
“Saat ini anda adalah angin. Anda bisa pergi kemana saja saat anda mau. Pada hitungan ketiga, anda akan tepat kembali berada di tempat pemakaman ayah anda dulu.”
Seorang psikiater yang membuka jasa Hipnoterapi di kliniknya sedang mencoba untuk memberi sugesti kepada Oliv.
Oliv pergi melakukan Hipnoterapi sebagai salah satu bentuk usahanya untuk mengingat kembali, bagaimana bentuk dan ciri kaki tangan itu dengan terapi Hipnotis.
Semenjak pagi Oliv sudah mengantri untuk mendapatkan giliran masuk dan melakukan terapi bersama dokter psikiater.
Di dalam ruangan terapi, Si Dokter menyuruh Oliv untuk berbaring di atas ranjang khusus terapi, lalu memberikan sugesti sesuai yang diinginkan Oliv sebelumnya.
Oliv berbaring dengan mata terpejam dan mendengarkan sugesti Si Dokter dengan seksama.
“Satu. Dua. Tiga.”
Tepat di hitungan ketiga, Oliv sudah berada kembali di pemakaman ayahnya dulu. Dia dapat melihat dan mengingat semua hal yang terjadi saat itu, walau hanya remang-remang.
“Nona, Oliv. Waktu anda sangat banyak. Silahkan anda melihat sekeliling anda.” Si Dokter terus memberikan sugesti pada Oliv yang telah memejamkan matanya.
“Aku melihat sesuatu yang aneh dari orang itu. Jarinya sangat aneh. Memiliki beberapa kuku yang tidak simetris dan berbeda. Dia juga menggunakan gelang, sepertinya aku pernah melihatnya di suatu tempat.”
“Bagus, Nona Oliv. Lanjutkan. Tenangkan pikiranmu dan lihat dengan seksama. Kau tak boleh memikirkan hal lain selain keadaan saat itu disana. Dapatkah kau melihat wajahnya?”
“Dia… Dia.. menatapku. Dia melihat wajahku dengan teliti. Dia berusaha mengingat bagaimana rupaku.” Oliv mulai panik saat dirinya masih berada di alam bawah sadar dengan pikiran yang masih tersugesti.
Kepalanya menggeleng-geleng. Dia meremas tangannya sendiri karena ketakutan saat melihat keadaan itu kembali. “Aku takut. Tolong keluarkan aku dari sini.”
“Nona Oliv, tenanglah. Dalam hitungan ketiga, anda akan kembali dari ruang bawah sadar anda. Satu, dua, tiga.”
Oliv tersentak dan langsung terduduk di ranjang. Nafasnya terengal-engal, matanya terbelalak terbuka lebar. Dia sangat ketakutan saat itu.
“Dia mempelajari wajahku. Aku yakin dia sangat mengingat wajahku dengan baik. Apa artinya itu, Dok? Bukankah itu artinya… dia… Dia akan mencariku, lalu datang dan membunuhku.”
“Nona Oliv, tenanglah. Yang anda alami tadi, sudah terjadi cukup lama. Tak apa, Nona. Semuanya akan baik-baik saja. Percayalah padaku.”
Si Dokter berdiri dan mengambilkan segelas berisi air putih, memberikannya pada Oliv. “Ini minumlah dahulu.”
“Sebaiknya, anda tidak mengemudi dalam kondisi seperti ini. Apa ada seseorang yang bisa anda hubungi?”
“Aku baik-baik saja, Dok,” sahut Oliv meletakkan gelas di meja yang ada. “Beri aku waktu sejenak.”
“Baiklah. Kau bisa bersantai dahulu. Lagipula, kau adalah pasien terakhirku hari ini.”
***
Kembali di ruang kerja Tim Eva. Layar proyektor telah menampilkan semua data-data tentang Jack beserta para tukang pukul dan calo yang bekerja dengannya.
Setelah mendapatkan semua informasi dari Igor, semua Tim Eva langsung mendapatkan seluruh biodata milik Jack beserta anak buahnya, dengan bantuan koneksi dan akses data untuk masyarakat kota itu.
“Namanya, Jack. Berumur pertengahan 40an. Dia pernah mendekam di penjara selama 5 tahun atas percobaan pembunuhan, saat usianya 20 tahunan.”
Setelah menampilkan seluruh biodata, Mike mulai menjelaskan apa yang berhasil dia dapat.
“Tepat saat berusia 25 tahun, dia dibebaskan secara bersyarat karena memiliki etika yang baik saat itu dan bersedia untuk bekerja sukarela.
Mike menampilkan layar baru, sebuah yayasan tempat Jack bekerja dulu.
“Akan tetapi, setelah dia menginjak umur 30 tahun, dia menghilang dari tempat tinggalnya. Dia membawa kabur semua uang yang diperoleh dari sumbangan, lalu mendirikan bisnis simpan pinjam itu.
Darisalanah, Jack mempunyai koneksi dengan Alex. Mula-mula dia menyandera orang yang tak bisa membayar hutangnya, lalu menjualnya dengan harga yang cukup tinggi.”
Kepala Tim, Inspektur Han, dan juga Eva mendengarkan penjelasan Mike dengan seksama.
“Lantas, apa hubungan dia dengan Yona, wanita yang kita tangkap tempo hari?” tanya Kepala Tim.
“Bisa dikatakan, Yona adalah seorang Calo atau penyalur,” jawab Inspektur. “Dia berkeliling di sekitar komplek dan menawarkan pinjaman ke semua orang yang sedang membutuhkannya.
Beberapa kamera pengawas CCTV di jalan telah menunjukkan saat dia bertemu dan berinteraksi dengan beberapa nasabah di berbagai tempat, dan beberapa kali tertangkap dia menuju kantor simpan pinjam milik Jack.”
Layar proyektor kembali menampilkan rekaman itu.
“Itu berarti informasi yang diberikan oleh Arthur bisa kita percaya,” ucap Kepala Tim.
“Ya, aku yakin dia juga mengatakan yang sebenarnya,” sahut Eva.
“Astaga, aku masih tak percaya dengan ini. Bagaimana bisa, sebuah koperasi simpan pinjam terlibat dalam kasus pembunuhan berantai. Ini gila.” Mike menggelengkan kepala menonton layar laptop di depannya.
“Omong-omong, jika kita berhasil menangkap ini, maka kita semua akan dipromosikan. Hahahaha,” celetuk Mike.
Semua orang menatap Mike dengan serius. Saat yang lain masih pusing dengan kasus itu, dia malah berharap untuk promosi.
“Kenapa kalian menatapku begitu?” Mike menunduk tahu kesalahannya. “Maafkan aku.”
“Bukankah kita juga harus menangkap Arthur?” tanya Han.
“Apa? Maksudmu, kau akan menipu dan menjebak Arthur?” sahut Mike. “Bukankah kita sudah berjanji akan melindungi identitasnya, sebagai imbalan atas tambahan informasi yang diberikannya?”
“Kenapa harus melakukan itu? Kenapa seorang polisi harus melindungi seorang pembunuh? Hukum semacam itu tidaklah ada, bukan begitu Eva?”
Inspektur Han sepertinya terobsesi pada Arthur dan sangat ingin menangkapnya.
“Ya, terserah kau saja, Inspektur Han,” jawab Eva.
“Jika kita terus berbicara dengannya di telepon, aku yakin dia akan membocorkan lokasinya secara tidak sengaja, jadi, kita hanya perlu membuatnya terus menghubungi kita, dan kita bisa mencari tahu tempat tinggalnya.”
“Begitu kita menemukan tempat itu, kita pasti menemukan dan mengumpulkan beberapa DNA yang ada, lalu, kita bisa membandingkannya dengan DNA milik Oliv, adiknya Arthur.” Kepala Tim berasumsi.
“Oh, benar. Mereka bersaudara,” sahut Mike.
“Tepat!!! Itu dia yang kumaksud. Kita pasti akan menemukan Arthur,” seru Han. Sepertinya dia terobsesi untuk menangkap Arthur yang masih dinyatakan tersangka karena kasus pembunuhan petani kala itu.
“Kenapa kau diam saja?” tanya Han pada Eva. “Aku yakin kau pasti akan setuju dengan usulku ini.” Han menyeringai lebar.
Eva tak bisa berbuat apapun untuk menolak usulan itu. Dia tak akan menang, 3 lawan 1. Dia tak akan mampu membantah usulan itu.
“Baiklah. Yang terpenting, kita harus menelpon dan mengulanginya agar dia ingin mengatakan lokasinya dan kita bisa menemukannya,” seru Han. “Aku tahu, Eva adalah yang terbaik dalam melakukan hal seperti ini.” Han menatap Eva mengacungkan jempol.