SUAMIKU BUKAN PEMBUNUH

SUAMIKU BUKAN PEMBUNUH
EPISODE 035


Kembali ke dalam mobil SUV milik Roy.


Roy tercengang dan menelan ludah sendiri saat mendengar kejadian yang sebenarnya itu. Dia hanya melongo menatap Oliv tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya.


“Aku tahu kau sangat terluka. Dulu kau juga menyayangi keluargaku. Kau bahkan menghormati ayahku, saat kau tak tahu bahwa dia seorang psikopat.


Kau juga satu-satunya teman Arthur di sekolah, meski dia adik kelasmu. Dan kau juga satu-satunya orang yang mencintaiku tanpa pamrih saat itu.” Mata Oliv berkaca-kaca.


“Cukup, Liv. Hentikan itu!” Roy tak mau mengulangi masa kelamnya lagi.


“Saat itu kau baru berusia 17 tahun, jadi, aku yakin kau bingung dan terluka, tapi, tak ada yang memperdulikanmu sama sekali. Tak ada seorang pun yang meminta maaf padamu.


Aku tahu ini sudah terlambat, tapi, izinkan aku untuk meminta maaf padamu. Maafkan aku, Roy.” Menetes air mata Oliv di pipinya.


Begitupun dengan Roy yang terlihat akan menangis saat mengingat kembali masa itu.


“Akan tetapi, sebaiknya kau tak marah dan benci pada Arthur. Dia tak melakukan kesalahan apapun. Aku yang salah. Akulah yang membunuh petani desa malang itu.


Bukankah itu berita eksklusif untukmu? Aku tahu kau mendapatkan banyak uang dan kepopuleran dari itu. Maka itu, berhentilah mengganggu Arthur, Brengsek!”


Tangisan Oliv semakin kencang terisak-isak. Dia keluar dari mobil Roy, lalu pergi dengan taksi.


Roy mematung. Dia tak mencegah Oliv atau mengatakan sepatah katapun padanya.


***


Siang menjelang sore. Matahari mulai condong ke arah barat. Suhu mencapai 20 Derajat Celcius, merupakan suhu yang paling tinggi di kota itu.


Di dalam toko kerajinan nya, Igor kembali mendengarkan suara kaki tangan itu dari laptop. Dia menyambungkan pad headset agar suara itu terlihat cukup jelas.


Puluhan bahkan ribuan kali Igor mendengarkan rekaman itu berulang-ulang. Dia mendengar suara lain yang terdengar pada rekaman itu.


Sebuah benda keras yang saling terbentur satu sama lain. Igor yakin bahwa Si Kaki tangan itu sedang berada di suatu tempat. Igor berpikir keras, apa suara dari benda yang saling terbentur itu.


“Sayang!” Oliv datang. Dengan cepat Igor menutup dan mencabut headset dari laptopnya.


“Kau datang?” Igor berdiri mendekat Eva.


“Ya. Duduklah. Aku ingin berbicara denganmu.” Eva meletakkan sebuah tas ransel berukuran sedang ke atas meja, lalu duduk.


Igor tercengang melihat tas ransel itu. Itu adalah tas ransel miliknya dulu, yang dibawa oleh Fredrik saat Igor mengasingkan dirinya.


“Duduklah, Sayang.” Eva menyeringai lebar. Kembali melakukan rencananya. Dia sengaja melakukan itu untuk melihat reaksi suaminya.


“Baiklah.” Igor pun duduk. “Tas apa ini?”


“Ini tas Arthur. Fredrik menyimpan ini saat dia masih hidup. Aku mendapatkan tas ini dari istrinya. Wah, aku sangat beruntung tas ini jatuh ke tanganku.” Eva tersenyum.


“Lantas, apa hubungannya itu denganmu?” Wajahnya tersenyum, tapi hatinya akan copot saat melihat tas itu. Igor harus terus berpura-pura di depan istrinya, meski dia tak tahu, Eva sudah mengetahui semuanya.


“Tentu saja ada hubungannya denganku. Aku akan mencoba menangkap Arthur sendirian.”


Di bawah meja, Igor meremas tangannya sendiri. Panik


“Sendirian?”


“Ya.” Eva mengangguk. “Yurisdiksi dan timku sudah tak memegang kasus ini, lantas, aku akan melakukanya sendiri.”


“Maka itu, aku butuh bantuanmu, Sayang.” Eva membuka tas ransel dan mengeluarkan walkman milik Arthur.


DEG! Detak jantung Igor sudah mulai tak karuan melihat walkman miliknya sendiri.


Tak hanya itu, Eva mengeluarkan sebuah buku gambar, yang diberi oleh Bos pemilik perusahaan ekspedisi, tempat kerja Arthur.


Sesekali Eva melirik dan mantap Ekspresi suaminya yang masih tampak seperti biasa dari raut wajahnya.


“Coba lihat itu, Sayang.”


Igor tersenyum dan mengambil buku gambar. Banyak sekali gambar kerangka dari kerajinan di atas kertas buku gambar itu. Beberapa lainnya mirip seperti kerajinan yang sudah dipajang di toko.


Dengan santainya, Igor terus membuka lembaran itu satu persatu.


“Aku juga bisa menjadi sepertimu. Aku bisa berbohong tanpa berkedip sekalipun. Mari kita lihat, siapa yang lebih pintar berbohong diantara kita,” gumam Eva dalam hati.


“Arthur sepertinya juga memiliki bakat dan keterampilan yang sama sepertimu. Jika melihat dari kerangka yang dibuat, dia pasti melakukan pengrajin logam.


Saat dia bekerja di perusahaan ekspedisi pengantar barang, dia bercerita pada bosnya-dia akan menabung dan membuka toko dan kerajinan logam sendiri.


Dia kadang membuat barang sendiri agar tak kehilangan keahliannya. Bahkan orang yang tak tahu banyak, bisa dengan mudah bilang-bahwa dia memiliki bakat itu.


Jika kau meminta bantuan asosiasi, aku mungkin bisa menemukan daftar orang yang cenderung membuat desain dan kerangka jenis yang sama,” ucap Eva panjang lebar.


Igor tersenyum dan menutup buku gambar itu. “Itu tidak mungkin, Sayang. Aku perlu dan bahkan harus melihat secara langsung karya aslinya untuk mengetahui.


Sangat sulit untuk mengetahui gaya kerajinannya-hanya dengan melihat sketsa dan kerangka ini. Aku juga tak tahu apa dia membuat barang besar atau hanya aksesoris kecil. Sulit untuk mengetahui hal itu.


Dan aku bahkan tak tahu bahan apa yang dia gunakan,” jelas Igor.


“Hmm. Jadi, mari kita pergi ke rumah Alex. Ikutlah denganku. Aku yakin kita akan menemukan beberapa kerajinan milik Arthur disana. Beberapa berita lain juga sudah memberitakan tentang hal itu.


Mereka berbondong-bondong pergi ke rumah Alex dan merekam semuanya yang berada di sana. Aku melihat ada sebuah satu atau dua kerajinan tangan yang berada di tempat itu, saat aku melihat berita.”


Suasana lengang sejenak. Igor dan Eva saling tatap satu sama lain. Igor yang pintar menyembunyikan ekspresi dan rasa, begitupun Eva yang sudah ahli membaca psikologi lawan bicaranya.


“Apa kau sibuk hari ini? Jika tidak, maka ikutlah denganku pergi kesana.”


“Ya, aku akan pergi denganmu.” Igor tersenyum kecil.


“Baiklah. Anggap saja kita sedang berkencan bersama.” Eva memasukkan kembali walkman dan buku gambar ke dalam tas dan berdiri. “Aku akan menyiapkan mobil, segera keluarlah jika kau sudah siap.”


Eva melambaikan tangannya dan pergi dari toko Igor.


Igor menarik nafas sedalam-dalamnya, lalu menghembuskannya kembali. Terus melakukan itu berulang kali.


Sesekali dia memegang dadanya. Dia sangat syok dan merasa sesak melihat walkman miliknya yang berada di tangan Eva.


Seberapa pintar dan sesempurna mungkin Igor menyembunyikan sesuatu, pasti ada celah untuk itu.


Seperti pepatah mengatakan ‘Seberapa pandai tupai melompat, pasti akan jatuh juga’.


Mereka berdua akhirnya berangkat. Igor duduk di kursi kemudi dan Eva disampingnya. Mobil melesat kencang melewati jalan tol.


Hari itu jalanan cukup sepi, Igor dapat membawa mobil dengan kecepatan tinggi, tanpa khawatir akan menabrak mobil lain yang sedang melintas.