
Sebelum Roy datang, ada seseorang yang telah datang ke rumahnya sebelum itu. Dia menggunakan jubah berwarna hitam dan langsung menyekap Si Nenek dan mengikatnya.
Setelah mendapatkan foto, pelaku memaksa nenek untuk mengatakan, siapa orang yang bernama Arthur dalam foto itu.
Mike pun mengambil kesimpulan, bahwa Arthur bukanlah orang yang membunuh Fredrik, tapi pelaku pembunuhan Fredrik itulah yang mencari Arthur.
“Yang jelas, pembunuhnya menginginkan Arthur. Entah apa alasannya. Kita sudah keliru. Arthur bukanlah pelakunya,” jelas Mike.
Eva mengangguk paham. Berpikir keras. Masih banyak hal tersembunyi yang tak diketahuinya sama sekali. Berkecamuk di kepalanya, terus berpikir tentang itu.
Siapa sebenarnya Arthur? Siapa orang yang mengejar Arthur? Kenapa pembunuh Fredrik mengejar Arthur? Apa dia memiliki dendam pada Arthur? Semua itu berkecamuk dalam pikiran Eva.
Malam itu, banyak penduduk sekitar yang mengerumuni rumah Eli. Eva yang sudah tiba menggunakan kesempatan itu. Mengajak mereka semua untuk berkumpul.
“Astaga itu menakutkan!”
“Wah, apa benar Arthur telah kembali?”
“Sebenarnya apa yang terjadi?”
“Apa kubilang? Dia sama saja seperti ayahnya, Monster yang mengerikan.”
Semua orang mulai bergunjing satu sama lain membicarakan Arthur.
Eva menjelaskan kepada mereka. Bukanlah Arthur yang sedang dia kejar, tapi orang lain. Pihak kepolisian mengejar orang yang mencari Arthur.
Segerombolan orang kembali bergunjing satu sama lain, mempertanyakan maksud Eva.
“Sopir taksi itu! Ya, itu dia!” celetuk salah satu pria tua.
“Sopir taksi?” tanya Eva teringat pada Inspektur Han yang pernah mengintrogasi saksi yang sama.
Pria tua itu bercerita. Beberapa minggu lalu, seorang pria datang dan menggali beberapa tanah. Dia mencari istrinya yang terkubur di lingkungan itu.
Warga yang lain ikut nimbrung menjelaskan. Istri dari seorang pria dari sopir taksi itu adalah salah satu korban dari Alex selama beberapa tahun lalu, dan mayatnya belum ditemukan hingga saat ini.
Gemiang! Eva dapat menyimpulkan semua teka-teki buntu itu. Sopir taksi itu mencari Arthur karena dia yakin, bahwa Arthur mengetahui jasad istrinya, yang telah dibunuh oleh ayah Arthur.
Eva segera membubarkan semua warga dan menelpon kantor pusat, mengabarkan apa yang disimpulkan olehnya, berdasarkan penjelasan beberapa warga tadi.
“Inspektur Han! Ada korban pembunuhan Alex yang jasadnya tidak ditemukan hingga saat ini. Kau bisa mencari datanya dan melihat, siapa suami dari korban itu. Dia mungkin bekerja sebagai sopir taksi,” jelas Eva.
“Sopir taksi?” Inspektur Han terkejut.
Terdengar tumpukan kertas yang diobrak-abrik dari telepon. Inspektur Han mencari berkas lama itu.
Ketemu! Lengkap sudah. Korban itu bernama Elena, istri sopir taksi yang telah diwawancarai oleh Inspektur Han sendiri beberapa hari yang lalu.
“Dia percaya Arthur adalah anak sekaligus kaki tangan Alex saat melakukan pembunuhan, dan menjadi terobsesi dengan itu. Dia mengira bahwa Arthur tahu, dimana istrinya terkubur.”
“Baiklah. Segera kembali dan kita bicarakan di kantor!”
Saat Eva di dalam mobil dan akan kembali, salah satu Opsir memberhentikannya.
“Detektif, tunggu!” Opsir menghalangi mobil.
“Ya, ada apa?” Eva membuka kaca jendela mobilnya.
“Ini. Aku menemukan ini saat di gudang perkakas tadi.” Sebuah gelang dibungkus dengan plastik barang bukti.
“Baik, terimakasih. Kau boleh pergi.”
Eva tercengang. Gelang itu adalah milik suaminya. Dengan bertuliskan inisial Igor yang diukir kecil di gelang itu, saat dia membuka plastik dan memastikan ukiran kecil yang ada.
Bertambah pertanyaan di kepala Eva. Kenapa gelang suaminya berada di gudang itu?
Eva kembali mengingat postur tubuh suaminya, dan itu sangatlah mirip dengan postur tubuh yang dimiliki suaminya, Igor. Tinggi badan 188 cm dengan tubuh kekar dan tegap.
Sebuah gang pedesaan sempit. Igor terus berjalan sesekali berlari kecil, dan terus mengawasi sekitar. Dengan hati yang selalu was-was.
Ponselnya bergetar. Dia mendapatkan telepon dari Roy. Sepertinya dia sudah siuman.,
“Halo? Dimana kau? Astaga, aku hampir saja mati. Apa yang terjadi padamu?” ucap Roy lirih agar tak ada yang mendengar pembicaraannya.
“Aku baik-baik saja. Kau tak perlu khawatir. Cari tahu orang yang bernama Elena dan siapa dia. Itulah nama yang dia katakan.”
“Elena?” Roy teringat sesuatu. “Tunggu, sepertinya aku pernah mendengar nama itu, tapi entahlah, aku tidak yakin.”
“Dia menanyakan keberadaannya. Saat ini, aku hanya harus terhubung dengannya secara langsung, agar teka-teki ini terpecahkan.”
Igor mematikan telepon. Dia terus berjalan melewati pedesaan. Mencari penginapan yang telah disebutkan oleh Gun sebelumnya. Resident Beauty.
Setelah berjalan satu jam lamanya, Igor akhirnya sampai di tempat yang dia cari.
Beberapa makanan dan bir telah dibawanya sebelum sampai ke penginapan itu sebelumnya. Lapar dan haus melanda Igor. Sejak siang dia belum makan atau minum sekalipun.
Beberapa villa saling berjajar rapi. Rumah kos dengan pintu berjajar panjang dan saling berhadapan.
Di tempat resepsionis, terlihat seorang wanita tua yang menyambut igor dan menunjukkan beberapa kamar pilihan yang ada, dan langsung mengantarkan pada kamar yang telah dipilih Igor.
Kamar penginapan dengan luas 5x5 persegi. Dilengkapi dengan kasur, AC, TV dan kamar mandi dalam. Fasilitas yang cukup lengkap untuk penginapan sederhana itu.
“Silahkan masuk, Tuan.” Pemilik penginapan membukakan pintu untuk Igor.
“Jika kau butuh apapun, tinggal panggil saja aku.”
“Tentu, Bibi. Apa kau memiliki pisau?”
“Untuk apa?” tanya Si Pemilik.
“Aku membawa beberapa makanan dan buah-buahan. Aku membutuhkan pisau untuk mengupasnya.” Igor menunjuk kresek makanan yang telah dibawanya.
Tak lama kemudian, wanita paruh baya itu kembali dengan membawa pisau. “Ini. Silahkan! Kau bisa mengembalikannya sebelum kau pergi dari sini. Tenang saja.”
“Terimakasih, Bibi!” Igor tersenyum.
“Sama-sama, Tuan. Baiklah, selamat malam. Aku permisi dulu.”
Wanita tua menunduk sopan dan pergi dari kamar Igor.
Dari jendela kaca kamar, Igor melihat dan menunggu kedatangan Gun, Si Sopir taksi yang mengajaknya bertemu di tempat itu.
Mengupas buah hanyalah alasan Igor untuk meminjam pisau. Dia akan menggunakan pisau dapur untuk menjaga dirinya saat bertemu dengan Gun.
*KRING!!!
Ponsel Igor kembali berbunyi. Panggilan video masuk dari ibu mertuanya.
“Papa!!! Kapan Papa akan pulang?”
Ternyata Boy lah yang menelpon ayahnya saat itu. Dia menggunakan ponsel neneknya untuk menghubungi ayahnya.
Boy terus merengek. Sudah satu hari dua malam dia tinggal bersama neneknya. Dia menyuruh ayah dan ibunya agar segera pulang dan menjemputnya.
“Astaga, Nak. Cepatlah kemari dan bawa dia pulang! Dia terus merengek dari kemarin.” Suara ibu Eva terdengar.
“Boy, anak Papa yang baik. Papa akan segera pulang, Nak. Papa masih ada sedikit pekerjaan disini. Bersabarlah sebentar lagi.”
“Apa Mama akan ikut pulang bersama?”
Igor tersenyum mengangguk. “Tentu, Papa akan menjemputmu bersama Mama nanti.”