
Pukul 9 pagi.
Afriadi duduk kursinya. Ia sedang membaca selembar kertas undangan. Bukan undangan pernikahan mantan tapi pertemuan kepala sekolah macam pelatihan atau tes yang di adakan di luar kota selama beberapa hari.
Afriadi menghela nafas berat, dalam situasi kayak gini dia dapat undangan pertemuan kepala sekolah pula. Kalau dia tidak pergi apa jadi sekolah no nasi kedepannya, kalau dia pergi akan aman aman juga kan Hasan dan polisi lainnya ada untuk mengurus kasus ni.
Pukul 10 pagi.
Di sekolah Afriadi mengadakan acara baca surah Yasin dan tahlil untuk Baim, semua murid disuruh berkumpul di aula bersama-sama kirimkan doa untuk Baim. Bagi yang non muslim juga ikut berkumpul duduk mendengarkan berdoa yang terbaik untuk guru mereka.
Banyak siswa siswi yang menangis selama acara, tentulah mereka menangis melepas kepergian Baim. Selama hidupnya Baim dikenal dengan murid sebagai guru yang baik semua materi yang diajarkan mudah untuk dipelajari oleh murid, dia juga mudah diajak bergurau apalagi waktu pelajaran yang sulit dibuatnya mudah dengan permainan dan suka melawak sebelum belajar, kadang-kadang duda beranak satu itu sering digombali para siswi dan dia sering membalas gombalan itu dengan gombalan juga. Itu yang membuat ia dicintai muridnya.
Setelah acara selesai semua murid dan guru dipersilahkan untuk pulang, hari ini sekolah diliburkan. Para guru-guru berombongan ingin pergi ke rumah almarhum Baim. Mereka mengajak Afriadi, tapi Afriadi menolak dia ada urusan penting, rencananya dia akan pergi bersama istrinya nanti.
Mereka pergi Afriadi juga pergi.
***
Afriadi dan Hasan bertemu di kantor polisi.
Kali ini Afriadi merangkum semua yang ia pikirkan mengenai kehilangannya Baim.
"Baim dikabarkan menghilang pas hari Minggu, Senin aku baru baru dapat kabar. Kata pembantunya ia menemui seseorang, lepas Maghrib tapi ia tak kunjung pulang juga. Kabar dari teman dekatnya Baim pernah bertengkar dengan seseorang... subuh Senin pembantu Baim dapat telepon orang misterius..." Afriadi bergumam sambil mencoret papan tulis memberi tanda panah pada setiap kata, "... Bar, tempat hiburan. Hati bukan berarti perasaan kata ini seakan terputus seakan mau memperingatkan sesuatu 'hati-hati' ."
Afriadi terhenti, ia melirik Hasan dan seorang polisi ya ane ada di sana.
"Dia memberi tahu aku untuk berhati-hati, semua kecelakaan yang dialami Baim ada sangkut pautnya dengan aku. Orang yang membunuh Baim ini punya dendam dengan aku, mereka pasti punya rencana besar. Baim yang tahu rencana mereka jadi korban." Afriadi serius sekali dengan semua ini, matanya penuh aura mengerikan.
Hasan tahu tatapan mata itu, ia pernah melihatnya juga bahkan lebih mengerikan lagi. Seakan kejadian masalah tergambar di mata itu.
"Bar. Semua ada kaitannya dengan ini."
Mata mereka semua melotot. Terutama Hasan.
"Tapi, Bar yang mana? Bar banyak di negri ini." Seorang polisi yang ada di sana buka mulut.
"Aku tak tahu pasti yang mana, yang pastinya..." Afriadi melihatkan rekaman CCTV pada mereka, menunjuk seseorang yang ada di rekaman, "Dia pasi ada sangkut pautnya dengan pembunuhan Baim dan pastinya orang suruhan dari bar tu."
Rekaman CCTV tu Afriadi ambil dari sekolah, ia iseng saja membongkar rekaman CCTV setelah pusing memecahkan pesan terakhir Baim dan ada pesan tersirat apa. Setelah lihat itu rekaman memang benar Baim terlibat adu mulut dengan seorang guru lorong ujung sekolah yang jarang sekali ada siswa berkeliaran di sana, bukan itu aja Afriadi juga tahu waktu malam hari ada orang yang berusaha membobol ruangannya, ruangan guru dan ruangan pusat informasi pantesan dalam akhir-akhir bulan ini gembok ruangan ada banyak yang diganti dan para guru sering mengeluh barang yang di meja dia tertata tidak rapi dan kadang pindah ke meja guru lain.
Begitulah Afriadi menjelaskan singkat, mereka menatap satu sama lain.
Mereka menyusun rencana.
***
Pukul 10 malam.
Afriadi pulang ke rumah, di dapatnya Istrinya sudah tidur dengan Sakira di atas tempat tidur dengan buku dongeng ditanam Latika. Sepertinya Latika membacakan dongeng untuk Sakira.
Oh ya sore tadi waktu Latika dan Afriadi datang berkunjung ke rumah almarhum Baim untuk belasungkawa. Panjang lebar bicara mereka tahu kalau bibik Sakira orang yang sibuk dan pembantunya itu akan pulang kampung untuk melihat sang ibu, Latika yang merasa tak tega melihat Sakira sendirian akhrianya menawarkan bantuan untuk merawat Sakira beberapa waktu sampai sang bibi ketemu orang yang terpercaya untuk merawat Sakira, pengasuhnya.
karena ayah Sakira sudah tiada dan pembantunya harus izin beberapa hari untuk menemui sang ibu di kampung dan bibi Sakira yang sibuk dengan urusan kantor tak sempat untuk mengurus Sakira apalagi mencarikan pengasuh baru tambah tak sempat lagi, soalnya yang dicari haruslah orang yang benar-benar bisa dipercaya untuk merawat Sakira dengan baik.
Afriadi tak keberatan untuk merawat Sakira juga. Lumayan ada bahan untuk praktek jadi seorang ayah. Bibi Sakira juga tak keberatan malah ia malu dengan menitipkan keponakannya pada Latika tapi mau bagiamana lagi.
Dengan hati gembira Latika membawa pulang Sakira senyum lebar tergambar diwajahnya begitu juga Sakira kelihatan senang dengan Latika. Afriadi hanya tersenyum melihat mereka berdua, akrab betul sudah kayak ibu dan anak.
Sesampainya di rumah Sakira dikeroyok sama Bik Ipah dan Sari. Senang betul mereka ada mainan eh balita.
Cup...
Afriadi mencium kening Latika dan Sakira, menyelimuti mereka berdua. Ia terbaring di sebelah Sakira jadinya Sakira ditengah-tengah.
Sebelum tidur Afriadi meletakkan telapak tangannya di pipi Latika sambil berkata, "Maafkan Abang Dek."
Senyum kaku menghiasi wajah Afriadi, rasa bersalah belum bisa memberikan keturunan dan tak bisa menemani mereka untuk beberapa hari ke depan.
Perlahan Afriadi mencium pipi Sakira, garis senyumnya tergambar jelas lagi. Gemes ia melihat mereka berdua tidur dengan mulut yang sedikit terbuka dan dengkuran kecil sepertinya kelelahan sekali, mereka berdua sama sama bikin gemes tak tahan Afriadi ingin cubit cubit pipi mereka.
***
Cuy, dari sini sudah mulai masuk bagian serius dari cerita.
Hem... Menurut kalian siapa ni tersangkanya?
^o^