
“Itu semua salahku. Karena aku tak tahu apa-apa. Aku tak tahu apapun yang sudah seharusnya aku ketahui. Bahkan, kau dan Wartawan Roy lebih tahu, bagaimana Alex mencari korbannya.
Ini mungkin kesempatan terakhir bagi mereka, timku. Mereka semua mengandalkanku dan timku. Semua orang di kepolisian, bahkan keluarga korban sekalipun. Akan tetapi, aku terlihat seperti orang bodoh yang tak tahu apa-apa,” jelas Eva panjang lebar.
“Ini hanyalah pekerjaan, Sayang. Kau tak perlu berempati dengan para korban maupun keluarganya.” Tak henti-hentinya Igor terus membujuk Eva.
“Aku akhirnya mengerti…. Bagaimana aku berhasil menanggung semua kasus mengerikan itu. Aku harus melupakanmu. Itulah satu-satunya cara agar aku berhasil.
Kau selalu membuatku lupa dengan semua pekerjaanku. Setiap aku bersamamu dan larut dalam asmara, aku selalu melupakan semua pekerjaan mengerikan yang kulakukan.
Aku bisa melupakan semuanya saat bersamamu, tapi tidak dengan sekarang.”
Eva melepaskan tangan Igor dari lengannya, lalu pergi ke ruang keluarga.
Igor mematung. Dia sedang berpikir kenapa Eva tiba-tiba berubah seperti itu. Apa dia melakukan kesalahan? Kesalahan apa yang dia perbuat selama ini?
Semua pikiran itu memenuhi isi kepalanya. Akan tetapi, tak pernah terlintas sedikitpun di kepalanya, jika Eva sudah mengetahui semua identitasnya.
***
“Wah, benarkah? Apa kau serius dengan perkataanmu?” seru Roy.
Pagi-pagi sekali, Igor sudah mendatangi apartemen Roy untuk menceritakan masalah rumah tangga yang sedang dihadapinya.
Pukul jam 6 pagi dia sudah datang ke rumah Roy dan membangunkan Roy yang masih tertidur pulas di sofanya. Roy sangat kesal dengan itu.
Igor bingung dan tak tahu harus dengan siapa lagi dia bercerita. Dia tak memiliki teman lain selain Roy dan kakaknya sendiri, Oliv.
“Dia bilang, dia tak mencintaiku lagi. Akan tetapi, aku tak tahu apa yang harus aku lakukan untuk memperbaikinya.” Igor berdiri dan menatap pemandangan kota dari balik jendela. Melamun.
“Kau membangunkanku sepagi ini hanya untuk menanyakan soal hubunganmu padaku? Hei, apa kau gila?” Roy kembali merebahkan dirinya di sofa.
“Aku serius. Saat ini, aku merasa jauh lebih tersesat daripada saat turun gunung. Aku tak tahu harus melakukan apalagi saat ini.”
“Astaga!” Roy mendengus dan menguap, membuka mulutnya lebar-lebar.
*DING DONG!
“Ah, sial! Itu pasti Oliv.” Roy bangun dari sofa bergegas merapikan pakaiannya sejenak. Dia tak ingin terlihat acak-acakan di depan Oliv. “Dasar, Berandal. Aku tak sempat berganti pakaian gara-gara kau.”
Dia pergi dan membukakan pintu.
“Arthur! Ada apa? Apa kau memiliki masalah?” Oliv panik karena Igor juga menceritakan masalahnya pada Oliv.
“Duduklah, Kak.”
Oliv duduk di sofa dan mendengarkan semua cerita Igor tentang masalah yang dihadapinya, sedangkan Roy bergegas ke dapur membuatkan minuman untuk Oliv.
“Ah,, begitu. Rupanya ini masalah rumah tanggamu. Menurutku, ini akan menjadi masalah besar,” ucap Oliv menunduk.
“Eva sedang mengalami kesulitan. Menurut kalian, apa yang harus kulakukan agar membuatnya senang?”
“Wah, bukankah sudah jelas, apa yang harus kau perbuat?” sahut Roy. “‘Aku mencintaimu seperti orang gila. Aku akan mati jika hidup tanpamu.’ Katakan hal semacam itu padanya.
Bukan hanya itu, kau juga harus memberikannya bunga dan hadiah yang bagus untuknya. Banjiri dia dengan penuh kasih sayang, dan kau akan membuatnya seolah-olah tersihir denganmu.
Semua pasangan melakukan itu, Arthur. Kau harus memberikannya apa yang dia inginkan,” seru Roy.
“Kau benar. Hadiah terbaik yang bisa kuberikan untuk Eva sekarang adalah menangkap kaki tangan. Jika aku membantu menangkap kaki tangan sialan itu, aku yakin pasti Eva akan sangat senang.” Igor menyeringari.
“Astaga, ini gila. Hanya rumah tangga kalian yang menyelesaikan masalah dengan menangkap kaki tangan pembunuh berantai,” sahut Roy.
“Aku yakin pasti Eva sangat berharga bagimu,” sahut Oliv.
“Ya, kau benar, Kak. Dia sangat penting bagiku.” Igor mengangguk penuh harapan.
“Tidak, dia sangat berharga bagimu,” tegas Oliv.
“Apa bedanya?” tanya Roy serius.
“Sesuatu yang menurutmu penting, menjadi kurang penting seiring berjalannya waktu, dan sesuatu yang berharga akan membuatmu sakit, jika kau kehilangannya.”
Ruang tamu Roy hening sejenak. Kedua pria dewasa itu tersentuh dengan kata-kata mutiara dari Oliv.
“Baiklah. Sepertinya, aku harus segera pergi dari sini.” Igor berdiri. “Kalian bisa memiliki waktu penuh untuk bersama.”
“Mau kemana kau?” tanya Roy.
“Aku telah mendapatkan sebuah petunjuk tentang keberadaan kaki tangan itu. Rekaman yang kau berikan kemarin pada Eva, aku telah mengetahui-suara apa dan dimana tempat itu berada.”
“Apa?”
“Sungguh?”
Roy dan Oliv berseru.
“Kenapa kau baru beritahu kami sekarang? Suara apa itu? Dimana tempatnya? Bagaimana bisa kau tahu?”
“Kalian tunggu saja disini. Aku akan mengatakannya saat aku kembali.” Igor memakai jaketnya dan bersiap untuk pergi. “Aku pergi dulu, Kak. Jika Roy macam-macam denganmu, bunuh saja dia.”
“Wah, lihatlah berandal ini! Astaga, sulit dipercaya dia akan mengatakan hal itu.” Roy mendengus kesal melihat Igor yang berjalan keluar dari rumahnya.