Suamiku Guruku

Suamiku Guruku
Baim Hilang 2


CTAAAAR!!!


Petir berseru galak di langit-langit disertai dengan angin kencang.


Hujan lebat akan turun dengan segera.


Latika sudah tidur nyenyak di dalam mimpinya. Lelah menunggu suaminya pulang, akhirnya terlelap dalam mimpi.


Perlahan cahaya masuk mengintip di balik pintu perlahan menghilang disertai dengan tertutupnya pintu, sosok hitam berjalan mendekati tempat tidur dia melihat Latika yang tertidur pulas tersiram cahaya lembut lampu tidur.


Ternyata itu Afriadi, ia baru pulang.


Tangannya ingin menyentuh Latika, tapi tertahan. Sadar tangannya kotor penuh dengan darah dan amarah yang ia lampiaskan tadi.


Afriadi terduduk di lantai yang dingin. Matanya terpejam meingatnya jenazah yang mereka temukan di tong sampah.


Flashback beberapa jam yang lalu.


Waktu Afriadi dan Hasan sampai di tempat terakhir keberadaan Baim mereka mendapat panggilan dari Baim. Afriadi menemukan bangkai ponsel yang sudah rusak body entah kemana tinggal tulang layar. Kelihatannya emang sengaja untuk dihancurkan.


Tapi, Afriadi seakan kenal dengan bangkai ponsel itu. Di lihatnya ada gantungan mainan ponsel yang tergeletak tak jauh dari Banggai ponsel. Perlahan Afriadi meambil gantungan mainan ponsel yang berbentuk beruang putih yang ternodai dengan darah.


Ia ingat ini gantungan ponsel Baim yang ia pamerkan pada Afriadi berapa bulan yang lalu, katanya itu hadiah dari putrinya. Ia tak merasa malu menggunakan gantungan itu, ia gantung di bahu hp yang ada tempat khusus.


Waktu itu Afriadi ingin tertawa lihat ponsel pria ada gantungan mainan, tapi ia urungkan setelah tahu alasannya. Afriadi sadar kalau Baim sangat mencintai Putri semata wayangnya.


Memori itu terbongkar lagi, Afriadi ingat sesaat waktu Baim menyindirnya.


"Kapan punya anak?" sindir Baim tertawa kecil memainkan gantungan ponselnya, "Nanti aku keburu tidak ada d saat lagi punya anak."


Pria berumur 31 tahun itu menyindir Afriadi terang terangan. Afriadi merespon dengan senyuman kecil di wajahnya.


"Af." Hasan menepuk bahu Afriadi, menyadarkannya dari lamunan, "Aku rasa di sini habis terjadi perkelahian."


"Aku rasa juga begitu. Kau lihat mainan gantungan ponsel ini." Afriadi melihatkan gantungan mainan ponsel itu pada Hasan, "Ini punya Baim dan ponsel yang hancur ini punya dia juga."


"Kau lihat bercak darah di dinding itu." Afriadi menujuk dinding yang belakang Hasan. Hasan menoleh, berjongkok mengikuti arah tunjuk Afriadi, ia memperhatikan dinding yang kusam itu.


"Cat?" Hasan menebak.


"Bukan, itu darah," kata Afriadi mengejutkan Hasan.


Hasan mau protes tapi tak jadi, ia memperhatikan seksama ada bercak darah emang, ia menggeleng kagum dengan ketelitian Afriadi.


"Terasa bagi amis," lanjut Afriadi.


"Pantas tercium bau amis, waktu pertama datang." Hasan segera bangkit.


"Hah, kau cocok jadi polisi Af. Tak sia-sia kau-" Hasan dapat tatapan dingin Afriadi. Hasan memilih untuk menutup mulutnya, suasana hati Afriadi lagi buruk susah untuk diajak bicara masa lalu.


Langgar beberapa detik tim penyelidik datang.


"Huh, cepat juga mereka datangnya," gumam Hasan, melihat Afriadi memasukkan mainan gantungan ponsel itu ke kantongnya ia tidak memberikan pada tim penyelidik, Hasan yang lihat diam saja.


Hasan menerima panggilan, wajahnya kelihatan kaget.


"Af, ikut aku." Hasan menarik tangan Afriadi mengajaknya pergi dari sana.


"Kenapa San?" tanya Afriadi di perjalanan.


"Mayatnya. Mayat yang temukan warga itu Af..."


"Kepalanya tidak ada pak," kata bawahannya Hasan ketika Hasan dan Afriadi sudah samapai melihat mayat itu.


Jenazah yang tak diketahui identitasnya itu, kepalanya hilang.


Bau amis darah tercium pekat dihitung mereka, para warga berkumpul menonton seperti biasa.


Batin Afriadi menduga itu Baim, cepat Afriadi menepis dugaan itu. Pikirannya terus kebayang Baim, dadanya terasa sesak.


Jenazah itu cepat dibawa untuk diotopsi, wartawan sudah berdatangan satu persatu warga yang terlibat menemukan jenazah itu langsung diwawancara.


Afriadi mengamati sekitar dan tempat ditemukan jenazah itu bersama Hasan.


Tiba-tiba...


Hasan melihat sekelilingnya, "Yuk, kita cari."


"Emmmm... Pu~lang." Latika mengigau memutuskan lamunan Afriadi.


Afriadi mengamati wajah istrinya, seketika hatinya terasa tenang.


Afriadi mendekatkan wajahnya dengan wajah Latika.


Dan...


Cup...


Afriadi lembut mencium kening Latika, hatinya terasa sejuk. Masalahnya seakan hilang sekejap.


Tangannya merogok kantong celana, melihat boneka mainan gantungan ponsel beruang putih yang berlumur darah.


Sekilas secara samar muka Baim tersenyum tampak di mainan itu. Ia menggenggam erat mainan itu, merebahkan kepalanya di sisi tempat tidur berhadapan langsung dengan wajah Latika, ia mengamati wajah istrinya.


"Dek, Abang menyayangimu," gumam Afriadi sekali lagi ia mencium pipi Latika.


Afriadi bangkit berjalan menuju kamar mandi membersihkan tubuhnya.


Lewat beberapa menit.


Setelah selesai, Afriadi meranjak naik ke tempat tidur dengan baju tidurnya yang sudah melekat di tubuhnya.


Afriadi memejamkan matanya berharap kantuk datang, ia ingin tidur tapi pikirannya memaksanya untuk tidak tidur. Ia terus kepikiran Baim dan kata-katanya.


Kedua mata Afriadi terbuka kembali.


Saat ia memejamkan matanya untuk yang kedua kalinya, terlintas dalam pikirannya pertanyaan yang sudah muncul beberapa kali hari ini.


'Kenapa dia sampai dikejar-kejar? Apa dia mengetahui sesuatu? Kenapa yang pertama ia telpon aku? Apa ia ingin memberitahu sesuatu?'


Mata Afriadi kembali terbuka, kacau ia tak bisa tidur kepikiran Baim melulu. Ia meranjak turun dari ranjang pergi meninggalkan kamar masuk ke ruang kerja. Ia duduk di kursi kerja meambil kertas dan pena berusaha menulis kalimat Baim yang terputus saat ia menerima panggilan dari Baim.


Suara dan kalimat itu masih teringat jelas, bahkan nafasnya saja ingat, nafas yang tersengkal saat berlari.


"Hati," gumam Afriadi menulis kalimat itu.


Afriadi hanya dapat 3 kata.


Tolong


Bar


Hati


Petunjuk apa yang bisa ia dapat dari 3 kalimat itu.


Afriadi semakin pusing memikirkannya.


Di luar petir semakin berseru galak, disertai dengan turunnya hujan yang lebat.


***


Hay semua.


Maaf semalam tak up, Author tak bisa nulis semalam.


Kalian tahu kan gusi Author yang bengkak itu, belakangan ini bernanah dan semalam beranak eh pecah maksudnya.


Jangan tanya sakit atau tidak yang pasti Hiiii...


Iya jalan pasti bingung kenapa gak nulis kan yang sakit gusi bukan tangan. kenapa gak nulis?


jika ada pertanyaan begini bagus.


Ya yang sakit emang gitu tapi itu ngaruh ke pikiran dan semangat Author, apa lagi ini tangan terbawa suasana juga pernah mau nulis.


udah gitu aja.


Terimakasih.