Suamiku Guruku

Suamiku Guruku
Gak Fokus


"Bu, Samsul pergi kerja. Ibu hati-hati di rumah ya, pintu jangan lupa di kunci, jangan terima tamu sembarangan, kalau ada apa-apa telpon saja Samsul," pesan Samsul sama ibunya yang lagi mencuci piring.


"Iya, nak. Harus berapa kali lagi kamu mengingatkan ibu. Sudah pergi kerja sama, nanti tuan Afriadi marah kalau kamu terlambat," sahut sang ibu tersenyum. Kelihatannya ibu Samsul baik-baik saja, mungkin ia tidak terlalu memikirkan persoalan itu.


"Tuan Afriadi tak akan marah," kata Samsul, "Dia orangnya baik, ibu tahu sendiri kan?"


Ibu Samsul hanya meangguk-angguk, mengiyakan. Walaupun tak pernah bertemu dengan Afriadi tapi ibu Samsul tahu dia dari anaknya setiap pulang atau lagi kumpul Samsul selalu menceritakan tempat ia bekerja, jadi sudah dapat gambaran Afriadi itu orangnya seperti ini seperti ini seperti ini.


"Samsul pamit dulu ya, Bu." Samsul menyalami Ibunya yang sudah selesai dengan pekerjaannya, "Assalamualaikum."


"Wa'alaikumssalam. Hati-hati Nak di jalan," ujar sang ibu ketika Samsul sampai di depan pintu dapur. Samsul hanya tersenyum ceria bersemangat untuk menjalani hari ini, apalagi perut sudah full.


Samsul menghirup udara segar pagi, menaiki motornya, memakai tempurung eh helem maksudnya untuk melindungi kelapa eh kepala.


Drototottttt...


Suara motor Samsul sudah tua, wajar bunyinya begitu motor dilan boy yang suaranya memikat hati wanita.


Samsul menuju rumah Afriadi, tempat ia bekerja. Sesampainya di jalan komplek matanya melotot melihat bidadari turun dari ojek ^∇^


Widih, rambutnya berkibar persisi bendera merah putih ketika melepas helem. Perhatian Samsul teralihkan sama tuh cewek sampai nyungsep ke got akibat gagal fokus.


Untung pakai helem kalau tak sudah bocor mungkin itu kepala harus di tampal pakai no drop no bocor bocor.


Hahaha...


Sontak saja mengundang tawa Mas ojol sama cewek itu dan beberapa warga lewat.


Setelah mentertawai Mas ojol dan warga yang ada di sana turut membantu Samsul.


Eh, cewek itu mendekat Lo.


"Kenapa jatuh? Lain kali hati-jadi ya mas," katanya sambil menahan tawa.


Aduh, sumpah malu banget Samsul. Ia tersenyum namun hati sudah menangis menahan malu.


Selang beberapa menit Samsul sampai di tempat tujuan, ia berjalan terpincang-pincang menuju pos. Tadi baik-baik saja tak terasa sakit sekarang terasa sakit apa mungkin tadi emang belum terasa karena shock dan ditambah lagi dengan rasa malu jadinya tak sakit.


Samsul duduk di kursi perlahan ia melihat kakinya. Aduh, ada ada lecet belas mencium aspal di lutut dan sekitar jari jemari kakinya. Kepalanya terasa puyeng sedikit, ia memutuskan untuk tak bergerak dulu melemaskan otot-otot, nanti baru diobati. Toh, dia sudah biasa dengan hal seperti ini, jatuh dari motor heh, kecil ᓀ˵▾˵ᓂ


Suasana sepi pas karena sudah jam 8 lebih Latika dan Afriadi sudah pergi ke sekolah dan tetangga lainnya sibuk dengan urusan mereka.


Samsul memejamkan matanya, merasa nyaman dengan suasana sepi begini.


Baru mau memejamkan mata untuk menghilangkan rasa pusingnya, ada yang datang tiba-tiba mengagetkannya.


"Mas Samsul kenapa?" tanya Sari. Tiba-tiba nongol dengan baju yang sudah rapi.


Dengan mata yang sipit sebelah, dan lemah Samsul menyapa Sari, "Eh, neng Sari."


Ia tersenyum, rasa sakitnya seakan menghilang terangkat gitu dari tubuhnya.


"Mas kenapa?" tanya Sari lagi dengan wajah cemas melirik celana Samsul yang koyak melihatkan luka, "Mas Samsul terluka? Kenapa bisa sampai terluka?"


Sari mendekati Samsul tangannya yang imut mau menyentuh luka Samsul, tapi tak jadi ia malah berpaling berlari ke Rumah sambil teriak, "Tunggu dulu ya Mas, saya ambilkan obatnya."


Samsul mau menghentikannya tapi Sari sudah terlanjur berlari menjauh.


Tak lama kemudian Sari datang membawa kotak obat dibawah impitan ketiaknya, handuk kecil membelit lehernya, dan semangkuk air hangat.


"Gak perlu repot-repot, ini hanya luka kecil. Tinggal ditutupi pakai penutup luka sudah, gek perlu kayak gini juga," ujar Samsul dengan muka merah, suhu tubuh naik saat Sari mulai mengobati kakinya. Huh, panas panas.


Sari tak banyak cakap, dia hanya tersenyum merespon tanggapan Samsul. Selama Sari mengobati lukanya, Samsul memalingkan wajahnya yang merah, perasaannya lain sekali jantungnya cepat memompa darah ke otak. Salah tingkah lah dibuatnya.


"Sudah selesai," kata Sari menepuk tangan, "Anak pintar, gak nagis." Sari tersenyum lebar menganggap Samsul anak kecil.


"Apa ada yang terluka lagi?" tanya Sari memperhatikan Samsul.


Samsul membisu menggeleng tidak ada, namun hatinya bilang ada luka, "Luka yang kau gores di sini dan belum kau sembuhkan."


Hati Samsul bucin juga ^~^;


"Kenapa bisa luka?" tanya Sari membereskan obat.


Samsul mau menjawab, tiba-tiba saja mulutnya langsung tersumpal. Ia berpikir kalau dia memberitahu sebab dia terjatuh gara-gara lihat cewek lain, bisa-bisa salah sangka ini cewek. Tapi, dia dan Sari tak ada hubungan jadi untuk apa di sembunyikan.


Akhirnya dia tidak bilang yang sebenarnya malah mengalihkan pembicaraan.


"Neng mau ke mana rapi gitu?"


Sari tersentak kaget, wajahnya membeku membuat Samsul merasakan ketegangan.


Samsul menelan ludah, bertanya dengan nada bingung, "Ada apa?"


"Astaghfirullah, aku lupa hari ini aku masuk dan sekarang aku masih di sini, aku terlambat." Sari panik melihat jam di pergelangan tangannya. Wajahnya tambah pucat, "Aaagh, tinggal 10 menit saja lagi. Jarak dari sini ke kampus..." Sari menghitung.


Samsul menahan tawa lucu lihat wajah panik Sari. Samsul bangkit dari tempat duduknya, merogok Kantong celana meambil kunci motor.


"Yuk, pergi. Nanti terlambat," kata Samsul melangkah pergi menaiki motornya.


Sari angkat bicara menolak untuk diantar, "Mas kan lagi sakit-"


Samsul melambaikan tangan, "Gak masalah, sekarang kita harus cepat kamu hampiri terlambat." Ia memberikan helem pada Sari.


Sari meangguk cepat memakai helem lalu naik ke motor Samsul, sekarang yang lebih gawat lagi ia akan terlambat.


Samsul melesat melaju di jalan beraspal, rasa sakitnya hilang sudah.


Tak memakan waktu yang lama mereka sampai di kampus.


Wus, cepat sekali ya jaraknya dari rumah ke kampus lumayan dekat palingan langgar beberapa menit apalagi ngebut.


Sari tergesa-gesa berterimakasih pada Samsul, berlari menuju kelas.


Samsul pun berbalik arah kembali ke rumah.


***


"Lafika atau Latika nama kamu?" tanya seorang cewek berambut hitam pendek sebahu, kulitnya sawo matang. Ia duduk di seberang Latika sambil menyantap makannya.


"Hey! Namanya Latika lah," sahut cewek datang membawa Napan duduk di sebelahnya, berambut panjang berkacamata, pipinya tembem nadanya sedikit berisi, "Ya kan?" Dia menatap Latika.


"Iya, nama saya Latika." Latika meangguk mengiyakan, "Kamu Nia kan?" Latika menujuk perempuan tembem itu, ia ingat perempuan itu anak dari dokter Zidan pemilik rumah sakit ternama di kota.


"Iya iya iya itu nama saya lengkapnya Nia Daniaty, panggil saja Nia. Senang berkenalan denganmu," ucapnya menyodorkan tangan mau salaman.


Latika menjabat tangannya, "Latika."


Latika merasa beruntung sekali bisa berkenalan dengan dia.


"Oh iya lupa mau memperkenalkan diri, nama gue Wanti Sriyuni." Cewek berambut pendek itu memperkenalkan dirinya sekali lagi sambil menyodorkan tangan.


Latika menyambut tangan Wanti, "Latika."


Seingatnya Wanti ini anak direktur dari perusahaan xxx di kota seberang.


Ada apa hari ini, Latika perempuan biasa bisa dapat berkenalan secara langsung dengan anak berpengaruh seperti mereka. Latika kira dia akan tidak dapat teman lagi. Ternyata salah.


Tapi kenapa mereka menghampiri Latika ya?