
Igor mencengkram kerah jas yang dipakai oleh Fred. “Apa itu kau? Aku yakin itu adalah kau, Si Kaki Tangan ayahku.” Igor mendorong Fred masuk ke dalam ruangannya.
Fred malah tertawa. “Hahahaha. Kau membutuhkan bertahun-tahun untuk mengenalku.”
“Aku akan membunuhmu, Bajingan.” Igor mengeluarkan pisau lipat dari dalam sakunya. Bersiap untuk menikam Fred.
Sebelum pisau itu mendarat, ketiga satpam lebih dulu menghalanginya. Mereka bertiga tak tahu apa yang terjadi, dan tak tahu apa yang mereka bicarakan.
Tugas satpam adalah menjaga keamanan pada dokter, pasien, atau pengunjung yang ada dalam rumah sakit.
“Hentikan itu, Pak! Ketiga satpam itu berhasil menarik tubuh Igor menjauh dari Fred.
“Dia seorang pembunuh. Apa yang kalian lakukan? Lepaskan aku!”
Fred menggunakan kesempatan itu untuk berlari.
“Tangkap dia!” ucap Fred. Dia membawa beberapa barang dari mejanya lalu pergi dari ruangannya.
“Sial!” umpat Igor. Terpaksa dia harus melumpuhkan ketiga satpam itu.
Setelah tangannya terlepas, Igor mengambil pentungan yang ada di ikat pinggang salah satu satpam, lalu dia menghabisi semua satpam itu dengan mudah.
Igor segera berlari mengejar Fred yang pastinya belum jauh dari dalam rumah sakit itu.
“BERHENTI!!!” Igor melihat Fred yang akan masuk ke dalam lift.
Tapi naas baginya, Fred sudah memasuki lift dan pintu kembali tertutup. Melihat dari nomor, lift itu akan menuju ke lantai 4, tepat di bawah atap gedung yang dimiliki rumah sakit.
Igor segera berlari menuju tangga dan menaiki setiap tangganya hingga lantai 4. Ketiga satpam yang sudah dihabisinya, kini mengejarnya kembali.
Sesampainya di lantai 4, Igor melihat Fred yang akan menaiki tangga terakhir menuju lantai gedung paling atas. Balkon rumah sakit itu sendiri.
Mereka berdua saling mengejar dan berlari melewati tangga dan atap gedung.
“Mati kau, Bajingan!”
Dengan seluruh tekadnya, Igor dapat menangkap Fred. Dia berlari dan melompat, lalu menabrak Fred, membuat mereka terjatuh.
Igor bangkit dan mencekik leher Fred. “Kenapa? Kenapa kau lakukan ini padaku?”
Fred kembali tertawa dan menghiraukan Igor. Dia balik meludahi Igor saat itu.
“Baiklah, jika itu yang kau mau. Aku akan membuatmu menyesal telah melakukan ini padaku.” Igor mengangkat tangan kanan yang membawa pisau, dan akan menancapkan pisau itu ke mata Fred.
DOR!!!!
Suara tembakan terdengar nyaring di atap rumah sakit itu. Eva, Mike, Han, dan seluruh Detektif dan opsir telah sampai di atap itu. Begitupun dengan ketiga satpam yang mengejar Igor.
Jika mereka tak datang tepat waktu, mungkin Igor benar-benar akan mencungkil mata Fred saat itu juga.
“Letakkan itu, Sayang! Kau tak boleh membunuhnya. Membunuhnya hanya akan membuatmu mendekam di penjara. Serahkan dia pada kami. Biarkan kami yang mengurusnya.”
Mulai Igor mulai berkaca-kaca. Dia berteriak sekencang-kencangnya, membuat keadaan semakin dramatis.
Sekitar 20 opsir dan Detektif telah berdiri bersiaga di belakang Eva dengan pistol di setiap tangannya. Mereka semua mengarahkan pistol itu kepada Igor yang sedang mencekik Fred.
“Kemarilah, Sayang! Letakkan pisau itu!” Eva kini berada di sisi kiri Igor dengan jarak sepuluh langkah darinya.
Igor menurunkan pisau itu perlahan. Dia berdiri dan menangis, mendekati Eva.
“Aku akan mengirim mu untuk bertemu dengan ayahmu.” Fred beranjak berdiri dan akan menikam Igor dari belakang.
“AWAS!!!!” seru Eva
DOR DOR DOR DOR DOR
Semua Detektif menghujani peluru secara bersamaan pada Fred. Tubuh Fred ambruk dengan setiap peluru yang ada di badannya.
Semua Tim Eva dan seluruh Detektif langsung mengamankan Igor dan membawa jasad Fred.
***
Keesokan harinya, semua media menyampaikan berita yang menggemparkan itu.
Seorang anak pembunuh bayaran yang menjadi suami seorang detektif di kepolisian pusat.
Dan pihak kepolisian juga telah menutup kasus itu, karena Fred sebagai kaki tangan telah meninggal. Hal itu membuat masyarakat merasa lebih aman dengan kinerja para polisi.
Sementara itu, Oliv juga sudah memutuskan untuk menyerahkan diri langsung kepada Eva. Dia mengakui seluruh perbuatannya atas pembunuhan pada petani desa.
Eva membantu Oliv untuk mencarikan seorang pengacara, agar dapat membantunya di persidangan dan meringankan hukumannya.
Seorang pengacara yang hebat dapat membantunya, karena hal semacam itu bisa dianggap pembelaan untuk Oliv yang akan dilecehkan pada saat itu.
Dan juga Igor. Dia kini dapat menggunakan identitasnya kembali menjadi Arthur.
Atas usahanya selama ini dibantu dengan Eva, dia dapat membersihkan nama Arthur dengan itu.
Eva menepati janjinya. Dia mengajukan surat pengunduran diri dari kepolisian setelah semua urusannya berakhir.
Hari itu juga, Eva membereskan semua barang-barangnya, dan melakukan perpisahan dengan semua rekan-rekannya.
Sepasang pasutri itu akhirnya memutuskan untuk berpindah ke pinggir kota, di sebuah pedesaan dan hidup dengan tenang disana, dan membesarkan anak mereka di pedesaan dengan udara yang masih segar dan jauh dari hiruk pikuk masalah yang terjadi di perkotaan.
Dan itulah kisah akhir lika-liku sepasang pasutri. Tak ada lagi hal yang ditutupi atau menjadi rahasia satu sama lain. Mereka menjadi lebih terbuka dan hidup bahagia bersama.
TAMAT