
Tatapan mata Igor telah berubah. Kini dia bukanlah, Igor. Dia kembali menjadi Arthur, anak seorang pembunuh berantai berdarah dingin yang akan menyiksa mangsanya.
“Mati kau, Anak ******!” BAK BUK BAK BUk!
Igor menendang kepala Jack berulang kali. Dia membuat kepala Jack seperti bola yang bisa ditendang sesuka hatinya. Tak ada yang bisa menghentikan Igor..
Telinga kiri Jack yang sudah cacat. Igor menginjak-nginjak telinga itu berulang kali. Semakin banyak darah yang dikeluarkan dari telinga kiri Jack.
Darah seorang pembunuh berantai berdarah dingin benar-benar mengalir ke tubuh Jack malam itu. Igor dikuasai amarah yang membara, saat melihat orang yang disayanginya disakiti.
Masih belum puas menyiksa Jack, Igor merentangkan tubuh Jack, duduk di atas perut buncitnya, lalu memukul wajah Jack yang sudah tak karuan.
Igor mengambil hiasan patung budha kecil yang terbentuk dari batu.
“Aku akan membuat tanganmu cacat karena berani menyentuhnya.”
Igor berjongkok, menahan tangan kanan Jack dengan lutut dan,
BUK BUK BUK!
“ARGGGGGG!!!!”
Jack mengerang kesakitan. Igor memukuli jari tangannya berulang kali menggunakan hiasan patung budha dari batu.
“Hentikan!” Eva telah menyadari Igor sudah tak terkendali lagi. Dia langsung bangkit dan memisahkan Igor, sebelum Igor benar-benar membunuhnya. “Kubilang hentikan!”
Dengan sekuat tenaga, Eva menarik jaket Igor.
Igor terpental ke belakang, tapi mata dan nafasnya masih menggebu-gebu melihat Jack yang sudah tepar.
Eva duduk dan memegang pipi Igor. “Kau tak punya waktu lagi untuk melakukan ini. Aku dan semua timku sudah berhasil menyelamatkan para sandera, dan sebentar lagi, polisi akan datang kemari.”
“Bangun! Cepatlah, bangun!” Eva menarik tangan Igor dan membantunya berdiri.
Keadaan membuatnya tak bisa menyembunyikan fakta lagi, bahwa dia sudah mengetahui identitas asli suaminya itu.
“Dengarkan aku! Kau tak boleh pulang malam ini. Inspektur Han telah menemukan bukti bahwa kau adalah Arthur. Dia akan segera menangkapmu esok hari.”
Mata Igor terbelalak lebar, menelan ludah. Sangat syok saat mendengar itu dari Eva.
Dia baru menyadari dan dapat memastikan bahwa Eva sudah tahu tentang identitasnya, tapi, Eva tak pernah mengatakan apapun tentang itu padanya.
“Larilah sejauh yang kau bisa. Cepat pergi!!!” bentak Eva melihat Igor yang masih mematung dan menatapnya. “Apa kau masih tak mengerti?”
“Pergilah! Pergi sejauh mungkin!” Mata Eva mulai berkaca-kaca dan memukul dada Igor, agar dia segera pergi dari ruko itu.
“Pergilah ke suatu tempat yang tak bisa kutemukan, dan jangan pernah muncul lagi di depanku.” Air mata Eva menetes, membasahi lesung pipinya.
“Kenapa kau masih disini?” Eva mendorong tubuh Igor, mencengkram kerah jaketnya. “Aku tahu kau pandai kabur dan bersembunyi. Kau bahkan bisa bersembunyi selama sepuluh tahun.
Apa kau bodoh? Apa kau ingin membusuk di penjara atas kejahatan yang tak pernah kau lakukan sama sekali? Kau bahkan rela menjadi tersangka hanya karena menggantikan kakakmu.”
Eva bahkan tahu, walau Oliv belum mengatakannya dengan jelas. Dia dapat menebak bahwa suaminya tak membunuh petani malang itu, tapi Oliv lah yang melakukannya.
Hanya sekali mendengar dari telepon Oliv tempo hari, dengan mudah Eva dapat menyimpulkan hal itu.
Keadaan semakin dramatis. Kisah cinta mereka seperti di film atau sinetron eropa lainnya.
“Pergilah! KUBILANG, PERGI! PERGI!!!!” Eva sudah muak karena Igor hanya mematung. Dia mendorong Igor hingga keluar dari ruko itu.
Akhirnya, Igor pun pergi. Membalikkan badan dan berjalan dengan menyangga dinding.
Dadanya kembali sesak. Penyakit sesak nafas itu sudah dimilikinya sejak kecil. Dia akan langsung sesak nafas, saat melihat dan mengalami kejadian yang menyakitkan baginya.
Igor terus berjalan menuju ke mobilnya dan meninggalkan kompleks.
Sementara Eva, terduduk di sofa dan menangis terisak-isak karena hal itu. Tangisannya semakin kencang. Dia sudah tak kuat lagi menjalani kehidupan dan hubungannya yang rumit itu.
Dia hanya menangis dan membiarkan Jack yang sepertinya hampir sekarat.
Tak lama setelah itu, Roy berteriak-teriak, berlari mendekati ruko.
“Arthur!!!”
DEG!! Jantungnya berdetak kencang saat melihat Eva yang sudah ada di dalam ruangan itu.
Sepertinya, Roy dapat mengelabui Si Gempal entah bagaimana caranya. Wajahnya sedikit babak belur. Pelipisnya sedikit bengkak dan pipinya yang lebam. Mungkin saja Si Gempal sempat menghajar Roy beberapa kali.
Roy celingukkan. Matanya melihat sekeliling. “Aku.. Aku hanya sedang mencari informasi dan mengumpulkan untuk artikelku.” Sempat-sempatnya bagi Roy masih memberi alasan yang sama sekali tidak logis.
“Pergilah! Kau tak akan menemukan Arthur disini. Dia mungkin sudah pergi jauh dari sini,” ucap Eva mengusap air matanya.
“Apa…. itu….” Roy gagap. Dia juga baru menyadari bahwa Eva sudah tahu semua tentang Igor.
“Pergilah, sebelum aku memasukkan namamu ke dalam daftar saksi!” tegas Eva.
“Apa? Ya, aku akan pergi. Permisi, Detektif.” Roy menunduk. Berbalik badan, lalu segera pergi dari ruko itu.
Entah bagaimana Roy akan kembali. Hari sudah mulai petang. Dia berangkat bersama Igor, tapi Igor telah pergi dahulu.