tak bisa memaksa Latika takut Latika tertekan lagi.
Afriadi tahu Latika sosok wanita yang tak mudah melupakan masalah, wanita yang sulit melepas kesedihannya. Semua itu merupakan satu tantangan bagi Afriadi.
Sudah seminggu lepas Latika tak berhenti kuliah. Sejauh ini menurut Afriadi Latika sudah sedikit, sedikit membaik, bisalah dibawa bicara. Tak percuma juga Afriadi nasehati Latika walaupun secara perlahan.
***
"Adek!" kejut Afriadi.
Latika terkejut kek kena sambar petir. Afriadi ada-ada saja datang-datang buat kaget orang saja.
Afriadi terkekeh pelan, senang lihat istrinya terkejut. Bukan tak ada alasan Afriadi ngagetin Latika melainkan ada alasannya, dia lakukan tu agar lamunan istrinya terputus toh dari tadi Afriadi lihat Latika duduk melamun di teras rumah.
"Auuw!" jerit Afriadi merasa kulitnya terangkat kena cubit Latika, ia mengusap-usap bekas cubitan.
"AAAA!" Latika kesakitan pipinya dicubit Afriadi, yang dicubit menggembungkan pipinya membuat Afriadi semakin gemes mau cubit sebelah lagi.
"Jangan melamun," kata Afriadi dengan mulut kek mulut bebek, cubitannya semakin kuat.
Latika hanya memberikan senyuman kaku. Afriadi melepas cubitannya.
"Adek sedih lagi?" tanya Afriadi dengan ekspresi wajah sedihnya. Latika tak berkutik sedikit pun.
Afriadi menghela nafas, meranjak duduk dibelakang Latika kedua tangannya memeluk tubuh Latika dan kepalanya ia tenggerkan di bahu Latika.
Deg...
Jantung Latika berdetak kencang kek kena pukul.
"Hah, aku harus melakukan apa lagi agar kau tersenyum kembali, lepas dari kesedihanmu. Sayang?"
Bulu kuduk Latika berdiri memberi hormat, wajahnya merah seketika, jantungnya berdetak lebih kencang siap meledak didalam.
"Adek jangan sedih-sedih terus, nanti Abang ikut sedih juga. Kalau Abang sedih bagaimana ada bujuknya? Susah Lo bujuk Abang," goda Afriadi dengan wajah sok imut.
Latika merasa tubuhnya panas.
Gila, tubuh Latika terasa makin panas dapat perlakuan manja Afriadi.
"Ayo bagaimana Adek mengatasi bayi beruang comel, manja, dan imut ini? Yang keimutannya mengalahkan bayi diluar sana."
Idih, Afriadi sebut dirinya imut. Pengen diracik tu muka, biar semakin imut.
Ternyata usaha Afriadi membuahkan hasil, Latika dibuatnya terkekeh kecil.
"Ayo apa yang akan Adek lakuka kalau bayi beruang comel ini sedih?" Afriadi tak henti menggoda sampai menempelkan pipinya pada pipi Latika.
Tak ada reaksi dari Latika, Afriadi sedikit ada rasa kecewa. Cara yang satu ini tak berhasil.
Tiba-tiba saat Afriadi berhenti bicara.
Cup...
Latika mencium ujung bibir Afriadi sekilas.
"KYAAAA!!!" hati kecil Afriadi kaget menjerit lebay.
Blus...
Wajah Afriadi merah bersemu. Afriadi bengong sesaat dibuatnya, lalu ia menatap Latika yang memalingkan wajah karena malu.
Jantung Afriadi berdetak lebih kencang, hatinya berbunga-bunga, sudah lama ia tak dapat kiss dari istrinya.
"Dek lagi," pinta Afriadi lembut berbisik ditelinga Latika dengan nada sensual.
Latika menutup wajahnya dengan kedua tangannya, ia menutupi wajah yang merah sempurna.
Tanpa sadar dibelakang ada yang cekikikan melihat mereka bermesraan. Ya siapa lagi kalau bukan Bik Ipah dan Sari yang bersembunyi dibalik dinding.
Akhirnya keluarga ini akan lepas dari kesedihan.
***
Teng tong...
Bel rumah Hasan berbunyi.
Hasan yang masih nonton tv, mendengus kesal pergi membuka pintu. Padahal ia malas kali, pembantu dipanggil gak dengar-dengar terpaksa deh dia sendiri.
Teng tong...
Bel terus berbunyi.
"Sabar!" hardik Hasan, membuka pintu.
Sambar keledek.
Hasan terkejut setengah mati lihat Qilan berdiri di hadapannya dengan keadaan berantakan bibirnya keluar darah.
"Lan!"
Hasan teriak kaget setelah lihat Qilan hampir tumbang, untung ia cepat menyambut Qilan.
"Hey hey hey! Lan Lan!" Hasan panik nepuk-nepuk pipi Qilan.
Cepat Hasan membawa masuk Qilan. Secepat kilat Hasan ambil handuk kecil dan air hangat kuku.
"Aww!" jerit Qilan saat handuk menyentuh ujung bibirnya.
"Tahan napak!"
"Pelan pelan kau terlalu kasar," gerutu Qilan.
"Lembek lu. Lagian kenapa bisa macam ni?" tanya Hasan dengan tangan tak henti bekerja.
"Gue dijodohkan San."
Tangan Hasan berhenti seketika saat degar kalimat yang keluar dari mulut Qilan, ia tatap wajah yang murung itu, lantas bertanya, "Lu tolak sampai kau begini?"
Qilan menggeleng, "Gue terima, San."
Hasan benar-benar menghentikan tangannya memalingkan wajah, dia kek kesal gitu sama Qilan.
"Tapi, naasnya aku ditipu. Ternyata cewek itu sudah punya gebetan, dan paling parah gebetannya datang menghajarku habis-habisan. Yah, lu tahu kan aku gak akan pulang ke rumah dalam keadaan kek gini."
Wajah Hasan sedikit senang, ia lanjut membersihkan wajah Qilan.
"Lu ngapain cengar-cengir gak karuan?"
"Aku senang aja. Lu jomblo lagi, jadi aku ada teman hahahaha..." gelak tawa Hasan menepuk paha Qilan.
Qilan menatap tajam Hasan, bukanya prihatin sama teman sendiri malah senang lihat temannya menderita.
"Buka baju lu," perintah Hasan. Qilan kaget cepat menyilangkan kedua tangannya di dada tanda tak mau.
Hasan melirik geli, ia lempar handuk kecil kemuka Qilan, "Buka baju lu, lap tu badan bau keringat."
Qilan menyingkirkan handuk kecil diwajahnya, melirik Hasan yang menjauh.
Terpaksa Qilan membuka bajunya mengelap setiap inci tubuhnya.
Tak lama Hasan datang membawa sepasang baju, menghampiri Qilan.
"Nih, pakai." Hasan memberikan pada Qilan.
Tak lama ponsel Hasan bergetar hebat mengguncang meja depan tv ruang tamu.
Ia angkat tuh panggilan dari Afriadi. Dari pembicaraan serius kali sampai Qilan cepat cepat masang baju ikut nguping.
Mata mereka berdua membulat sempurna saking tatap satu sama lain.
Apa yang membuat mereka segitu kagetnya?
sorry lambat up kepala ke sakit habis kena cium kayu semalam jadi ide pergi semua gak dapat nulis.