
Eva ternyata belum tidur di dalam kamarnya. Dia membuka laptop dan ponsel, melihat keberadaan suaminya-dari jam tangan yang sudah dipasangi GPS.
Kenapa dia pergi ke rumah Roy tengah malam begini? Apa yang sedang mereka rencanakan? Semua pertanyaan itu terlintas di dalam benaknya.
Satu jam lebih Eva memperhatikan lokasi dari ponselnya, hanya untuk mengawasi kemana Igor pergi.
Tak lama kemudian, Eva langsung bergegas mematikan laptop dan ponselnya, saat mendengar suara knalpot mobil BMW yang gahar, terparkir di garasi mobilnya.
Dia menyibakkan selimut dan menutup dirinya dengan selimut sebelum suaminya datang ke kamar.
*KLEK! Igor menutup suara pintu kamarnya dan duduk di ranjang kasur.
“Darimana kau?” Eva berpura-pura terbangun karena mendengar itu. Dia memoletkan badannya, lalu mengubah posisi tidurnya.
“Wah, maafkan aku, Sayang. Rupanya kau terbangun karenaku.” Igor menatap Eva yang tidur membelakanginya. “Aku tidak bisa tidur, jadi, aku pergi ke bengkel untuk menyelesaikan pekerjaan ringanku.”
“Dasar, Pembohong!” Suasana lengang sejenak. Igor tak menyangka bahwa Eva tahu dia sedang berbohong. “Aku mencium wangi penyegar udara mobil dari badanmu,” lanjut Eva ketus.
“Kenapa kau marah, Sayang?”
Eva mengangkat kepalanya dan menggelang. “Marah? Tidak. Aku tidak marah sama sekali.”
“Hmmm. Baiklah, kupikir kau marah padaku.” Igor merebahkan dirinya ke kasur, memakai sepasang selimut yang mereka gunakan. Memeluk Eva dari belakang.
“Aku hanya mengambil barang dari mobil. Aku mendapatkan bahan kiriman kemarin dan belum sempat aku pidahkan.”
“Teruslah berbohong padaku, Arthur! Puaskah kau membohongiku selama ini?” gumam Eva dalam hati.
Eva menahan rasa sakitnya sendirian. Dia ingin menangis sekencang-kencangnya, tapi dia harus tetap menahan itu. Dia harus tetap kuat untuk mencari tahu-apa yang sebenarnya terjadi.
“Sayang, kenapa kau tidur membelakangiku? Apa kau tak ingin melihatku?”
Eva menyeringai kecil dan berbalik mengganti posisi tidurnya menghadap Igor. “Kau puas?”
“Ya.” Igor tersenyum lebar dan memejamkan matanya.
***
Eva, Mike, Inspektur Han dan seseorang lagi yang baru bergabung untuk memimpin, Kepala Tim.
Rapat diadakan secara tiba-tiba. Kabar baik sekaligus buruk. Kini tim Eva ditugaskan kembali untuk menyelidiki kasus dan kaki tangan pembunuhan berantai.
Maka itu, Kepala kepolisian pusat menambahkan satu orang anggota lagi untuk memimpin para opsir dan detektif lainnya.
Kepala Tim itu sendiri adalah seorang pria yang berumur lebih muda dari inspektur, tapi memiliki jabatan yang lebih tinggi, karena mendapatkan beberapa penghargaan beberapa kali sebagai polisi teladan.
Berbondong-bondong mereka berpindah dari satu ruangan ke ruangan lain yang akan ditempatinya.
Kepala polisi sengaja memberikan ruangan baru itu pada Tim Eva, karena mereka harus bekerja sebaik mungkin. Berharap kasus itu akan segera berakhir, dengan segala fasilitas dan koneksi terbaik yang digunakan.
Beberapa meja telah berjajar rapi dengan setiap papan nama yang sudah berada di atas meja itu.
“Mengenai investigasi ulang kasus pembunuhan berantai 15 tahun silam, aku yakin kalian sudah muak dengan itu.” Kepala Tim memulai rapat.
“Akan tetapi, sebagian besar para petinggi, menginginkan tim kita untuk mengerjakan kasus ini, Bagaimana menurut kalian?”
“Tentu saja kita harus terima. Kita juga sudah menangkap Gun pekan lalu. Bukan begitu, Eva?” lanjut Inspektur Han.
“Tapi, apa untungnya kasus ini bagi kita?” sahut Mike.
“Wah, kau sungguh tak tahu?” seru Inspektur. “Ini untuk menangkap pembunuhan berantai, jadi, apa yang harus kau pikirkan, hah? Tentu saja ini baik bagi kita.”
“Tidak. Aku sepertinya juga tidak setuju. Untuk kasus berat seperti ini, maka tingkat keberhasilan sangatlah rendah,” sahut Eva.
Semua mata tertuju pada Eva.
“Astaga. Kau masih tak mengerti rupanya. Aku yakin, begitu kita mengambil alih kasus ini, kita akan berhasil.”
“Tidak ada tersangka sama sekali untuk memulai penyelidikan ini, dan bukti yang ada sejak 20 tahun lalu sudah hilang, begitupun dengan saksi yang akan sulit mengingatnya dengan pasti.”
“Apa maksudmu tak ada tersangka? Ada Arthur masih menjadi tersangka utama hingga saat ini,” sanggah Inspektur.
“Apa kau tahu dimana dia? Kau tahu dimana dia tinggal? Kenyataannya kita harus fokus pada hantu sebagai tersangka, dan itu menunjukkan bahwa, tim kita tak memiliki prospek yang nyata.
Jika kita menyelidiki Gun dan terpusat pada Arthur, kita hanya akan membuat bukti dengan pikiran tercemar. Biarkan saja tim lain yang menangani kasus ini, bukan begitu?”
Eva masih kekeh dengan argumennya sendiri. Dia tak mau penyelidikan yang dilakukannya sendiri terganggu dengan itu.
Suasana ruangan hening sejenak. Mereka semua diam termasuk Kepala Tim.
“Ada apa dengan kalian? Kenapa kalian diam saja?” Eva ketus.
“Astaga. Menurutku itu bukan dirimu, Senior.”
“Aku sempat berpikir kau akan antusias dengan berkesempatan memecahkan kasus ini,” sahut Kepala Tim.
“Bukan begitu. Menurutku, kita harus lebih bijak dalam menghadapi kasus ini.”
“Wah, akhir-akhir ini kau sangat aneh. Kau kehilangan diri dalam pikiranmu. Kenapa kau sangat menolak kasus yang sangat ramai? Sedangkan semua orang sedang membicarakan kasus ini.
Apa mungkin kau sedang menyelidiki kasus sendirian?” Pengalaman Han menjadi seorang polisi pun sudah tak diragukan lagi. Dia bahkan mampu melihat Eva dari cara berbicaranya yang tiba-tiba berubah.
“Apa?” Eva terkejut.
“Wah, apa kau serius, Senior? Kau menyelidiki sendirian dan merahasiakan nya dari kami?”
“Astaga, Detektif Eva. Aku turut sedih mendengarnya, jika itu memang benar,” timpal Kepala Tim.
“Tidak, bukan begitu. Buat apa aku melakukan itu?” seru Eva saat dirinya terpojok.
*KRING!!! Ponsel Eva berdering.
“Wah, lihatlah. Apa cuma itu yang bisa kau lakukan untuk menyembunyikannya? Siapa itu? Apa dia informan rahasiamu?” Han berdiri dan mengintip ponsel Eva.
“Senior, kau sudah tertangkap basah!” Mike ikut-ikutan.
“Astaga. Ada dengan kalian? Lihatlah! Ini suamiku!” Eva memperlihatkan ponselnya pada setiap orang yang ada di ruangan itu.
Eva beranjak keluar dari ruangan, mengangkat panggilan.
“Sepertinya aku akan pulang terlambat, Sayang.”