Suamiku Guruku

Suamiku Guruku
Resiko Punya Istri Calon Dokter


Langgar beberapa hari, lepas kejadian itu Latika dan orang rumah sudah mulai mengiklankan kepergian kucing kesayangan itu.


Latika juga sudah memaafkan orang yang langgar kucing kesayangannya itu.


Saat arisan pun Latika tetap bicara dengan dia, walau si dianya agak segan untuk bicara dengan Latika bagaimana tidak segan toh dia yang langgar apalagi ibu-ibu sekitar pada tahu.


Awalnya tidak mau bicara dengan itu orang tapi untungnya Afriadi menasehatinya.


Katanya, "Tak baik membenci seseorang apalagi orang itu sudah minta maaf dengan baik massa harus dibenci, itu bukan perilaku terpuji. Sungguh Allah tidak menyukai orang seperti itu, Rasulullah tidak mengajarkan kita untuk saling membenci atau membenci seseorang..."


Dari nasehat Afriadi habis sholat Maghrib itu membuat Latika sadar, ia bersyukur mempunyai suami yang ada menasehatinya.


***


Sekarang Latika sudah memasuki setengah semester, ia cepat menangkap pelajaran mid semester ia bisa lewati dengan mudah. Toh dia belajar dan didukung dengan teman-teman dokter Afriadi, kadang Latika video call sama mereka menanyakan pelajaran tapi Latika di temani Afriadi kok biar tak terjadi salah paham.


Kadang-kadang Afriadi jadi bahan praktek Latika buat praktek suntik di rumah.


Flashback kejadian di suntik sama Latika.


Waktu itu 3 bulan lepas.


Pas Latika sehabis praktek di sekolah karena kurang memahami dia tanya sama temannya dan dapat video singkat serta gambaran titik penyuntikan.


Malamnya.


Latika tersenyum lebar di depan semua orang rumah yang ia kumpulkan di ruang keluarga.


Mereka merasakan aura yang tak enak dari Latika apalagi senyumnya itu seperti mau makan orang saja.


"Non, mau apa kumpulkan kita di sini?" tanya Samsul memberanikan dirinya.


"Tadi kami praktek menyuntik dan sekarang aku mau praktek lagi di Rumah. Siapa yang pertama mau jadi pasien?" Latika tersenyum lebar.


Tuh kan dugaan mereka benar ada tak enak.


Kalut, resah, salah tingkah mereka dengar kata suntik artinya mereka takut dengan suntikan. Mereka takut kena cium itu jarum.


"Siapa yang mau?" tanya Latika lagi.


Mereka saling lirik menyenggol satu sama lain, tolak menolak untuk jadi mangsa Latika.


Semua melirik Afriadi yang santai dari tadi toh dia tahu kalau Latika gak akan nunjuk dia jadi bahan cobaan, dia kan sayang sama Afriadi ꈍᴗꈍ


Jujur saja Afriadi juga ngeri-ngeri sedap lihat jarum suntik apalagi itu jarum nusuk dekat kulit, hiiiii... Merinding sekujur tubuh.


"Kok diam," kata Latika bingung dengan kondisi orang-orang di hadapannya.


"A A A Anu N-Non," kata Mang Juneb terputus-putus sambil menggaruk kepala, segan ia mau nolak permintaan Latika, tapi kalau dia tak nolak maka alamatnya jarum suntik menusuk kulitnya.


"Punten Non, Mamang mau kembali jaga di depan gak ada orang nanti ada maling. Maaf Mamang tak bisa bantu Non, Mamang boleh pergi Non?" kata Mang Juneb dapat anggukan dari Latika. Senyum lebar terhias di wajah Mang Juneb seraya pergi secepat kilat.


Yang lainnya lihat Mang Juneb merasa iri ingin kabur juga.


"Hilang satu masih ada banyak," ujar Latika riang.


"Punten Non, Bibik sudah tua tak kuat lihat jarum. Bibik dilepaskan saja ya Non?" kata Bik Ipah ngaku tak kuat lihat jarum suntik, sudah berapa lama ia tak lihat jarum suntik.


Tanpa pikir dua kali Latika membebaskan Bik Ipah, dia kan emang tua kasihan kalau di suntik. Tinggal beberapa orang saja lagi.


"karena Mang Juneb dan Bik Ipah sudah pergi. Sekarang siapa yang mau duluan?" tawar Latika dengan senyuman liciknya. Sari sudah takut, dia sudah lama tidak bersentuhan dengan jarum suntik terakhir ia suntik waktu SD di kampungnya.


Samsul yang melihat Sari ketakutan memberanikan dirinya untuk disuntik dahulu.


"Non, aku punya dua tangan yang satu ini punyaku dan satu ini penganti tangan Sari," kata Samsul melihatkan kedua tangannya, Latika kaget dengan tawaran Samsul apalagi Sari tambah kaget lagi ia tak sangka kalau Samsul akan mengorbankan dirinya sendiri demi Sari. Afriadi hanya melihatkan saja.


"Neng Sari lepaskan ya Non? Biarlah tangan saya jadi penggantinya." Samsul melanjutkan kalimatnya. Sari kaget Samsul mengorbankan kedua tangannya, "Jadikan praktek keduanya asal Neng Sari tidak ikut disuntik."


Dalam pikiran Afriadi sudah ada satu kalimat 'Bucin'


Samsul duduk di dekat Latika sambil menyodorkan tangannya, Latika menyambut lengan Samsul ragu ia mau menyuntik tangan Samsul.


"Em, Mas Samsul takut?" tanya Latika meambil kapas yang sudah ia tumpahkan alkohol atau obat bius sejenis itulah.


"Em, tidak juga. Sudah terbiasa lihat ini dulu." Samsul tersenyum kaku, gara-gara sudah lama tidak lihat suntikan jadi ngeri juga lihatnya sekarang.


Sari menutup matanya ketika melihat Latika sudah siap menancapkan jarum ke kulit Samsul. Afriadi memalingkan pandangannya, Samsul hanya menelan ludah memejamkan matanya.


Dan...


"AGHHHH...!!!" pekik Samsul membuat gempar satu RT.


Bik Ipah dan Mang Juneb yang berada jauh mendengar pekikan Samsul, mereka tahu apa yang terjadi. Keduanya menghela nafas menghisap dada, untung mereka sudah pergi menjauh kalau tak sama nasifnya dengan Samsul.


"Heemmmm," gumam Samsul menahan sakit di tangannya, menggigit bibir bawahnya.


Afriadi dan Sari yang melihat itu menggelitik ngeri.


"Maaf Mas Samsul saya salah tusuk," kata Latika salah tusuk. Tangannya gemetar menarik kembali jarum suntik dan menusuk kembali ke titik yang menurutnya benar.


"AGHHHH...!!!" pekik Samsul sekali lagi, tangannya gemetar menutup mulutnya menahan suaranya. Butir kecil bening keluar dari sisi mata Samsul.


"Maaf Mas, salah lagi. Sakit ya mas?" tanya Latika dengan raut wajah yang ikut tegang. Samsul membalas dengan senyuman ಥ‿ಥ


Tak mungkin ia memarahi Latika.


"Kalau gitu satu lagi," pinta Latika. Raut wajah Samsul langsung berubah, baru sadar ia kalau dia menawarkan 2 tangan dengan senyuman pasrah ia menyodorkan tangannya ke Latika ಥ‿ಥ


Sari yang tak sanggup lihat dan tak mau Samsul sakit yang ketiga kalinya, akhirnya memutuskan untuk menarik Samsul menjauh dari sana. Cepat Sari menarik tangan yang habis kena suntik, ekspresi Samsul langsung berubah menahan sakit ༎ຶ‿༎ຶ terpaksa ikut Sari.


"Urusan apa?!" teriak Latika.


"Perasaan!" Sari menjawab sembarangan, mengejutkan Latika dan Afriadi.


Samsul yang ditarik bengong rasa sakit di tangannya menghilang seketika.


Deg... Deg... Deg...


Jantung Samsul berdetak hebat, seperti musim semi bersemi di hatinya.


'Perasaan' kata ini muncul di otak Latika dan Afriadi, mereka saling pandang.


Latika bertanya lewat tatapannya, 'Maksudnya apa?'


Afriadi menjawab dengan meangkat bahu.


Suasana jadi hening. Sekejap Afriadi sadar di sana hanya tinggal dia saja lagi, yang artinya dia...


Latika tersenyum lebar pada Afriadi sambil menggoyangkan suntikan ke arahnya.


Afriadi menelan ludah, ada firasat buruk.


"Abang..." Latika mendekati Afriadi duduk di sebelahnya, memeluk lengan Afriadi, "Boleh ya Bang?" Wajahnya memelas, membujuk Afriadi.


Afriadi diam tersenyum mikir kan cara supaya bisa kabur.


"Ala Abang pasti tak mau, kalau tak mau bilang ajalah." Latika melepas pelukannya, menggembungkan pipinya, ngambek.


"Kalau Hadi ada pasti dia mau jadi bahan praktek," gumam Latika mengemasi barang-barangnya.


Afriadi tak suka Latika membandingkan dirinya dengan laki-laki lain, cepat menarik tangan Latika ketika dia melewatinya.


"KYAAAA!!!" jerit Latika terjatuh ke pangkuannya.


Tanpa aba-aba Afriadi mencuri bibir Latika, memberi ia pelajaran.


Latika yang masih ngambek mendorong Afriadi, "Apa ni Abang tiba-tiba-"


"Hussss..." Tangan Afriadi yang besar itu menempel tepat di mulut Latika menghentikan kalimatnya, "Abang tak suka Adek membandingkan Abang dengan lalu-laki lain."


Latika menatap mata sang Suami yang cemburu itu. Wajah mereka terlalu dekat sampai nafas mereka menabrak wajah satu sama lain.


"Nih tangan, suntik sesuka hati," tawar Afriadi meangkat tangan kanannya.


Latika langsung tersenyum lebar, batinnya bersorak 'berhasil'


Rencananya berjalan dengan mulus.


Sedangkan Sari dan Samsul yang duduk di taman rumah, dari tadi diam mematung menciptakan suasana canggung.


Samsul memberanikan dirinya membuka pembicaraan, dimulai dari pertanyaan, "Sari, tadi nak cakap apa?"


Sari merinding, menatap Samsul tak sangka ia masih ingat. Sari dengan batinnya berdebat bingung mau balas apa.


Sari terdiam sebentar dengan wajah yang memerah begitu juga Samsul.


Setelah sekian lama terdiam Sari mau menjawab, "A..." Mulutnya terasa kaku mau mengeluarkan kata-kata.


Samsul menunggu jawaban Sari.


"Anu... A-" kalimat Sari terpotong sama suara teriakan kesakitan dari dalam rumah.


"AGHHHH!!!"


Sari dan Samsul menoleh ke belakang melihat rumah yang besar itu.


Pikiran mereka sama, menduga itu suara Afriadi yang kena siksa sama Latika.


"Di lihat dulu dek dengan benar, itu benar atau tidak urat nadi. Jangan suntik tulang pula," gerutu Afriadi menahan sakit di tangannya.


"Adek dah lihat lah, memang macam gini."


"Tadi di sekolah macam mana?"


"Macam gini lah, tadi di sekolah Adek bisa kok sekarang tak bisa."


"Kita coba lagi," kata Latika. Afriadi membulatkan matanya, mau kabur tapi tak mungkin ia sudah serahkan tangannya sama Latika.


Afriadi menyumbat mulutnya dengan bantal sofa supaya suaranya tertahan di dalam mulut biar tak menyebar ke mana-mana.


Latika mencoba menyuntik Afriadi sampai beberapa kali cobaan dan erang Afriadi tertahan.


Langgar jam.


Afriadi berlari mengelilingi ruang keluarga dikejar sama Latika yang memegang suntikan.


Akhirnya berakhir dengan kejar-kejaran. Afriadi tak mau kena suntik lagi, kedua tangannya sudah kena suntik ╥﹏╥


Mati rasa itu tangan. Sudah resikonya itu.


Latika merasa tak puas mau menyuntik lagi, mengejar Afriadi.


Tapi sayang kejar-kejaran berlangsung tidak lama, Latika menyudahi prakteknya ketika tahu sang suami sudah kesakitan. Lengan Afriadi dapat pengobatan dari Latika.


Begitulah akhir praktek suntik Latika di rumah. Berkat pengorbanan Afriadi dan Samsul Latika sudah bisa menyuntik dengan benar.


Sayangya bukan suntikan saja tapi praktek lainnya, hampir setiap praktek di sekolah di praktekkan di rumah.