
2 jam berlalu dengan cepat. Butuh waktu 4 jam lagi untuk mereka sampai di kediaman Alex.
Sedari tadi, Eva hanya diam dan memalingkan wajahnya, menatap luar, melihat pemandangan yang indah dari dalam mobil. Namun, tidak begitu. Dia sedang melamun dan membuat rencana setibanya disana.
“Kenapa kau bekerja begitu keras?” Igor memecah keheningan. “Kau bahkan bersikeras untuk menangkap Arthur sendirian.
“Semua orang membicarakan dia. Mereka bilang, dia kaki adalah kaki tangan dari pembunuhan yang dilakukan ayahnya sendiri. Selain itu, aku akan mendapatkan promosi khusus jika aku menangkapnya.
Tak hanya itu, karir ku di kepolisian akan ditetapkan seumur hidup dan mendapatkan pensiun yang cukup tinggi pastinya.”
“Astaga, aku terkejut. Ternyata kau punya ambisi yang sebesar itu.”
“Orang mana yang tak punya ambisi? Aku yakin semua orang memiliki ambisinya masing-masing, begitupun denganku. Aku harus mengambil kesempatan itu selagi bisa.” Eva menyeringai lebar menatap Igor.
Waktu berlalu dengan cepat. Tepat pukul 8 malam, Eva dan Igor telah sampai di kediaman Alex.
Rumah lantai 2 dengan bangunan kuno. Rumah itu cukup luas dikelilingi dengan tumbuhan berjalar yang telah memenuhi dinding rumah.
Lokasi rumah itu berada lumayan jauh dari warga sekitar. Hampir tidak ada tetangga yang bertempat tinggal di sekitar rumah itu, dan tak ada lampu satupun yang meneranginya.
Sebuah senter kecil, tapi dapat memberikan cahaya yang cukup terang dibawa Eva.
Dia keluar dari mobil dan mendekat ke pekarangan rumah, menyenteri keadaan sekitar. Beberapa pita kuning masih terlihat melingkari rumah itu.
“Sepertinya, begitu aku masuk, aku tidak akan pernah bisa keluar lagi.” Eva mengernyitkan dahi.
Dia mulai berjalan memasuki rumah, disusul dengan Igor yang mengikutinya dari belakang.
Sebuah tanaman melati membuat langkah Igor terhenti. Melati itu mengingatkannya pada masa itu. Dia dan kakaknya sengaja menanam melati di beberapa tempat sebagai tanaman hias.
“Sayang, sedang apa kau?” tanya Eva yang sudah sampai di pintu rumah.
“Tak ada.” Igor tersenyum meneruskan langkahnya.
“Lihatlah pintunya disegel. Kita tidak bisa masuk,” ucap Igor memegang gembok pintu.
“Disana!” Eva menyenter ke arah jendela rumah dan berjalan mendekat.
*GREK!!! Pintu jendela terbuka lebar hanya dengan menggeser kacanya.
“Kita bisa lewat sini.” Eva memanjat dinding jendela yang tak cukup tinggi dan masuk ke dalam rumah.
Igor tak memiliki alasan lain untuk tak masuk ke dalam.
Ruang tamu yang cukup berantakan. Hampir semua barang sudah dipenuhi dengan sarang laba-laba.
Beberapa kerajinan logam dan pahatan lainnya seperti, patung budha, guci, dan bingkai foto terbengkalai di ruangan itu.
Patung budha berukuran sekepalan tangan manusia diambil Eva. Ukiran itu tak sempurna karena beberapa bagiannya sudah patah.
“Mungkinkah Arthur yang membuat ini? Apa kau bisa mempelajari sketsa menggunakan patung ini?”
Igor mengambil patung itu dari tangan Eva dan mulai melihatnya. “Ini dibuat oleh amatir,” ucapnya.
“Menurutku, itu tak cukup buruk. Jika beberapa bagian lainnya masih utuh, mungkin akan sangat indah,” sahut Eva.
“Ini ukiran lilin, bukan ukiran logam. Sebuah template dibuat dengan lilin lembut untuk membuat cetakan gips, dan jadilah barang ini,” jelas Igor.
“Apa kau melihat garis kasar disini?” Igor menunjuk bagian dari patung itu. “Ini dibuat dengan kikir. Dan bagian ini, kau bisa dengan jelas melihat ini tak simetris dengan bagian lainnya.
Sepertinya, pembuat ini tak bisa menggunakan alat kikir dengan baik dan benar, dia hanya mencoba untuk pamer. Mungkin, itu adalah ciri khasnya. Tak bisa menggunakan alat kikir. Ini juga tidak bisa dijual,” jelas Igor.
“Entahlah.” Igor kembali meletakkan patung itu ke atas meja. “Tidak ada yang tahu soal itu, bukan?”
Eva mengangguk, mencari cara lain untuk menekan suaminya.
“Astaga, sayang sekali. Kita datang jauh-jauh kemari tanpa hasil.”
“Sebenarnya, yang ingin aku tuju adalah tempat lain.” Eva menyeringai lebar. “Ruang bawah tanah. Tempat Alex menyandera beberapa korbannya.”
Igor terdiam membisu. Terlihat dari raut wajahnya dia tak ingin pergi ke tempat itu. Hanya akan membuatnya marah, jika mengingat tempat itu.
“Untuk apa?” tanya Igor.
“Jika kau keberatan, kau bisa menunggu di dalam mobil, Sayang. Aku akan masuk sendiri.”
Eva melangkah menuju pintu basement berada.
“Tidak. Aku tak keberatan.” Igor tersenyum menahan tangan Eva dan mengambil senter yang dibawanya. “Ayo kita pergi. Aku akan membawa ini dari belakang, dan kau tunjukkan jalannya.”
Ruang basement dengan tangga berputar menuju ke lantai basement itu. Kini Igor berjalan di depan memasuki basement.
Di bawah basement itu terdapat sebuah sel anjing yang cukup besar. Beberapa reporter mengatakan bahwa Alex menggunakan sel itu untuk para korbannya sebelum dieksekusinya.
Igor berhenti di salah anak tangga dan menutup hidungnya. Eva hanya tersenyum sinis dibelakangnya.
“Itu bau darah. Apa kau tak pernah menciumnya? Bau darah akan tetap ada, kecuali dibersihkan menggunakan hidrogen peroksida.”
Igor diam dan melanjutkan langkahnya.
Menyenteri semua sudut ruangan di dalam basement, Igor kembali teringat masa kecilnya, karena ayahnya pernah mengurungnya di sel anjing itu.
Raut wajah Igor sangat panik, dan Eva masih belum puas melihat reaksi Igor.
Terbelalak mata Igor. Tak ada aba-aba sebelumnya, tiba-tiba Eva menyetel walkman milik Igor dengan pengeras suara. Igor tak menyangka jika Eva akan melakukan itu disana.
Suara rekaman wanita kecil yang sedang menyanyi dan larut dalam kesedihannya yang dalam. Entah suara siapa di dalam walkman itu.
Eva melakukan itu untuk memancing emosinya keluar. Tak ada hal lain yang bisa dia lakukan untuk membuat Igor terpancing, kecuali suara dari walkmannya itu.
Dengan beberapa penjelasan yang telah didapatnya, Eva yakin Igor akan bereaksi atas itu, dan kini dia melakukannya.
Tubuh Igor mematung sekejap. Seolah-olah tubuhnya membeku mendengar suara walkman yang diputar di tempat itu.
Saat Igor menoleh, Eva hanya tersenyum dan balik bertanya.
“Menurutmu bagaimana isi suara rekaman ini? Bagiku, ini terlihat menyedihkan. Dia menyanyi, tapi seolah dia akan menangis.”
Eva terus berpura-pura bodoh karena ingin melihat reaksi suaminya sendiri.
“Apa itu?” Igor tersenyum menelan ludah.
“Entahlah. Aku menemukan ini di dalam tas Arthur, bercampur dengan barang lainnya dan buku gambar yang kau lihat tadi siang.”
“Lantas, kenapa kau memutarnya?” tanya Igor.
Igor meremas senter yang dipegangnya erat-erat. Leher, dahi, pipi, dan seluruh tubuhnya dipenuhi dengan keringat dingin karena mendengar itu.
Hatinya sangat ingin berontak dan mengambil walkman miliknya itu, tapi, dia tak mungkin melakukan itu pada istrinya sendiri. Igor harus tetap menjadi Igor, bukanlah Arthur.