
Rumah sakit MEDICAL CENTER. Rumah sakit tempat Igor dirawat. Rumah sakit itu berada di tengah kota Vladivostok.
Sudah tiga hari Igor tak kunjung sadar. Eva sengaja membawanya ke tempat rumah sakit itu karena ayah Igor adalah seorang dokter senior yang bekerja di rumah sakit itu.
Pagi yang cerah. Waktu menunjukkan pukul 9 pagi. Di kamar tempat Igor dirawat, dia terbangun dari komanya, setelah tiga hari tak sadarkan diri.
Igor terduduk di ranjang, bingung melihat kondisinya sendiri. Pakaiannya yang sudah berganti dengan pakaian pasien pada umumnya, dan tangannya yang diberi infus. Dia celingukkan melihat kondisinya sendiri.
Entah apa yang dipikirkan olehnya. Igor mencabut semua infus dari tangannya, lalu, beranjak dari kasur. Dia tak melihat seorang pun yang ada di dalam kamar rawatnya itu.
Beberapa kali dia sempat terjatuh dan berpegangan pada ranjang, karena kondisi yang belum pulih sepenuhnya.
Dia bersikeras untuk berdiri dan keluar dari kamar itu.
Di luar kamar, seorang petugas kepolisian duduk menunggu di depan kamarnya.
“Pak Igor, anda sudah bangun? Kau baik-baik saja? Mari kuantar ke kamarmu kembali. Mari, Pak!”
Igor masih ling-lung. Dia menatap opsir itu dari kepala hingga ujung kakinya. Dia berhalusinasi bahwa opsir itu akan menangkapnya. Menyangka bahwa identitas aslinya telah diketahui.
“Minggir kau!”
Igor mendorong opsir itu. Terus berjalan melewati lorong rumah sakit.
Dia memegangi kepala dan lengannya yang terluka cukup parah dan terus berjalan sempoyongan tanpa alas kaki.
“Astaga, Sayang!”
Di persimpangan lorong rumah sakit megah itu, dia bertemu dengan Eva.
Igor semakin ketakutan dan melangkah mundur. Tak tahu apa yang harus dia katakan jika Eva sudah mengetahui semuanya.
Eva menangis, berlari dan memeluknya.
“Ada apa denganmu?” Eva menangis terisak-isak. Memeluk dan mencengkram bahu Igor dengan kuat.
“Jangan menangis. Semua baik-baik saja. Aku pun juga baik.” Igor balas memeluk Eva, mengelus rambut panjang Eva.
Di hari itu juga, semua media dan surat kabar masih memberitakan tentang tragedi yang telah terjadi.
Seorang sopir taksi berumur pertengahan 40-an bernama Gun telah tertangkap. Pelaku pembunuhan di toko emas milik Fredrik.
Terungkap bahwa dia merupakan suami dari Elena, korban terakhir dari pembunuhan berantai 15 tahun silam. Kejahatan yang dilakukan tidak hanya itu saja.
Dia menculik salah satu penumpang taksinya yang bernama, Igor. Dengan sengaja dia telah mengurung korban dan berusaha untuk membunuhnya.
Pihak kepolisian sudah tak bisa menangani kasus itu lebih lanjut, karena tersangka dalam kondisi cukup kritis. Gun dinyatakan kehilangan sebagian ingatannya karena meminum pil sianida.
Kondisinya kritis dan tak ada harapan untuk mengintrogasi kasus itu lebih lanjut lagi.
Sementara korban berada di rumah sakit MEDICAL CENTER. Tepat satu minggu semenjak kejadian, korban baru sadar dari komanya.
Semua berita memberitakan hal itu. Menyebar cepat luas berita itu ke seluruh kota.
Eva mengantarkan Igor kembali ke ruang rawatnya. Satu dokter dan beberapa perawat juga berada di dalam Igor untuk memeriksa keadaannya.
Termasuk dengan anaknya, Boy dan Ibu Eva. Mereka baru sampai setelah mendengar kabar bahwa Igor siuman. Berdiri berbaris menunggu Si Dokter memeriksa.
“Dengan bapak Igor. Usia 37 tahun. Dibawa ke UGD seminggu yang lalu karena kondisi yang cukup kritis. Mengalami banyak pendarahan dan sesak nafas saat pertama kemari.
Selama dua hari berturut-turut suhu tubuhnya mencapai 35 Derajat Celcius. Kami telah berhasil menurunkan suhu tubuh setelah tiga hari.
Ingatanmu mungkin kabur atau sedikit hilang, jadi, kami datang untuk memberikan beberapa pertanyaan singkat untukmu.”
Usai memeriksa, dokter menyiapkan beberapa pertanyaan untuk Igor. Asisten dan perawat cekatan untuk menulis, membantu Si Dokter.
“Baik, Dok. Silahkan.” Igor membenarkan posisi duduknya dan bersandar santai di ranjang.
“Bisakah kau katakan nama dan tanggal lahirmu?”
“Aku lahir pada 13 Agustus 1988. Nama Igor.”
Sejenak Igor tersenyum menatap Eva. “Eva… Evangelista.”
“Nama putramu?”
“Boy… Boy Makhachev.” Igor menatap Boy yang berdiri di depan ibu mertuanya.
“Papa!!!” Boy mendekat ke ranjang ayahnya. Matanya berbinar dan berkaca-kaca melihat ayahnya yang terbaring di rumah sakit.
Igor tersenyum dan mengelus rambut anaknya. “Jagoan, Papa!”
Boy memeluk tangan ayahnya dengan erat.
Saat itu juga ayah angkat Igor yang bekerja di rumah sakit itu datang.
“Selamat pagi, Presdir Fred!” Beberapa dokter dan perawat menunduk menyambut kedatangannya.
Begitupun dia yang menunduk pada Eva dan Ibunya yang sudah datang lebih dulu. “Kau datang Nyonya?”
Ibu Eva balas senyum dan menunduk.
“Bagaimana keadaannya?”
“Dia sudah cukup sehat. Mungkin satu atau dua hari lagi, dia bisa kembali ke rumah. Aku akan meninggalkan kalian untuk berbicara. Aku permisi, Presdir Fred.”
Dokter dan kedua perawat itu segera pergi keluar meninggalkan ruangan.
“Bagaimana keadaanmu? Apa ada yang tak nyaman?”
“Tak apa. Aku baik-baik saja. Maaf telah membuatmu khawatir,” jawab Igor pada Fred.
Tak lama kemudian Nyonya Fred juga datang ke ruangan itu. Kedatangannya membuat Eva dan Ibunya merasa tak nyaman.
“Apa yang sudah kau lakukan, hah?” Nyonya Fred datang dan langsung marah-marah pada Igor. “Kau pikir hidupmu adalah milikmu, lantas kau bisa…..”
“Sayang, jaga bicaramu. Besan kita datang.” Fred mencengkram lengan istrinya, agar dia tak mengoceh.
“Seharusnya kau bilang, bahwa ibumu akan datang.” Nyonya Fred melirik Eva.
“Maafkan aku tak memberitahumu,” ucap Eva singkat. Dia juga mulai muak dengan sikap dan kelakuan ibu mertuanya.
“Aku ingin bersama keluargaku sejenak. Apa kalian bisa meninggalkan kami?”
“Apa katamu? Keluargamu?” sangkal Ibu Eva. “Tak ada orang asing disini. Kita semua adalah satu keluarga. Kenapa kau begitu…..”
“Ibu…” Eva menahan ibunya agar tak semakin meledak-ledak.
“Boy, apa kau mau ikut Mama? Mama akan membelikan makanan kesukaanmu.” Eva mendekati Boy yang masih memeluk tangan ayahnya.
“Tidak! Aku tak mau! Aku ingin bersama Papa.” Semakin keras memeluk lengan ayahnya.
“Boy! Dengarkan Papa, Nak! Kau harus menurut dengan Mamamu agar Papa cepat pulang dari sini. Jika kau tak menurut, Papa akan semakin lama tinggal disini. Kau mengerti?”
“Boy, kemari, Nak! Mari kita pulang. Nenek akan memasak memasak mie instan untukmu. Ayo!”
Boy akhirnya melepas tangan Igor dan pergi dengan Nenek dan Mamanya.
“Ah, sial! Anak nakal itu ternyata memiliki temperamen yang buruk. Sangat sulit bagiku untuk menyukainya.”
“Boy! Namanya Boy. Boy Iskandar, bukan anak nakal,” tegas Igor.
Nyonya Fred memalingkan wajahnya kesal. “Bagaimana sekarang? Apa yang akan kau lakukan dengan Gun?”
“Aku dengar dia sudah sadar, tapi dalam kondisi yang sangat buruk,” jawab Igor.
“Sejujurnya, aku masih sangat mencemaskannya, tapi, itu tak sepenuhnya buruk bagi kita,” timpal Fred. “Sebenarnya, itu mungkin lebih baik untuk kita.”
“Lantas, bagaimana dengan istrimu?”