Suamiku Guruku

Suamiku Guruku
Persiapan Ujian


"Wah, banyaknya gedung, besar-besar. Wah, besarnya gedung itu."


Sari terkagum-kagum lihat bangunan besar-besar dari jendela mobil.


"Itu, Bank." Samsul menyahut tak lepas dari fokus menyetirnya.


"Ha, besarnya, di tempat kami Bank kecil saja." Sari tak percaya kalau itu Bank, melihat sekali lagi Bank yang sudah mundur jauh.


"Tempat kita sama kota beda Sar." Suami Bik Ipah menyahut. Dia duduk di samping Samsul dan Sari di belakang


"Oh." Sari kembali duduk dengan tenang.


Samsul tersenyum melihat Sari dari kaca spion, "Habis ini mau ke mana?"


"Terserah." Sari menjawab jutek.


"Mau belanja," tawar Samsul mencairkan suasana yang sempat hening persis kayak di kuburan, "Tuan ada titip uang. Kita ke mall bagaimana? Lagian ada yang ingin di beli."


"Boleh." Sari menjawab kegirangan, ingin lihat bentul Mall.


Samsul membawa mereka ke Mal.


Ketika sampai di sana, Samsul membeli sebuah Ponsel pintar.


"Menurutmu yang mana yang bagus?" tanyanya pada Sari.


"Yang ini kelihatan bagus, bodiynya berwarna warni, menarik."


"Benarkah?" tanya Samsul sekali lagi.


"Ya." Sari meyakinkan.


Dari belakang Suaminya Bik Ipah memperhatikan Samsul, batinnya berkata,


"Anak muda ini, apa dia menyukai Sari?"


"Menurut paman apa ini bagus?" tanya Samsul pada Suami Bik Ipah yang berada di belakang mereka.


"Ya ya ya ya. Bagus." Tak banyak komentar cukup meangguk mengiyakan.


Samsul memebeli ponsel yang dibilang Sari bagus


Setelah ke liling mal, makan di sana.


Samsul membawa keliling lalu sorenya mereka ke taman, menikmati waktu sore.


Maghrib mereka sholat di masjid.


Baru pulang ke Rumah.


Hari ini Samsul membawa mereka jalan-jalan ke tempat yang menarik, puas keliling kota.


***


Jam 19:45 malam.


Latika seharian di dalam Kamar bersemedi bersama Afriadi, ia tok belajar bersama Afriadi, gak keluar Kamar Afriadi melarangnya. Sampai makan siang dan malam di antarkan. Hukuman baginya karena main-main dengan perkataannya.


Ada kejadian paling berkesan bagi Afriadi.


Kejadian Sore tadi.


Sekitar jam 5.


Jam 5 itu identik dengan waktunya orang untuk mandi.


Latika masuk ke kamar mandi. Awalnya mau buang air kecil, karena terasa gerah Latika langsung mandi.


Tak lama ia keluar.


"Kyaaa!!!" hati Latika menjerit kaget lihat Afriadi di sana.


Di sana Afriadi sudah meneguk ludah, lihat tubuh Latika di tutupi sehelai handuk.


Pandangan Afriadi tak lari dari tubuh yang mulus.


Latika menutupi tubuhnya, gemetar menunjuk Afriadi memintanya untuk menutup mata, "Tutup mata, jangan mengintip."


Afriadi menutup matanya dengan telapak tangan, di bukanya sedikit mengintip melihat Latika masuk ke Kamar ganti.


"Abang tak mandi kah? Mandi lagi!" teriak Latika dari dalam kamar ganti. Ia sudah deg degan bersandar di balik pintu, bisa-bisanya ia lupa soal Afriadi ada di Kamarnya.


"Nanti," jawab Afriadi.


"Mandi lagi, busuk. Tecuim baunya sampai sini."


Afriadi tersenyum meranjak pergi, "Oke."


Berkesan sekali Afriadi lihat tubuh mulus Latika.


Sekarang Latika melanjutkan belajarnya.


"Bosan. Nonton tv boleh tak ya."


Latika sudah loyo, merebahkan kepalanya di atas meja bundar berkaki pendek.


Latika melirik Afriadi di depannya, membaca buku.


"Abang." Latika memanggil.


"Em," guma Afriadi tetap fokus pada buku.


"Boleh nonton tv," pinta Latika megembungkan pipinya.


Afriadi memberi tatapan yang bermakna 'Tidak boleh'


"Ala, Adek mau istirahat. Adek mau istirahat pokoknya Adek mau istirahat.


Dari pagi tadi sudah. Penat. Asik lihat buku terus," rengek Latika minta istirahat.


Telinga Afriadi sakit dengar rengekan Latika, "Hah. Bolehlah. Hidupkanlah Tv tu."


"Iya!" segar Latika, bergerak secepat kilat menyambar remot Tv, duduk di depan Tv..


"Jangan terlalu dekat dengan Tv.


Rusak mata nanti," kata Afriadi maaih fokus dengan bukunya.


Latika tak mendengarkan.


"Dengar Dek." Afriadi melepas bukunya diletaknya di atas meja.


"Ya, apa?" Latika menyahut fokus dengan Tv. Sudah setengah hari ia tak lihat Tv menyala.


Afriadi meranjak dari duduknya mendekati Latika yang fokus pada Tv.


Tanpa aba-aba dia.


"Hup."


"Kyaaa!" Latika menjerit, ia di kejutkan dengan aksi Afriadi mengangkatnya membawanya duduk di atas ranjang.


"Sudah dibilang jangan dekat-dekat dengan Tv."


"Jantungku, hampir saja lepas."


Sruuuk...


Afriadi merebahkan dirinya ke tempat tidur.


"Tuh, buku di bawah rapikan taruh atas meja," perintah Afriadi main tunjuk saja. Latika tidak bergerak sedikitpun melongo lihat Tv.


"Dengar tak," tegur Afriadi.


"Ya." Latika bergerak mengemas buku-buku yang berserakan di bawah, dan membersihkan sisa cemilan.


Tahu-tahunya setelah selesai membereskan peralatan belajar dan sampah cemilan, Latika melihat Afriadi tertidur.


"Bang." Latika mengguncang tubuh Afriadi, namun dia tak kunjung bangun.


"Lelah mungkin," batin Latika berkata, ia memperhatikan wajah lelah Afriadi,"Hari ini aku terlalu banyak tanya, itu pun hanya sebahagian yang paham. Apa aku harus main-main seperti ini terus ya? Abang berusaha keras mengajariku. Sebentar lagi ujian. Kalau aku gagal Abang pasti kecewa."


Latika berpikir lama.


Ia meambil tindakan dengan mematikan tv. Duduk di meja belajar.


Belajar dengan serius, sehari ini ia tak serius betul. Jadi sekarang ia akan serius.


***


Afriadi terbangun dari tidurnya.


"Astaghfurullah, aku ketiduran." Afriadi bangun mengusap kepalanya, "Jam berapa sudah ini?"


Ia melihat jam di dinding menunjukan pukul 2 malam.


"Jam 2."


"Adek." Afriadi melihat Latika tertidur di maja belajar.


Ia menghampirinya.


Senyum tergambar di wajahnya, melihat Istrinya belajar sampai tertidur.


Cepat ia memindahkan Latika ke ranjang, menyelimutinya.


"Sin x~~~" Latika mengigau, mengubah posisi tidurnya.


Afriadi menahan tawa geli.


"Selamat tidur dek."


Ia mengusap kepala Latika, pergi meninggalkan Kamar Latika, masuk ke kamarnya.


***


Sepasang insan saling berhadapan dengan.


Yang satu memegang sebuah kotak, yang satu lagi melihat kotak itu.


Angin pagi berhembus melewati mereka tak lupa membelai wajah mereka yang bersemu.


"Anu, Neng." Samsul menggaruk kepalanya, tangannya dari tadi sudah menyorongkan kotak hadiah pada wanita di hadapannya, Sari, "Ini." Samsul memberikan sebuah kotak kepada Sari.


"Apa ini?" tanya Sari.


"Ponsel."


Sari agak kaget, tak menyangka kalau Samsul akan mengantikan ponselnya yang rusak.


"Anu itu, ponsel penganti ponsel Neng yang kemerin tidak sengaja saya rusak." Samsul mengakui kesalahannya, karena kemarin dia tak sengaja merusak ponsel Sari.


Kemare, waktu Sari pertama kali datang, sorenya.


Samsul tidak sengaja menabrak Sari dari belakang, sehingga ponsel Sari terjatuh terhempas ke tanah dan terinjak Samsul.


Jangan ditanya lagi ekspresi Sari seperti apa, jelas sekali ia kaget dan sedih lihat ponsel bututnya pemberian orang tuanya rusak.


Samsul merasa bersalah, rencananya ia akan mengantikan ponsel Sari dengan uang gajiannya bulan ini.


Malamnya, lepas sholat Maghrib Samsul pulang jalan kaki melewati konflek bersamaan dengan Afriadi dan suaminya Bik Ipah, selama perjalanan Samsul hanya diam termenung sampai jalan pun tertabrak Afriadi.


"Maaf Tuan, saya gak sengaja," kata Samsul minta maaf.


Afriadi yang kebetulan lewat habis pulang dari Masjid tidak memberikan Samsul menggunakan uangnya sehingga Afriadi memberikan uang untuk membeli ponsel untuk Sari, uang Samsul Afriadi suruh untuk tabung saja.


Jadinya Samsul mengajak Sari dan Suami Bik Ipah ke mall, dan ponsel yang di pilih Sari memang untuk dia bukan untuk Samsul.


Rencananya Samsul akan memberikan habis pulang, tapi tak jadi Sari keburu menjauh jadinya ia putuskan untuk memberikan pagi ini.


Sr. Gak-


S. Terima ya, Neng.


Sr. Tapi-


S. Terima saja, Neng.


Sr. Eh.


Samsul keburu kabur.


Sari tersenyum membolak balikan kotak hadiah itu.


***


Hari ini Latika mengambil nomor ujian. Lihat dia dapat nomor...


"81." Latika meangkat kepalanya, melihat kembali Nomor ujannya, "Kelas 12 B."


Latika berjalan menuju Kantin, selama perjalanan ia melihat nomor ujian.


Dalam pikirannya apa sohibnya sekelas dengan dirinya?


Sesampainya di sana.


"Latika sini!" panggil Nana melambaikan tangannya, bersama sohibnya.


Latika menghampiri mereka, menarik kursi duduk di sebelah Hana.


"Latika kau dapat kelas mana?" tanya Hana mengunyah makanannya.


Jawab Latika, "12 B."


"Sama." Hana berseru girang.


"Kita pisah." Nana menyela.


"Iya, kita pisah," ujar Salasiah.


"Kalian dapat kelas berapa?" Latika bertanya balik pada Sohibnya.


"12 C," jawab Nana.


"Aku 12 D," jawab Salasiah menyuap makanan.


"Kau Had?" tanya Latika pada Hadi yang ikut bergabung membawa semangkuk bakso.


"Kita sekelas." Hadi mencicipi baksonya.


"Oh." Latika meangguk.


"Kalau aku 12 D." Sahril ikut bergabung juga membawa makan ringan.


"Satu kelas dengan Salasiah, dong."


"Iya." Sahril membalas kalimat Latika.


"Mudahan saja, Bu Laila tidak masuk kelas kami." Nama menadah tangannya, berdo'a.


"Oi, seram juga jika Bu Laila yang jadi pengawas." Sahril mengusap tangannya ngeri dengar nama Bu Laila, "Tak bebas aku."


Ketahuan dari belang mau contek.


Sedangkan di kantor guru.


Para guru sibuk mengetik soal, untuk ujian.


Hari itu berlalu begitu cepat. Tahu-tahunya sudah malam.


Jam 20:45 malam.


Di kamar Latika belajar lagi.


Tok... Tok... Tok...


Pintu kamar Latika di ketuk.


Kreeet...


Ada yang masuk ke kamar Latika.


"Dek." Afriadi muncul di belakang Latika, membawa segelas susu, "Nih, susu di minum, Bibik buatkan."


"Terimakasih." Latika langsung meambil gelas dari tangan Afriadi, meminumnya.


Akhir-akhir ini Latika selalu di bikinkan susu sama Bik Ipah, mungkin menginggat Latika lagi bersiap perang minggu depan.


Latika menghela nafas lega, sudah menghabiskan segelas susu. Ia meletakkan kembali gelas ke Napan yang di pegang Afriadi.


Afriadi segera keluar secepatnya, takutnya jika lama-lama di sana konsentrasi Latika luntur.


Di tengah langkah kakinya menuju keluar kamar, langkahnya di hentikan sama panggilan Latika.


"Bang."


"Ada apa?" Afriadi menoleh,


"Tak jadi." Latika menggeleng kepalanya, lanjut menghadap buku.


Afriadi mendekati Latika, berdiri di sampingnya, meletakkan nampan beserta gelas di atas meja belajar Latika, "Cakaplah, ada apa?"


Latika menoleh ke arah Afriadi, "Bocoran soal." Ia tersenyum lebar.


Mata Afriadi sedikit membesar, kaget dengan permintaan Latika yang tidak ia duga, "Bocoran soal?"


Latika mengangguk.


"Oooh, mau Bocoran soal?"


"Mau." Latika bersemangat sekali. Ia kira Afriadi benar mau memberikan kunci jawaban.


Afriadi tersenyum tipis, mendekatkan wajahnya, roman-romannya lain ini.


"Yakin mau bocoran." Wajah Afriadi sudah dekat dengan wajah Latika.


Latika tertawa getir, perasaanya mulai tak enak dengan tatapan itu.


Dag Dig Dug jantunganya.


Afriadi menaik turunkan kedua alisnya, "Malam ini-"


"Tidaaaak... Gak usah gak usah." Pikiran Latika sudah melayang ke sana ke mari, membayangkan kalimat Afriadi.


"Kenapa, tadi minta?" nada bicara Afriadi sudah beda, dia seperti merayu Latika.


"Gak jadi. " Latika menggelang menutup wajahnya yang sudah memerah.


"Haha, Adek takut."


"Tak baik, tahu soal ujian dulu, curang." Latika menghindar dari niat awal yang emang minta bocoran.


"Tahu pun." Aftiadi mengusap dagunya yang tak berjenggot, "Tapi, kalau mau coba."


"Tidak."


"Yuklah." Aftiadi menarik tangan Latika, mengajaknya.


"Tidak." Latika menggeleng, wajahnya tambah merah, Afriadi menyeringai menggoda terus.


"Kalau Abang di sini terus Adek tak konsen belajar." Latika mengeluarkan jurus undasnya dengan bicara secepat kilat.


Aftiadi terdiam sebentar, menelaah artinya.


"Ya udah. Abang pergi, belajar yang betul.


Jangan begadang." Afriadi mengusap kepala Latika, lalu pergi meninggalkan kamar.


"Hupf..." Latika menghela nafas pendek, mengusap dada, "Hampir saja."