
Pukul sepuluh malam tiba. Terlihat Igor yang sedang berada di rumahnya dan mempersiapkan uang muka dan memberikannya kepada Jack.
Satu tas ransel berukuran sedang telah berisi beberapa lembar uang dollar yang memenuhi tas itu. Igor meletakkan tas itu di atas meja beserta ponsel prabayar yang akan dikembalikan pada Jack.
Sebelum memasukkan ponsel prabayar, ada panggilan masuk dari nomor tak dikenal.
Betapa terkejutnya saat Igor melihat nomor itu. Dia mengingat persis bahwa itu nomor Eva. Eva tak menggunakan ponsel pribadinya untuk menelpon ponsel prabayar itu.
Igor kembali memasang headset dan alat pengubah suara dengan efek, lalu mengangkatnya.
“Ya, halo?”
“Ada yang ingin kutanyakan padamu, Pak Arthur,” ucap Eva dari telepon. “Apa kau masih mengingat istri Fredrik? Dia pernah memberikanku tas milikmu.
Aku juga pernah mendengarkan walkman milikmu bersama suamiku saat aku menyelidiki tentangmu. Bisakah kau memberitahuku suara siapakah itu?”
Igor mematung. Dia berpikir, kenapa Eva tiba-tiba kembali penasaran dengan hal itu.
“Jika kau tak ingin menjawabnya, kau tak….”
“Ibuku. Itu suara ibuku,” jawab Igor.
“Apa?” tanya Eva terkejut.
“Saat aku masih SMP, tepat sebelum ibuku menghilang, dia memberikan walkman itu padaku agar aku mengingatnya. Saat itu juga, Ayahku, Alex, melaporkan ibuku menghilang dan polisi menyita barang-barangnya. Kukira, mereka akan mengambil itu juga jika aku mengatakan sesuatu.”
Eva tak menyangka Igor akan berkata jujur tentang walkman itu.
“Kau pasti sangat menyayangi ibumu, Pak Arthur.”
“Seorang psikiater mendiagnosis ku sebagai pria yang tidak punya empati dan tak mempunyai kemampuan untuk merasakan emosi. Aku memang tidak mampu merasakan emosi seperti itu, tapi tidak dengan sekarang.”
“Lalu, mengapa kau begitu lama menahannya?”
“Entahlah, aku tak tahu. Tak pernah sekalipun ada orang yang memberitahu mengapa aku bertindak seperti itu, jadi, aku tak bisa menjelaskannya padamu. Aku hanya tak ingin berbohong kepadamu.”
“Tolong jaga dirimu hari ini, Pak Arthur. Aku harap kau baik-baik saja.” Suara Eva terdengar cemas, membuat Igor tak mengerti.
“Apa maksudmu?”
“Sudah dulu. Aku akan menutup teleponnya.”
Igor terdiam. Dia tak mengerti maksud ucapan Eva. Headset, pengubah suara itu kembali dilepasnya.
Waktu menunjukkan pukul sepuluh lebih lima menit. Tepat 5 menit mereka mengobrol.
Seketika Igor kembali teringat pada perkataan Eva di taman, bahwa dia akan menghubunginya tepat pukul 10 malam. Dia melihat jam dan memastikan lagi bahwa itu sangat bertepatan.
“Apa ini? Mungkinkah dia tahu?” gumamnya dalam hati. “Ah, sudahlah. Mungkin saja memang bertepatan.”
Igor melupakan semua pikiran itu dan bergegas untuk pergi menemui Jack.
***
Di kantor polisi. Eva dan timnya serta beberapa opsir telah berkumpul dalam satu ruangan. Bersiap untuk menggerebek tempat penyekapan para sandera.
Tak hanya tim Eva. Kepala Polisi telah menyuruh tim lain untuk membantu Tim Eva menggerebek tempat itu.
Mereka semua bersiap dengan persenjataan yang lengkap. Mulai dari senjata api sampai peluru karet dan tongkat besi telah dipersiapkan.
Semua detektif membawa pistol Tokarev di setiap ikat pinggangnya. Ditambah dengan beberapa senjata api lainnya seperti M4 dan M16 untuk beberapa penembak yang handal.
Beberapa opsir junior hanya menggunakan pistol biasa dan tongkat besi di tangannya, dan pastinya mereka semua menggunakan rompi anti peluru, untuk mengantisipasi, jika pihak lawan memiliki senjata.
Masing-masing dari kepala Tim berdiri di depan dan memimpin semua bawahan serta semua opsir yang membantu saat itu.
Saat semua orang sedang fokus mendengarkan, Han membuka pintu dengan sewot. Pandangannya langsung tertuju pada Eva.
Han berjalan melewati beberapa tim lain yang ada di ruangan itu dan tepat berdiri di depan Eva. Hal itu membuat semua orang terdiam, begitupun dengan Dean yang sedang menjelaskan.
“Keluar kau!” perintah Han.
“Apa maksudmu, Inspektur?”
“Keluar sekarang juga!” Han mencengkram tangan Eva dengan erat menatapnya serius. Sepertinya dia sangat marah saat itu. “Kau tak pantas berada di tempat ini.” Han menyeret Eva keluar dari ruangan.
“Inspektur Han!” seru Mike.
“Hei, apa yang kau lakukan?” Dean juga tak tahu apa yang terjadi.
“Ada apa? Apa-apaan ini?” Eva masih berusaha melepaskan tangannya dari Han, tapi tenaga Han terlalu kuat.
Han hanya diam dan menyeret Eva keluar ruangan.
“Lepaskan aku, Inspektur! Ada apa denganmu?”
“INSPEKTUR HAN!” bentak Kepala Tim. “Lepaskan dia! Apa-apaan kau ini?” Dean meninggalkan timnya di dalam ruangan disusul dengan Mike yang keluar untuk melihat kejadian itu.
Han tak memperdulikan semua itu dan tetap menatap Eva dengan tajam di luar ruangan.
“Kau sudah tahu, bukan?” tanya Han.
“Tahu apa?” Eva tak mengerti.
“Semuanya. Kau sudah tahu semuanya, bukan? Bagaimana kau bisa melakukan itu?”
Eva menunduk. Dia menyadari bahwa Han sedang membicarakan suaminya yang ternyata adalah Arthur, dan Eva menyembunyikan semua itu dari timnya.
“Kenapa kau melakukan itu Eva? Astaga, kau sudah tahu semuanya, tapi kau membohongi kami. Kau memanipulasi aku dan bahkan semua tim mu, hanya untuk bertindak sesuai dengan keinginanmu,” bisik Han.
Sengaja Han membisikkan itu karena dia tak ingin semua orang di kepolisian mengetahui berita itu.
Tangan Eva mulai bergetar. Dia sangat panik, karena Han sudah mengetahui bahwa suaminya adalah Arthur, anak seorang pembunuh berantai yang mengganti identitas dirinya. Entah darimana Han mengetahui hal itu.
“Inspektur Han, lepaskan dia! Apa kau gila? Apa yang kau lakukan? Kau tak lihat tim lain sedang bersama kita?” Dean yang berdiri di depan pintu langsung menutup pintu ruangan, agar tim lain tak dapat melihatnya.
“LEPASKAN TANGANNYA!!”Dean kesal. Dia dan Mike melangkah untuk memisahkan itu.
“Kau tak apa, Senior?” tanya Mike pada Eva yang masih syok.
“Apa-apaan kau? Kenapa kau melakukan ini?” Dean menarik lengan dan kerah baju Han menatap tajam. Han tak menghiraukan itu. Matanya hanya tertuju pada Eva.
“Ini semua salahku, Kepala Tim. Dia tidak bersalah,” ucap Eva menunduk.
*PLAK!! “Singkirkan tanganmu.” Han menepis tangan Dean dari kerahnya.
“Kau, ikuti aku ke atap gedung.” Han melangkah pergi.
“Ada apa Eva?” tanya Dean.
“Mungkin hanya sedikit kesalahpahaman. Aku akan berbicara padanya dulu, permisi.” Eva melangkah pergi mengikuti Han.
Atap gedung polisi itu tepat berada di atas lantai lima. Dari atap itu, semua orang yang beraktivitas di dekat kantor kepolisian dapat dilihat.
Beberapa kendaraan bermotor dan bermobil yang melintas, pejalan kaki yang berada di dekat taman, berlalu lalang seperti biasanya.
Han berdiri di pinggir atap, tepat di belakang pembatas, menunggu kedatangan Eva.