
“Peraturan pertama, kau tidak boleh membawa alat komunikasi saat kita melakukan kesepakatan. Peraturan kedua, aku akan memeriksa uangnya dahulu.
Peraturan ketiga, setelah uangnya diperiksa, kau akan mengambil barangmu di lokasi yang sudah ditentukan. Mudah, bukan?”
Igor mengangguk tersenyum kecil.
“Foto komplotan yang kau minta, akan kuberikan padamu setelah aku menerima uangnya.”
“Baiklah. Aku akan menghubungimu nanti.” Igor berdiri, lalu beranjak pergi dari ruangan Jack.
Beberapa kacung dan tukang pukul hanya melihat dengan sinis, saat Igor meninggalkan ruangan.
***
Di sebuah taman kota. Lampu-lampu kota dan taman mulai dinyalakan. Beberapa pekerja mulai memenuhi jalan raya dengan mobilnya untuk kembali ke rumah dan bertemu dengan keluarganya.
Sekeliling taman itu hanya ada beberapa orang yang melintas dan memasuki taman kota.
Taman itu memiliki bentuk sebuah lingkaran dengan tumbuhan hijau dan pagar pembatas yang mengelilinginya.
Setiap lima langkah dari taman, terdapat bangku yang dapat digunakan untuk bersantai bagi siapapun yang sedang berada di taman itu.
Salah satu bangku di luar taman, terlihat Eva yang duduk sendirian dan menunggu kedatangan Igor. Sedari tadi dia cemas menunggu dan terus memikirkan Igor.
Dia sengaja mengajak Igor untuk bertemu disana karena taman kota itu tak jauh dari kantornya. Hanya membutuhkan waktu 5 menit dengan berjalan kaki untuk kembali ke kantor, karena Eva masih sedang bertugas.
Dia terus menatap ponselnya, mencari keberadaan Igor dari GPS.
*KRING!!!! Panggilan masuk dari Oliv masuk.
“Ya, halo?” Suara Eva terdengar lesu karena cemas dengan Igor.
“Aku belum menyelesaikan perkataanku sebelumnya, jadi, aku ingin menyelesaikannya sekarang.”
“Apa maksudmu?” tanya Eva belum mengerti.
“Aku tahu siapa sebenarnya pembunuh petani dari desa itu, dan dia bukan Arthur. Arthur tidak melakukan apapun. Semua tuduhan tentangnya itu salah. Dia tak membunuh siapapun. Pelakunya adalah orang lain.”
Suara Oliv terdengar tersedu-sedu akan menangis saat mengucapkan itu. Sepertinya dia akan mengakui bahwa dia adalah pembunuh sebenarnya pada Eva.
“Pada saat yang tepat…. Begitu tiba waktunya, aku akan memberitahu padamu, bagaimana persisnya kejadian di hari itu. Jangan pernah melupakan, apa yang kukatakan padamu hari ini.”
*TUTTT!!! Oliv langsung memutuskan sambungan teleponnya.
Dari ujung taman, terlihat Igor yang berlari dengan wajah berseri menuju ke tempat Eva.
Langkah kaki panjangnya memijakkan bumi, membuat dia sampai lebih cepat ke bangku tempat Eva berada.
Eva langsung berdiri dan menatap Igor yang sudah berdiri di depannya dengan nafas tersengal-sengal.
“Lihatlah!” Igor tersenyum lebar menunjukkan waktu di arlojinya. “Aku hanya butuh 45 menit bahkan untuk sampai di tempat ini.”
“Dahulu, hanya aku dan selalu aku yang kau prioritaskan. Bahkan sekarang pun, kau tetap memilih aku sebagai prioritas utamamu,” gumam Eva dalam hati.
Hati Eva terenyuh melihat Igor. Dia menyentuh kedua pipi Igor dan, “Apa kau terluka?”
“Tentu, tidak. Kenapa aku harus terluka?” Igor menyeringai lebar.
Eva masih mematung dan menatap mata Igor dengan tatapan penuh kasih.
“Soal telepon tadi, maafkan aku jika ucapanku terdengar…..”
“Aku tak ingin berpisah denganmu.” Mata Eva berkaca-kaca. “Saat aku mengatakan hal itu kemarin, aku tak bersungguh-sungguh mengatakannya. Aku juga tak bersungguh-sungguh, saat mengatakan cintaku sudah pudar.”
Eva telah menyesal setelah apa yang dikatakannya pada Igor kemarin. Walau Igor telah membohonginya, setidaknya Eva tahu, bahwa Igor mencintainya dengan tulus.
“Aku tahu kau sedang tidak bersungguh-sungguh.”
“Tidak. Kau tidak tahu apapun.” Eva menangis terisak-isak dan memeluk Igor dengan erat.
“Andai kita bisa bertukar tubuh satu hari saja, agar kau bisa merasakan betapa besarnya rasa cintaku padamu. Dengan begitu, aku tidak akan pernah merasa kesal.”
Perkataan Eva pun membuat Igor mematung. Dia hanya berdiri dan berpikir, sesuatu pasti terjadi sesuatu pada istrinya, karena melihat perubahan dari istrinya semenjak pertengkaran mereka kemarin.
“Apa sesuatu terjadi padamu?”
“Tidak!” Eva menggeleng dan semakin erat memeluk Igor.
Beberapa pejalan kaki, pengendara motor, dan pengunjung taman melihat adegan romantis itu.
Akan tetapi, Eva hanya membiarkan itu semua dan menangis di pelukan Igor.
“Menangislah, Sayang. Menangislah sekeras-kerasnya.” Igor mengelus rambut Eva.