
Mobil BMW melesat dengan kencang bak petir menyambar. Suara gahar dari mesin dan knalpotnya saling beriringan memenuhi sepanjang jalan raya yang dilintasinya.
Igor membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi, menyalip beberapa kendaraan yang ada di depannya.
Beberapa pengendara mobil mewah lainnya telah terpacu adrenalin nya saat melihat mobil BMW Igor yang menyalip.
2 mobil mewah mulai mengejar mobil milik Igor. Mobil Ford Mustang tahun lawas, serta jaguar berwarna kuning mencolok.
Kedua mobil itu saling mengejar mobil yang dikendarai Igor. Keduanya juga memiliki suara mesin dan knalpot yang tak kalah gahar dari mobil Igor.
Mobil Igor kini diapit oleh kedua mobil itu. Ford Mustang lawas menggeber-geber dari sisi kiri, sedangkan Jaguar Merah dari sisi kanan mobilnya.
Igor hanya membiarkan kedua mobil itu. Pengendara kedua mobil itu mungkin hanyalah anak muda yang ingin memamerkan harta orang tuanya.
Igor tetap menginjak pedal gas dengan stabil dan membiarkan kedua mobil itu mendahuluinya.
Di dalam mobilnya, Igor masih memegangi dadanya yang sesak dan meratapi nasibnya. Air matanya mulai menetes ke wajahnya yang simetris. Tak tahu akan kemana dia pergi.
Mobilnya terhenti di atas jembatan gantung/fly over yang sudah lama ditutup tak terpakai.
DUK DUK DUK!! Dia menjedotkan kepalanya sendiri ke setir mobil. Beberapa kali dia mencoba untuk menghubungi Eva kembali, tapi, sekalipun panggilannya tak dijawab.
“Eva! Eva! Kumohon, Eva! Angkat teleponku!” Igor terus mencoba untuk menghubungi Eva walau panggilannya tak diangkat.
“SIAL!” PLETAK! Dia melempar ponselnya sendiri ke dasbor mobil.
“Bagaimana ini…. Apa yang harus kulakukan? Jangan sampai! Tidak! Tidak mungkin,” gumam Igor.
Igor keluar dari mobilnya. Perlahan dia berjalan ke pagar pembatas jembatan gantung itu.
Saat dia melihat ke bawah, terlihat kendaraan yang masih berlalu lintas di jalan raya bawah jembatan itu.
Jembatan gantung itu memiliki jarak dan tinggi 40 meter kurang lebih, dari jalan raya yang ada tepat di bawahnya.
Di pikiran Igor. Dia hanya ingin menjatuhkan dirinya dan berharap akan mati saat dia mendarat di aspal. Lebih menyiksa lagi jika dia jatuh dan terlindas truk atau mobil yang sedang melintas.
Jasad Igor mungkin sudah tak berbentuk jika hal itu terjadi. Hanya itu yang ada dipikirannya. Dia akan bunuh diri hanya karena bersalah, karena telah membohongi Eva bertahun-tahun.
CITTTTTT! Mobil polisi berhenti tepat di depan mobil Igor. Igor mengurungkan niatnya untuk bunuh diri, saat melihat Eva lah yang keluar dari mobil itu.
Dengan mudah Eva tahu lokasi Igor karena dia masih memiliki alat pelacak yang bisa dilihatnya dari ponsel.
Igor berbalik badan. Melangkah pergi menjauh dari pagar pembatas, mendekati Eva.
Langkahnya sempoyongan, nafasnya tak beraturan, dengan beberapa yang ada di wajahnya. Perlahan Igor berjalan dan menatap Eva dengan tatapan dalam.
Mata Eva kembali berkaca-kaca, saat melihat kondisi Igor seperti itu. “Kenapa kau melakukan ini? Kenapa? Kau tak bisa lagi hidup seperti Igor. Identitas aslimu telah terungkap. Inspektur Han telah mengetahuinya.
Akan sangat membahayakan untukmu jika dia membeberkan identitasmu kepada semua petugas kepolisian. Kau harus kabur, bukankah sudah kubilang padamu? Aku akan membantumu untuk kabur dari tempat ini.”
Seberusaha apapun Eva menahan kesedihan itu, air matanya tetap jatuh dan menetes, tak kuat mengingat kejadian itu. “Apalagi yang kau inginkan dariku? Apa yang harus kulakukan untuk membantumu?”
Wajah Igor semakin memelas. Dia terlihat sangat pucat dan memiliki tatapan kosong seakan tak memiliki harapan apapun. Bekas air matanya masih terlihat di pipinya.
“Kenapa… Kau sudah tahu segalanya. Kenapa kau tak meninggalkanku meskipun kau tahu segalanya? Aku tak mengerti.” Igor menggeleng.
“Kau tak tahu? Kau masih tak mengerti? Kau benar-benar tak tahu, kenapa aku berusaha keras untuk melindungimu, selagi aku tahu identitasmu? Kau sungguh tak tahu? Itu karena, Suamiku bukanlah seorang pembunuh.”
Igor membungkuk. Tangannya kanannya kembali memegangi dadanya yang terasa sesak. Igor menangis tersedu-sedu meminta maaf pada Eva. “Maafkan aku. Maafkan aku, Eva. Aku bodoh. Ini semua salahku. Aku salah.
Aku telah menyakiti….. Aku…. Aku sudah membuatmu kesakitan selama ini. Maafkan aku. Aku hanya membuat hidupmu semakin sulit. Aku hanyalah lelaki tak berguna.”
Igor berlutut memegang rompi anti peluru yang masih dikenakan Eva. “Kenapa kau melakukannya? Selagi kau tahu segalanya……..”
Belum selesai ucapannya, Eva turut berjongkok dan langsung memeluk Igor dengan erat. “Hanya itu yang bisa kulakukan untukmu. Aku hanya ingin membuktikan bahwa suamiku bukan pembunuh. Hanya itu, Sayang!”
Eva mengelus rambut Igor.
Sepasang pasutri itu saling menangis didalam pelukan. Di depan mobil BMW dan di belakang mobil polisi. Keadaan sekitar sepi. Tak ada kendaraan lain atau pejalan kaki yang melintas di jembatan gantung itu.
“Aku… Aku sangat ingin pulang, Eva. Aku ingin pulang ke rumah.”
“Baiklah, mari kita pulang.” Eva masih memeluk dengan erat. “Apapun yang akan terjadi, mari kita mulai lagi dari awal.”