
Rantai kecil memiliki diameter 50 cm dikeluarkan dari kantongnya. Dengan cepat Igor menarik leher Si Jangkung dari belakang dan kembali membantingnya.
Masih dengan rantai yang berada di leher Si Jangkung. Nafas Si Jangkung mulai tersengal-sengal karena Igor terus menahan lehernya dengan rantai itu.
Ditambah dengan menginjak perut dan dada. Menambah berat kesakitan yang dialami Si Jangkung.
Penutup kepala Si Jangkung telah terbuka.
Gun, ternyata dia adalah pelakunya. Seorang sopir taksi langganan Fredrik yang diinterogasi oleh Han beberapa hari yang lalu.
Kenapa Gun bisa sampai disana? Saat diinterogasi oleh Han, Gun sengaja meninggalkan tumbler minuman miliknya. Alih-alih hannya botol minuman, sebenarnya itu adalah alat penyadap.
Gun dapat mendengarkan semua informasi yang sedang dibicarakan di dalam kantor polisi itu. Termasuk laporan dari Eli yang mengatakan bahwa memiliki foto Arthur.
Igor terkejut belum mengenali pria itu, saat dia membuka masker milik Gun.
“Siapa kau? Aku bahkan tak mengenalmu?” Igor mengencangkan rantai di leher Gun.
“Ar… Arthur,” ucap Gun.
“Jawab aku, siapa kau? Kenapa kau melakukan ini padaku? Kau membuatku jadi tersangka sekarang.”
“Kau mungkin tidak mengenalku, tapi mungkin kau sangat mengenal Elena dengan baik. Dimana Elena? Kau pasti tahu keberadaannya.”
Igor tak mengerti apa yang diucapkan Si Jangkung itu. “Apa katamu? Elena?”
“Kita tidak punya waktu untuk mengobrol seperti ini. Sebentar lagi, polisi akan datang kemari. Tak satupun dari kita ingin bertemu dengan polisi di tempat ini.”
Igor semakin mengencangkan rantai di leher Gun. Pria Jangkung itu terbatuk-batuk kehabisan nafas, mencoba menarik rantai dari lehernya.
Dan benar saja, tak lama setelah itu, sirine mobil polisi terdengar. Tiga mobil polisi melintas disusul mobil Eva dari belakang. Dia bersama Mike saat itu.
Beberapa opsir langsung turun dari mobilnya, masuk ke dalam rumah. Mereka sudah pasti menemukan Roy yang tak sadarkan diri saat itu.
“Mari kita bertemu tanpa polisi. Ada penginapan yang murah dan bagus di dekat sini. Aku akan menjemputmu dengan taksi disana malam ini juga. Aku sudah menunggu lama untuk kencan pertama ini.
Resident Beauty. Sebelah tempat pemancingan. Temui aku disana.”
Igor berpikir keras. Dia masih ingin membuat Gun berbicara, tapi, dia tahu istrinya sendiri sudah berada di depan rumah Nenek Eli. Dilema yang cukup berat.
Gun menggunakan kesempatan saat Igor lengah dan berpikir. Dia menendang Igor, lalu melompat ke dinding, berlalu pergi melewati hutan belantara.
“Arthur!!!”
Gawat! Eva berada di samping rumah dan berteriak sebelum Igor dapat melompat.
Untungnya, saat itu Igor menggunakan hoodie berwarna hitam dan mengenakan penutup kepalanya. Dia juga tak menoleh sama sekali, saat istrinya memanggil nama aslinya.
Suasana hening sejenak. Tak ada waktu lagi, Igor harus melompat ke dinding dan berlari melewati hutan belantara itu.,
“Arthur, jangan lari!” Eva memanjat tembok dengan lincah dan berlari mengejar Arthur.
Semak-semak belukar, pohon-pohon besar, dedaunan kering dilewati pasangan pasutri yang saling mengejar itu.
Jantung Igor berdetak kencang. Dia harus lari sekencang-kencangnya agar Eva tak bisa mengejar.
Tak ada jalan lain. Hutan itu hanya memiliki satu jalan yang menuju ke jalan sawah kecil di pedesaan.
Igor terus berlari, mengencangkan hoodie, agar penutup kepalanya tak terbuka, dengan Eva yang menyusul dari jarak 100 meter. Eva cukup jauh tertinggal, karena jangkah kaki Igor yang panjang ditambah dengan kecepatan berlarinya.
Eva tak ingin kehilangannya, dia terus berlari mengejar, tanpa dia tahu, bahwa suaminya sendiri lah yang sedang dia kejar.
Tak mungkin baginya untuk terus berlari. Dia akan tertangkap, karena para opsir lainnya mungkin akan membantu Eva.
Gudang gelap gulita. Tak ada lampu atau cahaya yang menerangi ruangan itu. Igor tetap bersembunyi dan merencanakan sesuatu di dalam sana.
Beberapa alat perkakas berada di dalam gudang itu, palu, paku, celurit, terpal, dan traktor, alat pembajak sawah dan masih banyak lagi.
Igor menunggu Eva dari balik pintu gudang. Saat Eva masuk, Igor menggunakan terpal gelap untuk menutup kepala dan menahan tubuh Eva, agar dia tak bisa melihat.
“Sial! Lepaskan!” Eva meronta-ronta.
Igor hanya menahan Eva dengan kedua tangannya dan menutup semua bagian kepalanya, tanpa memukulnya sedikitpun.
Beberapa kali Eva memberikan perlawanan dengan menyikut perut Igor dan menendang ***********. Berusaha melepaskan terpal besar yang menutupi kepalanya.
Igor berdiri dan menahan rasa sakit, karena Eva telah menendang ***********. Meringis kesakitan.
Eva benar-benar wanita yang sangat tangguh. Walau kepala dan matanya sedang tertutup, dia bisa membaca pergerakan Igor dengan mendengarkan langkah kaki.
Eva dapat menendang perut Igor, sebelum Igor sampai menahannya lagi. Dia terpental cukup karena tendangan Eva.
Dia tak ingin menyerah dan tak ingin menyakiti Eva. Igor melompat dari tempatnya, menubruk Eva hingga terjatuh.
KLONTANG! PLAK!!!
Beberapa perkakas berjatuhan mengenai punggung Igor yang melingdungi Eva dengan itu.
Dengan cepat, Igor merogoh kantong jaket Eva. Sebuah borgol diambil dan menahan tangan Eva. Mengaitkannya dengan etalase yang ada di dalam gudang itu, lalu membawa kunci borgol itu..
Kini tangan Kiri Eva terkunci dengan etalase, dan tangan kanannya masih sibuk melepas terpal tebal yang menutup kepalanya.
“Maafkan aku, Sayang,” gumam Igor dalam hatinya. Dia langsung pergi saat itu juga.
“Lepaskan! Lepaskan aku!!! Sialan!!!! Arthur!!!! Berhenti disana!!!!”
30 menit berlalu. Selama itu Eva masih terkunci dan terborgol di gudang, tempat perkakas. Tepat pukul 11 malam.
Dua mobil patroli berdatangan. Salah satunya dikendarai oleh Mike. Hanya dia yang sempat melihat Eva memanjat dinding dan berlari di hutan saat di rumah Eli.
“Wah, Senior! Apa kau bercanda? Apa yang kau lakukan disini? Aku mencarimu kemana-mana, rupanya kau disini. Untung saja aku melihatmu berlari kemari tadi.” tanya Mike tertawa kecil melihat atasannya terborgol.
“Diam kau, Mike. Lebih baik kau lepaskan ini dulu. Aku malu banyak opsir diluar, melihatku seperti ini.”
Borgol pun telah dilepas dengan beberapa kunci cadangan dari Mike.
“Kau terluka? Lihatlah sekitarmu!” Beberapa perkakas besar, cangkul golok, dan alat berat lainnya berserakan di samping Eva. “Tulangmu bisa saja patah jika benda itu menimpamu.”
Eva berpikir. Mike ada benarnya. Igor yang melindunginya dari semua perkakas berat itu.
“Sudahlah. Lupakan saja! Bagaimana dengan Nenek Eli? Apa di baik baik saja?” Eva mengalihkan.
“Ya, dia baik-baik saja. Hanya sedikit syok, karena kejadian yang dialami. Dia hanya terikat, tapi tidak ada luka sama sekali di tubuhnya, tapi, fotonya telah dicuri.” Mike membantu Eva berdiri.
“Ah, sial! Seharusnya aku menangkap bajingan itu. Bagaimana bisa Arthur tahu soal itu? Siapa sebenarnya dia?” Eva mendengus kesal.
“Itu bukan dia! Arthur tidak membunuh Fredrik,” jelas Mike.
“Apa maksudmu, Mike.”
Mike menjelaskan dari penjelasan dari Nenek Eli.