
Waktu berlalu.
Latika dan Hadi sudah selesai dengan tugasnya, diantar ke meja Bu Laila. Setelah selesai mengantar tugas mereka pergi ke kantin isi perut. Dari tadi perut Hadi sudah demo minta di isi.
"Hadi tak sarapan tadi, ya?," tanya Latika langkah kakinya seiring dengan langkah kaki Hadi, serempak.
"Iya, aku mau cepat takut terlambat, jadi tak sempat sarapan," jawab Hadi menyeringai, memasukkan tangannya ke dalam saku celananya.
"Jam berapa Hadi sampai ke sekolah?." Latika terus bertanya, ia hapal dengan sikap Hadi. Hadi itu selalu menghindari tugas untung mengantar adiknya ke sekolah atau pun itu yang berkaitan dengan antar jemput adiknya pasti dia hindari bagaimana pun caranya, "Memghindari tugas lagi." Latika menggoda menyeringai.
"Haha.. Tahu saja." Hadi menyeringai salah tingkah, mengeluarkan tangannya dari saku celana menggaruk-garuk kepala yang tak gatal.
"Hihi.. Sudahku duga." Latika tertawa pelan dugaannya tepat sasaran. Hadi benar-benar tak mau mengantar adiknya ke Sekolah, karena kalau ia mengantar adiknya pasti ketemu dengan 3 bocah yang tak lain adalah teman adiknya yang sering menggodannya, makanya ia tak mau selalu kabur dengan berbagai alasan.
Selang beberapa menit mereka berjalan menuju kantin, akhirnya mereka sampai juga di kantin.
Nana yang duduk bersama temannya melihat Hadi dan Latika dari kejauhan, menepuk-nepuk bahu Salasiah yang duduk di sampingnnya menyantap makanan, "Sal.. Sal.. Sal... Latika Sal.."
Salasiah yang merasa terganggu dengan tepukan Nana di bahunya membuat ia kesulitan untuk memasukkan makanan ke dalam mulutnya, sendok bergoyang-goyang, Salasiah meletakkan kembali sendok ke piring, menatap malas Nana, "Apa sih, ganggu saja."
"Latika Sal..," tunjuk Nana membuat Salasiah mengikuti arah telunjuk Nana menujuk Latika dan Hadi.
"Latika.." Salasiah langsung berubah menjadi terlalu gembira setelah beberapa hari ini ia tidak melihat sahabatnya itu, melambai-lambaikan tangannya.
Hana yang kebetulan duduk membelakangi Latika ikut tertoleh, melihat sambil melambai-lambaikan tangannya.
Pandangan Siswa Siswi yang ada di kantin teralihkan pada mereka bertiga yang heboh seperti anak ayam yang baru bertemu induknya.
"Hadi ke sana yuk," pinta Latika menarik tangan Hadi.
"Em, kau ke sana saja dulu. Aku mau pesan makanan dulu. Kau mau makan apa?," tanya Hadi memesan makanan pada Bu kantin.
"Sama dengan kau saja," jawab Latika majauh dari Hadi berjalan menuju temannya yang dari tadi memanggilnya, duduk di kursi yang kosong sebelah Hana.
Baru duduk Latika sudah diserang dengan pertanyaan mereka bertiga.
"Latika kau sakit apa?," tanya mereka serempak menatap serius Latika.
"Aaa.. Hanya demam saja," jawab Latika menyengir, "Dari mana kalian tahu?."
"Apa saja yang ia bilang ke Hadi?," geram Latika dalam hati.
"Hadi yang bilang dia tahu dari kepala sekolah." Hana menjawab, memasukkan suapan terakhir ke dalam mulutnya.
"Ponsel kau kenapa tak aktif?," tanya Nana memainkan ponselnya, "Kemarin kami ke kosan kau..."
Ha... Latika terkejut tak kepikiran sampai ke situ, kalau temannya akan mendatanginya ke kosan, "Huuu... Habislah sudah," rintih hati Latika.
"... Kata Bu Kos kau sudah berhari-hari tak pulang. Pertanyaannya selama kau sakit kau ada di mana?." Nana menatap serius. Mereka mengintrogasi Latika.
"Aaa.. Aku kehilangan ponselku jadi susah mau memberi kabar. Lalu itu.." Latika ragu mau menjawab apa atas pertanyaan yang satunya lagi.
"Lalu apa?." Nana menunggu jawaban.
"Anu.." Latika tak tahu harus menjawab apa, Nana terus menunggu jawaban dari Latika.
"Apaaa..ponsel kau hilang." Salasiah berdiri membentak meja membuat semua siswa dan siswi yang ada di sana melihat mereka, Nana dan Latika saja sampai terperanjat Hana yang malu terus dilihati menarik tangan Salasiah memintanya duduk, "Jadi kau tak punya ponsel lagi, kalau begitu kami tak bisa menghubungi kau lagi." Salasiah mengecilkan suaranya.
"Bisa," jawab Latika singkat, menggundang pertanyaan baru lagi dari temannya.
"Haa.. Katanya ponsel kau hilang, lalu bagaimana kami menghubungi kau?." kali ini Hana yang bertanya disambung dengan pertanyaan Nana, "Ha'ah bagaimana pula kau menghubungi kami? Ponsel kau hilang atau tidak?."
Latika hanya senyum saja, Salasiah yang paham tahu jawabannya, "Aaaaa. Jangan-jangan kau punya ponsel baru ya?." Jari telunjuk Salasiah menunjuk Latika dengan sedikit bergoyang-goyang.
"Seriusan Latika?." Nana minta pengakuan dari Latika.
"Jadi.. Jadi nomor kau gantilah ya." Hana manyela mengeluarkam ponselnya, mangotak-atik ponselnya.
"Mina nomor." Salasiah terlebih dahulu menyorongkan ponselnya pada Latika meminta nomornya.
Latika mengeluarkan ponselnya memberikannya kepada Salasiah, "Ini, anu sendiri. Nomor kau jua ya."
Wiiisss... Waaaaw... Salasiah mengambil ponsel Latika, membolak balikan ponselnya, "Seriusan ini ponsel kau Latika?."
"Iya." Latika mengangguk tersenyum.
"Em... Latika dari mana kau dapat ponsel ini?," tanya Hana sedikit kaget dengan ponsel baru Latika. Tentu saja ia kaget dengan ponsel Latika, 'dengan keadaan ekonomi yang rendah bagaimana mungkin Latika bisa membeli ponsel seperti itu' pikir Hana.
"Kenapa? Salahkah aku punya ponsel seperti ini." Latika jadi pucat.
"Eh.. Tak lah. Cuman aku penasaran saja dari mana kau dapat ponsel ini? Kau tahu Latika harga ponsel ini berapa?." Hana mengambil ponsel Latika dari tangan Salasiah.
Nana dari tadi diam berpikir.
Latika juga ikut terdiam sebentar memikirkan perkataan Hana, Latika melihat ponselnya itu, 'Kelihatannya bermerek sekali ini ponsel' pikir Latika.
"Tunggu... Tunggu... Tunggu..." Nana seperti menyadari sesuatu setelah mengaitkan penyebab Latika tak sekolah, Latika tak ada di kosannya, dan Latika mempunyai ponsel baru, alisnya terangkat sebelah, "Latika kau tak sekolah karena sakit, kan? Lalu selama kau sakit ada di mana? Kenapa kau tidak ada di kos? Kau benar kehilangan ponsel, kan? Kau tidak anu kan? Kau tidak berbuat macam-macam kan dengan pria lain? Kau tidak disogok kan Latika hingga kau berbuat sedemikian rupa?."
Salasiah dan Hana tercengang mendengar pertanyaan Nana yang ada benarnya di otak mereka, setahu mereka kemarin Latika dijemput pacarnya dapat berita dari Nana, 'Jangan-jangan' pikir mereka mulai berprasangka buruk, menatap Latika.
Yang di tatap pucat tak tahu harus menjawab apa.
"Betul Latika kau disogok?." Hana bertanya melepas ponsel Latika menjauhkannya dari tangannya.
"Eee.. Iya malam itu aku dijemputnya, lalu kami dibegal, ia membawaku pulang aku menginap di rumahnya selama beberapa hari aku masih syok dengan kejadian itu jadinya aku jatuh sakit. Tapi. Selama aku di sana dia tidak macam-macam denganku." Latika menjawab pertanyaan mereka dengan cepat seperti petir yang menyambar, matanya tertutup rapat takut temannya mengetahui statusnya sekarang apa.
Aaa.. Mulut mereka bertiga ternganga mendengar jawaban Latika yang cepat, hanya sebahagian saja yang mereka dengar sisanya tak kedengaran lagi. Nana mengorek telingannya.
"Kebiasaan kau Latika bicara cepat betul." Salasiah mengomel, "Kau kan ada kami kenapa tidak hubungi kami sih, tahan kau tinggal dengan pacar kau itu."
Latika membuka matanya, menatap malas Salasiah. Hana dan Nana ikut-ikutan menatap malas Salasiah ia berkata melalui tatapannya itu ‘Sudah dua bilang kalau ponsel dia hilang’
Hahaha.. Salasiah tertawa melihat tatapan mereka.
"Ooohh.. Baik sekali pacar kau tidak ganggu..." perkataan Hana membuat Latika sedikit terperanjat ia teringat dengan kejadian subuh itu, tertawa getir, "Berarti ini ponsel pemberian pacarmu dong Latika, betul tidak Latika?." tanya Hana fokus pada ponsel Latika.
"Iya. Tapi, ngomong-ngomong berapa harga ponsel itu?," tanya Latika penasaran, "Soalnya aku tidak tahu-menahu harga ponsel itu, dia hanya memberikannya saja setelah tahu aku tak punya ponsel lagi. Kalau gitu aku kembalikan saja."
"Eee.. Kenapa kembalikan?." Nana memberhentikan Latika, "Terima saja, nanti dia tersinggung. Lagian kau kau tak punya ponsel lagi, kan."
Perkataan Nana ada betulnya juga.
Salasiah merampas ponsel Latika dari tangan Hana, membolak-balikan ponsel Latika, "Harga ponsel ini tak mahal-mahal amat lah palingan 20 J ke atas lah," jelas Salasiah.
"What? Du-dua pu-puluh ju-juta k-ke atas." Latika tergagap-gagap mengucap harga ponsel itu, ia tak menyangka kalau harga ponselnya itu segitu, ia menyangka harga ponselnya itu 2 J ternyata nol-nya tinggal, tak pernah terpikirkan olehnya mendapat ponsel itu, suai saja teman-temannya heran Latika bisa punya ponsel itu dengan keadaan ekonominya yang terbilang sulit.
"Atau lebih." Salasiah menambah-nambahkan membuat mulut Latika terbuka lebar mendengar kata lebihnya itu.
"Wiss.. Tahu saja Salasiah." Nana memuji Salasiah yang tahu harga ponsel. Yang di puji mengambang, sombong, pantang di puji, "Ha ha ha.. Biasalah itu, aku ini sudah biasa pegang macam ini."
"Heleeeeh.. " Nana mengejek Salasiah, "Kaya dong gebetan Latika." Nana menggoda Latika tersenyum naik turun naik turun.
"Heem.. Dapat dari mana ini gebetannya?." Hana ikut menggoda, menyeringai menyenggol Latika di sebelahnya.
Haha.. Latika hanya bisa tertawa geli tak bisa menjawab ia sendiri saja sulit mau menerima keadaannya sekarang.
Tak lama kemudian Hadi datang membawa pesanan Latika, "Nih, makan dulu. Nanti lagi bicaranya."
"Terimakasih Hadi." Latika mengambil pesanannya, bersiap mulai menyantap tak lupa baca do'a mau makan di awali dengam bismillah.
Hadi duduk di kursi kosong samping Latika, "Sama-sama."
Mereka menyantap makanan, sedangkan mereka bertiga mengotak-atik ponsel Latika.