Suamiku Guruku

Suamiku Guruku
Keputusan Latika


"Lokasi Adek jauh sekali." Afriadi melihat lokasi Latika di ponselnya. Lokasinya tepat di bangunan tua bekas tempat perindustiran yang tak berfungsi lagi, daerahnya cukup jauh.


"Harus cepat Afriadi. Adek bertahanlah."


Afriadi memacu mobilnya lebih cepat lagi.


Sedangkan Hasan dan polisi lainya. menyusul jauh dari belakng, jauh tertinggal.


***


"AAA..." Latika menjerit kesakitan.


Kina mendekatkan bibirnya pada telinga Latika, membisikkan, "Dan kau tahu. Aku tahu rahasiamu, dan Afriadi."


Mata Latika terbuka lebar, tidak percaya dengan yang Kina katakan.


"Apa kau tidak percaya?"


Kina mengeluarkan ponselnya.


"Lihat ini."


Kina melihatkan foto Afriadi dengan Latika. Foto itu bukan satu dua tapi, banyak. Salah satunya ada foto Afriadi cemburu melihat Latika dengan Hadi waktu drama, foto Afriadi merusak pementasan drama, dan lainnya.


Bahkan bukan itu saja, Kina juga menyimpan yang waktu itu. Foto Afriadi tidak sengaja mencimum bibir Latika di tangga.


Ya... Yang mefoto Latika dan Afriadi waktu itu adalah Kina.


Waktu itu Kina datang lebih cepat dari biasanya, sehingga waktu Afriadi ingin pergi ke kamarnya, Kina sengaja mengikuti Afriadi, sampai akhirnya ia melihat Afriadi di pertengahan anak tangga menciu bibir Latika.


Dengan cepat Kina mengeluarkan ponselnya mefoto momen langka itu, meambil tempat yang bagus untuk hasil yang memuaskan.


Latika seakan tidak percaya melihat semua foto itu.


"Kau bingung kenapa aku bisa mempunyai semua foto ini?" Kina menggelengkan kepalanya, mengusap ponsenya, " Kau tahu Latika.


Apapun yang aku inginkan harus aku capai meskipun harus dengan jalan yang buruk, aku akan lakukan.


Dan kau tahu aku suka dengan Afriadi, jadi aku akan mendapatkannya bagaimanapun caranya."


"Hahaha... Kau lihat ini."


Kina melihatkan foto lagi, kali ini foto Afriadi lagi berenang di kolam rumahnya.


Latika mengalihkan pandangannya.


"Uh... Kau lihat otot-otot itu."


Latika meloto, geram mendengar kata Kina.


Buk... Ia membenturkan kepalanya tepat ke wajah Kina sampai jerjungkir.


"Agh..." Kina bagkit, kesal. Tak sempat ia berkata Latika sudah menerjang wajahnya sampai terjungkir 2 kali.


"Cium itu sepatuku," kata Latika geram sama Kina.


"KAU..."


Kina bangkit.


Plak... Menampar Latika sekali lagi.


"BERANINYA KAU." Kina menyapu wajahnya dengan tangan, menyingkirkan debu di wajahnya, matanya menatap tajam Latika, "KAU TAHU AKU SUKA DENGAN AFRIADI, LALU KENAPA KAU MENDEKATINYA? AKU BENCI KAU LATIKA."


Plak...


Lagi-lagi kina menampar Latika.


"HUBUNGAN KALIAN... KAU TIDAK ADA BEDANYA DENGAN *****."


"Egh... Apa maksud Kina? Aku *****?" Latika bertanya-tanya pada dirinya.


"Padahal dia juga *****," kata Damir membisiki Piki.


"Bilangi orang *****, tidak sadar kalau dia juga *****." Piki membalas bisikkan.


Plak...


Tangan Kina melayang, menampar muka Piki tapa di sadari olehnya.


Hati Latika bertanya, "Kina *****. Apa yang mereka bicarakan?"


"Kalian." Kina meludahi mereka, "Cih... AKU BUKAN *****. KALAU BUKAN KARENA IBU AKU TIDAK AKAN MAU MELAKUKANYA. KALIAN DENGAR ITU."


Anak buah Kina menciut.


Mereka bukan takut kepada Kina. Tapi, kepada Ibunya, polos-polos begitu Ibunya Kina lebih kejam.


"Heh... Kau, Latika. Kau dengar ini baik-baik."


Kina mendekat menyambak bagian belakang jilbab membuat Latika menjerit kesakitan,


"Aibmu dan Afriadi ada di tanganku, aku tahu rahasiamu dan Afriadi, hububganmu dan Afriadi, aku tahu."


"Dengarkan ini baik-baik." Kina mengulangi kelimatanya, "Kalau kau tidak ingin Aibmu dan Afriadi, rahasiamu dan Afriadi tersebar maka JAUHI AFRIADI. JANGAN KAU DEKATI DIA, KALAU PERLU PERGI JAUH-JAUH DARINYA. JIKA KAU MENDEKATINYA KAU TAHU APA YANG AKAN TERJADI. AIBMU, RASIAMU BISA TERSEBAR LUAS, NAMA BAIKMU DAN AFRIADI AKAN TERCORET, MUNGKIN TIDAK AKAN BISA LAGI DIBERSIHKAN."


Mata Latika membesar mendengar ancaman Kina.


"MUDAH BAGIKU MENYEBARIAN SEMUA, PENGIKUTKU BANYAK DI MEDIA SOSIAL, BAIK IG, FB, TWITER, DAN SUBSCIBERKU JUGA BANYAK DI YOUTHUB. INI AKAN JADI BERITA YANG HEBOH DI MEDSOS."


"JADI AKU INGATKAN SEKALI LAGI.


JANGAN DEKATI AFRIADI JAUHI DIA, DAN JANGAN MEMBUKA MULUT ATAS SEMUA INI PADA ATAU PADA SIAPA PUN.


ATAU KAU AKAN TAHU AKIBATNYA, BUKAN ITU SAJA BAHKAN HAL YANG DI LUAR DUGAANMU AKAN TERJADI..."


Tes...


Air mata Latika menetes mengalir membasahi pipinya.


Latika menangis mendengar semua. Ia takut bukan karena apa tapi takut aib dan nama baik Suaminya akan tercemar.


Jika dia menjauhi Afriadi bagaimana dengan hari-hari yang akan ia lewati? Hari-hari penuh dosa karena mencueki Suami, dekat dengan neraka. Kalau ia beritahu semua, dia juga tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Bisa-bisa Afriadi dan orang yang ia sayangi akan celaka. Latika gundah memikirkan itu semua. Ia teringat masa-masa indah bersama Afriadi, dan pertengkaran mereka.


"Us... Us... Us... Kesihan. Kau tidak mau jauh dari Afriadi. Aku jadi sedih." Kina mencubit-cubit pipi Latika memasang wajah sedih berubah menjadi tegas, "Kau ingat baik-baik itu. Jika tidak ingin menyesal."


Dia berbisik di telinga Latika, "Sadar diri Latika, kau siapa dan dia siapa. Dunia kalian berbeda."


"Jadi bos, dia dilepaskan," kata Damir menyela.


"Iya." Kina berdiri ingin pergi. Wajah Damir berubah cemberut, berharap dapat jatah.


Kina menyeka debu di bibirnya yang tadi mencium sepatu Latika.


Pikiran Kina berubah, ia membalik badan.


"Jangan. Kalian belum bersenag-senag bukan?" Kina tersenyum penuh arti.


Latika tersadar dari hayalannya, wajahnya terangkat melihat Kina, raut wajah Latika kaget bercampur takut terhias di wajahnya.


"Eh..." Damir melirik Piki, mereka saling melirik satu sama lain, paham maksud Kina.


"Kalau begitu, nikmatilah. Lepaskan dia setelah kalian puas melampiaskan nafsu kalian. Rebut kesuciannya, lagian dia juga tidak suci lagi." Kina berbalik melangkah, melambaikan tangan.


Batin Latika menjerit di sertai dengan kepalanya yang ikut menggeleng, "Tidak!!!"


"Bos yang terbaik." Damir menjulurkan lidahnya.


Begitu juga dengan Piki, "Aku baru pertama melakunya. Pasti nikmat, surga dunia. Hihihi..."


Kina berhenti melangkah, menoleh ke belakang menjilat bibirnya, mengeluarkan suara maja, "Jangan lupa di videokan."


"Egh..." Mata Latika membuat sempurna, ssibuk nenggerakkan kaki dan tanganya berharap tali bisa terlepas, percuma ikatanya terlalu kuat. Hatinya merintih minta pertolongan,


"Ya Allah, lindungi hamba


Hiks...Abang Abaaaangg."


Kina pergi meninggalkan tempat itu.


Senyum kotor terukir di wajah mereka.


"Hey! Adek manis," sapa mereka, "Hihihi..."


"Dari tadi sudah aku menahannya." Damir menggetarkan tubuhnya seperti tersengat listrik.


"ABANGGG!!!" Latika berteriak sekencang mungkin memanggil Afruadi.


"Jangan teriak. Dia tidak ada di sini," kata Damir mendekat perlahan.


"Hihihihi..." Piki tertawa ikut mendekati.


"ABAAAANG!!!"


"Aku siapkan kameranya," kata Piki meletak Ponselnya di Kursi, kamera rekaman sudah di siapkan.


"Adek mau lepas sendiri atau tidak?," tanya Damir tangannya ingin menyentuh kulit wajah Latika yang lembut, tapi Latika menjauhkan wajahnya sehingga ia menarik kembali tangannya tersenyum tipis.


"ENGAK!!! Jangan sentuh aku, aku mohon lepaskan aku. Hiks..." Latika meminta belas kasih mereka, air matanya membasahi Pipinya.


"Iya, nanti kami lepaskan setelah kami mencicipimu. Hahaha..." Damir melepas bajunya, sungguh rasa belas kasih mereka sudah hilang, "Sudah jangan jual mahal. Kami akan memperlakukanmu dengan ba-


Bruk...


Kaki Latika menendang kaki Damir membuatnya terjatuh. Piki tertawa terbahak-bahak melepas ikat pinggangnya.


Damir tak terima atas perbuatan Latika padanya, membuka kasar pakaiannya, mengeretak giginya, "Kau sering melakunya dengan dia. Sok, jual mahal pula. Mentang-mentang dia orang kaya, kau pilih-pilih. Kau tidak mau dengan kami. Oke. Aku tidak akan pelan-pelan. Akan aku robek punyamu."


"TOLOOOOONGGGGG!!!"


Teriak getir Latika, ia takut.


Seluruh tubunnya gematar ketakutan, peluh dingin membasahi tubuhnya.


Air matanya terus mengalir, berharap akan ada seseorang yang dengar teriakannya datang menolongnya.


"Hahaha... Percuma tidak ada yang akan menyelamatkanmu," kata Damir.


Sambung Piki, "Di sini tempat yang terpencir, orang jarang lewat di sini."


Batin Latika berseru berdoa pada Sang Maha Kuasa Allah SWT, "Hiks... Ya Allah lindungilah hambamu ini. Jangan biarkan mereka mengambil kesucianku, ya Allah.


Suamiku saja belum mencampuriku.


Aku tidak mau ya Allah kesucianku diambil mereka.


Hamba mohon ya Allah lindungilah hambamu ini yang lemah.


Hiks... Hiks..."


Latika tidak bisa berbuat apa-apa lari saja mustahil baginya, tangan dan kakinya juga terikat, mustahil baginya untuk lari.


Hanya tangis dan Do'a yang ia panjatkan. Berharap akan ada pertolong.


Tubuhnya melemas melihat Damir dan Piki sudah bersiap-siap.


Mata Latika menutup tidak berani melihat.


Latika semakin menjadi menangis dalam kegelapan, berteriak, "Hiks... Tolong!!! TOLOOOOONGGGGG!!!"


Tangan Damir bergerak ingin menyentuh bahu Latika, membuka pakaiannya perlahan.


Baru saja Damir menyentuh bahu Latika.


BAAKKK...


BUUUKKK...


Damir terpelanting, tubuhnya menghantam dinding gudang.


"Ha..." Piki terkejut melihat temanya jatuh, mukutnya terngangga lebar.


Latika saja sampai terkejut mendengar suara hantaman, ia menelan ludah. Berhenti menangis.


"Siapa-" Belum sempat Pipi memalingkan wajahnya, ia sudah di tiju seseorang, "Agh..."


"Hiks... Hiks... Tolong..." Latika terisak, masih belum berani membuka matanya tak mau mengotori matanya dengan melihat berdua.


"Kau, siapa kau?"


Piki menyeka darah di hidung dan mulutnya.


Orang itu tidak menjawab mendekati Piki, wajahnya menyeramkan tatapan matanya tajam melihat Piki, tubuh Piki gemetar melihatnya.


"Hya..."


Teriak orang itu meninju perut Piki.


"Ugh... Uhuk..."


Darah keluar dari mulut Piki, tumbang.


Kuat sekali orang itu meniju Piki.


Latika sampai terperanjat mendengar pukulan itu.


Dapat di rasakan oleh Latika, suara langkah Kaki mendekat.


"Latika..."


Suara itu terdengar akrab.


"Suara ini," guma Latika membuka matanya perlahan-lahan.


"Hah... A-"


Latika terkejut melihat siapa yang berdiri membelakanginya, "A-abang."


"Adek, adek tidak apa-apa?"


Afriadi menoleh melirik Latika.


"A-abang... Hiks..." Latika tak percaya kalau di depannya benar Afriadi, rasa lega, haru, takut, cemas, khawatir bercampur aduk. Bahkan dirinya sendiri tidak mengerti perasaan apa yang ia rasakan saat ini.


"Maaf abang lambat datang."


Nada suara Afriadi serius.


"Hiks..." Latika meangguk.


Damir dan Piki berdiri menahan sakit habis pukulan tadi, mereka siap-siap untuk menyerang Afriadi, pukulan Afriadi kelihatan kurang untuk mereka, kali ini kelihatan mereka akan mengeroyok Afriadi.


Afriadi mengambil Kuda-kuda, memasang kuda-kuda kuat dan kokoh.


"Kuda-kuda yang kuat," guma Damir, meambil ancang-ancang.


"Pertahanan yang kokoh. Harus hati-hati, dia lebih berbahaya dan tangguh dari lawan yang aku hadapi selama ini," guma Piki bersiap-siap.


"Siapa dia? Dia bukan orang yang bisa diremehkan."


Tampa tunggu waktu yang lama Damir langsung menyerang Afriadi tangannya cepat melayang mengarah meninju Afriadi, dengan mudah Afriadi menangkap tangan Damir, lalu Afriadi menendang bagian belakang lutut Damir, sampai ia terjatuh berlutut di depan Latika.


Latika terkejut melihat Damir yang menahan rasa sakit, tangannya sempat terpilas Afriadi.


"Agh..."


Tampa rasa kasihan lagi, Afriadi mematahkan tangan Damir. Mata Latika melotot terkejut, gemetar ketakutan, di depan Latika Afriadi melakukan itu.


Mulut Damir menutup rapat, nafasnya memburu menahan rasa sakit, samapai ia tidak bisa menahan lagi rasa sakitnya, ia berteriak sekuat mungkin.


Selang beberapa detik Piki sudah ikut turun tangan menyerang Afriadi.


Afriadi melirik menatap tajam Piki.


"Hya..."


Afriadi Lebih dahulu bergerak menangkis tangannya, tangan satunnya mengepal meninju wajahnya, bebrapa kali, bibirnya pecah.


Afriadi menangkap kedua bahu Piki.


"HYA..." Lututnya menusuk-nusuk perut Piki. Piki tidak bisa lepas dari Afriadi.


"Uhuk..." Dia batuk darah.


Perhatiannya teralihkan pada serangan dadakan dari Damir, tendangan mearah padanya cepat Afriadi membuat pertahanan pada samping kepalanya menahan temdangan Damir. Kesempatan buat Piki membalas dengan kuat meninju perut Afriadi berkali-kali. Tinjunya lumayan Afriadi darah sedikit keluar dari mulutnya.


"HYA..." Dari bawah Afriadi menerjang dagu Piki.


"Ugh..." Lagi-lagi darah keluar dari mulutnya, Piki meludah ke tangannya mengeluarkan sesuatu. Matanya membulat melihat 2 Giginya patah. Manatap Afriadi, "HEY KAU...," tunjuknya. Yang di tujuk sibuk membereskan Damir, meinjak kuat organ intim Damir.


"AAA..." Damir teriak kesakitan.


Latika terkejut melihat Afriadi melakukan itu, ia tak menyangka.


Jari telunjuk Piki gemetar, dia ikut merasakan sakitnya.


Syiiiing... Afriadi melirik tajam, membalikkan badannya menyeka darah di mulutnya.


Piki meneguk ludah begitu juga Latika.


Tes... Darah di gengaman tangan Piki jatuh ke lantai, ketika darah itu menyentuh lantai Piki mendapat tendangan Y dari Afriadi. Mulut Latika terbuka lebar, waktu seakan bergerak lambat sehingga dapat di lihat Piki melayang tubuhnya melengkung ke belakang dagunya terangkat, bola matanya terputar ke atas, mulutnya terbuka lebar, giginya melayang.


Bruukk... Piki terhempas kuat.


"Egh..." Terpatah-patah ia meangkat kepalanya melihat Afriadi berdiri di depannya.


Terpatah-patah ia meraih kaki Afriadi menarik celananya, memohon dengan mulut terkuka, "Aku mohon biarkan aku pergi."


Wajah dingin Afriadi menjawab tidak. Dia menggerakkan Kakinya sampai tangan Piki terlepas darinya.


"Aku mohon lepaskan aku, sekali ini saja. Uhuk..." Tangan Piki ingin meraih Kaki Afriadi lagi, belum sempat ia menyentuh Afriadi keburu meinjak tangannya, "AAAGH..."


Afriadi ingin meinjak lagi tangan Piki mematahkan jari-jemarinya. Perhataiannya teralihkan pada jeritan Latika, Damir mendekati Latika dengan jalan terpatah-patah.


Belum sempat dia menyentuh Latika, Afriadi sudah menerkamnya, menghantam kuat kepalanya ke dinding sampai kepalanya bocor.


"KYAAA..." Latika menjerit melihat Piki di belakang Afriadi membawa pisau ingin menusuk Afriadi dari belakang, terlambat Afriadi keburi melihatnya, menangkap tangannya yang memegang pisau.


Krak... Pergelangan tangannya di putar Afriadi sampai terlepas pisau dari tanganya. Menarik tangan itu, meninju wajah Piki berkali-kali. Piki sudah terlalu lemah, tinggal sentuham akhir saja lagi. Tangan Afriadi yang besar menangkap wajah Piki mengmbenturkan kuat ke lantai.


"KYAAA..." Latika menjerit takut.


"Ugh..."


Kapala Piki bocor, darah mengalir keluar mengalir nenetes.


Afriadi sekarang seperti tidak memiliki belas kasih lagi. Wajah serius itu, Latika saja sampai gemetar ketakutan melihat Suaminya mengila.


Untung Hasan datang tepat waktu menghentikan Afriadi. Sebelum mereka berdua di jemput Malaikat Maut.


"Astagufirullah. Afriadi hentikan!"


Hasan menahan Afriadi, dibatu temannya.


"Lepaskan aku, San. Biar aku hajar mereka." Afriadi meronta-ronta minta di lepaskan, nafasnya memburu.


"Sudah cukup, Af.


Sudah cukup. Lihat mereka sudah tak berdaya lagi," kata Hasan prihatin pada mereka berdua, babak belur di buatnya. Hasan menggeleng, "Jika mereka mati, kau bisa terjerat hukum, urusanmu dengan dengan kami bukan dengan dia lagi, atas tuduhan pembunuhan," lanjutnya lagi, "Ingat Af, ingat. Di bawa beucap, Af. Astagufirullah halazim."


"Astagufirullah..." Afriadi berucap dalam hati, dia mulai tenang. Nafasnya mulai teratur. Hasan menepuk-nepuk pelan pungungnnya menenangkannya.


Di belakang Qilan melepaskan ikatan Latika. Dia Juga ada di sana datang bersama Hasan, tadi Hasan menghububgi Qilan memberitahukan tentang Latika menghilang, kebetulan juga Qilan berada tidak jauh dari lokasi, akhirnya dia ikut juga.


"Tenang Af Latika selamat," kata Qilan melewati Afriadi mendekati Polisi lainnya.


Mereka menggeleng kepala melihat keadaan Damir dan Piki, K.O.


Takut-takut meka melirik Afriadi, menelan ludah.


"Sekarat."


"Kalau terlamabat kita datang bisa tinggal nama mereka."


"Kelihatanya mereka mau berbuat tidak-tidak pada Wanita itu, lihat saja mereka hanya memakai celana dalam."


"Pantas jadi seperti ini."


"Is is is is... Malangnya nasip kalian, Itulah salah siapa suruh untuk menganggu Istri orang." Qilan mendapat anggukan dari para Polisi.


Polisi mengurus Damir dan Piki, mereka membawa Damir dan Piki ke rumah sakit terlebih dahulu menginggat keadaan keduanya sangat parah.


Sedangkan di posisi lain.


Latika tidak bisa berkata-kata. Tubuhnya bergemetar dahsyat melihat Afriadi mendekatinya.


"Adek," panggil Afriadi, wajahnya masih kelihatan seram, Latika masih takut melihat Afriadi dan semua hal buruk yang menimpanya tadi, "Adek... Siapa yang melakukan ini kepadamu?"


Latika takut ia melangkah mundur satu langkah.


Afriadi kaget dengan reaksi Latika, "Adek-" Dia ingin mendekat, tapi Hasan menghalanginya, "Af, Jangan sekarang, Latika masih trauma."


"Minggir, San. Jangan halangi aku," kata Afriadi menjauhkan tangan Hasan dari bahunya.


"San, biarkan dia."


Qilan menarik tangan Hasan mengajaknya menjauh dari Afriadi


"Af, jangan dipaksakan.


Pelan-pelan saja," kata Hasan sebelum meninggalkan mereka berdua, memantau dari kejauhan takutnya Afriadi hilang kendali lagi maklum dalam kondisi seperti ini mustahil bagi Afriadi untuk pelan-pelan, emosinya masih tak terkendali.


"Latika, Abang tanya siapa yang melakukan ini semua kepadamu?


Abang yakin mereka itu pasti suruhan, pasti ada dalangnnya."


Afriadi memaju, Latika mundur perlahan-lahan selangkah Afriadi maju selangkah Latika mundur.


"Latika, Abang tanya siapa yang melakukan ini kepadamu? Jangan takut, ada Abang di sini. Bilang saja siapa yang melakukan semua ini kepadamu?" Afriadi berusaha lembut pada Latika, padahal jiwanya memburu ingin segera dapat jawaban.


Afriadi terus memaju, Latika mundur sampai akhirnya Latika tidak bisa mundur lagi, ia sudah berada di tembok pembatas tersandar didinding.


"Adek," panggil Afriadi.


Latika mencoba kabur dari sisi kanan, namun tangan Afriadi menahannya, Latika mencoba kabur dari arah sebaliknya namun tangan Afriadi lebih dahulu menghalang Latika, sampai Latika tidak bisa kabur lagi, ia terkunci. Wajah Afriadi mendekat.


"Adek, kenapa Adek menghindar dari Aabang?"


Latika tidak menjawab, matanya menutup rapat, kelihatan cairan bening keluar dari sisi matanya ketika ia membuka matanya cairan itu mengalir membasahi pipinya.


"Adek jangan menangis.


Abang ada di sini."


Tangan Afriadi ingin menyapu air mata Latika. Tapi, Latika membuang mukanya.


"Egh... Adek." Lagi-lagi reaksi Latika membuat Afriadi terkejut, menghela nafas berat, melepas kunciannya, "Adek, maafkan Abang. Abang tidak tahu apa saja yang terjadi dengan Adek tadi. Abang minta maaf, Abang tidak bisa menjaga Adek, Abang tidak bisa melindungi Adek, Abang membiarkan mereka menyiksa Adek, Abang membiarkan tangan kotor mereka menyentuh Adek.


Maafkan Abang, Dek."


"Hiks..." Latika menangis terisak-isak.


Afriadi salah tingkah, menggigit bibir bawahnya, matanya berkaca-kaca, emosinya bermain lagi,


"Beritahu Abang, Dek.


Siapa orang yang sudah melakukan ini semua kepadamu?" Afriadi mencengkram bahu Latika, menguncangnya pelan, "Cepat Dek, Katakan.


Katakan Dek."


Latika menatap mata itu, mata yang berkaca-kaca, mulutnya teebuka, "Ki-"


Belum sempurna kaliamat yang ia ucapkan, dia mengingat perkataan Kina tadi, dan ancaman yang Kina berikan, kalau Latika sampai membuka mulut, dan mendekati Afriadi maka aib, rahasia mereka akan terbongkar, tersebar luas.


Afriadi geram Latika tidak memotong kalimatnya, "Adek, katakan siapa yang melakukan ini kepadamu? Jangan takut, Dek.


Abang ada di sini. Katakan saja."


Latika masih menutup rapan mulutnya, hanya isakan tangisan saja.


Afriadi menekan Latika, nada suaranya sudah tak selembut di awal tadi, "Adek ini sudah yang kesekian kalinya Abang bertanya. Abang bertanya sekali lagi. Siapa yang melakukan ini semua kepadamu?"


Latika merasa tertekan, akhirnya membuka mulut. Tapi, bukan menjawab pertanyaan Afriadi, melainkan yang ia berikan perkataan yang lain.


"Menjauh," kata Latika tiba-tiba.


"Egh..." Afriadi terteguh, sontak tangannya terlepas dari bahu Latika.


"Apa?" Ia meminta Latika mengulangi ucapannya, kiranya telinganya salah dengar. Ternyata telinganya tidak salah dengar, matanya membulat sempurna mendengar replay Latika.


"Menjauh dariku."


Berat hati Latika mengucapkan kalimat itu.


"Apa maksud Adek?," tanya Afriadi tak mengerti.


"Menjauh dariku. Aku mohon jauhi diriku. Hiks... Huwaaa... Jauhi diriku. Hiks..." Latika menangis sejadi-jadinya, kedua tangannya memeluk erat tubuhnya.


"Kenapa? Kenapa, dek?" Afriadi tak mengerti, menguncang tubuh Latika minta kejelasan.


"Aku mohon jauhi diriku. Jauhi diriku... Haaaa... Hiks... Jauhi diriku... Hiks... Hiks..."


Dap...


Afriadi menangkap Latika, memeluknya erat-erat.


"Kenapa, Dek? Kenapa Abang disuruh menjauhi Adek? Kenapa Adek menyuruh Abang menjauh?"


Cairan bening mulai keluar dari sisi mata Afriadi.


Latika memberontak ketika dipeluk, berteriak minta di lepaskan, "Kyaaa... Lepaskan aku Bang! Lepaskan aku. Aku mohon. Hiks..."


Latika tidak bisa bergerak, Afriadi benar-benar memeluk erat tubuh Latika.


"Engak, Dek. Sebelum Adek jelaskan semuanya."


"LEPASKAN AKU!!!" Latika berteriak.


"Latika, tenang tenang." Afriadi membentak Latika, yang di bentak


mengila memberontak minta di lepas pelukannya.


"Kenapa Adek menyuruh Abang menjauhi Adek?


Abang sayang Adek. Sangat sayang, sayang, sayang Adek.


Abang cinta Adek."


Latika berhenti memberontak, jantungnya berdetak lebih kencang,


"S-sejak kapan Abang mencintai Adek?


Hiks..."


"Sejak saat itu, saat beberapa hari setelah kejadian itu, kejadian yang menyatukan kita berdua. Hari-hari dilewati bersama Adek, rasa ini tumbuh..."


Latika sejadi-jadinya menangis mendengar semua perkataan Afriadi, dia tidak menyangka kalau Afriadi akan mengucapkan itu di saat dia akan menjauhinya. Hatinya seperti tersayat-sayat. Ia ingin membalas perasaan Afriadi, tapi ia sudah meambil keputusan. Keputusan untuk menjauhi Afriadi, keputusan yang tidak akan ia sesali.


"Abang tidak mau menjauh dari Adek. Abang sayang adek."


"T-tapi..."


"Tapi kenapa, Dek?"


"Adek tidak mencintai Abang."


Bibirnya gemetar tidak sanggup mengucapkan.


Dengan berat hati Latika terpaksa mengatakan itu.


Perasaan Afriadi terhempas, pecah bagai kaca retak seribu mendengar ucapan Latika, emosinya tak terekendali lagi.


"Apa yang Adek ucapkan barusan?" Ia tak percaya dengan ucapan Latika.


"ADEK TIDAK MENCINTAI ABANG!!!"


Teriakan Latika sampai terdengar Hasan, Qilan, dan Polisi lainnya.


"Bohong... Adek bohong." Afriadi tak terima Latika mengatakan itu.


"Hiks.... Hiks...?. Lepaskan adek.


Adek tidak mencintai Abang. Adek tak mencintai Abang. Adek tak mencintai Abang... HA A A A... Hiks..."


Latika terpaksa mengatakan itu berkali-kali, walau hatinya berat untuk mengatakan itu, ia terpaksa. Sungguh ia benar-benar terpaksa, kalau bukan karena ancaman yang Kina berikan.


"Tidak... Tidak... Adek pasti berbohong bohong bohong bohong... Adek cinta dengan Abang..."


"Kyaaaa..." Latika berteriak. Begitu juga dengan hatinya berteriak minta maaf,


"Maaf Bang. Sungguh maafkan Adek."


"Uhuk..."


Latika semakin melemah, nafasnya sesak Afriadi terlalu kuat memeluknya.


Batinya berkata, "Maaf bang."


Latika terjatuh pingsan dalam pelukan Afriadi.


"Af." Hasan menghampiri Afriadi setelah di tahan-tahan sama Qilan dari tadi.


Di belakang Qilan dan Seorang Polisi menghampiri Afriadi.


"Adek..."


Afriadi menyadari Latika pingsan, tanganya menepuk-nepuk pelan pipi Latika. Air matanya menetes terjatuh di pipi Latika.


"Dek buka matamu, Dek."


"Af, Latika hanya pingsan. Bawa dia pulang."


"Sini biar aku yang mengendongnnya. Kau lemah, tidak akan mampu mengangkat dia."


"Tidak aku bisa sendiri."


Afriadi melirik tajam Qilan.


"Kamu mau seperti mereka," kata Polisi teman Hasan, meingatkan Qilan.


Qilan menelan ludah, mereka saja sampai seperti itu apa lagi Qilan, bisa tinggal nama saja lagi.


Afriadi mengankat Latika, membawanya keluar dari gedung itu, masuk ke mobil.


"Af, biar aku saja yang mengemudi.


Kau duduk temani Latika saja. Lagian kondisimu kurang bagus untuk menyetir."


Akhirnya Hasan mengemudi mobil Afriadi, Qilan membawa mobilnya mengikuti Hasan dari belakang, satu orang polisi membawa mobil Hasan.


Selama perjalanan mata Afriadi berkaca-kaca, ia teringat perkataan Latika tadi.


"AKU TIDAK MENCINTAI ABANG."


Batinya berseru lemah, "Adek tidak mencintaiku."


"Af, ada apa? Kau kelihatan sedih, bukanya Latika sudah bersamamu. Ia selamat dan sekarang ada di sampingmu." Hasan pura-pura tidak tahu kalau Afriadi baru saja bertengkar lagu dengan Latika, "Apa lagi yang kau pikirkan?"


"Entahlah, san. Dia kelihatan takut kepadaku, dan menjauhiku." Afriadi mengelus kepala Latika yang baring di pangkuannya.


"Em..." Hasan melihat itu dari kaca spion, "Mungkin dia masih trauma, kau lihat bukan orang tadi mau berbuat apa kepada Latika, dan kau lihat juga, Latika begitu ketakutan. Kau harus lebih hati-hati lagi, jangan seperti tadi. Mungkin Latika akan menjadi sensitif terhadap kau..."


Batin Afriadi berkata, ia menyadari kalau bukan itu alasannya, "Aku rasa bukan itu. Tapi, sesuatu yang lain."


***


Sesampainya di Rumah, Bik Ipah menangis melihat Latika berantakan, dan pipinya memerah.


Mang Juneb mengankat Latika, membawa ia masuk ke kamarnya, dan langsung dirawat oleh Bik Ipah.


Afriadi melemah tertuduk di Sofa Ruang Tamu.


Qilan menemani Afriadi.


Salah satu teman polisi yang membawa mobil Hasan juga ada di sana duduk menemani Afriadi.


Hasan memerima panggilan dari temannya di rumah sakit. Ia mengakhiri panggilannya.


Datang mendekati Afriadi,


"Af, kabar buruk. Kita tidak bisa mengetahui siapa dalang semua dalam kejadian ini."


"Apa maksudmu?" Afriadi menatap Hasan, tak mengerti. Ekspresinya sulit di tebak.


Hasan menghena nafas berat, "Orang yang kau hajar tadi ke duanya koma."


"Apa? Agh..." Afriadi meacak-acak rambutnya.


"Jalan satunya lagi hanya Latika yang tahu," kata Polisi teman Hasan, dia mendapat pelototan sempurna dari mereka bertiga.


Qilan menakut-nakuti Polisi itu, "Hey! Kau mau seperti mereka terbaring di Rumah Sakit."


Wajah Polisi itu pucat.


Tuk... Hasan mendorong pelan kepala Qilan, yang di dorong menggerutu. Afriadi menatap tajam mereka.


Kali ini Qilan yang akan jadi korban selanjutnya.


"Tapi, mustahil untuk keadaanya sekarang. Af, walau Latika tahu siapa dalangnnya, dalam keadaan yang seperti ini, kau jangan memaksanya untuk membuka mulut. Beri ia waktu beberapa hari untuk menenagkan diri. Kau paham." Hasan memberi nasehat pada Afriadi, menepuk pelan bahunya.


Afriadi meangguk.


Lanjut Hasan, "Janagan memaksannya jika kau tidak mau keadaanmu dan dia semakin memburuk. Kau paham?"


Afriadi meangguk.


"Kalau begitu kami pergi dahulu, jaga dia baik-baik." Hasan bangkit dari kursinya.


Afriadi meangguk.


"Oh... Iya, dokternya sebentar lagi datang. Aku sudah panggil dia," kata


Hasan sebelum dia dan yang lainnya pergi.


Perkataan Latika masih terbayang di pikiran Afriadi.


"AKU TIDAK MENCINTAI ABANG."


Dari tadi kalimat itu terus yang terbayang dalam pikirannya, berdengun di telinganya.


"Hah..."


Afriadi menghela napas, bersandar di pesandaran Sofa, mengusap wajahnya.


Tidak lama Mang Juneb datang menghampiri Afriadi, memberitahu kalau Latika sudah siuman.


"Tuan, Non sudah sadar."


"Egh..."


Afriadi bergegas menuju kamar Latika melihat Latika.


"Bik..." Afriadi muncul di belakang Bik Ipah, mekagetkannya. Afriadi minta Bik Ipah bergeser. Ia ingin duduk di sebelah Latika.


Bik Ipah mengangguk bergeser tempat, membiarkan Afriadi duduk di samping Latika.


Mang Juneb menarik tangan Bik Ipah, mengajaknnya keluar kamar.


Latika terduduk tersandar di tempat tidur, mengeleng kepalanya, membuka matanya perlahan-lahan.


Afriadi tersenyum melihat Latika sadar.


Latika ingin tersenyum tapi, senyum itu terhambat. Lagi-lagi Latika teringat ancaman Kina.


"Adek oke? Apa ada yang sakit?" Afriadi bertanya dengan lemah lembut.


"Menjauh dariku," kata Latika, mealihkan pandangannya.


Lagi-lagi reaksi Latika membuat Afriadi kaget. Latika menyeka air mata yang keluar. Ia menangis lagi.


"Aku mohon menjauh dariku. Sudah berpa kali aku bilang, menjauh dariku."


"Abang tidak mau. Adek sengaja bukan melakukan ini pada Abang? Pasti ada yang mengancam adek. Beritahu Abang, Dek. Siapa yang mengancam Adek?"


Afriadi memeluk Latika, nafasnya memburu, ia takut setelah ini dia akan jauh dari Latika.


"KYAAAA..." Latika menjerit.


Plak...


Tak terasa tangan Latika menampar wajah Afriadi. Ia syok, Afriadi syok, Mang Juneb ber dan Bik Ipah ikut syok mendengar tamparan yang keras.


"SUDAH BILANG BERKALI-KALI JAUHI DIRIKU! ADEK TIDAK MENCINTAI ABANG. ADEK TIDAK MENCINTAI ABANG. HARUS BERAPA KALI ADEK BILANG ADEK TIDAK MENCINTAI ABANG."


Batinya berkata, "Maaf, Bang. Semoga dengan ini Abang bisa menjauh dari Adek. Ini demi kebaikan Abang."


Latika menyembunyikan tangannya yang bergemetar hebat di balik selimut setelah menampar wajah Afriadi.


"Adek tidak mencintai Abang. Benar Adek memang tidak mencintai Abang. Hah..."


Afriadi menahan air matanya untuk keluar.


Latika menatap Afriadi, ia menggigit bibir bawahnya. Rasanya seperti ada yang menusuk-nusuk jantungnya.


"Abang sudah tahu sekarang."


Afriadi berdiri, meangguk, mundur perlahan-lahan meninggalkan kamar Latika dengan senyum kecewa.


"Hiks..."


Latika menagis sejadi-jadinya.


Batin Latika menangis, "Maaf bang.


Maafkan adek.


Mungkin ini yang terbaik untuk kita."


Bik Ipah tergesah-gesah masuk menenangkan Latika.


Afriadi masuk ke kamarnya, pikirannya sangat kacau, barang-barang yang ada di kamarnaya semuanya diacak.


"HAAAA..."


Mang Juneb masuk, menahan Afriadi.


"Tuan, beucap tuan. Astagufirullah... Beucap tuan."


Afriadi melemah, Mang Juneb melepaskannya terjatuh terduduk di lantai.


"Haha... Hahaha..."


Afriadi tertawa getir.


"Cinta ini membuat aku lemah, Mang. Hahaha... Hiks..."


Mang Juneb prihatin pada Afriadi.


Hanya tangisan saja menghiasi hari itu. Hari yang penuh tangisan.


Keputusan yang Latika ambil, mengubah segalanya.


Latika ingin meninggalkan Rumah tapi itu tidak mungkin, ia tidak akan meninggalkan Afriadi sendiri.


Mulai dari hari itu Afriadi dan Latika saling menjauh. Afriadi sudah tahu jawaban Latika pada perasaannya, dan sadar diri. Ia tidak menjadi penidam, menjauhi Latika, menjadi dingin. begitu juga Latika.


Rumah seperti tidak bernyawa.


Kasus penculikan Latika dianggap tuntas, Afriadi yang minta. Tapi Hasan masih menyelidiki kasus itu.


Ia kaget mendapat kabar kalau hubungan Latika dan Afriadi semakin hancur. Makanya ia berusaha untuk menuntaskan kasusu itu, menolong temanya.