Suamiku Guruku

Suamiku Guruku
Hamil atau tidak


Hari semakin larut. Di saat semua orang terlelap dalam mimpinya, tapi ada juga sebahagian orang yang belum tidur termasuklah Afriadi. Malam ini ia kesulitan untuk tidur, ia memikirkan keadaannya sekarang ini, masalah yang ia hadapi ia tak menyangka kalau dia akan seperti ini menjadi seorang suami dari muridnya sendiri.


Afriadi mengehela nafas bangun duduk di tepi tempat tidur, kepalanya tertunduk kedua tangannya mengacak acak rambutnya, matanya melirik 2 bingkai foto di atas meja kecil sebelah tempat tidur, cahaya lampu tidur menerpa 2 foto itu, tangannya mengambil salah satu foto itu, mengelusnya wajah 2 orang dalam foto yang tersenyum lebar,


Afriadi sedikit tersenyum lalu senyuman itu sekejap hilang, kelihatan sedih melihat foto itu.


Ya.. Itu adalah foto kedua orang tua Afriadi yang sudah pulang kerahmatullah.


Ia meletakkan kembali foto itu ketempatnya, dan..


Ia melihat foto satunya, seorang gadis cantik jelita dengan senyuman manis.


Afriadi tersenyum lagi-lagi senyuman itu hanya bertahan sebentar saja.


"Af, mungkin inilah saatnya bagimu untuk berubah. Sekarang kau mempunyai sebuah tanggung jawab yang besar, kau harus berubah Af. Bahagialankan dia jangan terlantarkan dia, dialah Istrimu walau bukan dia yang jadi Istrimu, kau harus lupakan dia Af, ikhlaskan dia pergi. Sekarang urus Istrimu baik-baik. Kau harus berubah Af kau harus berubah Af," batin Afriadi berkata-kata, tangannya menumbangkan foto wanita itu. Ia kembali membaringkan tubuhnya ketempat tidur, mencoba untuk tidur. Tapi, Afriadi tidak bisa tidur ia masih ingat dengan permintaan Latika dan kata-kata gadis itu, semua kata-kata itu menjadi satu menghantui pikirannya.


Hah.. Afriadi menghela nafas meranjak turun dari ranjangnya berjalan kekamar mandi mengambil air wudhu.


Ternyata bukan Afriadi saja yang susah untuk tidur Latika juga susah untuk tidur. Matanya menutup tapi pikirannya masih bekerja, kata-kata Pak Imam dan jawaban Afriadi atas permintaannya tadi terus terbayang dalam ingatannya kata-kata itu seakan terdengar jelas di telingannya. Sesekali Latika membuka matanya lalu menutup kembali, membolak balikkan badannya.


***


Keesokan paginya.


Afriadi lemah keluar dari kamarnya ia kekurangan tidur gara-gara malam tadi susuah tidur.


Ia duduk sarapan bersama Latika yang sudah sarapan.


Sepertinya Latika juga sama kekurangan tidur lemah sekali. Melihat Latika lemah Afriadi melarangnya untuk sekolah hari ini, "Hari ini kau libur saja sekolah, istirahat yang banyak."


Latika hanya mengangguk mengiyakan, padahal dia ingin sekolah tapi, barangnya tidak ada dari baju sekolah sampai buku dan tasnya, jangankan itu bajunya sehari-harinya saja tidak ada.


Mau tidak mau Latika tidak sekolah hari ini, lagian dia juga baru sembuh dari sakitanya.


Setelah makan lagi-lagi Latika memegang perutnya.


"Kenapa dia memegang perutnya? Apa dia masih lapar?," batin Afriadi bertanya.


Latika meranjak dari tempat duduknya ikut Bik Ipah membersihkan meja makan tapi Bik Ipah melarangnya, ia menyuruh Latika untuk istirahat saja.


Hari ini Latika banyak tidur dari pada main ponsel mungkin karena malam tadi ia susah tidur.


Ketika ia membuka matanya sudah ada perlengkapan sekolah baru dan baju baru di atas meja sana, cepat Latika bangun mendekati barang-barang tersebut. Latika mau menyentuh, tapi ia tidak berani menyetuh.


'punya siapa ini nanti kalau disentuh tuannya marah. Tapi kenapa diletak dekat sini?' pikiran Latika bertanya-tanya, melihat sekeliling ruangan kamar, sepi tak ada siapa-siapa selain dirinya.


"Apa yang kau tunggu buka saja itu untukmu." suara Afriadi membuat Latika terperanjat, Latika menoleh melihat Tahu-tahunya dia sudah berdiri di belakangnya. "Aku tidak tahu ukuran pakaianmu, coba dulu jika ada yang tidak pas kembalikan saja."


"Sejak kapan ia masuk?" tanya Latika dalam hati, membuka barang-barang tersebut, ia mau mengenakan tapi Afriadi masih ada didekatnya, duduk membaca buku.


"Apa yang kau tunggu lagi? Cepat kenakan pas atau tidak." kata Afriadi matanya fokus pada buku ditangannya.


Latika menatap malas, Afriadi yang di tatap melirik, "Ada apa?"


"Tak peka, masa iya aku ganti baju didepan dia, genit." gerutu Latika pelan, mengambil sehelai baju lalu dicocokan kecermin.


Ternyata Afriadi dengar meletakkan buku di meja, meranjak dari duduknya, "Kalau mau ganti pakaian di sini." tunjuk Afriadi membuka lemari.


Latika menoleh melihat matanya sedikit membesar tak menyangka kalau ruangan itu lemari, Afriadi mengehidupkan lampu sehingga kelihatan jelas ruangan itu luas sekali, dipenuhi dengan pakaian dia.


Latika masuk membawa barang yang akan dicoba, Afriadi keluar kembali duduk ditempatnya tadi memainkan ponselnya.


Di dalam Latika bergaya didepan cermin besar, perhatiannya teralihkan dengan satu bungkusan yang belum ia buka, penasaran ia pun membukanya.


Ha.. Latika terkejut matanya membulat melihat isinya.


"A-apa a-apa dia yang membelikan ini. Oh tidak." guma Latika mengambil barang itu, "Tapi, seleranya bagus juga. Jangan-jangan sudah berpengalaman." ia mencobanya dan..


Pas..


"Huwaaa.. Apa dia tidak punya rasa malau beli ini, inikan pakaian dalam wanita. Aku dapat suami yang genit." hati Latika menjerit.


"Ehem, Bapak apa ini semua anda yang beli?" tanya Latika.


Terdengar kata "Ya" di kuping Latika.


"Oh, tidak" guma Latika, bertanya lagi, "Apa anda sendiri yang memilihnya?"


"Aaa.. Dia orang yang genit, habis aku. Dia pasti akan menyerangku lagi, dia tidak akan segan sedangkan saja dia tidak malu memilih ini sendiri. Woi, ini pakaian dalam wanita masa dia yang memilihnya sendiri. Apa orang itu suka nonton vidio ... Oh tidak. Kenapa nasipku begini" jerit batin Latika.


Latika salah sangka Afriadi tidak bicara dengan dia tapi ia sedang menjawab telpon dari temanya.


Latika keluar. Afriadi menfakhiri telponnya.


"Bagaimana dengan bajunya?" tanya Afriadi mengotak atik ponselnya.


Latika


"Bajunya bagus, dan pas terimakasih. Tapi.." perkataan Latika yang putus membuat Afriadi penasaran menoleh melihatnya, "Tapi apa?"


"Itu.." Latika seperti melihat aura tak menyenangkan keluar dari tubuh Afriadi, ia takut terjadi apa-apa dengan dirinya jadinya dia mengurungkan niatnya untuk bertanya, padahal jiwanya membara mau bertanya.


"Itu apa?" nada bicara Afriadi yang dingin menatapnya.


Latika mengalihkan pandangannya, menghindari tatapannya, "Bukan apa-apa."


lagi-lagi Latika memegang perutnya.


Afriadi melihatnya, sudah beberapa kali ia bertemu Latika pasti dia pegang perutnya, Afriadi curiga dengan Latika ditambah dengan pertanyaan Latika yang tak jadi ditanya membuka Afriadi tambah curiga, "Apa jangan-jangan dia.." batin Afriadi berkata, mendekati Latika selangkah demi selangkah.


Eh.. Latika takut 'jangan jangan dia akan menyerangku' pikir Latika melangkah mundur serentang dengan langkah Afriadi, dia mundur Afriadi maju selangkah demi selangkah.


Bruk.. Latika bersandar didinding ia tak bisa kabur, Afriadi memperhatikan seluruh tubuh Latika dari atas sampai bawah, kepalanya miring sedikit mencoba melihat kebelakang Latika.


"Dasar otak kotor." kata Latika dalam hati, menutup matanya ketika ia membuka matanya. Ha.. Ia terkejut matanya membulat melihat wajah Afriadi berada dihadapannya sangat dekat.


Latika mau kabur kesamping tapi ditahan Afriadi dengan tangannya, wajah Afriadi sedikit serius membuka mulutnya, "Apa.."


Ha.. Jantung Latika berdetak kencang, tiba-tiba ruangan ini terasa panas, ditambah dengan kata Afriadi yang terputus membuat Latika kesulitan bernafas dadanya terasa sesak, pikirannya sudah melayang kemana-mana, perutnya merasa mual membayangkan itu.


Huek.. Latika mual cepat mendorong memintanya memberi jalan berlari kecil menuju toilet.


Afriadi terdiam berpikir, ia tambah curiga dengan Latika jangan-jangan dugaannya benar.


Beberapa menit kemudian.


Latika keluar dari toilet, baru saja keluar ia sudah dikejutkan dengan kehadiran Afriadi yang menunggu didepan toilet.


Latika tertunduk takut tangannya memegang perutnya, Afriadi melengkah mendekat satu langkah Afriadi maju satu langkah Latika mundur, lagi-lagi Latika terpojok tak bisa kabur lagi,


"Apa kau hamil?" pertanyaan Afriadi sungguh membuat Latika terkejut matanya semakin membesar, Latika salah duga dia kira Afriadi akan macam-macam dengan dia, tapi dia tidak menyangka juga kalau Afriadi akan bertanya seperti itu, "Ternyata dia menyadarinya." seru Latika dalam hati, ia tambah takut lagi untuk mengakuinya jika ia benar hamil. Pikirannya sudah membayangkan sosok kejam Afriadi ketika mengetahui kalau ia hamil, seperti difilem-filem yang ia lihat.


"Apa kau Hamil?" Afriadi mengulangi pertanyaannya, pandangannya fokus pada perut Latika.


Latika tertunduk suaranya pelan menjawab, "Aku tidak tahu."


"Apa yang kau rasakan beberapa hari ini?" tanya Afriadi tangannya bergerak, "Boleh aku sentuh?"


Em.. Latika mengangguk, Afriadi menyentuh perut Latika, merasakan.


"Apa yang kau rasakah beberapa hari ini?" Afriadi mengulangi pertanyaannya.


"Sedikit mual saja." jawab Latika wajahnya bersemu malu ketika Afriadi menyentuh perutnya.


Afriadi mengehela nafas menjauhkan tangannya, "Jaga dirimu baik-baik."


Afriadi langsung pergi.


Latika malah melongo melihat Afriadi pergi kepalanya sedikit tumbang kekiri, 'Apa aku benar hamil' pikir Latika, sekejap ia terdiam.


Huwaaaa.. "Aku benaran hamil. Jadi ini anaknya bapak dan a-aku. Huwaaa.." jerit batin Latika teruduk, "Jaga dirimu baik-baik. Berarti dia ... Huwaaa.."


**********


Hallo semua.


Maaf jika ada kata-kata yang salah dalam penulisan.


Jika terdapat kata-kata yang salah dan tak enak dibaca atau salah tulis, tolong diberitahu ya, biar saya bisa memperbaikinya.


Sekian terimakasih.