SUAMIKU BUKAN PEMBUNUH

SUAMIKU BUKAN PEMBUNUH
EPISODE 047


“Apa maksudmu, Sayang?”


“Dari tadi aku terus memikirkan hal itu. Sebelum Arthur tahu, bahwa ayahnya adalah seorang pembunuh, dia terus membuat alibi untuk ayahnya sendiri.


Pastinya, di mobil itu ada orang lain yang menggunakan mobil Alex untuk menculik para korban.”


“Hmm. Begitukah?” Igor fokus menyetir.


“Dia pasti menyerahkan kunci mobil itu secara langsung kepada kaki tangannya. Itulah kesimpulan dari timku selama penyelidikan berlangsung.”


“Baiklah, lantas? Teruskan ceritamu, Sayang, agar aku dapat memahaminya.”


“Menurut pernyataan dari tulisan tangan Arthur yang ditulisnya saat itu, Alex pergi ke beberapa tempat dimana dia bisa bertemu banyak orang.


Saat pembunuhan berlangsung, Alex dan Arthur selalu bersama sejak pag hingga petang. Mereka berdua mendatangi berbagai tempat seperti pemeran seni, bar, taman kota, dan menonton sebuah film.


Dan mereka kembali ke rumah setelah kaki tangan Alex melakukan pembunuhan terakhir.”


Igor hanya diam sembari mengingat kejadian itu yang memang dilakukannya bersama ayahnya dulu.


“Bisa saja Alex telah membuat kontak dengan kaki tanganya di beberapa tempat yang sudah didatanginya hari itu. Bagaimana menurutmu, Sayang? Apa mungkin jika Arthur juga melihat kaki tangan itu?”


Igor tetap diam dan malah melamun memikirkan itu


“SAYANG!!! AWAS!” Eva mencengkram tangan Igor.


*CIITT!!!! Rem mobil berdecit kencang. Hampir saja mobil Igor akan menabrak pejalan kaki yang sedang melintas di zebra cros. Igor melamun tak sadar bahwa dia sedang melewati lampu lalu lintas yang menyala merah.


“Astaga, maafkan aku, Sayang. Apa kau baik-baik saja?” 


‘Ya, aku baik.” Kepala Eva hampir terjedot dengan dasbor mobil karena Igor menginjak rem secara mendadak.


“Omong-omong, dimana cincin mu?” Igor melihat jari manis Eva yang tak mengenakan cincin pernikahannya.


“Ah, aku melepaskannya di kantor. Saat itu aku sedang pergi ke toilet dan langsung memindahkan beberapa barang untuk pindah ke ruangan kerjaku yang baru, hingga aku lupa untuk memakainya kembali,” jawab Eva.


“Tumben sekali? Kau bilang sangat aneh rasanya jika kau melepas cincin itu. Kau juga merasa tak nyaman, seperti ada yang kurang darimu saat kau tak memakai cincin itu.”


“Ya, kau benar, tapi aku cepat terbiasa begitu aku melepaskan, ditambah aku juga sibuk dengan pekerjaanku, pastinya aku sudah lupa.”


Igor merasa ada yang aneh dari istrinya itu. Dia hanya tersenyum dan menjalankan mobil saat lampu hijau menyala.


“Kau tak lupa untuk makan malam hari ini, bukan?”


“Makan malam?” tanya Eva.


“Bukankah kemarin kita sudah sepakat untuk mengadakan pesta kecil-kecilan bersama Boy, memperingati tahun kelima kita tinggal di rumah itu. Boy pasti sangat senang, jadi, jangan sampai kau terlambat nanti malam.”


“Baiklah.’ Eva memalingkan wajahnya. Dia baru ingat bahwa dialah yang mempunyai ide itu kemarin.


***


“Mama, cepatlah naik!!” Boy memanggil Eva dari atap balkon melambaikan tangannya. 


Eva yang saat itu baru pulang dari kantor hanya tersenyum dan melambaikan tangannya balik pada Boy.


Dia bergegas menaiki tangga menuju balkon atap.


Balkon atap itu sudah dihiasi dengan berbagai macam. Tali pita berwarna-warni yang dikaitkan ke tiang, dengan setiap lapu kelap-kelip di pita itu.


Beberapa dagin babi dan sapi yang berkualitas premium siap untuk di panggang dan di santap bersama.


Boy berseru kesenangan saat melihat ayahnya yang memanggang beberapa potongan daging itu dengan sedikit atraksi.


Beberapa bir dengan kadar alkohol yang rendah tak lupa disiapkan juga untuk Igor dan Eva, sedangkan susu untuk Boy yang tak mungkin meminum alkohol.


Eva hanya duduk dengan wajah merengut, tampak tak suka dengan acara itu, tapi, dia harus tetap menunjukkan wajah yang ceria di depan anaknya.


“Lihatlah, Boy. Makan malammu sudah siap.” Igor membawa beberapa potongan daging babi dan daging sapi yang telah matang ke atas meja.


“Selamat menikmati, Sayang.” Igor memberi piring yang penuh dengan daging pada Eva.


“Wah, ini terlihat sangat enak.” Boy sedari tadi berseru tak sabar menunggu makanan itu dihidangkan.


“Benarkah?” tanya Igor. “Ini untukmu, Nak.” Igor duduk di sebelah Boy berhadapan dengan Eva.


“Ini daging sapi kesukaanmu.” Igor memotongkan beberapa potongan yang lebih kecil dan memberikannya pada Boy.


“Ada apa denganmu, Sayang? Sepertinya kau sudah tidak senang lagi dengan acara ini, padahal, kau dulu lebih bersemangat saat acara seperti ini.”


“Tidak, siapa bilang? Aku sangat senang malam ini.” Eva menyeringai lebar.


“Bahkan aku sangat senang, tapi, aku tiba-tiba tersadar betapa banyak tugas yang harus kulakukan, membuatku sedikit kesal.”


“Bagaimana kau bisa menyebut itu tugas, jika itu hal yang memang kau sukai?” sahut Igor. Dia kembali memotong daging untuk Boy yang terus memakan daging dengan lahap. Sesekali Boy tersenyum, bercanda dan tertawa dengan ayahnya.


“Pasti tak mudah menunjukkan apa yang ingin kulihat.” 


Lengang sejenak. Igor mencerna apa maksud perkataan Eva.


“Maksudku, aku berterimakasih untuk semua ini. Kau telah menyiapkan semua ini sendirian.”


“Astaga. Kau tak perlu beterimakasih.”


“Papa, dagingku habis. Aku mau lagi.”


“Wah, lihatlah. Kau makan dengan lahap. Papa yakin kau akan tumbuh dengan baik, Nak.” Igor mengelus rambut Boy dan memotongkan beberapa daging untuk anaknya.


“Apakah dia benar-benar mencintaiku? Apa dia hanya menggunakanku untuk pelariannya? Apa benar dia masih Arthur yang dulu, sama sekali tak bisa merasakan apapun dalam hatinya?” gumam Eva dalam hati.


Hatinya masih sangat sakit jika dia kembali mengingat itu, ditambah Igor telah membohonginya selama bertahun-tahun, bahkan sebelum pernikahan mereka.


Eva mulai menyantap daging yang ada dan berusaha melupakan itu semuanya.


Keluarga kecil itu terlihat sangat harmonis di malam itu. Bercanda, dan tertawa satu sama lain.


Satu jam berlalu. Tepat pukul 9 malam, semua makanan telah habis tak tersisa sedikitpun begitupun dengan beberapa kaleng bir dan minuman susu milik Boy.


Igor menyuruh anaknya agar segera tidur karena esok hari Boy harus bersekolah, sembari dia merapikan kembali atap balkon dan mengobrol dengan istrinya.


Bertepatan dengan itu, Eva telah mendapatkan rekaman suara kaki tangan yang telah dianalisa dari kenalannya. Dia membuka Email dan mengatakan itu pada Igot.


“Nah ini dia. Rekaman suara yang diminta oleh Wartawan Roy. Kenalanku baru saja mengirimkannya melalui Email.”


“Benarkah?” seru Igor. Dia kembali duduk meletakkan barang-barang sudah dirapikan di dalam kardus. “Apa dia tahu, suara apa di balik itu?”


“Tidak. Dia bilang, dia tak mungkin tahu persis suara apa itu. Akan tetapi, begitu dia menghapus beberapa statis, dia mendengar ada suara pria lain di tempat dia berada.”