
Ruang tamu di apartemen Roy. Igor, Oliv dan Roy ternyata juga sedang berkumpul untuk menyelidiki, siapa kaki tangan itu.
Papan tulis putih berada di hadapan mereka. Roy berdiri memimpin penyelidikan itu dan menulis beberapa hal penting di atas papan tulis.
Sementara Igor dan Oliv duduk lesehan di atas tikar memperhatikan. Semua masalah yang berhubungan mulai ditulis dan dihubungkan satu sama lain.
Dimulai dengan mencari seseorang yang pernah memberikan gelang pada Oliv di pemakaman ayahnya.
“Aku tak melihat wajahnya dengan jelas. Yang pasti, saat semua pengunjung pergi, dia baru datang ke tempat pemakaman Ayah. Tampak tak ada yang khas sama sekali dari penampilannya.
Menggunakan baju serba hitam, dan masker. Orang itu menangis terisak-isak di depan peti ayah. Dia juga berkata bahwa aku dan Arthur pernah membantunya.
Itulah sebabnya dia memberikan gelang itu padaku sebagai ucapan terimakasih. Saat itu aku berdiri menyambut beberapa tamu yang datang dan pergi, sementara Arthur, dia tertidur di pojok ruang pemakaman.
Dia bilang, gelang itu akan membawa keberuntungan padaku. Suaranya sangat lembut dan menenangkan di hati, bahkan hingga membuatku terharu saat itu.
Sebelum dia pergi, dia melihat Arthur yang meringkuk tertidur di pojok ruangan dan berkata ‘Dia Arthur? Malang sekali anak itu. Masa depannya menuju ke jalan yang menakutkan’
Perkataannya itu, menjadikan alasanku memberikan gelang itu pada adikku,” jelas Oliv panjang lebar.
“Jelas! Dia mendekatiku dengan sengaja. Siapa bajingan itu?” sahut Igor.
“Ah, satu hal lagi. Saat itu, dia pernah memberikan padaku nomor telepon dan berkata, jika tak mempunyai siapapun untuk dituju dan merasa putus asa, dia menyuruhku menelponnya agar dia bisa membantu.”
“Nomor telepon? Apa kau masih menyimpan itu, Kak?”
“Ah, entahlah. Sepertinya aku sudah tak memilikinya. Aku menulis nomor itu di dalam buku catatan SMA. Saat Arthur menghilang, aku sudah membakar semuanya termasuk buku dan semua seragam sekolah. Aku tak ingin meninggalkan jejak sedikitpun.”
Ruang tamu Roy lengang sejenak. Buntu! Mereka tak akan bisa mendapatkan buku catatan milik Oliv.
“Ini. Cobalah dengar ini.” Igor mengeluarkan ponselnya dan memutar suara Si Kaki tangan. “Jangan berfokus pada suaranya, tapi kebisingan yang ada di dekat orang itu. Benda keras yang saling terbentur.”
Roy di samping Oliv dan mendengarkan suara samar-samar itu dengan seksama.
“Apa kalian dapat mendengar itu?”
“Ya, aku mendengarnya,” jawab Oliv.
Roy hanya melamun. Dia sama sekali tak mendengarkan suara rekaman itu. Matanya malah terfokus menatap wajah cantik Oliv. Sesekali Oliv menyibakkan rambutnya, membuat Roy semakin melongo dan terpesona.
“Menurutmu, suara apa itu?” Igor mematikan suara rekaman.
“Entahlah, aku tak yakin. Sepertinya itu suara di dekat rumah atau gedung yang sedang dibangun.”
“Sepertinya tidak. Aku yakin aku pernah datang ke tempat itu, tapi aku benar-benar lupa saat ini.”
“Roy!” panggil Igor.
“Kenapa kau sangat cantik?” ucap Roy lirih melihat Igor. Roy melamun dan menanggapi Igor dengan melantur, karena dia terus melihat Oliv.
“Apa?” Igor kaget. “Kau bilang apa?”
“Apa maksudmu? Aku tak bilang apapun.” Roy panik celingukan.
“Kau baru saja berkata sesuatu padaku. Kau pikir aku tuli?”
Roy terpojok dan bingung mencari alasan. Dia kembali berdiri dan berkata,
Wajahnya masih tersipu malu dan dia mencari cara untuk mengalihkan perhatian kakak beradik itu. Tapi tidak dengan Igor, dia tahu pasti apa yang dipikirkan Roy saat itu.
“Kita berkumpul disini untuk menemukan kaki tangan dari pembunuhan berantai 15 tahun lalu. Sesudah menemukannya, aku tak ingin berhubungan dengan kalian lagi. Selama-lamanya.”
“Baiklah. Terserah kau saja,” jawab Oliv.
“Apa? Aa.. Baiklah. Baik jika kalian mengerti.”
Roy tak menyangka Oliv akan menanggapi perkataannya itu. Dia hanya mengalihkan pembicaraan, tapi Oliv langsung setuju dengan itu. Dia tak akan berhubungan lagi untuk selama-lamanya, setelah kasus itu berakhir.
“Hei, Berandal!” panggil Igor.
“Apa? Kenapa lagi? Apa kau tak setuju?” Roy menggerutu.
“Apa yang Gun katakan padamu?”
“Apa maksudmu?” Roy berlagak dungu.
“Aku tahu kau bertemu dengan Gun di dalam penjara. Apa yang dia katakan padamu?”
“Itu. Ah, sial! Aku baru ingat dia bercerita.” Roy menjetnikkan jari.
“Singkat saja. Saat itu dia, Elena, bertengkar hebat dengan suaminya, lalu dia kabur dari rumah.
Setelah berhari-hari kabur, dia menelpon suaminya di telepon umum, dan saat itulah dia mengetahui bahwa Gun sedang berada dirawat di rumah sakit karena kecelakaan saat dia bekerja sebagai sopir.
Elena akhirnya syok karena mendengar Gun dirawat disana, jadi, dia menanyakan kamar pasien dan langsung menutup telepon umum itu, lalu, tiba-tiba dia langsung menghilang setelah pergi dari telepon umum.
Begitulah singkatnya dia bercerita padaku,” jelas Roy panjang lebar.
“Apa menurutmu dia diculik dalam perjalanan menuju rumah sakit?” Oliv berpikir.
“Tidak, Kak. Tak mungkin. Ayah tidak akan bertindak seceroboh itu. Itu sangat ceroboh. Ayah sangat tak menyukai tindakan ceroboh dalam hal apapun.
Ayah juga benci jika terjadi sesuatu hal yang tak terduga. Ayahku dan kaki tangannya pasti tahu sebelumnya, bahwa Elena telah kabur dari rumah,” timpal Igor.
“Benar, kan? Semua korbannya memiliki ciri yang sama. Menculik dan menyekap korban sebelum mengeksekusinya. Menurutku, dia dan kaki tangannya telah menculik Elena secara tiba-tiba dan spontan,” seru Roy.
“Telepon umum itu berada di dekat halte bus. Aku yakin dia berada disana untuk pergi ke rumah sakit, tempat suaminya dirawat. Yang menjadi masalah adalah. Bagaimana dia diculik?” kata Eva.
“Jebakan! Sebuah jebakan! Kalau aku menjadi ayah, aku akan membuat sebuah jebakan. Aku juga ingat, Ayah sangat suka membuat jebakan, dalam hal apapun itu, dan Elena akan jatuh ke dalam jebakannya,” ucap Igor.
“Apa maksudmu? Menurutmu, dia akan masuk ke perangkap itu dengan sendirinya?” Roy tak mengerti.
“Ya, begitulah kurang lebih. Suaminya sedang masuk ke rumah sakit, dan dia pasti membutuhkan banyak uang untuk biaya rumah sakit itu. Menurut kalian, apa yang akan dilakukannya saat keadaannya mendesak dalam situasinya saat itu?”
Suasana kembali lengang. Tak ada yang bisa menebak dan mengira-ngira, perangkap apa itu.
SEBUAH PERANGKAP! Ditulis Roy diatas papan tulis. “Astaga. Kita kekurangan informasi.”
“Bisakah kau mendapatkan catatan panggilan Elena atau berkas kasus saat dia menghilang?” tanya Oliv.
“Astaga. Aku wartawan, Liv. Bukan mata-mata ataupun detektif.”
“Sial! Kuharap aku bisa mengingat nomor telepon yang diberikan pria itu.” Oliv menggosok-gosok rambutnya.