
Sebelum Igor pergi ke tempat pertemuannya dengan Jack, dia pergi ke rumah Roy yang akan membantunya melakukan rencananya, karena Roy sendirilah yang sudah berjanji saat mereka berkumpul di apartemennya.
Mereka pun berangkat bersama menggunakan mobil Igor.
Semenjak Igor menjemputnya, Roy sudah menunjukkan wajah yang ketus, karena dia masih kesal. Entah apa yang membuatnya kesal.
Roy juga selalu menatap igor dengan sinis selama perjalanan itu.
“Kenapa kau menatapku seperti itu?” tanya Igor.
“Ah, sial!” umpat Roy kesal. “Apa kau harus bersikap ketus pada Oliv seperti tadi siang?Aku yakin kau tidak akan tahu, jika kau sudah membuatnya terluka dengan perkataanmu.
Astaga, sudahlah, lupakan saja. Kau tak mungkin bisa mengerti perkataan Oliv.” Roy mendengus. Ternyata dia kesal karena Igor bersikap ketus pada Oliv.
“Aku berbicara seperti itu karena ini sangat membahayakan untuknya. Aku tak ingin membuatnya dalam bahaya.”
“Lagi-lagi kau beralasan. Jika memang begitu, kau seharusnya cukup mengatakan itu saja. Kau tak perlu menambahi dengan kata-kata, tidak becus padanya.”
“Dan aku juga yakin, jika aku tak berkata seperti itu, dia akan bersikeras untuk ikut denganku. Semakin berbahaya misi itu, semakin dia akan kekeh untuk ikut denganku. Maka itu, aku menggunakan kata yang kurang mengenakkan padanya.”
“Lantas, bagaimana denganku? Kenapa kau tak merasa kasihan padaku? Kau terus memintaku untuk membantu pekerjaan sialanmu ini. Kenapa aku harus selalu terlibat dalam hal berbahaya yang akan kau lakukan?”
“Aku tak memaksamu untuk ikut denganku. Tadi siang, saat aku bertanya, kau sendiri yang menjawab bahwa kau akan ikut denganku. Kau sendiri yang memutuskan, bukan aku.”
*PLAK!! “Sial!” Roy menepuk jidatnya merasa bodoh. “Ya, kau benar. Aku heran pada diriku sendiri, kenapa aku harus mau membantumu.”
“Itu karena aku memintamu untuk membantuku di depan kakakku.” Igor menyeringai. “Aku tahu kau tak akan pernah menolak untuk membantuku saat kau bersama kakakku, karena kau ingin terlihat terkesan.”
“Sial! Apa-apaan ini? Apa kau memanipulasi diriku?”
“Ya., aku melakukannya, dan kurasa aku akan selalu melakukan itu.”
Roy mendengus kesal mendengar itu. Dia merasa terbodohi dengan sikapnya yang ingin terlihat heroik di depan Oliv.
Tiga puluh menit berlalu dengan cepat, kini Igor dan Roy sudah berada di suatu tempat. Melakukan transaksi, sebagai uang muka pertama.
Tempat itu berada di daerah yang terpencil. Lokasinya berada di tempat komplek kumuh yang pernah didatangi Igor tempo hari.
Mobil Igor berhenti tepat di depan rusun ruko, sesuati dengan tempat yang telah dikirim Jack sebelumnya.
Sepertinya Jack sengaja mengajak Igor ke tempat itu, agar para polisi tak datang ke kantornya.
Masih di dalam mobil, Igor menyampaikan semua rencananya pada Roy, agar dia tak melakukan kesalahan apapun saat menjalankannya.
“Baiklah, dengarkan aku!” ucap Igor serius. “Setelah aku menyerahkan uang ini, maka transaksi kedua akan dimulai. Mereka akan memberiku lokasi tempat dimana para sandera berada.
Dan ini bagian terpentingnya. Seandainya terjadi sesuatu padaku di dalam, maka kau lah yang harus melaporkannya. Kau bisa menggunakan ponsel prabayar dan menggunakan efek suara sama seperti yang kulakukan.”
Roy menggeleng tak mengerti. “Tunggu sebentar. Apa maksudmu? Bagaimana aku tahu dimana lokasi kedua berlangsung?”
Igor memberikan sebuah alat kepada Roy. “Ini. Kau bisa menggunakan ini.”
“Apa ini?”
Saat dia menyebutkan nama lokasinya, kau harus langsung menghubungi nomor polisi saat itu juga.”
“Apa kau gila? Bukankah mereka melarangmu membawa alat komunikasi? Bagaimana jika mereka menggunakan detektor? Detektor pasti dapat menemukan alat sekecil apapun itu.”
“Tenang saja, ini tak mungkin ketahuan. Alat ini bisa dinyalakan dan dimatikan dengan mudah. Bahkan, aku dapat menyalakan alat ini hanya dengan menekan tombolnya dari luar tas.”
Igor menunjukkan alat penyadap kecil yang berada di dalam tas ransel.
“Aku akan menyalakan alat ini setelah dia memeriksaku. Tenang saja. Kau tak perlu khawatir. Kau hanya perlu menjalankan apa yang sudah kukatakan padamu.”
Roy menggeleng. Dia tak yakin dengan rencana Igor.
“Baiklah, aku pergi dulu.” Igor menutup kembali tas ranselnya dan pergi dari mobil.
Salah satu ruko dengan lampu yang masih menyala dan pintu yang sedikit terbuka.
Tak salah lagi. Itu adalah ruko tempat Jack menunggu Igor. Dia bergegas masuk dan menemui Jack.
Di dalam ruko itu, hanya ada Jack dan seorang tukang pukul bertubuh tinggi mencapai 200 meter dan bertubuh gempal, seperti pegulat sumo pada umumnya.
Tukang pukul itu berdiri siaga di samping Jack yang sedang duduk di sofa.
“Kau datang?” sapa Jack. Dia memberi kode pada tukang pukulnya untuk memeriksa Igor dengan sebuah detektor, untuk mencari penyadap dan semua alat komunikasi.
Igor meletakkan tasnya ke atas meja. Merentangkan tangannya, sembari Si Tukang Pukul memeriksa semua tubuh Igor dengan teliti.
“Tidak ada masalah, Bos,” ucap Si Tukang Pukul. Dia kembali berdiri di samping Jack.
“Duduklah, Arthur.”
Igor duduk berhadapan dengan Jack. Mendekatkan tas ransel berisi uang padanya. Saat mendekatkannya, tak lupa Igor untuk menekan tombol penyadap, agar Roy dapat mendengarkan semuanya dari dalam mobil.
Jack menyeringai lebar. Dia membuka tas ransel dan melihat setumpuk uang lembaran dollar yang memenuhi tas itu.
Jack mengambil dua gepok uang dan mencium aroma khas dari uang itu. Terlihat dari matanya sangat senang saat dia mencium aroma wangi uang jutaan dolar. “Astaga, ini sangatlah wangi.”
Otaknya sudah berencana untuk membangun bisnis kejahatan yang lebih besar lagi dengan uang sebanyak itu.
Tak hanya itu. Jack bahkan bisa membeli rumah mewah dan memiliki griya tawang yang paling mahal di kota itu. Matanya terus berbinar-binar saat melihat uang sebanyak itu.
“Hei, hitunglah uang ini.”
“Siap, Bos!” Tukan pukul itu langsung membawa ransel dan menghitungnya dengan mesin penghitung yang mereka miliki. Menghitung semua uang itu di depan Igor dan Jack.
“Jadi, kemana aku harus mengambil barangku?” tanya Igor.
“Astaga, tenanglah. Kenapa kau harus terburu-buru? Biarkan anak buahku menghitung dulu uangnya. Kau sungguh tidak sabaran.” Jack tersenyum kecil.
Lima menit kemudian, semua uang telah terhitung dengan nominal yang sudah sesuai.
Si Tukang Pukul memindahkan semua uang dari tas itu ke dalam tas milik Jack.