Suamiku Guruku

Suamiku Guruku
Kencan


Malam hari.


Afriadi membawa Latika makan ke luar.


"Huh, malam ini Aku bawa Adek kencan untuk pertama kalinya. Gugup juga." Afriadi meletakkan tangannya di dada, merasakan gugup yang tak berkesudahan. Ia melihat pemandangan kota di luar jendela.


Latika kelihatan lusuh, duduk di dalam mobil l. Menuju tempat diner.


Perasaannya campur aduk antara senang dan cemas memikirkan Hadi yang berubah siang tadi.


"Hah, seharusnya aku senang, kenapa aku tak semangat sekali. Huuuu.. Kenapa aku terus kepikiran Hadi. Ayolah Latika, ini pertama kalinya kau berkencan dengan Abang, jangan mengacaukannya," katanya dalam hati.


"Ada apa, Non? Gak enak badan." Samsul bertanya pada Latika.


"Engak kok." Latika menggeleng.


"Terus kenapa lusuh?" tanya Samsul lagi.


Latika tak menjawab. Batinnya meminta untuk tak mengingat Hadi, lebih fokus pada diner malam ini.


Malam ini Samsul terlihat lebih tampan, dengan pakaian jas rapi. Sari yang menyuruhnya, padahal hanya mengantarkan Latika saja. Sampai ikut di rias juga.


Tak lama di perjalanan mereka sampai di tempat tujuan. Restoran yang mereka kunjungi sepertinya tidak asing di mata Latika.


Latika masuk ke dalam restoran di sambut baik dengan seorang pelayan wanita meantarkan ke tempat Afriadi.


Degap Degup jantung Latika, memainkan jarinya.


Tak lama mereka sampai di tempat tujuan.


Pelayan itu membuka pintu ruangan, mempersilahkan Latika masuk.


Latika melangkah masuk ruangan yang tadinya gelap kini bercahaya, lampu ruangan di hupkan di sana sudah ada Afriadi dengan pakaian rapi menunggu Latika.


Baru beberapa langkah, kelopak bunga bertaburan terjatuh di ruangan itu, Latika terkagum-kagum lihat kelopak bunga mawar berjatuhan di sekitarnya.


Dengan detak jantung yang tak normal dari tadi apalagi lihat Latika berpenampilan waw membuat jantung Afriadi terserang.


Afriadi mendekati Latika, tersenyum.


Tak mengira wanita di hadapannya ini Latika Istrinya, cantiknya.


Dengan baju muslim berwarna biru selaras dengan sepatu dan jilbabnya, di tambah lagi make up-nya, sempurna.


Afriadi sekali lagi lihat Latika dari atas sampai bawah, tak menyesal dia sudah mempercayakan masalah dandan pada temannya.


Ya, Latika tadi di rias sama temannya Afriadi. Katanya Afriadi menemuinya beberapa bulan yang lalu, menempah dirinya untuk merias Latika hanya untuk makan malam dan...


Terlalu juga menempah orang, bukannya apa takut dekat hari nanti dia keburu sibuk.


Ia memberikan tangannya, Latika menerimanya. Berjalan berdampingan menuju meja.


Afriadi menarik kusi untuk tempat duduk Latika.


Mereka duduk berseberangan, Latika menatap keluar jendela melihat pemandangan.


Pemandangan kota yang waw di malam hari.


Mereka tidak bicara duduk diam saja lihat pemandangannya.


Afriadi mencoba mengajaknya bicara, tapi gugup ini terus melandanya.


"Pemandangannya indah ya," kata Afriadi basa basi. Dia di serbu sama batinnya, gara gara basa basi banget.


"Eee.." Latika sadar dari lamunannya, "Ya, indah. Cantik."


"Tapi, Adek lebih cantik lagi," gombal Afriadi.


Latika tersipu malu.


"Iya, adek lebih cantik malam ini." Tambahnya lagi.


"Apa iya?" Latika tersenyum manis.


"I~ya." Afriadi melihat Latika bersinar-sinar, tersenyum lebar terbawa suasana indah. Bayinya berkata, "Manisnya."


Sryuuuut..


Darah keluar dari hidung Afriadi.


"Eh.." Latika kaget lihat darah keluar dari hidung Afriadi, "Abang mimisan."


"Ha, apa?" Afriadi sadar.


"Abang mimisan," tunjuk Latika.


Latika mengambil tisu di meja, bangkit dari kursinya menghampiri Afriadi yang tak beraksi, tangannya bekerja mengelap darah di hidungnya.


Afriadi terus menatap Latika yang membersihkan darah di hidungnya. Tangan Afriadi memegang tangan Latika.


"Hem.." Latika sedikit kaget, matanya membulat.


"A-" Afriadi lupa apa yang mau ia bicarakan.


"Aduh, apa yang mau diucap tadi. Eeeeh, susah sekali mau bicara," katanya dalam hati. Ia lupa mau bicara apa.


Latika membuatnya salah tingkah.


Menit berlalu. Makanan yang dipesan sudah datang.


Afriadi memotong stiknya, potongan pertama ia berikan pada Latika.


Latika menerimanya. Wajahnya bersemu duduk di sebelah Afriadi. Tak jadi duduk di seberangnya, malah di samping. Afriadi yang memintanya, lebih suka dekat dari pada jauh. Padahal hanya beberapa langkah saja terasa jauh bagaikan sabang sampai maroke. Latika di sabang Afriadi di maroke.


"Bagaimana enak?" tanya Afriadi.


"He'em.."


Latika mengangguk-angguk.


Sekitar bibir Latika sedikit kotor.


Afriadi yang melihat mengambil beberapa helai tisu membersihkannya.


"Eh.." Sontak Latika kaget, wajah Latika merah bersemu melihat wajah Afriadi yang begitu dekat, jantungnya berdetak berirama.


Sayangnya hanya bertahan sebentar saja, Afriadi menjauhkan wajahnya dari Latika. Ia melanjutkan memotong daging di piringnya. Sekejap matanya teralihkan pada Latika yang kesulitan memotong daging.


"Adek bisa menggunakan-" kalimatnya di potong Latika.


"Biiiiissssaaaa."


Latika berusaha memotong daging menggunakan pisau, Ia kesulitan.


"Hem.." Afriadi melepas peralatan makannya, tangannya bergerak merangku Latika di sebelahnya, kedua tangannya memegang tangan Latika.


"Begini Dek." Afriadi membantu Latika memotong daging sambil mengajarkan. Afriadi benar menempel. Jantung Latika bermain lagi.


"Aaa.. Dek." Afriadi menggerakkan tangan Latika menyuapinya lagi. Latika menerimanya dengan senyum tipis.


Afriadi melepas tangan Latika, kembali ke posisi semula, menyuap potongan daging yang sudah tunggu dari tadi.


"Dek." Afriadi memanggil Latika.


"Em.." Latika menoleh melihat Afriadi, mulutnya penuh.


"Makan saja dulu." Afriadi tak jadi mau bicara apa, ia menunda nanti saja setelah selesai makan.


"Mau bicara apa sih? Bicara saja." Latika jadi penasaran.


Afriadi melepas peralatan makannya, meambil tisu membersihkan sedikit sisa makan di sekitar mulut Latika.


"Adek." Afriadi menatap mata Latika.


"Kenapa sih?" Latika menatap balik Afriadi.


Afriadi melarikan pandangannya dari mata Latika, jantungnya berdetak tak karuan, batinnya berseru geram,


"Bingung mau mulai dari mana?"


Latika melanjutkan makannya, ia jadi mati penasaran dengan apa yang ingin Afriadi sampaikan. Afriadi diam-diam mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna ungu dari jasnya.


"Dek." Sekali lagi Afriadi memanggil Latika.


"Ya." Latika menyahut, menoleh lihat Afriadi.


Tangannya di bawah menggenggam erat kotak kecil itu.


"Adek tahu pernikahan bukan?"


"Ya, tahu." Latika meangguk.


"Adek ingat wakitu kita menikah dulu?" tanya Afriadi lagi, membongkar kembali memori Latika.


"Hem.. Iya."


Latika murung, ingat kejadian itu.


"Masa itu, Adek tak dirias tampil dengan keadaan yang lusuh dan... Pernikahan merupakan momen yang beharga tak akan dilupakan sampai kapan pun, apalagi itu terjadi sekali atau beberapa kali dalam seumur hidup. Adek mau kan mengenakan gaun pernikahan? Bersanding dengan Abang di atas pelaminan? Seperti yang lainnya, mengadakan pesta pernikahan."


Mata Latika sedikit berkaca-kaca. Afriadi ikutan juga. Berdiri dari tempanya memutar sedikit kursi Latika, menjauhkan kursinya.


"Adek mau kan bersanding dengan Abang?


Abang sayang Adek. I LOVE YOU."


Afriadi membuka kotak cincin di hadapan Latika bertekuk lutut. Waw.. Cincin pernikahan.


"Huuup.." Latika menutup mulutnya terharu, rasanya bercampur aduk. Dari detak jantung yang tak seimbang di tambah lagi dengan kejutan ini.


Afriadi mengambil cincinnya, melihatkan dengan jelas di hadapan Latika, bertanya sekali lagi, "Mau kah?"


Latika memberikan tangannya, cepat Afriadi memasangkan cincin di jari manis Latika. Gugup rasanya jika cincin itu tak pas di tangan Latika, toh dia beli dadakan jadi ukuran tangan Latika ia pakai kira-kira saja.


"Cincinnya cantik di jari Adek." Afriadi mencium cincin di jari Latika.


Ooo... Itu pipi semakin memerah persis kayak mawar lagi mekar.


Latika meminta, setelah lihat cincin sederhana dengan ukiran nama dan garis-gasis permata indah dan pas sekali di jari Latika.


"Oh.. Iya. Ini.." Afriadi memberikan kotak berisi cincin satunya itu.


Bismillah, Latika memasangkan cincin ke tangan Afriadi dengan senyuman.


"Cincinnya indah." Latika memuji.


"Iya, kelihat cantik di jari Adek. Abang sudah rencanakan ini dari jauh-jauh hari." Afriadi berdiri duduk kembali ke kursi. Dia emang sudah merencanakan semuanya sejak lama, sejak Latika bersiap menempuh ujian semester.


"Setelah liburan kita adakan pesta pernikahan. Bagaimana? Adek akan bersanding dengan Abang. Adek... Adek juga akan merasakan jadi pengantin wanita. Adek mau kan?"


Latika meangguk mau.


"Setelah itu. Kita kita berangkat bulan madu ke xxx. Adek fokus ujian dulu.


Serahkan semua pada Abang."


Latika hanya meangguk setiap kalimat Afriadi.


Malam itu kencan berjalan dengan lancar. Mulus. Tapi, ada yang kulupaan oleh Afriadi. Ia lupa sesuatu.


***


Besoknya Latika masuk sekolah.


Ada yang berubah dengan Hadi


Ia membawa Latika ke atap sekolah, di jam istirahat pertama.


"Kenapa kau membawaku ke sini?" tanya Latika melepas paksa tangan Hadi.


Hadi menundukkan kepalanya, berbalik badan, intonasi suaranya rendah, "Latika bisakah kau jujur padaku. Aku ingin kau jujur."


"Soal apa?" Latika bertanya balik.


"Soal statusmu sekarang ini apa?" Nada suara Hadi naik.


"Em.." Latika menundukkan kepalanya, bingung mau jawab apa, "Apa kau tahu?"


"Kau sudah nikah kan?" tanya Hadi lagi, ekspresi sulit di tebak, "Kau Istri Pak Afriadi kan?"


Latika tambah kaget dari mana dia bisa tahu statusnya.


Latika gugup mau menjawab, takut Hadi tak percaya.


"Jawab Latika." Hadi membentak, minta jawaban.


"I-itu.." Latika gagap.


"Jawab Latika, kau jangan bohong. Aku ingin kau jujur Latika. Aku mohon. Aku sudah berapa kali kalian bohongi. Aku tak ingin dibohongi lagi. Aku tak mau Latika. Aku tak mau. Jujurlah. Kau istrinya Pak Afriadi kan?"


Walau Hadi sudah tahu status Latika apa. Dia masih belum percaya betul, ingin dengar sendiri dari mulut Latika meakui kalau dia istrinya Afriadi, Kepseknya sendiri.


"Dari mana kau tahu?"


"Itu tak penting aku tahu dari mana. Yang aku ingin kau jujur, beritahu aku apa benar kau istrinya Pak Afriadi?"


"A-aku.."


"Aku hanya ingin tahu kebenarannya Latika." Hadi memaksa Latika untuk buka mulut, matanya berkaca-kaca, "Beri tahu aku Latika."


Latika tertekan, akhirnya buka mulut


"Iya. Aku istrinya Pak Afriadi."


"Hah.." Otomatis Hadi melemah, perasaanya bercampur aduk antara puas dengan jawaban Latika dan sedih mendengar pengakuan Latika.


"Hadi aku bisa jelaskan."


"Haaah.. Tak ada yang perlu kau jelaskan."


Dengan lemah Hadi mejauh dari Latika. Latika hanya bisa menangis terisak-isak, Engan menghentikan Hadi. Ia akan kehilangan sosok Hadi lagi.


Tampa diketahui kalau ada yang mendengarkan pembicaraan mereka.


Waktu berjalan. 1 hari mau ujian. Latika pulang bersama Afriadi.


Tahu-tahunya sampai di depan pagar Rumah. Mereka sudah dihadang sama polisi.


Afriadi keluar langsung disambut polisi.


"Abang!" jerit Latika lihat suaminya di tangkap polisi.


"Apa-apaan ini kenapa saya ditangkap?" tanya Afriadi pada dua polisi yang berada di kanan kirinya menangkap tangannya.


Salah seorang polisi menujukkan surat izin penangkapan, sepertinya dia kaptennya dan temannya memborgol Afriadi.


"Anda ditangkap karena tuduhan pencabulan siswi SMA," kata kaptennya.


"Tidak Pak, anda salah paham dia Istri saya." Afriadi mengatakan yang sebenarnya.


"Dia suami saya," kata Latika.


Polisi lainnya saling tatap satu sama lain, sepertinya mereka tak berbohong.


"Jelaskan di kantor," kata kaptennya.


Yang di perintah


"Abang!" jerit Latika menarik lengan Afriadi, memukul dan menyubit tangan polisi yang menangkap Afriadi.


Meaduh-aduh polisi menahan sakit bekas cubitan Latika.


"Adek.. Adek." Afriadi menghentikan Latika, "Adek di sini saja, tenang saja.


Abang akan selesaikan masalah ini."


Afriadi berbalik, dibawa menjauh dari Latika.


"Pak Polisi dia Suami saya." Latika bicara sama kapten polisi itu.


"Non.. Biarkan Tuan pergi, Tuan bisa menyelesaikan masalah ini." Bik Ipah menarik Latika dari polisi itu. Membiarkan mereka pergi.


Afriadi tersenyum masuk ke dalam mobil.


"Gak Bik." Latika melepas genggaman tangan Bik Ipah, "Abang!"


Mereka pergi membawa Afriadi.


"Abang.. Hiks.. Hiks.. Abang..."


Latika berlari mengejar mobil polisi.


Dari dalam mobil Afriadi melihat Latika berlari mengejarnya, ia memalangkan tangannya untuk tidak mengejarnya nanti jatuh.


"Neb, tangkap Non Neb," perintah Bik Ipah, menepuk kuras bahu Afriadi.


Mang Juneb mengejar Latika menangkapnya.


"Aabaaaanggg!!" Latika memberontak, minta di lepaskan.


Di belakang Bik Ipah menyusul.


Mobil sudah jauh berjalan membawa Afriadi.


"Istigfar Non," kata Bik Ipah.


"Abang Bik." Latika menunjuk mobil polisi yang sudah menjauh.


"Iya Non Bibik tahu." Bik Ipah memeluk Latika, membiarkan Latika menangis dalam pelukannya.


Latika begitu syok melihat Afriadi di bawa polisi, sampai ia pingsan tak sadarkan diri.


***


Perlahan Latika membuka matanya, melihat langit-langit kamarnya. Ia sadar dari pingsan.


Pandangannya teralihkan pada sosok di sebelahnya, sosok pengantin baru, Viana di samping Latika menemaninya.


"Abang.. Abang sudah pulang?" tanya Latika teringat pada Afriadi.


"Latika.. Latika dengar kak." Viana mencoba menenangkan Latika.


"Abang di mana kak?" tanya Latika.


"Abang belum pulang Latika, Abang sibuk." Viana mencoba memengaruhi Latika.


Latika menggeleng, "Tidak.. Abang sudah pulang.. Abang sudah pulang.. Hiks.."


Latika bangkit dari baringnya berjalan menuju kamar Afriadi mencarinya.


"Abang!! Abang!!! Abang di mana? Keluarlah jangan main sembunyi-sembunyi. Hiks.. Abang!" Sambil menangis ia mencari Afriadi di sekeliling rumah.


"Latika.."


Viana mencoba menghentikan Latika.


"Abang.. Abang.." Latika tak menghiraukan panggilan Viana.


Karena geram Viana membentak Latika,


"Latika Abang belum pulanglah. Nanti dia pulang."


"Tak mungkin. Tak mungkin.." Latika terduduk di lantai ruangan kerja Afriadi, kedua tangan Latika menutup kepalanya, menggeleng tak percaya dengan kata Viana.


"Latika.." Viana memeluk Latika.


"Kak.. Hiks.. Hiks.. Abang.." Latika menangis dalam pelukan Viana.


"Iya kakak tahu. Sabar Latika, kakak pasti kan bantu." Tangan mulus itu mengusap kepala Latika.


Untuk sementara Viana menenangkan Latika dulu.


Masalah Afriadi diurus Qilan dan suaminya Nandi, Hasan tak bisa bantu ia berada di luar kota.