SUAMIKU BUKAN PEMBUNUH

SUAMIKU BUKAN PEMBUNUH
EPISODE 031


Hari hari berlalu dengan cepat. Kini sudah genap 10 hari Igor di rawat di rumah sakit dan hari itu juga, dokter memperbolehkan Igor untuk kembali ke rumahnya.


Begitupun dengan Eva. Dia menggunakan tiga hari penuh untuk mencari tahu lebih dalam tentang Arthur, sebelum sepuluh hari itu.


Dia mendapatkan sebuah walkman milik Arthur. Istri Fredrik yang memberikan itu padanya. Tak hanya itu, Istri Fredrik juga memberikan semua barang-barang milik Arthur di dalam tas ransel.


Selama hidupnya, Fredrik masih menyimpan barang milik Arthur yang tertinggal sebelum dia menghilang, lantas, Sang Istri pun memberikan itu pada Eva.


Dia juga mendatangi tempat kerja Arthur, perusahaan ekspedisi pengiriman barang. Bertanya pada Bos pemilik perusahaan itu tentang walkman yang sudah ada ditangannya.


Bos perusahan itu mengatakan bahwa Arthur selalu mendengarkan walkman itu saat beristirahat, dan dia sangat sensitif saat ada orang lain yang mengambil headset dan mencoba mendengarkannya.


Bahkan Arthur pernah memelintir tangan bos pemilik perusahaan itu, saat dia mencoba mengambil walkman miliknya.


Sempat berpikir pernah akan memecatnya, tapi Bos tak ingin memecat Arthur, karena dia bekerja dengan tekun dan rajin.


Masih tak cukup dengan info yang didapatkannya, Eva mendatangi lembaga pendidikan, tempat Arthur masih duduk di bangku SMP.


Guru senior yang pernah mengajar di tempat sekolah itu pun juga mengatakan hal yang sama.


Arthur kecil yang seorang pendiam dan tak ingin berinteraksi, akan berubah menjadi monster saat ada orang lain yang mengusik walkman miliknya.


Arthur kecil pernah memukul rekannya hingga hidungnya patah dan beberapa giginya yang rontok.


Kini sudah semakin banyak info yang didapatkan Eva. Tiga hari lamanya dia berkeliling menyelidiki tentang Arthur sendirian, sebelum suaminya dipulangkan dari rumah sakit. Kini,Dia hanya perlu menjalankan rencananya sendiri untuk itu.


Dia akan berpura-pura tak mengetahui apapun di depan suaminya sendiri.


***


Satu hari setelah Igor kembali ke rumahnya.


Di suatu pagi yang cerah. Eva duduk di samping suaminya yang masih terlelap.


Eva memandangi wajah Igor, sesekali mengelus pipi dan rambut pirangnya. Dia tetap harus berpura-pura tak tahu apapun, agar rencananya berjalan lancar, meski dia sudah merasa tersakiti, karena Igor telah membohonginya.


“Kenapa kau melakukan itu padaku? Kau sudah menipu selama ini. Teganya kau melakukan itu padaku. Haruskah kah kau hidup seperti itu? Apa kau melakukannya karena tak punya pilihan lain?


Berikan satu alasan padaku, agar aku tetap memaafkanmu,” gumam Eva dalam hati.


Air matanya menetes menatap Igor yang terbaring.


Eva langsung mengusap air matanya saat Igor tiba-tiba terbangun.


“Ada apa? Kenapa kau terkejut melihatku?” tanya Eva.


“Tak apa. Aku hanya bermimpi buruk.” Igor menyeringai lebar.


“Kenapa kau sudah bangun pagi sekali? Biasanya, aku yang lebih dulu bangun.”


“Tidak. Kau saja yang tidur terlalu lelap. Lihat itu.” Eva berdiri menatap jam dinding. Pukul 8 pagi.


“Astaga. Aku harus mengantar Boy ke sekolah.”


“Tak apa. Aku akan mengantar Boy ke sekolah. Kau bisa beristirahat dulu.” Eva menahan Igor sebelum dia beranjak dari kasur. “Hmm. Kau tampaknya tidur dengan nyenyak semalam.”


“Entahlah. Sejak aku kembali ke rumah, aku selalu mengantuk.” Igor menguap menutup mulut. “Sepertinya, perasaanku sangat senang karena kembali ke rumah dan tinggal bersamamu.”


Eva beranjak dari kasur mengambil sesuatu di dalam laci Make Up-nya.


“Omong-omong, aku punya sesuatu untukmu. Aku membelinya saat kau berada di rumah sakit.” Sebuah kotak diberikannya pada Igor. “Ini hadiah selamat atas kepulanganmu dari rumah sakit.”


“Apa itu?”


“Kau kehilangan gelang yang kuberikan saat Gun menculikmu kemarin hari, dan beberapa timku tak menemukannya di TKP. Lantas, aku memberikan jam tangan itu untukmu.


Arloji mewah dengan tali yang terbuat dari kulit asli dan lapisan perak yang bening berkilau.


“Wah, ini pasti mahal.” Igor memakai jam tangan mewah di tangan kirinya.


Eva tersenyum dan, “Kau tak boleh kehilangan itu lagi.”


Eva mulai melakukan rencananya. Jam tangan itu dilengkapi dengan alat pelacak.


Setelah membeli jam tangan itu, Eva pergi ke servis jam, lalu menyuruh tukang servis untuk memasangkan GPS yang dibawa olehnya.


Eva dapat mengetahui keberadaan Igor selama dia memakai jam tangan itu, hanya mengaksesnya menggunakan smartphone atau laptop.


Jarum jam berputar cepat. Eva harus segera mengantarkan Boy sebelum dia terlambat.


Sementara Igor bergegas ke dapur, membuat sereal dan jus.


“Hei, tunggu dulu.” Igor memberhentikan Eva dan Boy saat ia berjalan keluar melewati dapur. “Minumlah ini sebelum pergi.” 2 gelas jus apel campur susu yang segar sudah berada di meja makan.


“Sini, Nak. Duduklah dahulu.”


“Ini untukmu, Sayang.”


Boy duduk dan menenggak jus segar buatan papanya.


“Apa itu enak?”


“Ya, ini enak. Semua makanan atau minuman yang Papa buat sangatlah enak.” Boy menegak jus segar itu hingga tak tersisa.


“Omong-omong, Sayang. Kunci ruang bawah tanah di tokoku rusak. Apa itu kau?”


“Ah, itu. Aku yang membukanya kemarin saat kau masih di rumah sakit. Kemarin temanku datang dan membutuhkan gergaji kecil untuk memotong demper mobilnya.


Maafkan aku, Sayang. Aku tak tahu dimana kuncinya, dan terpaksa aku harus membobolnya dengan palu.” Eva menyeringai.


Suasana di meja makan itu hening sejenak. Igor mulai berpikir, jika Eva sudah mulai curiga padanya, tapi langsung melupakan hal itu.


“Apa ruang basement tidak kotor?”


“Sangat bersih. Aku sendiri yang membersihkannya kemarin, agar kau mudah mencari sesuatu.”


Igor mengangguk tersenyum.


“Mari kita berangkat, Boy. Kita harus bergegas agar kau tak terlambat.”


“Baiklah, sampai jumpa, Papa!” Boy melambaikan tangannya berlalu pergi.


Usai mengantar anaknya sekolah, Eva tak langsung ke kantor polisi. Dia pergi ke sebuah kedai kopi dan menyelidiki kasus Arthur, tanpa sepengetahuan orang lain di kepolisian. Dia ingin menangkap Arthur sendiri.


Kali ini dia berhasil mendapatkan data asli dari orang tua Igor, Fred dan istrinya.


Dengan akses yang dimilikinya sebagai seorang detektif, Eva dapat menemukan hal semacam itu.


Layar laptop menampilkan data lengkap dari keluarga Fred.


“Arthur hidup sebagai Igor kurang lebih selama 15 tahun, yang mana itu tepat setelah Alex meninggal dan menghilangnya Arthur. Orang tua Igor yang asli telah aktif bekerja sama dengannya,” gumamnya dalam hati.


Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa mereka bekerjasama? Apa yang mereka sembunyikan?


Pertanyaan itu terus memenuhi isi kepala Eva, membuatnya berpikir keras.


Satu jam berlalu. Eva terus disibukkan dengan penyelidikan yang dilakukannya sendiri.